King Of School

King Of School
Bab 64


__ADS_3

"Wow Brian, apa itu Amex Black Card." Edi spontan takjub melihat Brian menggunakan kartu debit langka itu untuk pembayaran.


Kartu hitam Amex adalah edisi terbatas, dikabarkan hanya ada puluhan orang saja di dunia ini dan hanya ada lima belas orang di negara ini yang memilikinya. Seseorang yang memiliki kartu itu sudah pasti berasal dari kalangan bangsawan.


Pada saat ulang tahunnya yang ke sepuluh Brian mendapatkan kartu itu sebagai hadiah dari kakeknya, Brian merupakan cucu kesayangan. Dia juga diharapkan akan menjadi penerus pemimpin keluarga selanjutnya.


Hadiah kartu Amex hanyalah sebagian kecil saja dari kekayaan kakeknya, padahal di dalam kartu saja memiliki jumlah yang mampu menghidupi satu keluarga sampai beberapa generasi selanjutnya.


Betapa besarnya Cody Famili!


Semua orang juga terkejut melihat kartu yang dikeluarkan Brian. Muncul berbagai pertanyaan di benak semua orang, 'seberapa kaya sebenarnya Brian?'


Namun Zoya sangat polos, dia tidak terlalu tahu apa arti dari kartu itu. Dia hanya bisa tersenyum dan berterima kasih pada Brian karena mau mendahulukan uangnya untuk membayar makanan.


"Terima kasih tuan muda, aku janji setelah sampai di rumah nanti, aku akan menggantinya."


Setiap kali melihat Zoya tersenyum, gunung es yang menutupi wajah Brian langsung meleleh. Dia tidak bisa berkata-kata dan dengan cepat mengalihkan pandangannya.


Bersikap sok cuek!


"Brian kita harus segera pergi dari sini!" tiba-tiba Jhony mendekati Brian dan berbisik ke telinganya, terlihat sedikit kekhawatiran di wajah Jhony.


"Kau kenapa?" Brian keheranan.


"Apa aku lupa dengan orang-orang yang ada di toilet tadi?"


Sebelah alis Brian naik keatas, dia berkata, "Ada apa dengan mereka?"

__ADS_1


Jhony menepuk jidatnya sendiri dan kembali berbisik pada Brian, "Brian mereka pasti tidak akan menyerah begitu saja, aku yakin saat ini mereka pasti sudah meminta bantuan..."


Belum sempat Jhony menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Zoya langsung menegurnya. "Kenapa kalian berbisik-bisik sih?"


Jhony langsung mengangkat kepalanya kembali dan tidak menjawab Zoya.


Brian kemudian menolehkan pandangannya pada Zoya, sejenak dia memikirkan apa yang dikatakan Jhony barusan. Dia sebenarnya tidak tahu siapa orang-orang yang dihajarnya di toilet tadi, dan dia juga tidak terlalu peduli jika memang mereka akan mendatangkan bala bantuan.


Hanya saja saat ini Zoya juga ada bersama dengannya, Brian tidak ingin melibatkan Zoya kedalam masalah yang dia sendiri juga tidak tahu entah dari mana datangnya.


Tapi semuanya sudah terlambat, baru saja Brian dan yang lainnya sampai ke area parkir untuk pulang. Tiba-tiba beberapa mobil toyota alphard muncul dan menghadang jalan mereka.


Segera setalah itu, belasan pria berkaos merah tua dengan lambang naga di punggungnya keluar. Mereka berbaris rapi seperti marching band, sedetik kemudian seorang pria paruh baya dengan kepala botak dan tato naga di lengannya maju seolah dia adalah pemimpin yang menyeramkan.


Berjalan dengan penuh kesombongan, pria itu menyalakan cerutunya dan menatap kawanan Brian dengan penuh cemoohan. Wajahnya terlihat sangat kejam, matanya bagaikan macan yang sedang mengincar mangsanya.


Melihat orang-orang itu Brian sedikit mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan gerombolan yang ada dihadapannya ini. Tapi dia masih bersikap tenang dan memperhatikan apa yang akan dilakukan orang-orang ini.


Sean dan yang lainnya mulai saling memandang satu sama lain, tapi mereka tidak berani untuk bicara. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Sean tahu betul siapa pria sedang berdiri dihadapannya ini, jika Sean adalah seorang gangster amatiran yang hanya menguasai kalangan remaja. Maka pria botak ini adalah seorang mafia yang sebenarnya, dia adalah tirani yang menguasai dunia bawah kota Golden Sea, Leo Murphy.


