
Brian perlahan mendekati Sean dan Kimberly, sosoknya yang tinggi berdiri tegak menunjukkan seorang yang berwibawa. Dengan tatapannya yang acuh tak acuh, Brian berjalan bagaikan merak yang mengembangkan ekornya.
"Jhony benar, kalian harus menyelesaikannya di tempat lain!" seru Brian dengan tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu Brian? Kau juga terlibat dalam masalah ini, kita harus menyelesaikannya sekarang juga!" Sean berbicara dengan nada tegas, namun setelah dia melihat gunung es di mata Brian, dia langsung membuang pandangannya karena takut.
"Saat ini aku sudah sangat lelah untuk mengurusi masalah pribadi kalian." Brian berkata sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Apa maksudmu ini Brian, aku juga butuh penjelasan darimu soal kejadian tadi!"
"Sudah kubilang Kim yang akan menjelaskannya padamu, dia tahu segalanya. Benarkan Kim?"
Brian menatap Kim dengan main-main, mencoba memberi isyarat agar Kim berhenti menyembunyikan kebenaran yang selama ini ia simpan.
Dengan ragu-ragu Kim mengangguk sembari tersenyum manis, dia tidak bisa lagi mengelak dan menyembunyikan rahasianya dengan Vince.
Sepertinya Brian sudah mengetahui semuanya, sejak pertama kali aku bertemu dengannya Brian memang sudah tampak curiga padaku. Pria ini memang sangat pintar. lirih batin Kimberly.
"Sean kita memiliki musuh yang sama. Setelah kau mendapat penjelasan dari Kim kau tinggal pilih, ingin bergabung denganku atau tetap diam saja dan membiarkan Vince mempermainkan hubungan kalian!?"
Setelah mengatakan itu Brian langsung berbalik dan menarik tangan Zoya menuju mobilnya.
Sean tertegun sejenak saat mendengar perkataan Brian tadi. Dia terus menatap takjub punggung Brian yang perlahan masuk ke dalam mobil dan mulai beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak pernah Sean melihat pria yang memiliki aura sekuat Brian, aura ini bukan seperti aura penakluk milik Vince. Aura yang dimiliki Brian begitu berwibawa dan sangat elegan, sehingga siapapun yang berada di dekatnya akan merasa sangat nyaman dan tertarik padanya.
...****************...
Pagi yang sangat cerah hari ini, cahaya mentari bersinar sampai menembus gorden kamar Brian. Pria jangkung itu perlahan membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan beringsut bangkit dari tempat tidur.
Brian berjalan gontai menuju balkon kamarnya sembari meregangkan otot-otot bahunya. Kemarin adalah hari yang sangat melelahkan baginya, begitu tiba di rumah dia langsung merebahkan seluruh tubuhnya di kasur dan tertidur dengan sangat nyenyak.
Saat Brian sedang menikmati udara segar pagi harinya, tiba-tiba terlintas di benak Brian tentang Raven yang menyerangnya tadi malam. Brian masih di penuhi dengan kebingungan, dia tahu kalau yang mengirim Raven itu adalah Vince.
__ADS_1
Namun tidak akan mungkin semudah itu menyewa seorang pembunuh bayaran kelas kakap. Raven hanya bergerak jika targetnya adalah seorang yang berasal dari kalangan atas. Raven juga tidak akan mau menerima tugas dari orang biasa, apa mungkin keluarga Vince Laurence sekuat itu?
Tapi keluarga Laurence tidak termasuk dalam daftar lima keluarga legendaris yang ada di Neosantara?
Pikiran Brian menjadi semakin liar, ini bukanlah lagi masalah yang bisa dianggap sepele. Masalah King of School yang ada di Leighton mungkin hanyalah sebuah lelucon bagi Brian.
Namun sepertinya masalah ini sudah menjadi sangat besar sekarang. Ini bukan lagi masalah perseteruan biasa antar mahasiswa Leighton yang memperebutkan gelar King of School, ini sudah mencakup masalah perang antar keluarga.
Apa mungkin keluarga Laurence terlibat juga dengan masalah yang ada di keluarganya?
"Aku harus menelepon Darwin, dia harus memberikan informasi lengkap tentang keluarga Laurence padaku." gumam Brian wajahnya menjadi sangat dingin seperti bongkahan es.
