
"Apa? Vince menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi tuan mudaku!?"
Zoya benar-benar terkejut saat mendengar Jhony mengatakan hal itu padanya. Wajahnya dipenuhi ketidak percayaan. Dia menatap Jhony yang sedang mengemudi di sebelahnya dengan intens.
Ya saat ini mereka pergi untuk menyusul Brian. Setelah mendengar nyawa Brian dalam bahaya, Zoya memaksa Jhony untuk segera menjemput dirinya.
Pada awalnya Jhony sangat enggan, dia pasti akan mendapat masalah jika Brian melihatnya sengaja membawa Zoya kesana. Tapi apa boleh buat, Zoya terus memaksanya saat di telfon tadi. Lagi pula dia memang harus pergi ke sana untuk memberikan informasi ini secara langsung kepada Brian.
Dasar Brian, kenapa dia malah meninggalkan ponselnya sih!? gumam Jhony, kesal.
"Zoya, saat ini Brian tidak sedang berkencan. Dia pergi untuk balapan dengan Sean!" Jhony menjelaskan semua yang dia ketahui pada Zoya.
"Balapan? Tapi kenapa dia melakukan itu!?" Zoya terheran, tidak pernah ia menduga kalau Brian akan melakukan hal semacam itu.
"Apa dia sudah memberitahumu?" tanya Jhony yang sesekali melirik ke samping sembari terus mengemudi.
"Memberitahu ku tentang apa?"
"Ku kira kau sudah tahu, Brian mengikuti balapan itu untuk merekrut Sean ke dalam timnya. Di punya rencana membentuk sebuah tim untuk mengikuti kompetisi perebutan martabat tahun ini."
"Hah, apa kau bilang?"
Zoya langsung terkesiap mendengar penjelasan Jhony. Tiba-tiba dia teringat ucapan Brian yang mengatakan, kalau dia ingin merekrut tiga orang yang pernah menentang Vince dulu.
Dia benar-benar melakukannya, jadi selama ini dia terlihat dekat dengan Kimberly hanya untuk berurusan dengan Sean secara langsung?
"Hei kenapa kau melamun!?" seru Jhony yang membuyarkan Zoya termenung.
"Aku sudah berprasangka buruk padanya, aku kira dia benar-benar memiliki hubungan dengan Kimberly. Seharusnya aku tahu sejak awal, Brian itu pria yang sangat dingin."
"Hahaha, ternyata benar dugaan ku!" Jhony tertawa karena merasa geli setelah mendengar Zoya.
"Hei apanya yang lucu." sontak Zoya mulai merasa kesal mendengar Jhony yang tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
"Zoya apa kau menyukai Brian?"
Deg.
Seketika Zoya langsung terdiam membisu, wajahnya berubah merah seperti tomat. Dia tidak menyangka kalau pertanyaan semacam itu akan keluar dari mulut Jhony.
__ADS_1
Kenapa Jhony menanyakan hal itu di saat seperti ini!
"Hahaha, aku bisa melihatnya jelas di wajahmu itu, benar-benar ekspresi yang sama saat aku menanyakan hal serupa juga pada Brian."
"Kau dan Brian memang masih sangat polos, kenapa kalian masih belum punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan masing-masing."
"Apa kau tidak sadar, kenapa selama ini dia terus menyelamatkanmu?"
"Karena dia~"
Sebelum sempat Jhony menyelesaikan celotehannya, Zoya langsung menyumpal mulut Jhony dengan tisu agar berhenti bicara. Dia tidak mau terus mendengar semua omong kosong yang Jhony katakan barusan.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, jadi berhentilah bicara dan teruslah mengemudi." Zoya menepuk bagian belakang kepala Jhony.
Jhony pun langsung diam dan menghembuskan gumpalan tisu yang ada di mulutnya.
Bahkan dia juga menyumpalkan tisu ke mulutku sama seperti Brian. gumam Jhony dalam hatinya.
Sementara itu Zoya termenung sejenak memikirkan perkataan Jhony tadi. Baginya, tidak mungkin Brian memiliki perasaan terhadap dirinya. Status mereka saja sudah berbeda dan lagi, Brian itu tipe pria yang sangat sulit di dekati.
Mana mungkin dia akan tertarik pada gadis seperti Zoya, sedangkan di luar sana masih banyak gadis lebih cantik yang statusnya juga setara dengan Brian.
