
Wanita cantik itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan gontai mendekati Zoya dan Jhony. Raut wajahnya terlihat sangat lembut saat menghadap dua pasang mata yang ada di hadapannya saat ini.
"Kalian disini! Aku kira Brian datang sendirian tadi!?" ucap Kimberly lemah lembut.
Kimberly seorang gadis yang terlihat sangat modern, selain memiliki wajah cantik dan tubuh yang ideal. Dia juga dikenal sangat ramah pada semua orang.
Tapi keramahan itu diartikan sangat buruk oleh Zoya, semenjak dia melihat Brian dan Kimberly waktu itu. Zoya mulai tidak menyukai wanita itu, dia sangat enggan melihat wajah secantik lukisan itu yang selama ini mencoba dekat dengan tuan muda nya.
"Kau ternyata...!" ucap Zoya dengan nada datar dan segera membuang pandangannya ke samping.
Melihat sikap Zoya itu, Kimberly tahu kalau dirinya sama sekali tidak di sukai, akhirnya dia memilih untuk bicara pada Jhony saja.
"Jhony, bagaimana kabarmu?" tanya Kimberly untuk memulai percakapan.
"Aku baik, bagaimana denganmu, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?"
Sontak Zoya langsung mengernyitkan dahinya melihat respon Jhony terhadap Kimberly, mereka terlihat sangat akrab.
'Apa Kimberly yang terlewat ramah atau memang terlalu murahan, sehingga seluruh pria yang ada di kampus terlihat sangat dekat dengannya?' pikir Zoya.
"Aku juga baik..." sebelum Kimberly menyelesaikan kalimatnya, Zoya langsung menghentikan pembicaraan formal itu.
"Tunggu... tunggu... apakah semua ini penting Jhony?" tanya Zoya sembari menatap Jhony dengan ekspresi aneh dan tangan bersilang. "Maksudku, semua formalitas ini... kau dan dia... tidak bisakah kalian melakukannya dilain waktu? Apa kau lupa saat ini tuan mudaku sedang dalam bahaya?"
Zoya yang sedari tadi memikirkan keselamatan tuan mudanya itu, terheran melihat sikap Jhony. Bukannya membantu mencari cara untuk menyelamatkan Brian, Jhony malah membuang-buang waktu dengan membicarakan omong kosong bersama Kimberly.
"Tuan muda?" sontak Kimberly bertanya-tanya, siapa tuan muda yang dimaksud Zoya?
"Ya tuan mudaku, Brian! Orang yang sudah kau jebak untuk mengikuti balapan mematikan ini!"
__ADS_1
Deg.
Seketika Kimberly tersentak kaget mendengar perkataan Zoya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi gusar, seperti maling yang tertangkap basah.
Kenapa Zoya berkata seperti itu? Apa Zoya sudah tahu yang sebenarnya!? batin Kimberly bertanya-tanya.
...
Sementara itu, Brian dan Sean masih berhadapan dengan pria yang sudah mengganggu balapan mereka tadi.
Terlihat saat ini kondisi Sean masih tergeletak di aspal, dia mencoba untuk bangkit, namun tamparan yang di berikan pria tadi benar-benar sangat luar biasa, ditambah lagi dia baru saja mengalami kecelakaan sehingga seluruh tubuhnya sudah tidak berdaya lagi untuk berdiri.
Bekas telapak tangan di wajahnya itu membuktikan betapa ngerinya tamparan tadi. Saat ini dia hanya bisa melihat Brian yang berdiri dengan gagah di hadapannya, sesekali dia mengeluarkan umpatan kekesalan pada Brian.
"Kau keterlaluan, Brian! Beraninya kau menyewa orang untuk melakukan ini padaku!?" ucap Sean dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kacau.
Sean mengira kalau pria yang telah memukulnya adalah orang suruhan Brian. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Brian akan melakukan ini padanya. Sean terus saja memberi cacian kepada Brian.
"Aku beri kau kesempatan, katakan siapa yang mengirim mu. Aku tahu kau adalah seorang pembunuh bayaran, kau datang untuk menghabisi diriku, kan?"
