
Prok, prok, prok.
Suara tepuk tangan menggema keseluruh lorong tempat Brian berdiri. Mata yang dipenuhi gundukan es itu menatap tajam ke sekumpulan orang yang ada di depannya.
Perlahan Brian menurunkan ponselnya dari telinga saat dia menjatuhkan pandangan pada Leo yang muncul di tengah-tengah para anak buahnya.
"Seharusnya aku tahu, pertarungan itu hanya membuang-buang waktu saja." Leo berkata sambil memain-mainkan sebuah pistol di tangannya.
"Apa kau pikir karena kau sudah mengalahkan Frans, aku akan melepaskan mu."
Dari belakang muncul lagi belasan pria, sehingga saat ini Brian benar-benar sudah terkepung. Tidak ada tempatnya untuk lari.
"Aku tahu kau pasti tidak akan melepaskan ku." ucap Brian masih bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Leo yang melihat ekspresi tenang Brian itu sedikit terheran. Bagaimana ada orang yang masih tenang ketika kematian sudah mau menjemputnya. Bagi Leo saat ini Brian sama seperti seekor burung yang sudah terkungkung dalam sangkar, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk disembelih.
"Jika kau tahu hal itu, mengapa kau masih mencoba bernegosiasi tadi." tanya Leo.
Brian menyunggingkan sudut bibirnya keatas, sebelum berkata, "Itu bukan negosiasi, tadi itu adalah tes kelayakan Frans sebagai kandidat yang akan bergabung denganku."
Sejenak Leo keheranan sebelum akhirnya terkekeh dan berkata, "Aku tidak tahu maksudmu, tapi masa bodoh dengan semua yang kau katakan. Yang terpenting kau harus mati, sekarang juga. Dengan begitu sepupuku Ted bisa pergi dengan tenang."
Leo menodongkan pistolnya kearah Brian, wajahnya terlihat murka dan matanya dipenuhi dendam dan kebencian.
"Jadi kau mengejar ku hanya untuk balas dendam atas kematian sepupumu, begitu? Tapi kau harus tahu sesuatu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan sepupumu Ted itu. Jadi bagaimana caraku membunuhnya?"
"Jangan coba pura-pura bodoh Brian, bagaimana bisa kau mengatakan kau tidak pernah bertemu dengannya. Apa kau lupa, kau sudah menghabisinya di kaki gunung Golden Sea dua hari yang lalu." pekik Leo.
Sejenak Brian mengingat peristiwa dua hari yang lalu saat dia berurusan dengan Sean, "Oh jadi Raven itu sepupumu," Brian pura-pura terkejut padahal sebenarnya dia sudah tahu. Dia hanya ingin memastikan saja, apakah informasi dari Jhony itu benar. "ya aku memang sudah menghajarnya, tapi sepertinya dia masih hidup saat aku meninggalkannya disana."
"Oh ya, lantas bagaimana kau menjelaskan ini." Leo melemparkan sebuah pisau yang berlumuran darah kearah Brian. Di pisau itu juga terikat secarik kertas.
__ADS_1
Melihat pisau melayang kearahnya, Brian menangkapnya dengan santai. Lalu dia dengan segera membuka secarik kertas tadi dan membacanya dengan seksama.
Ekspresi Brian langsung berubah suram setelah membaca surat itu. Dia tidak menyangka ternyata ada seseorang yang mencoba mengkambing hitamkan dirinya.
"Aku menemukan pisau itu tertancap di tubuh mayatnya Ted, aku tidak tahu kenapa kau melakukan itu. Tapi satu hal yang harus kau, kau sudah menantang orang yang salah!" pekik Leo, dia berpikir Brian lah yang telah menantangnya dengan membunuh sepupunya, Ted.
"Dengar, aku memang sudah menghajarnya, itu juga karena dia mencoba ingin membunuhku. Tapi aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan kematian dia."
Brian kemudian membuang pisau dan kertas tadi, ekspresinya bertambah semakin dingin sekarang. "Lagi pula, membunuh orang tidak berguna sepertinya hanya akan mengotori tanganku saja."
