King Of School

King Of School
Bab 75


__ADS_3

Zoya yang sudah panik menghampiri Brian dan segera menarik lengannya sambil berkata, "Tuan muda itu adikmu lihatlah dia dalam masalah! Kenapa kau masih diam saja!"


Brian menjawab dengan nada datar, "Biarkan saja, dia tahu apa yang harus dia lakukan."


Zoya terdiam sejenak sebelum menyentak Brian, "Kakak macam apa kau ini! Bagaimana bisa kau duduk diam disini sementara adikmu sedang dalam masalah!?" geram Zoya. Matanya mulai dipenuhi air mata namun tidak bisa keluar.


Brian menatap wajah Zoya dengan penuh arti, dia tidak tahan melihat mata indah Zoya berlinang. Dengan segera dia bangkit dan menyeka kedua mata Zoya menggunakan tisu dengan sangat lemah lembut. "Tolong jangan menangis, air matamu ini terlalu berharga untuk menangisi roti isi itu."


Zoya kemudian mengangkat kepalanya, dan berkata, "Kalau begitu, cepat bantu Kia!" suara lirih Zoya benar-benar mampu melelehkan gunung es yang ada di hati Brian.


"Mmm." Brian mengangguk dan memberi senyuman hangat.


Walaupun Kia memiliki kemampuan seni bela diri, namun tidak mungkin dia bisa menghadapi semua gangster itu sendirian. Brian sangat tahu batas kemampuan adiknya, dia sebenarnya dari tadi diam hanya untuk menguji kemampuan Kia saja.


Brian pun maju sambil berkata, "Pulanglah dengan mereka, biar aku yang urus ini!"


"Aku juga bisa menangani ini sendirian!" bantah Kia yang tak mau kalah dari kakaknya.


"Jangan banyak tingkah, aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu! Jadilah adik yang penurut dan bawa kakak iparmu pulang!"


Mendengar Brian berkata seperti itu seketika seringai muncul di kedua sudut bibir Kia. "Wah, kau akhirnya mengakuinya. Baiklah kakak aku akan pulang. Demi keselamatan kakak ipar, kali ini aku biarkan kau bersenang-senang sendirian dengan mereka!"


"Heh..."


Kiara pun langsung membawa Zoya dan pak Siman keluar dari restoran itu. Para gangster tadi ingin mengejar namun Brian menghalangi mereka semua.


"Kalian tadi mencari ku kan? Jadi biarkan mereka pergi!" ujar Brian dengan ekspresi yang sangat tenang.


Saat sampai di area parkir, Zoya tiba-tiba malah ingin kembali lagi ke restoran itu. Namun lengannya langsung dicekal oleh Kia.


"Kakak, kau mau kemana lagi?" Kia keheranan.


"Tuan muda, kita tidak bisa meninggalkannya sendirian disana!" kepanikan mulai menguasai Zoya.

__ADS_1


Melihat Zoya yang begitu mengkhawatirkan kakaknya, membuat Kiara tersenyum lembut sambil berkata, "Jangan khawatir kakak ipar. Kak Brian adalah juara seni bela diri campuran. Aku malah lebih kasian dengan para gangster itu, kak Brian pasti akan membuat para gangster itu mengalami kesulitan makan untuk seumur hidup!"


Rasa panik Zoya sedikit berkurang setelah mendengar Kiara, namun kekhawatirannya terhadap Brian tidak bisa hilang. Walaupun Zoya sudah sering melihat kemampuan Brian, tetap saja dia tidak bisa melihat tuan mudanya itu dalam bahaya.


Entah mengapa, jika Brian mengalami luka, maka Zoya yang akan merasakan sakitnya. Kebaikan yang Brian lakukan terhadap Zoya selama ini, benar-benar sudah meluluhkan hati Zoya.


"Kakak menyuruh kita untuk pulang, ayo kakak ipar! Percayalah padanya!" Kia menarik tangan Zoya menuju kedalam mobil.


Dengan perasaan enggan, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan restoran itu.


...****************...


Hari pun mulai gelap, setelah Kiara dan Zoya pergi. Brian membiarkan dirinya di bawa menuju Underground Ring Golden Sea. Dia sengaja menjadi tawanan agar bisa memasuki Underground Ring dan berhadapan langsung dengan pemimpin geng Crimson.


Walaupun itu tindakkan yang berbahaya, Brian sama sekali tidak terlihat gentar. Menurutnya masalah geng Crimson ini harus segera ia tuntaskan sekarang juga, jika tidak. Maka mereka akan membuat lebih banyak masalah lagi di masa depan, dan itu akan sangat merepotkan Brian.


