
Bmw Brian melesat dan membelah jalanan kota Golden Sea. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah mansion yang terletak di pinggir kota.
Mansion itu sangat luas, bahkan lebih luas dua kali lipat dari milik Brian. Di dalamnya berdiri beberapa bangunan megah nan mewah.
Mobil Brian perlahan masuk, melewati pintu gerbang. Saat sampai di area parkir, terlihat juga disana sudah dipenuhi dengan berbagai mobil sport dan mobil mewah lainnya. Sepertinya Abraham benar-benar sudah mengundang seluruh kalangan elit atas ke pesta ini.
Melihat mobil-mobil itu, wajah Zoya tampak sedikit suram. Dia tahu bahwa pesta ini pasti akan dipenuhi oleh kaum bangsawan saja. Ini bukanlah tempat yang cocok untuknya berada. Jika saja Kiara tidak terus-menerus memaksanya untuk ikut, maka Zoya sama sekali tidak akan pernah mau kesini.
"Kalian masuklah duluan, aku akan segera menyusul." seru Brian dengan datar.q
Kiara mengangguk dan langsung menarik tangan Zoya keluar dari mobil. Kedua gadis cantik itu berjalan dengan sangat anggun menuju gedung megah yang berdiri di depan mereka.
Sesekali orang-orang yang ada di sekitar luaran taman melirik dan terkagum, melihat kedua peri itu melangkahkan kaki mereka. Pujian demi pujian pun keluar dari mulut para pria yang menatap Kiara dan Zoya.
Zoya yang merasa tidak nyaman merangkul lengan Kiara dengan sangat erat, "Kia, aku rasa aku sangat tidak pantas berada disini. Bagaimana aku bisa menyesuaikan diri dengan para bangsawan yang ada disini?" lirih Zoya.
Kiara tahu kalau kak Zoya belum terbiasa dengan suasana seperti ini dan segera memberikan kata-kata penyemangat untuknya. "Kak, jangan takut. Aku ada disini, kakak jangan merendah seperti ini. Kalau ada yang macam-macam denganmu, maka mereka harus melewati ku terlebih dahulu."
Ekspresi Zoya masih terlihat tidak enak saat menatap Kiara. Dia tidak mengerti kenapa Kiara memaksanya untuk hadir ke pesta ini.
"Sekarang ayo kita masuk!"
Kiara dan Zoya pun memasuki sebuah gedung Ballroom yang ada di mansion itu. Saat Zoya pertama kali menginjakkan kakinya kedalam, matanya langsung berbinar melihat suasana sekitar yang begitu megah dan mewah. Ruangan itu di penuhi dengan berbagai hiasan lampu bercahaya kuning yang menggantung di langit-langit ruangan. Pilar-pilar romawi yang menopang gedung itu juga dipenuhi dengan hiasan bunga anggrek putih, semakin menambah kesan elegan di mata semua orang.
Meja-meja berbentuk bundar yang mengisi setiap sudut ruangan juga dihias dan dibalut dengan kain mewah. Tidak luput juga para pemain orkestra terus memainkan alat musik mereka, melantunkan suara merdu yang membuat suasana ruangan itu terasa begitu damai.
__ADS_1
"Kakak, ayo kita duduk disana!" ajak Kiara kepada Zoya sembari menunjuk kearah meja kosong yang ada di dekat pilar romawi raksasa.
Zoya hanya bisa pasrah saat lengannya di tarik oleh Kiara, dia tidak mau banyak bicara ataupun menonjolkan diri. Ini merupakan pertama kali bagi Zoya menghadiri pesta bangsawan, dia berusaha untuk bersikap sebaik mungkin agar tidak mempermalukan tuan muda Brian dan juga nona Kiara.
"Kakak tunggu sebentar disini ya, aku akan segera kembali. Ada seseorang yang harus aku temui." ucap Kiara sembari menyuruh Zoya untuk duduk di kursinya.
Zoya pun patuh dan menuruti Kiara, dia hanya bisa menatap punggung Kiara yang perlahan pergi meninggalkannya sendirian duduk di meja itu. Rasa ketidaknyamanan mulai terlukis di wajah Zoya.
