King Of School

King Of School
Bab 53


__ADS_3

Flash back.


Ting...


Suara dentingan sebuah koin emas itu memecahkan keheningan sebuah ruangan saat jatuh ke lantai marmer. Terlihat di ruangan itu sudah duduk Vince di kursi empuk nan mewah, dihadapannya saat ini juga sudah ada seorang wanita berdiri sambil membungkuk memberi hormat kepada Vince.


"Bagaimana?"


"Seperti yang kau inginkan, mereka akan melakukan balapan malam ini juga." Jawab wanita tadi yang ternyata adalah Kimberly.


"Heh, bagus sekali, kau memang sangat bisa diandalkan." Vince bertepuk tangan untuk Kimberly dengan penuh rasa bangga, sesekali dia juga menatap wajah cantik itu dengan tatapan main-main.


Sementara itu Kimberly sama sekali tidak tampak senang saat Vince memuji dirinya. Dia menganggap buruk pujian itu, seolah-olah itu adalah hinaan untuk dirinya.


"Vince kau sudah berjanji padaku, setelah ini kau akan menyelamatkan bisnis Sean dari kehancuran, kan?" tanya Kimberly dengan penuh harapan.


"Kim, kapan aku pernah menipumu? Setahun yang lalu kau datang padaku untuk hal yang sama dan aku menepatinya, kan?" ucap Vince dengan santai dan mulai menggigit sebuah apel yang baru saja dia ambil di atas meja.


"Waktu itu kau rela kencan denganku hanya untuk menyelamatkan bisnisnya Sean."


"Aku tidak tahu kenapa kau melakukannya, kau sangat mencintai Sean tapi kau malah mengkhianatinya agar bisnisnya selamat."


"Walaupun kau berniat baik, tapi tidakkah kau menyesal dengan tindakanmu."


Vince menatap Kimberly dengan main-main sambil terus menyantap apelnya.


"Hanya dengan cara inilah aku bisa membalas kebaikan yang Sean berikan padaku selama lima belas tahun." jawab Kimberly dengan tatapan kosong.


"Aku sama sekali tidak menyesal, asalkan Sean bisa mengembangkan bisnisnya, aku bahkan rela kehilangan cintanya."


Kimberly mengatakan hal itu dengan sangat tulus dari dalam hatinya, ternyata selama ini dialah yang sudah membantu bisnis Sean untuk berkembang. Dia bahkan rela dimanfaatkan oleh Vince. Baginya tidak ada yang lebih penting selain mewujudkan mimpi Sean.


"Hahahaha," sontak Vince langsung merasa geli dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, pernyataan Kimberly itu sungguh telah membuatnya tertawa lepas.


"Kim, kim... aku salut denganmu, jika Sean mengetahui ini dia pasti akan sangat marah padamu!"


Kimberly pun termenung sejenak, dia tahu jika Sean mengetahui alasan sebenarnya dia berkhianat, maka semuanya akan hancur. Tapi Kimberly sudah siapa menerima resiko itu.


"Dia tidak akan tahu, karena aku mengatakan padanya kalau aku mendapatkan uang itu dari hasil pekerjaanku sebagai model."


Pffft...

__ADS_1


"Hahaha, mana ada seorang model biasa bisa menghasilkan dua ratus juta dalam sekali pemotretan? Kecuali kau adalah model internasional!" Vince sekali lagi tertawa, dia memandang rendah Kimberly dan menghinanya.


Namun Kimberly sama sekali tidak perduli akan hal itu, sebuah hinaan tidak akan menggoyahkan tekadnya.


"Baiklah-baiklah, sekarang kau bisa pergi. Besok pagi pesan dari mobile banking akan masuk ke ponselmu."


"Lalu bagaimana dengan Brian? Apa yang akan kau lakukan padanya malam ini?"


"Kenapa kau menanyakan tentang dia sekarang, apakah kau kekhawatiran mu sudah beralih pindah padanya? Terserah padaku ingin melakukan apa padanya, tugasmu hanyalah membuat dia menyetujui balapan ini!"


"Tidak, aku sama sekali tidak peduli dengan dia." dengan segera Kimberly langsung membantah.


Dengan segera Kimberly pun beringsut melangkah ke belakang dengan ekspresi yang sangat jelek. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah menipu Brian.


Sebelumnya dia sangat tidak ingin melakukan ini, dia tahu jika menimbulkan provokasi antara Sean dan Brian, hanya akan membuat Sean mendapat masalah lebih banyak lagi.


Tapi tidak ada cara lain lagi untuk menyelamatkan bisnis Sean agar tetap bertahan, selain itu Kimberly sangat yakin kalau Sean pasti akan baik-baik saja dalam balapan nanti.


Dia sangat ahli dalam hal itu.


Tugasnya sudah selesai, selebihnya terserah pada Vince yang mau merencanakan apa terhadap Brian.


Kembali ke masa sekarang.