...
Keduanya pun mulai menyalakan mobilnya, suara mesin mobil mereka meraung dengan sangat garang. Asap mengepul dan menyebar ke area sekitar.
Seorang wanita bertubuh langsing mulai berjalan ke depan garis start dengan penampilannya yang terbilang sangat seksi. Wanita itu membawa dua helai kain hijau di tangannya. Dia pun mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga memperlihatkan ketiaknya yang sedikit hitam.
Sepertinya dia tidak tahu merawat diri, punyaku aja lebih putih dari dia.
Gumam Brian dalam hatinya dengan penuh bangga sebelum dia mulai mengalihkan pandangannya ke samping.
Di sebelah juga sudah ada Sean yang terlihat memberi tatapan sinis dari dalam mobilnya. Dia penuh dengan percaya diri, seolah-olah dia yakin kalau kemenangan sudah pasti menjadi miliknya.
Sean memang sangat ahli dalam balapan liar, dia tidak pernah kalah sekalipun. Baginya Brian hanyalah sebuah hama yang berlagak sok di depannya.
"Aku yakin dia memiliki nitrous, jika dia menggunakannya di akhir menuju finis aku pasti kalah, aku harus memancingnya agar dia mengeluarkannya lebih awal."
Brian sudah belajar di balapan pertamanya dengan Sean waktu itu. Sean menggunakan nitrous untuk mempercepat laju mobilnya. Jika Sean menggunakannya saat hendak mencapai garis finis, maka Brian sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang.
__ADS_1
Di dalam pertandingan balapan liar segala cara akan di bolehkan, jadi Brian juga tidak akan menahan diri untuk bersikap sportif. Bagaimanapun dia harus bisa memenangkan balapan ini untuk terus melanjutkan rencananya.
Suara sorakan penonton mulai semakin memekakkan telinga. Mereka sangat tidak sabar untuk melihat Sean turun lagi ke jalanan setelah vakum selama satu tahun.
Ya, setelah Sean putus dengan Kimberly, dia tidak lagi pernah ikut dalam balapan liar. Dia lebih sering menghabiskan waktu untuk memata-matai Kimberly. Memastikan agar Kimberly tidak bisa mendekati pria lain. Begitulah cara dia membalaskan dendamnya.
Terdengar sangat konyol kan?
Tapi memang begitulah Sean, dia sebenarnya masih mencintai Kimberly. Namun karena egonya yang tinggi dia bertingkah seolah-olah sudah tidak perduli lagi dengan mantannya kekasihnya itu.
"Baiklah kalian siap!?" ucap grid girl itu sebelum memberi aba-aba.
Brian dan Sean pun mulai memain-mainkan pedal gas mereka. Kedua mata itu kemudian saling menatap satu sama lain, seketika langit pun menjadi gelap. Awan hitam muncul menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
"Kali ini kau tidak akan lolos dariku Brian, aku akan pastikan kau tidak akan pernah sampai ke garis finis!"
"Terlalu percaya diri itu tidak baik untukmu Sean, akan aku tunjukan padamu bagaimana seorang Cody bertindak, tidak tunggu! Kenapa aku malah mengingat nama itu, bukankah aku sangat membenci nama itu!?"
Mulut mereka saling mengatup namun kedua mata mereka saling berbicara satu sama lain.
Grid girl tadi pun mulai menghitung mundur memberi aba-aba untuk bersiap sebelum akhirnya menjatuhkan kedua bendera hijau ke aspal.
Dan.
Vrooom....
BMW dan Ferrari itu langsung melaju meninggalkan garis start dengan kecepatan tinggi.
Semua orang berteriak keras menyaksikan itu, semangat mereka bahkan melebihi para suporter yang ada di pertandingan bola piala dunia.
Tidak lama waktu berselang tiba-tiba muncul seseorang di garis start tadi.
"Mereka sudah memulainya Vince!" seru Jullyan pada Vince yang ada di seberang telepon, dia menatap mobil Brian dan Sean yang sudah melaju meninggalkan garis start.
"Bagus, sekarang perintahkan Raven untuk menjalankan tugasnya! Jangan biarkan mereka berdua sampai ke garis finis, baik Sean maupun si baj*ngan, Brian!"
"Baik, dimengerti!"
...
__ADS_1