
Brian dan Jhony pergi mengejar Zoya dengan mobil BMW, saat ini wajah tampan Brian terlihat sedang diselimuti lapisan es yang tebal.
“Bagaimana, kau mendapatkan lokasi mereka?” tanya Brian kepada Jhony sambil terus mengemudi.
“Aku tidak mendapatkan sinyal dari ponsel Zoya, apa dia mematikan ponselnya?” jawab Jhony dengan raut wajah ragu-ragu. Dia ingin melacak keberadaan Zoya seperti yang pernah ia lakukan waktu itu, tapi kali ini dia gagal mendapatkan sinyal dari ponsel Zoya, bahkan setelah mencobanya berkali-kali.
“Brian tidak biasanya Zoya pergi tanpa dirimu, tapi kenapa kali ini kalian terlihat sedang menjauh satu sama lain. Dia mematikan ponselnya seolah dia tidak ingin kau menghubunginya. Tadi pagi aku juga lihat Zoya datang ke kampus sendirian, apa kalian bertengkar?” Jhony lanjut bertanya dengan tatapan yang sedikit menggoda.
Sudut mata Brian berkedut saat dia mendengarkan Jhony, dia tidak menjawab karena saat ini dia juga sedang bingung. Memang benar sejak kemarin malam, Zoya tampak seolah menjauhi dirinya. Brian mengira, Zoya menjadi seperti ini pasti akibat dari provokasi Alex.
Akan tetapi, yang membuat Brian semakin heran, kenapa Zoya sampai segitunya mematikan ponsel agar Brian tidak bisa menghubunginya. Apa wanita itu benar-benar sudah terpengaruh ucapan Ayahnya, Alex, untuk menjauhi Brian selamanya? Karena itu kah Zoya sengaja pergi dengan orang lain agar Brian merasa cemburu, sehingga hubungan mereka menjadi semakin renggang.
Memikirkan itu, membuat Brian semakin kesal saja, dia jadi tidak bisa berpikir jernih seperti biasanya. Dia mencengkeram setir dengan sangat erat hingga kulitnya jemarinya memucat.
Jhony yang melihat Brian tidak setenang biasanya, mulai sedikit mengernyit keheranan. Sejauh yang ia kenal, Brian pasti selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri dengan sangat mudah. Akan tetapi kenapa berurusan dengan satu wanita saja, Brian terlihat sangat tertekan. Sepertinya memang benar yang dikatakan orang-orang, bahkan pria cerdik seperti Brian pun akan menjadi tidak waras jika berurusan dengan wanita.
Siapa sangka kalau ternyata kelemahan sang pangeran Cody yang terkenal sangat dingin dan arogan adalah pelayannya sendiri, Zoya.
“Brian, aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kau dan Zoya. Tapi aku hanya bisa memberi saran agar kau tetap tenang dan kendalikan emosi mu.” ujar Jhony sembari menepuk bahu Brian.
Sekilas Brian melirik Jhony dengan tajam, dia tidak bisa tenang. Semenjak Marcell membuat konflik dengan ayah Zoya, Siman, masalah yang Brian hadapi menjadi lebih rumit dari biasanya. Marcell memang tidak menyerang Brian secara fisik, tapi pria licik itu berhasil mengetuk emosi dan mental Brian.
Brian memang sangat kesulitan dalam menangani trik licik yang mempermainkan perasaan seperti ini. Sekarang pikirannya benar-benar sangat kacau. Dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan, Ayahnya, Marcell atau dirinya sendiri karena tidak pernah peka dalam hal yang namanya perasaan.
“Sekarang bagaimana, Brian? Kita tidak tahu kemana Zoya pergi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Jhony lagi, karena sejak tadi Brian hanya diam saja dan mengemudikan mobilnya tanpa arah tujuan.
Brian menarik nafas dalam-dalam sejenak, kemudian dia berkata pada Jhony, “Kita tidak akan lanjut mengejar Zoya, jika dia memang sangat ingin menjauh dari ku maka aku akan biarkan dia melakukan sesukanya.” ekspresi Brian terlihat acuh tak acuh.
Jhony menaiki sebelah alisnya keatas, dan berkata dengan ragu-ragu, “Apa kau—”
Belum sempat Jhony berkata, Brian secara mendadak berhenti di tengah jalan, dan langsung menyuruh Jhony untuk turun.
__ADS_1
“Turun.”
“Apa-apaan ini Brian, kenapa kau menurunkan aku di tengah jalan seperti ini? Kau ingin aku pulang jalan kaki?” Jhony tidak terima.
“Kau tidak berguna, jadi untuk apa aku membawa mu.” setelah mengatakan itu Brian langsung menendang Jhony keluar dari mobilnya dan pergi melaju meninggalkan Jhony yang terduduk di aspal.
Jhony menganga tidak percaya menatap mobil Brian yang perlahan menjauh. “Dasar, dia kesal pada pacarnya yang dibawa pergi orang lain, tapi malah melampiaskannya kepada ku.”
...............
Sore hari.
Setelah menunggu sejak lama, akhirnya Brian melihat Zoya pulang juga dengan sendirinya. Seperti yang ia duga, wanita itu sama sekali tidak mengindahkan kehadirannya yang tengah duduk di sofa dan terus berlalu begitu saja.
Hal itu tentu membuat Brian merasa semakin kesal saja, apa wanita ini benar-benar ingin menjauhi dirinya. Dia memperhatikan Zoya dengan tajam, sebelum akhirnya suaranya yang dingin mulai terdengar seperti hembusan anak panah di telinga Zoya.