"Kalian masih tidak mengerti ya, dasar bocah-bocah tengil! Aku hitung sampai tiga jika tidak ada yang mau mengaku, maka kalian akan menghabiskan masa muda kalian dengan duduk di kursi roda." tatapan jahat Leo mengintimidasi mereka, bahkan Sean dan Jhony tidak pernah merasa diri mereka begitu ketakutan seperti sekarang ini.


Mereka gemetar!


Mengingat usia mereka yang masih sangat muda, mental mereka belum sepenuhnya matang. Mereka hanyalah sekumpulan remaja yang penuh gairah, yang masih ingin menikmati hidup. Mereka tidak bisa membayangkan jika harus menjalani masa muda mereka di kursi roda.


Di tengah mendapatkan ancaman dari pria botak itu, siapa sangka kalau orang yang berinisiatif maju duluan adalah Zoya. Dengan penuh keberanian Zoya mengangkat kepalanya dan berjalan kedepan.

__ADS_1


"Maaf paman, kami tidak tahu apa tujuan kalian sebenarnya, tapi kami benar-benar tidak mengenal nama itu." Zoya berkata dengan tegas, tapi sejujurnya dia merasakan sekujur tubuhnya mulai gemetar melihat tatapan Leo.


Leo menyunggingkan senyuman jahat pada Zoya dan berkata dengan ramah setelah menghembuskan asap ke wajah Zoya, "Gadis cantik yang pemberani, kau tampaknya masih sangat polos, tapi dengan berkeluyuran di jam malam begini? Apakah kau sedang mencoba untuk berbuat nakal? Anak-anak sepertimu seharunya diam saja di rumah dan belajar dengan tekun. Tapi aku bisa membantumu untuk memenuhi rasa penasaranmu akan dunia luar kalau kau mau?"


Nada bicara Leo terdengar sangat genit membuat Zoya mulai merinding di sekujur tubuhnya, terlebih lagi tatapan menjijikan itu mulai mengobservasi seluruh tubuh Zoya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Leo benar-benar terkesan, Zoya sangat cantik dengan wajah mungil dan lekuk tubuh yang bagaikan gitar spanyol. Hasrat Leo seketika memuncak, seolah-olah dia ingin menerkam Zoya saat itu juga.


"Paman, kami hanya keluar untuk makan malam dan kami juga baru ingin pulang, jika itu yang membuatmu datang kesini, maka biarkan kami pergi sekarang dan terima kasih telah mengingatkan kami." Zoya memohon dengan tulus menggunakan kedua telapak tangannya, supaya pria-pria menakutkan ini mau melepaskan mereka.


"Hahaha, kau sangat polos. Apa kau kira aku datang jauh-jauh kesini hanya untuk melakukan penertiban untuk remaja-remaja seperti kalian?" Leo mendekati Zoya dan semakin menatapnya dengan tatapan keintiman.


"Jadi kenapa kau kemari?" Zoya yang mulai merasa ngeri dengan tatapan Leo yang mulai mendekatinya, mengambil langkah mundur waspada.


Zoya pernah belajar sesuatu di adegan film yang selalu ia tonton. Jika seorang wanita dalam kondisi terdesak seperti ini hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri. Zoya mulai memandang area bagian bawah Leo dengan sangat tajam.


"Kenapa aku kemari? Gadis kecil, seseorang diantara kalian sudah menyusahkan ku belakangan ini, tadinya aku ingin membuat perhitungan dengannya. Tapi setelah aku melihatmu, mungkin kita bisa bernegosiasi." ujar Leo dengan wajah jahat khas om-om birahi.


Zoya tentu tahu siapa orang yang sedang diincar Leo, jadi dia berusaha untuk mempertimbangkan negosiasi yang ditawarkan untuk melindungi pria yang sangat ia cintai, Brian. Zoya mungkin sudah melihat Brian bertarung berulang kali, namun kali ini kondisinya jauh lebih berbahaya dari yang sudah-sudah. Jumlah mereka sangat banyak, di tambah dengan senjata tajam yang ada di tangan mereka. Mustahil bagi Brian untuk melawan, walaupun nantinya dibantu oleh Sean dan Jhony.


"Negosiasi seperti apa itu?" Zoya bertanya dengan memberanikan dirinya, walaupun dia tahu mungkin itu adalah pilihan yang sangat buruk.


"Aku bisa melupakan semuanya dan melepaskan semua teman-temanmu, jika kau mau ikut dan tidur bersamaku selama satu malam."


Pupil Zoya langsung membesar dan amarah mulai menguasai wajahnya.


'Tidak tahu malu'

__ADS_1


Zoya tidak tahu siapa Leo sebenarnya, tapi sepertinya dia bisa menarik kesimpulan sekarang.


Leo tidak lebih dari sekedar om-om mes*m yang sedang menindas kaum remaja.


__ADS_2