Saat ini terlihat dua buah mobil sedang melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan lereng pegunungan Golden Sea. Jalanan itu cukup sempit hanya muat dua mobil saja, di sisi kanan mereka bisa melihat pegunungan Golden Sea yang menjulang tinggi sedangkan di sisi kiri terdapat jurang curam yang di bawahnya terhampar lautan.


Rutenya berawal dari kaki gunung tempat start mereka tadi, hingga finis menuju pantai. Untung saja Sean tidak memilih rute ke puncak gunung, jika tidak itu pasti akan memakan waktu semalaman.


Walaupun tampak sangat mengerikan dan mengancam keselamatan, Brian dengan santainya terus mengemudikan mobilnya. Dia tetap fokus dan sangat tenang.


Posisi Brian saat ini sedang berada di belakang Sean, namun dia tidak tertinggal terlalu jauh. Di depannya dia bisa melihat mobil Sean yang terus menghalanginya untuk memotong.


Brian mengakui Sean benar-benar sangat cakap dalam balapan. Jika saja Sean berlatih sedikit lebih keras lagi, maka dia pasti bisa lolos dan menjadi juara pembalap mobil Nascar.


Hanya saja kesombongannya itu telah menguasai dirinya, dia terlalu percaya diri dan meremehkan Brian. Dia lupa saat ini Brian juga menggunakan tipe mobil sport.


Jika menggunakan Roll Royce saja Brian bisa mengimbangi Sean apalagi sekarang?


"Baiklah Sean, sekarang lihatlah bagaimana aku menghancurkan kesombongan mu itu." ucap Brian.


Mata Brian menyipit saat melihat rambu jalanan yang ada di depannya yang tampak seperti ular.

__ADS_1


Ini adalah bagian kesukaannya.


Saat mulai tadi, jalanan seperti ini sangat menguntungkan Brian. Dia mampu mengungguli Sean di setiap tikungan dengan melakukan drift secara sempurna.


Sean pun mulai bergidik kesal saat melihat Brian yang sudah memotongnya di tikungan. Dia tidak menyangka kalau Brian cukup mahir melakukan drift secara sempurna di setiap tikungan.


Sekarang posisi mereka sudah berjarak sangat jauh, "Aku tidak akan membiarkan kau menang, b*tch!"


Sebelum tertinggal lebih jauh lagi, Sean langsung menekan sebuah tombol yang ada di mobilnya saat mulai memasuki jalanan lurus.


Woooshhh...


Mobilnya seketika melaju bagaikan roket, dengan bantuan nitrous, Sean segera menyusul ketertinggalannya yang cukup jauh dari Brian tadi.


Namun entah mengapa Brian secara tiba-tiba malah memperlambat kecepatan mobilnya di saat Sean malah mempercepat.


Sean yang melihat hal itupun, tidak mau membuang kesempatannya. Dia melaju dengan cepat dan langsung melampaui Brian.


"Hahaha, wooo... makan asap itu dasar sialan!" Sean tertawa sangat girang setelah berhasil melampaui Brian. Sekarang kemenangannya sudah tersegel.


Sean sangat bangga saat melihat Brian yang sudah tertinggal jauh dari spionnya. Dia tertawa puas melihat itu.


Namun seketika tawa itu langsung hilang, wajahnya berubah gelap saat melihat sebuah drum berserakan di jalanan.


"Oh, holy ****!"


Sean langsung segera berusaha menghindari drum-drum yang ada di jalanan itu. Namun karena dia sedang dalam kecepatan tinggi, Sean akhirnya lepas kendali dan menabrak salah satu drum yang berisi oli itu.


Mobilnya oleng dan mulai tergelincir di aspal berputar-putar seperti gangsingan, hingga akhirnya ia pun terjerumus dan menghantam pembatas jalan sampai hancur.


Untungnya saat ini mereka mereka sudah berada di dataran rendah, jadi jurang curam seperti tadi sudah lewat. Nasib baik mobil Sean hanya nyungsep ke dalam sebuah parit kecil.


Sementara itu Brian yang melihat itu langsung berhenti, ternyata inilah alasan dia memperlambat mobilnya. Dia memiliki pengelihatan yang seperti elang, dengan cepat dia menyadari kalau di depannya terdapat halangan yang hampir membuatnya mengalami nasib seperti Sean.


Brian menyipitkan kedua matanya, bukan untuk menatap mobil Sean yang sedang nyungsep tadi. Melainkan menatap sebuah mobil Container yang saat ini sedang berhenti didepannya.


"Apa drum-drum ini berasal dari Container itu!" gumamnya, penasaran.


Setelah itu, seorang pria pun melompat turun dari mobil Container tadi dengan membawa sebuah katana panjang di tangan kanannya.


Wajah Brian semakin berkedut melihat pemandangan itu, "Apa yang diinginkannya?"

__ADS_1


__ADS_2