Tapi saat Brian mencoba mencari ponselnya, dia sama sekali tidak bisa menemukannya. Tidak lama kemudian suara ketukan pintu pun terdengar, Brian segera membuka pintu dan mendapati Zoya yang sudah berdiri di hadapannya sambil membawa segelas teh hangat.
"Tuan muda, teh." Zoya memberikan teh yang ia bawa pada Brian dengan sangat sopan.
"Zoya apa ponselku ada padamu?" tanya Brian dengan ekspresi sangat datar.
Zoya yang sudah mulai terbiasa melihat ekspresi tak acuhnya Brian hanya bisa menyunggingkan senyum sembari menganggukkan kepala. Dia mulai merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel Brian. Tadi malam dia sudah ingin mengembalikan ponsel Brian, namun tuan mudanya itu terlihat sangat kelelahan sekali.
"Sebenarnya tuan~"
Zoya ingin menjelaskan, tapi Brian langsung memotong. "Sudah lah, kau bisa pergi sekarang!" Brian mengambil ponsel dan juga teh yang dibawakan Zoya dan langsung hendak menutup pintu.
"Tunggu tuan muda," Zoya tiba-tiba menahan pintu, "aku masih sangat penasaran dengan tadi malam, apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jhony mengatakan padaku, kalau Vince telah menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan mu kemarin malam. Apa kau memang bertemu dengan pembunuh bayaran Vince itu?"
Zoya sangat penasaran sekali, kenapa Vince sampai segitunya membenci Brian.
"Jadi Jhony yang mengatakannya padamu?" ucap Brian salah satu alisnya naik keatas.
__ADS_1
"Ya dia tak sengaja memberitahu ku lewat ponsel mu itu." jawab Zoya dan menunjuk ponselnya Brian.
"Ya memang benar tadi malam ada seseorang yang mencoba membunuhku, tapi aku berhasil menghajarnya. Kenapa kau menanyakannya, apa kau sebegitu pedulinya padaku?" Brian memberi tatapan yang mempesona pada Zoya saat mengatakan itu. Dia juga segera menyesap teh hangat tadi di depan Zoya, memperlihatkan bibir tipis dan seksi itu seolah-olah sengaja menggoda Zoya.
"Huh, aku peduli padamu hanya karena kau adalah tuan muda pemilik rumah ini. Jika terjadi sesuatu padamu apa yang harus aku katakan nanti pada bibi Michelle!?" ujar Zoya sembari berbalik dan mulai melangkah untuk pergi. Dia tidak sanggup melihat wajah tampan Brian itu, semakin ia menatapnya semakin kencang pula detak jantungnya.
"Kalau begitu terima kasih."
Tiba-tiba Brian mengucapkan kata yang jarang ia ucapkan pada orang lain. Zoya yang mendengarnya saja langsung terhenti dan menoleh ke belakang.
Apa aku tidak salah dengar?
Namun Brian segera menutup pintu dan kembali menyesap teh yang dibawakan Zoya tadi. Dia kemudian duduk di sofanya sambil memutar sebuah nomor yang ada di ponselnya.
Tanpa menunggu waktu yang lama, panggilan Brian langsung diangkat.
"Halo tuan, ada apa anda menghubungi saya?" terdengar suara seorang pria yang sangat ramah dari seberang telfon.
"Memangnya kenapa? Apa aku sudah tidak boleh lagi menelfon mu? Atau jangan-jangan pak tua itu melarang mu untuk mengangkat panggilan dari ku?" nada bicara Brian terdengar sangat pelan namun membuat pria yang ada di seberang telepon merasa merinding.
"Tidak tuan muda, hanya saja sangat jarang anda menghubungi saya, apalagi sepagi ini!" ucap Darwin nadanya terdengar gemetar.
"Darwin, berikan semua informasi tentang keluarga-keluarga yang ada di Golden Sea yang bersangkutan dengan Cody Famili!"
Seketika Darwin yang ada di seberang telepon tersentak tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tuan muda, apa anda mendapat masalah disana?" Darwin terdengar sedikit cemas.
"Darwin, lakukan saja apa yang aku perintahkan tadi dan jangan banyak tanya, aku bisa mengurusi masalahku sendiri disini!"
"Baiklah tuan, saya mengerti!"
Setelah itu Brian mematikan ponselnya dan kembali menyesap tehnya. Sejenak dia melamun dan menatap keluar halaman rumahnya.
__ADS_1
"Cody Famili, ck... suatu saat aku juga akan berurusan dengan kalian!"