King Of School

King Of School
Bab 67


__ADS_3

"Ayo kakak ipar, tunjukan dimana kamarku!" Kiara meraih tangan Zoya dan langsung menariknya pergi.


Sementara mbok Ratih dan pak Siman hanya bisa saling bertukar pandang melihat itu. Nyonya muda mereka benar-benar berbeda dengan tuan muda. Dia sangat ramah dan ceria, tapi kenapa dia memanggil Zoya dengan sebutan 'kakak ipar'?


Sejenak ide pak Siman yang ingin menjodohkan Zoya dengan Brian kembali berputar di benaknya.


"Kia memang seperti itu mbok, dia memang sangat suka menggoda orang-orang. Apalagi kakaknya." Michelle mencoba meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ya nyonya, gapapa kok kalau Kia memang ingin memanggil Zoya seperti itu, siapa tahu nantinya itu akan jadi kenyataan!" pak Siman berkata sambil nyengir-nyengir sendiri dan seolah tanpa ada beban.


Mendengar itu mbok Ratih langsung mencubit suaminya, marah. Bagaimana bisa dia mengatakan hal konyol itu pada nyonya Michelle? Mbok Ratih tahu status mereka, menurutnya suaminya ini memiliki angan-angan yang terlalu tinggi.


Bisa-bisanya dia menjodohkan Brian dengan Zoya!


Tapi Michelle tampak sama sekali tidak tersinggung, justru dia malah memberi senyuman penuh arti pada kedua orang tua Zoya.


Setelah sampai ke kamarnya, Kiara langsung melompat dan merebahkan dirinya ke kasur yang empuk itu. Tidak ada yang dia inginkan sekarang ini selain meluruskan pinggangnya yang ramping itu.


"Nyonya muda, ini kuncinya! Jika anda butuh sesuatu yang lain panggil saja aku!" ujar Zoya dengan sangat ramah sembari meletakkan kunci kamar ke atas nakas.


Kiara segera duduk kembali dan menatap Zoya dengan penuh arti, jika dilihat-lihat ternyata memang benar pilihan kakaknya ini sangat sempurna. Wajah imut Zoya menunjukan kesan yang sangat menyejukkan mata yang memandangnya. Senyuman tulus yang terlukis dibibir merah tipis itu bagaikan peri yang sedang menebarkan serbuk keajaiban.


Pantas saja kakaknya tertarik!


"Kakak ipar tolong jangan panggil aku dengan seperti itu, aku punya nama tahu!" Kiara tiba-tiba cemberut, protes tidak terima dengan cara Zoya yang memanggilnya sebagai nyonya muda.


Zoya tampak bingung, apa yang salah?


Seorang pembantu kan, memang harus bersikap sopan pada majikannya? Zoya juga memiliki kesan yang baik terhadap Kiara, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak menghormati nyonya mudanya ini.

__ADS_1


"Nyonya muda, aku hanya seorang pembantu di rumah ini, jadi..."


Tepat sebelum Zoya menyelesaikan kalimatnya Kiara langsung memotong dengan tegas, "Kia! Itu nama panggilanku, tidak peduli apa statusmu di rumah ini. Karena sekarang kau adalah salah satu orang yang aku anggap dekat, jadi panggil aja aku dengan nama, lagi pula kan kau lebih tua dari aku!"


Zoya tidak bisa berkata-kata.


Apa yang baru saja dikatakan Kiara benar-benar membuat dia tercengang. Baru saja mereka bertemu, dan Kiara sudah menganggap Zoya sedekat itu?


"Oh ya kak, jika kau tidak mau memanggilku dengan nama, maka kau bisa memanggilku dengan sebutan 'adik ipar' dari dulu aku sangat menginginkan seorang kakak perempuan." Kiara kembali berkata dengan ekspresi malu-malu.


Zoya tertawa kecil sebelum ia berkata, "Kurasa nyonya muda memiliki nama yang sangat indah, aku akan memanggil anda dengan Kia saja, bagaimana?" Zoya langsung menepis permintaan Kiara yang ingin di panggil dengan sebutan 'adik ipar'.


Bagaimana masalah panggilan saja, akan jadi serumit ini? gumamnya dalam hati.


Kiara mengerucutkan bibirnya, harapannya ingin memiliki kakak perempuan sepertinya harus tertunda sebentar, tapi dia langsung tersenyum kembali. Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di benaknya.


