King Of School

King Of School
Bab 116


__ADS_3

Zoya duduk di tepian ranjangnya sembari melamun. Ketika ponselnya berdering wanita itu langsung tersentak sadar dan memungut ponselnya tadi yang tergeletak di atas ranjang.


Kedua mata Zoya mulai menggelap saat menatap nomor di layar ponselnya. “Sekarang apa lagi yang dia inginkan?” gerutu Zoya saat dia mengangkat panggilan itu.


Seketika suara seorang pria yang begitu maskulin terdengar dari seberang telepon, “Bagaimana, apa kau sudah melakukan apa yang aku pinta tadi?”


Zoya berdecak kesal, kemudian dengan dingin dia menjawab, “Aku baru saja sampai, kenapa kau menjadi sabaran?”


Pria di seberang telepon itu terkekeh, kemudian dia melanjutkan, “Aku hanya ingin memastikan saja, supaya kau tidak menundanya terlalu lama. Ingat Zoya, saat ini nasib ayah mu ada di tangan ku, jika kau ingin aku melepaskannya, maka kau harus melakukan apa yang aku pinta. Kau tidak bisa meninggalkan rumah itu, kan? Jadi, sebagai gantinya lakukanlah apa yang aku pinta tadi.”


Tangan kanan Zoya menggenggam ponselnya yang menempel di telinga dengan sangat erat, sementara tangannya yang satu meremas gaunnya menunjukkan betapa geram ia saat ini. Pria yang sedang berbicara dengannya di seberang telepon itu, sudah memegang kendali penuh atas diri Zoya. Sekarang wanita itu tak tahu harus bagaimana lagi, dia ingin melepaskan Ayah nya, tapi di sisi lain Zoya juga tidak bisa mengkhianati orang yang paling ia cintai, yaitu Brian.


Dengan nada yang sangat dingin dan gigi terkatup, Zoya berkata, “Aku akan melakukannya, tapi berikan aku waktu.”


Pria di seberang telepon itu terkikik, “Kau sangat suka bernegosiasi, bukan? Apa lagi yang menghambat mu Zoya? Apa karena kau sangat mencintai Brian? Dengar, dia itu pria yang sangat egois dan temperamental, bukankah sudah aku katakan padamu tadi. Untuk apa kau mempertahankan orang sepertinya, kau pasti sudah melihatnya juga, kan? Bahkan keluarganya saja tidak menyukainya.” hasut pria yang berada di seberang telepon itu.


Zoya merenung sejenak, dia mendengarkan perkataan pria di seberang telepon dengan cermat sembari mengingat semua momen yang pernah ia lalu bersama dengan Brian. Memang benar, Brian itu arogan dan sangat mudah marah. Akan tetapi menurut Zoya, Brian tidak seburuk itu. Brian sudah berulang kali menyelamatkan Zoya, bahkan pria itu rela menentang ayahnya sendiri demi dia.


Ini akan menjadi sangat tidak adil untuk Brian jika Zoya tiba-tiba mengkhianatinya. Zoya juga tidak mau egois mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.


“Kenapa kau diam saja, Zoya? Dengar, baik-baik, aku beri kau kesempatan sampai besok pagi. Jika aku melihat Brian muncul di kompetisi perebutan gelar King of School besok, maka kau tahu sendiri akibatnya.”


Setelah mengatakan itu panggilan pun terputus, Zoya menatap layar ponselnya dengan sedih. Dia saat ini berada dalam dilema yang sangat membingungkan. Apakah dia harus memilih menyelematkan ayahnya atau mengkhianati Brian.

__ADS_1


Pikirannya bercampur aduk, dia sangat kesal sehingga menjambak rambutnya sendiri dan melemparkan ponselnya ke dinding kasur.


“Kenapa... kenapa orang-orang kaya selalu mempermainkan kaum bawah seperti kami.” gumam Zoya, dia menaikan kedua kakinya keatas ranjang dan menekuknya membenamkan seluruh wajah diantara dua lutut. Zoya tampak sangat tertekan.


“Tuan muda, maafkan aku. Aku juga tidak ingin mengkhianati mu. Akan tetapi, sebagai seorang anak, aku memiliki kewajiban untuk menyelamatkan ayah ku.”


Zoya mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantongnya. Botol itu ia dapat dari orang yang ia jumpai sepulang dari kampus tadi. Jika di lihat dari penampilannya, botol itu seperti sebuah racun atau sejenisnya. Zoya juga tidak tahu pasti, tapi orang yang memberikan itu kepada mengatakan, kalau ini semacam obat bius yang akan membuat Brian lumpuh selama satu harian penuh.