“Sepertinya kamu benar-benar tidak membutuhkan ku lagi, benar kan, Zoya. Pria yang pergi dengan mu tadi, apa dia yang akan menyelamatkan ayah mu dari penjara. Karena dia lah, kau tidak menerima bantuan ku, benar kan?” Brian sengaja menyebut nama Zoya dengan sedikit penekanan, untuk menunjukan bahwa betapa tidak senang dirinya saat ini melihat sikap Zoya yang sedari tadi mengacuhkan dirinya.
Melihat ekspresi Zoya yang terlihat gugup, Brian menggigit sudut bibir bawahnya yang merah seperti jambu. Dia memandangi tubuh Zoya dari atas sampai bawah, dia baru sadar ternyata penampilan wanita itu tidak seperti biasanya. Zoya sengaja berdandan lebih cantik hari ini, tapi untuk apa? Brian bertanya dengan ekspresi yang penuh kesuraman, “Apa pria itu yang meminta mu untuk berdandan seperti ini?”
Zoya mengangkat tangannya untuk menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. Dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang saat berkata, “Tuan muda, a-aku tadi pergi reuni dengan teman-teman lama ku. Makanya aku berdandan. Tentang kasus ayah ku, sudah aku bilang, aku akan menanganinya sendiri, ini sama sekali tidak ada urusannya dengan pria yang pergi dengan ku tadi.” bohong Zoya.
Brian menatap Zoya dengan ekspresi penuh skeptis, “Benarkah?”
Zoya mengangguk untuk meyakinkan Brian, sebelum akhirnya permisi untuk pergi. Jika dia terus berada di sana, maka Brian pasti akan terus mengintrogasi dirinya. Namun lagi-lagi Brian menghentikan wanita itu.
“Tunggu dulu, aku haus. Aku ingin teh.” titah Brian sembari terus menatap ekspresi Zoya secara intens.
“Baik, tuan muda.” Zoya dengan patuh menuruti perintah Brian, karena memang tugasnya untuk melayani Brian, bukan?
“Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Ini bukan seperti dirinya yang aku kenal. Tidak mungkin setelah mendapatkan provokasi dari ayahku, dia langsung berubah drastis seperti ini, mengingat wataknya yang keras kepala. Aku harus cari tahu.” gumam Brian menatap punggung Zoya yang perlahan menghilang di balik dinding menuju dapur.
__ADS_1
Tidak lama Zoya pun kembali dengan membawa segelas teh hangat di tangannya.
“Ini tuan muda.”
Brian mengambil teh hangat itu dan menyesapnya dengan anggun.
Pandangan Zoya seketika jatuh ke jakun Brian yang bergerak-gerak, bahkan leher tuan mudanya ini tampak begitu seksi dan menggoda. Kalau begini, dia bakal hanyut kembali ke dalam pesona Brian.
Di saat Zoya melamun, tiba-tiba saja Brian menyemburkan kembali teh yang baru ia minum itu, dan berkata, “Ini terlalu manis kau ingin aku terkena diabetes?”
“Hah, tapi aku hanya memasukkan gula dua sendok saja. Apa semanis itu?” tanya Zoya, wajahnya mulai memerah karena malu.
“Dua sendok itu terlalu banyak, aku tidak suka yang berlebihan.” ucap Brian.
“Maaf tuan muda, biasanya kau tidak pernah keberatan dengan teh buatan ku. Sini aku buat lagi ya?”
Brian meletakkan gelas itu secara kasar ke atas meja, kemudian dia berdiri sembari berkata, “Tidak perlu, buatkan saja teh untuk pria yang mengantarkan kau pulang tadi. Kau berdandan secantik ini, kau pikir aku anak kecil atau apa? Reuni teman lama, heh. Omong kosong!”
Brian sengaja mendorong Zoya hingga jatuh ke sofa, dia ingin lihat apakah wanita itu akan marah seperti waktu pertama kali ia menabraknya di kampus. Ternyata Zoya tidak marah, wanita itu hanya mengeluh saja dengan nada lirih. Wajahnya terlihat sedih.
Brian pun ikut tersentuh namun pura-pura tetap tidak peduli, yang dia ingin lihat adalah mental Zoya yang saat ini benar-benar sudah melemah. Dari sini Brian tahu, tampaknya Zoya sedang sangat tertekan akan suatu hal sehingga sifatnya yang keras kepala dulu hilang.
Awalnya Brian mengira Zoya seperti ini karena provokasi dari Alex. Akan tetapi, tampaknya provokasi ayahnya itu tidak mungkin akan berdampak sampai separah ini. Kata-kata Alex tidak lebih kejam dari kata-kata Brian.
Yang membuat Zoya tertekan pasti lah orang yang memegang kelemahan Zoya. Brian sekarang tahu siapa orang itu, kenapa dia tidak kepikiran sampai kesitu sejak awal.
“Marcell, rencana mu kali ini hampir sempurna. Memanfaatkan ayahku untuk memperburuk keadaan, sehingga aku akan berpikir kalau Zoya berubah karena ulah ayah ku. Kau memang licik, permainan emosi yang kau lakukan kali ini juga hampir membuatku terkecoh. Tapi kau memiliki kekurangan Marcell, kau lupa aku bukanlah orang bodoh yang bisa kau manipulasi.” Gumam Brian dalam hatinya.
Kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Zoya yang sedari tadi menatapnya dengan sedih di sofa. Saat ini Zoya pasti heran kenapa tiba-tiba Brian jadi kasar seperti ini. Tapi memang itulah yang diinginkan Brian, dengan begini Zoya pasti tidak akan ragu menjalankan rencana Marcell yang selanjutnya.
Brian sudah tahu, kalau Zoya saat ini sudah menjadi pion utama Marcell. Brian berencana akan mengikuti alur permainan Marcell.
__ADS_1