Brian bicara dengan sangat santai dan tanpa ada rasa takut sedikitpun. Padahal dia sudah mengetahui sosok yang ada dihadapannya saat ini adalah salah satu anggota organisasi Raven, organisasi pembunuh bayaran yang telah menjadi buronan internasional. Brian sangat mengetahui itu, melihat dari cara si pria memegang katana.
Tentu saja Brian sangat mengetahui organisasi Raven, semua orang dari kalangan atas pasti pernah memperkerjakan Raven setidaknya sekali untuk kepentingan pribadi. Para keluarga teratas yang ada di seluruh Neosantara pasti pernah terlibat dengan Raven tidak terkecuali Cody Famili.
Di dalam dunia bisnis yang profesional, persaingan berlangsung sangat sengit. Pertarungan untuk saling menjatuhkan tidak hanya mereka lakukan lewat bisnis saja. Karena itulah, sesekali para bangsawan tidak akan ragu-ragu menyewa pembunuh bayaran seperti Raven untuk saling menghancurkan.
Di dunia ini yang terkuat lah, yang berkuasa. Sedangkan yang lemah harus tunduk di bawah kaki mereka.
Alasan ini jugalah yang membuat Brian tidak menyukai ayahnya. Alexander Cody, atau ayahnya Brian juga tidak jauh berbeda dengan para bangsawan kejam itu.
__ADS_1
Karena itu Brian ingin memilih jalannya sendiri, dia tidak ingin hidup di jalan lingkaran setan itu sama seperti ayahnya. Sudah cukup ia mendapatkan didikan ala militer dari ayahnya, itu sudah menjadikan dia pria berhati dingin seperti saat ini.
Tapi sesungguhnya Brian masih memiliki sisi yang lembut, dia tidak suka dengan sistem itu dan memilih untuk menentangnya. Buktinya saat ini dia sedang ingin menghentikan lahirnya satu lagi tirani di Leighton yang memiliki ambisi mengerikan yaitu Vince Lauren.
Kenapa dunia ini harus didominasi oleh orang-orang kaya?
"Kau masih bersikap sombong walaupun saat ini ajal mu sudah ada didepan mata!?" ucapan Raven itu sangat pelan namun cukup membuat darah menggigil bagi siapapun yang mendengarnya.
"Apa kau tahu, ancaman, tantangan... itu semua adalah hal yang paling aku suka!?" ucap Brian dengan santai.
"Aku selalu menjawab setiap tantangan yang datang padaku, tapi kau datang diwaktu yang tidak tepat, seharusnya kau tidak mengganggu malam ini."
"Sekarang suasana hatiku menjadi sangat buruk, kau tidak hanya sudah menghalangi jalanku, tapi kau juga sudah membuang-buang waktuku yang berharga."
"Sekarang aku beri kau satu kesempatan lagi, katakan siapa yang mengirim mu sebelum aku benar-benar marah."
Tampaknya Brian sangat serius dengan ucapannya, jujur saja saat ini dia sudah sedikit frustasi. Tadi siang dia sudah melawan gengnya Sean, dia juga mengikuti balapan ini, dan sekarang satu masalah baru muncul begitu saja.
Hanya satu yang diinginkannya saat ini, pulang ke rumah dan tidur di kasur empuknya sambil mendengarkan musik.
"Persetan dengan semua perkataan mu itu, saat ini bagiku riwayatmu sudah tamat! Akan aku cincang setiap bagian tubuhmu menjadi potongan kecil-kecil. Lalu aku akan memberinya pada anjing peliharaan ku."
"Kalau begitu aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya, majulah!"
Brian mengulurkan tangannya ke depan, dan memberi isyarat pada Raven untuk maju duluan.
Ekpres wajahnya sangat datar, membuat Raven semakin naik darah dan akhirnya mulai melangkah maju sembari menarik pedang katana keluar dari sarungnya.
Sean yang sedari tadi memperhatikan tidak bisa hanya bisa memasang ekspresi jelek. Dia tidak menyangka kalau ternyata Raven itu bukanlah suruhannya Brian. Sekarang rasa bingung, panik dan ketakutan sedang melanda pikiran Sean.
__ADS_1
Lalu siapa sebenarnya orang ini?