Leo menjadi semakin kesal mendengar cemoohan Brian, dia mendengus kasar lalu berseru pada semua bawahannya. "Sudah cukup! Kau sudah terlalu banyak menyinggung geng Crimson, sekarang sudah waktunya kau mati, habisi dia!"
Semua anak buah Leo langsung bergerak maju menuju Brian sambil memegang berbagai senjata di tangan mereka.
Seketika suasana menjadi begitu mencekam, saat ini Brian sudah di kepung dari depan dan belakang. Namun wajah tampannya itu sama sekali tidak bergeming.
"Matilah kau baj*ngan."
Detik selanjutnya yang terdengar adalah, rentetan suara jeritan dan tulang patah memenuhi lorong itu.
Leo yang berada di ujung lorong tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Asap itu sangat tebal dan menghalangi pengelihatannya. Dia hanya bisa berteriak di kursi roda kepada semua bawahannya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini, dari mana datangnya asap ini. Apa yang sedang terjadi disini?" wajah Leo mulai di penuhi kepanikan, asap itu juga membuat nafasnya menjadi sesak. Rasa sakit di dadanya akibat diinjak Brian kemarin, kembali terasa.
Di saat asap itu mulai menghilang, tiba-tiba Brian sudah berada di hadapannya.
Leo terheran, "Kau, bagaimana mungkin-"
Sebelum Leo bisa melanjutkan kata-katanya, dia kembali terkejut saat melihat semua anak buahnya sudah terbaring di lantai dan tak bisa bangkit lagi. Mereka benar-benar sudah dilumpuhkan secara total.
Wajah Leo mulai kehilangan semua warnanya, dengan panik dia memutar mundur kursi rodanya dan langsung menodongkan senjata pada Brian.
__ADS_1
"Aku tidak percaya ini, aku akan menghabisi mu sekarang juga." seru Leo yang sudah panik total.
Brian kembali mendekati Leo dengan senyuman sinis diwajahnya.
"Mundur... aku tidak akan ragu melakukannya!" ancam Leo yang gemetaran sambil menggenggam pistol yang diarahkan ke kepala Brian.
Aura Brian semakin kuat dan menjadi tak tertandingi. Tatapannya itu bagaikan tombak es yang menusuk seluruh punggung Leo. Seketika kesombongan Leo lenyap, dia bisa merasakan kalau tubuhnya sudah membeku.
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Brian akan sekuat ini.
"Dengar Brian, lebih baik kau mundur, jika tidak aku akan menembakmu." sekali lagi Leo memberi ancaman, walaupun dia sudah terintimidasi tetap saja dia bersikeras untuk tidak mau mengalah.
"Lakukanlah!" ucap Brian dengan santai.
Mendengar hal itu Leo pun langsung hendak menarik pelatuknya, namun tiba-tiba seseorang dari belakang merampas pistol Leo.
"Sebelum kau menembak pangeran, maka peluru ini akan lebih dulu menembus kepalamu." ucap seorang pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di belakang Leo dan menodongkan senjata ke kepalanya.
Sontak Leo langsung mengangkat kedua tangannya dan bertanya, "Siapa kalian sebenarnya?"
"Pangeran Cody, aku sudah melumpuhkan mereka semua!" ucap salah satu lagi pria berjas hitam yang barus saja muncul dari belakang Brian sambil membungkukkan badan.
"Mmm." Brian hanya mengangguk ringan.
Wajah Leo semakin gelap melihat pria berjas hitam itu tunduk dan memanggil Brian dengan sebutan pangeran Cody. "A...apa mereka baru saja memanggilmu pangeran Cody?" Leo terbata-bata saat berbicara, wajahnya mulai tampak putus asa. "Siapa kau sebenarnya?"
Brian menghela nafas ringan sebelum berkata, "Sebenarnya aku tidak suka panggilan itu, tapi ayahku sudah menanamkannya pada mereka, jadi apa boleh buat." Brian mengangkat kedua bahunya.
Bruk.
Seketika Leo jatuh dari kursi rodanya, dan langsung bersujud di lantai. "Maafkan aku pangeran!"
__ADS_1