“Dia ingin tuan muda tidak sampai ke kompetisi, kurasa itu tidak terlalu masalah, kan? Keselamatan ayah ku adalah yang lebih penting.” Zoya berbicara sendiri.


Tanpa ia sadari, ternyata dari tadi dia lupa menutup pintunya. Terlihat seseorang dari balik dinding kamar Zoya tak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di sana sehingga menimbulkan suara. Zoya sontak bangkit dari ranjang dengan ekspresi panik, dia bergegas berjalan menuju pintu. Dia menilik ke kiri dan ke kanan. Tapi tidak menemukan siapapun.


“Kurasa itu hanya kucing.” tukas Zoya dengan penuh keraguan, kepalanya sudah terlalu pusing memikirkan banyak hal. Jadi dia langsung menutup pintu kamarnya tanpa memperdulikan ternyata seseorang telah mendengar semua perbincangannya dengan pria yang tak dikenal melalui telepon tadi.


Malam hari.


Brian berniat keluar untuk menyelidiki kasus pak Siman, dia tidak punya banyak waktu lagi. Karena besok adalah hari puncak kompetisi perebutan King of School. Jika masalah ini tidak segera ia selesaikan, maka besok rentetan masalah pasti akan bermunculan.


Brian mengirim pesan ke semua anggotanya untuk berkumpul di bengkelnya Sean.


Saat dia sampai di sana, Brian langsung melemparkan sebuah botol kaca kecil ke arah Jhony. Dia berseru, “Cepat cari tahu apa isi botol itu.”


Dengan refleks yang payah Jhony menangkap botol itu, hampir saja jatuh, “Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Jhony dengan raut wajah heran, dia membuka botol tersebut dan mendekatkannya ke ujung hidungnya. “Apa ini sejenis obat-obatan?”

__ADS_1


“Kenapa kau tidak minum saja, agar kita semua tahu.” balas Brian dengan acuh tak acuh, dia kemudian duduk di sebuah sofa tunggal yang ada di dalam ruangan bengkel Sean.


“Kau ingin aku meminum benda ini? Bagaimana kalau ini racun, kau ingin membunuh ku?” bantah Jhony yang agak jengkel dengan perkataan Brian barusan.


“Sini biar ku lihat!” tiba-tiba Sean yang duduk di sebelah Jhony langsung merampas botol itu dari tangan Jhony. Ketika Sean melihat isinya yang berupa bubuk, wajahnya seketika lebih gelap seperti malam.


“Brian dari mana kau mendapatkan ini, kau sedang tidak ingin mencoba melakukan hal seperti menjebak wanita, kan? Ini salah satu obat bius yang dapat melemahkan seluruh otot-otot tubuh.” Sean sangat mengenal isi dari obat itu, karena dia juga sering menggunakannya. Jadi dia langsung menebak Brian pasti ingin melakukan sesuatu yang aneh-aneh.


“Ck, Brian ku kira kau tipe pria yang hanya senang dengan satu wanita saja. Ternyata kau buaya juga.” Jhony meledek Brian dan tertawa terbahak-bahak setelahnya. “Apa karena Zoya selingkuh tadi siang, makanya kau ingin membalasnya?” tanya Jhony lagi sembari menaik turunkan alisnya saat menatap Brian dengan menggoda.


Brian langsung menembakkan tatapan dingin saat dia berkata, “Omong kosong, memangnya aku baj*ngan seperti mu? Aku mendapatkannya dari kamar Zoya, sepertinya dia ingin memasukkan itu ke makanan ku.”


Seketika semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan.


‘Apa, Zoya ingin membius Brian?’


Mereka menatap Brian dengan tidak percaya.


Bahkan Frans yang dari tadi diam mau tidak mau pun bertanya pada Brian, dia tidak terlalu tahu menahu hubungan seperti apa yang dimiliki Brian dan Zoya. Akan tetapi kenapa Zoya sampai melakukan hal semacam itu?


Namun Brian hanya mengangkat bahunya dan membuang wajahnya ke samping. Dia tak mau membahas masalah pribadinya dengan Zoya kepada orang lain. Tujuannya kesini hanyalah untuk menguak siapa yang memberikan benda semacam itu kepada Zoya.


Walaupun sebenarnya Brian sudah mempunyai tersangka di balik semua ini, yaitu Marcell. Akan tetapi Brian juga tahu kalau Marcell pasti tidak semudah itu untuk di tuduh. Pria licik itu bukanlah tipe yang akan menghadapi lawan secara langsung, dia pasti menggunakan boneka seperti Vince dan juga Zoya untuk menjalankan rencananya.

__ADS_1


Jika ingin mengalahkan Marcell, Brian harus terlebih dahulu menangkap kaki tangan dari pria licik itu.


__ADS_2