Saat Kiara sampai ke mansion Cody tadi, dia sangat terkejut saat mendengar kakaknya pergi keluar untuk makan malam dengan kak Zoya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, kakak yang ia kenal sangatlah cuek dan pendiam. Jangankan mencoba untuk dekat dengan wanita, melihat kakaknya dekat dangan pria aja itu sudah disebut kejanggalan.


Dari sinilah spekulasi Kiara tentang kakaknya memiliki hubungan dengan Zoya muncul.


"Kencan apa maksudmu?" dengan heran Zoya mencoba untuk menemukan maksud dari semua pertanyaan Kiara.


"Kau dan kakakku tadi habis kencan kan? Ini merupakan sebuah keajaiban yang sangat langka tahu, dengan keluarganya aja dia tidak pernah pergi keluar untuk makan malam, tapi denganmu?" Kiara terus menggoda Zoya sesekali alisnya melompat keatas menunjukan ekspresi yang nakal.


Zoya tidak tahan, wajahnya langsung merah seperti tomat segar. Tapi seketika ekspresi malu-malunya berubah saat mengingat kejadian dimana Brian menghajar ketua geng tadi. Jika yang dimaksud Kiara acara makan malam yang mengerikan tadi adalah kencan, maka itu sangat jauh dari kata romantis.


"Sepertinya kau salah paham Kia, aku dan kakakmu tidak memiliki hubungan apapun. Tadi kami keluar makan malam karena undangan dari teman kakakmu." Zoya memberitahu kebenaran yang menyangkal pendapat Kiara, tapi entah kenapa hatinya malah lebih setuju dengan Kiara.


"Kau masih malu-malu kakak, tapi tidak masalah. Aku yakin seiring berjalannya waktu, semuanya pasti akan terungkap!" ucap Kiara dengan tenang, menurutnya Zoya telah berbohong, bagaimana dia tidak tahu kalau kakaknya yang berhati dingin itu sama sekali tidak punya seseorang yang bisa disebut teman?

__ADS_1


'Tapi itukan dulu! Semenjak Zoya hadir dalam kehidupannya, Brian sedikit demi sedikit mulai terbuka pada orang lain'


Sementara itu, Brian yang baru saja mengganti pakaiannya di dalam kamar tampak sedang bersin. Dia tiba-tiba teringat takhayul tentang seseorang akan bersin jika ada yang menceritakan dirinya dari belakang.


Apa ini pertanda buruk? gumam Brian sembari mengambil tisu dan menyeka hidungnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Dengan malas Brian berjalan dan membukakannya, terlihat ibunya sedang berdiri di depannya sambil membawa segelas teh jahe hangat yang sangat wangi.


"Ibu?" Brian terheran, sebelah alisnya terangkat keatas.


"Apa ibu boleh masuk?" tanya Michelle dengan sangat baik, agar putranya mengizinkannya masuk.


"Hmm..." Brian mengangguk, dan kemudian langsung menutup pintu setelah Michelle masuk.


"Ibu lihat wajahmu dari tadi sedikit pucat, dan ibu juga dengar kau sudah bersin lebih dari tiga kali. Kemari lah!" Michelle menaruh teh jahe tadi keatas meja dan kemudian dia mengajak Brian untuk duduk di sofa dengannya.


Namun Brian memilih untuk di sofa yang satunya lagi dan menyandarkan dirinya, mencoba untuk merasa lebih nyaman.


"Sepertinya kau sedang flu! Minumlah ini, kau akan merasa lebih baik setelahnya!"


Brian menghela nafas berat dan kemudian memaksakan dirinya untuk meminum teh buatan ibunya.


Setelah menyesap teh jahe beberapa kali Brian kemudian bertanya, "Katakan bu, kenapa kalian kemari!? Apa pak tua itu juga mengusir kalian?"


"Memangnya salah bagi seorang ibu yang merindukan putranya untuk datang menjenguk?" jawab Michelle dengan lemah lembut.


"Tidak, hanya saja ibu sudah terlambat untuk itu, terlambat selama dua puluh tahun!" Brian berkata dengan ekspresi yang sangat dingin.


Michelle hanya bisa menghela nafas mendengar putranya berkata seperti itu, hatinya langsung di penuh dengan rasa sakit dan penyesalan. Dia tahu kalau Brian masih sangat kesal padanya, seharusnya dari dulu dia harus lebih memperhatikan putranya ini

__ADS_1


__ADS_2