Raut wajahnya yang imut itu terlihat sedikit menegang, karena sedari tadi semua orang terus saja memandangi dirinya. Zoya tidak tahu kalau saat ini orang-orang memandanginya entah karena apa. Yang Zoya pikir saat ini semua orang memandangnya dengan tatapan jijik, karena dia sadar kalau seorang dengan kasta terbawah seperti dirinya sama sekali tidak layak hadir di tempat ini.
Mungkin para kaum wanita merasa iri padanya, tapi para kau pria itu memandang Zoya dengan tatapan kagum.
"Zoya kau disini?" tiba-tiba sekumpulan wanita muncul dan menghampiri Zoya yang sedang duduk di kursinya.
Dia adalah Trisha.
"Oh bukankah ini sebuah kejutan, bagaimana mungkin seorang anak pembantu bisa menyusup ke dalam pesta?" cemooh Trisha dengan tatapan kebencian.
Hubungan Zoya dan Trisha dulu memang sangat dekat, namun setelah dua kali dikhianati, Zoya sudah melupakan masa-masa indah yang pernah mereka lalui. Yang tersisa sekarang hanyalah kebencian saja terhadap mantan sahabatnya itu.
"Maaf Trish, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu di sini. Jadi pergilah!" ucap Zoya sambil mencoba untuk bersikap acuh tak acuh.
"Wah, lihatlah betapa arogannya dirimu sekarang. Dari mana datangnya semua keberanian ini?" Trisha semakin terlihat lebih sombong dari sebelumnya. Baginya Zoya hanyalah kasta rendahan yang seharusnya tidak layak berada di tempat seperti ini.
Wajah imut Zoya mulai berkedut, dengan sinis dia berkata, "Dengar Trish, bukan urusanmu kenapa aku bisa berada disini. Lebih baik kau urus saja dirimu sendiri."
__ADS_1
Melihat keberanian Zoya, Trisha mendesis tidak senang, "Seorang pembantu sepertimu sama sekali tidak layak berada disini, apa yang kau pikirkan ha? Dengan berdandan seperti gadis lugu, apa kau pikir akan menarik perhatian para pria bangsawan yang ada disini? Sungguh mengesankan."
Trisha puas melihat wajah Zoya mulai memucat, dia tidak berhenti dan terus mengeluarkan kata-kata tajamnya. "Dengar Zoya, kau itu hanyalah mainan Brian yang sebentar lagi akan dibuang." Trisha tertawa dengan ekspresi mencibir.
"Cukup Trish!" Zoya yang sudah tidak tahan bangkit juga dari kursinya, dia memang terlihat seperti gadis lugu dan polos. Namun dia bukan gadis yang mudah terima dengan segala hinaan orang lain sepeti yang ada di dalam novel.
Ini kehidupannya, selain dirinya sendiri, siapa lagi yang akan membelanya?
"Aku memang hanyalah seorang pembantu, tapi aku masih punya harga diri. Berhentilah memancing emosiku Trish, jika tidak aku akan..."
"Akan apa?" Trisha maju selangkah dan berdiri tepat di hadapan Zoya, sambil mengangkat kepalanya dengan sombong dia berkata, "Tidak ada yang bisa kau lakukan disini Zoya, kau kira dirimu siapa? Lihatlah sekelilingmu, semua yang ada disini adalah orang dari kalangan atas. Sedangkan kau..."
Semakin Trisha menatap Zoya, semakin ia merasa jijik. Teman-teman Trisha juga ikutan mencibir dan mencemooh Zoya.
Sedangkan Zoya yang hampir meledak karena emosi, tiba-tiba menarik nafas mencoba untuk tetap tenang.
'Jika aku terus berdebat dengan mereka, yang ada aku akan menimbulkan keributan nantinya. Aku tidak mau menimbulkan masalah disini.'
"Terserah kau saja, Trish. Berdebat denganmu hanya membuang-buang waktuku saja." kemudian Zoya memilih untuk segera beranjak pergi dari sana sebelum perselisihan itu menjadi panjang.
Namun saat Zoya hendak melangkah kakinya dijegal oleh Trisha, sehingga Zoya pun tersandung dan menabrak seorang pelayan yang membawa minuman.
Gedebuk.
Zoya terjatuh ke lantai marmer itu dan tersiram tumpahan jus yang di bawa pelayan tadi.
__ADS_1