Underground Ring.


Disanalah tempat para preman dan gangster berkumpul. Mereka akan bertaruh nyawa di dalam ring agar bisa mendapatkan uang. Tempat itu benar-benar sangat liar dan ricuh, semua orang yang ada disana benar-benar terlihat berbahaya.


Saat ini banyak sekali para penonton yang sedang menyaksikan dua orang saling beradu pukulan di atas ring. Suara sorakan bergemuruh seperti ledakan suara yang memekakkan telinga.


Brian yang tidak terbiasa dengan tempat seperti ini benar-benar merasa tidak nyaman, namun dia tetap mencoba untuk tenang dan menyembunyikan emosinya dengan wajah seperti tripleks.


Brian banyak melewati lorong-lorong panjang dan beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai di depan ruangan.


Dalam ruangan itu, terlihat sudah ada seorang pria sedang duduk di kursi roda. Dia duduk di pinggir jendela, disana dia bisa melihat langsung ring pertarungan yang berada di bawah.


"Tuan Leo, pemuda yang telah menghajar mu kemarin ada disini." ucap salah satu dari anak buah Leo.


Leo memutar kursi rodanya dan berbalik sambil berkata, "Berani juga bocah itu datang kesini, cepat bawa dia masuk!"


Pintu terbuka.

__ADS_1


Mata Leo tidak berkedip saat melihat siluet Brian yang mulai melangkah masuk. Lehernya yang saat ini sedang dipasang Cervical Collar sedikit kesulitan mendongak keatas untuk melihat wajah Brian.


Sekarang ini hanya ada tatapan kebencian di mata Leo, dia tidak menyangka kalau Brian berani memunculkan dirinya disini. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang seperti Brian.


'Apa dia sedang mengejar kematiannya sendiri?'


"Jadi kau disini? Aku tidak percaya kalau memiliki keberanian yang cukup besar sehingga berani muncul di hadapan ku?" ujar Leo dengan penuh rasa kebencian.


"Apa kau tahu, kau satu-satunya orang yang berani mengangkat tanganmu ke wajahku!"


"Sekarang kau datang kesini dan mencoba menggali kuburanmu sendiri? Sungguh mengagumkan?"


Brian hanya bisa tersenyum tipis lalu membalas perkataan Leo dengan santai. "Ada pepatah yang mengatakan, seberapa jauh kau berlari dari masalah maka itu akan semakin memperburuk keadaanmu."


"Aku datang kesini untuk menyelesaikan semua perselisihan yang ada diantara kita!"


Sejenak Leo mengira kalau Brian sengaja datang kesini untuk memohon ampun padanya. "Apa kau akan ingin aku memaafkanmu? Kalau begitu, maka kau harus berlutut dibawah kaki ku dulu , lalu kau juga haru membayar semua kelancanganmu padaku dengan mematahkan kedua tanganmu, baru setelah itu aku akan membiarkan kau keluar dari sini hidup-hidup."


Brian tertawa getir sebelum berkata, "Kau ingin aku berlutut, apa kau kira aku adalah orang yang bisa kau pinta melakukan hal seperti itu? Apa kau bahkan layak untuk itu?"


Leo benar-benar geram mendengar perkataan Brian, dia menggertakkan giginya dan mencengkeram kedua sandaran tangan di kursi rodanya dengan sangat kuat.


"Apa kau pikir, kau bisa mengulangi apa yang sudah kau lakukan padaku waktu itu, di sini!?" ucap Leo dengan nada yang terdengar sangat mengancam.


"Biar aku beri tahu kau sesuatu, kau hanyalah seekor anjing yang berlagak sok datang ke sarang serigala!"


"Apa kau percaya, kalau aku akan membuatmu mengalami kematian yang sangat sulit?"


Brian lalu dengan santai menjawab lagi, "Aku tidak percaya kau akan bisa melakukan itu. Mengingat kondisimu saat ini yang kesulitan untuk berdiri, bagaimana bisa kau menjadi ancaman yang layak untukku."


Cemoohan Brian benar-benar sudah membuat kemarahan Leo meledak-ledak. Dia memberi tatapan yang tajam, jika tatapan bisa membunuh, maka Brian pasti sudah mati ribuan kali. Saat ini tidak ada yang diinginkan Leo selain kematian Brian.


Dengan suaranya yang terdengar serak, Leo berseru, "Habisi dia!"

__ADS_1


__ADS_2