
Setelah tahu kalau bom tadi ternyata palsu, semua orang akhirnya bisa bernafas dengan lega. Tetapi tidak dengan Vince, wajahnya benar-benar terlihat memucat saat ini. Dia tidak menyangka kalau Brian bisa lolos dari jebakannya lagi. Seharusnya saat ini dia menyaksikan Brian akan di tahan karena tuduhan penyelundupan bom. Namun siapa yang tahu kalau ternyata Brian memiliki segudang rencana untuk meloloskan diri di dalam lengan bajunya.
Harus diakui kalau Brian benar-benar pintar. Bangsawan terpelajar seperti Cody Famili memang memiliki kecerdikan yang tidak bisa di tebak.
"Marcell, bagaimana ini? Brian berhasil lolos, sepertinya dia mengetahui rencana kita dari awal." Vince mendekati Marcell dan berbisik.
"Aku benar-benar sudah muak dengan si brengsek itu, dia terus saja berhasil lolos."
"Kenapa sangat sulit untuk menangkapnya."
Wajah Marcell terlihat tenang dan lembut, sifat ketenangan Marcell ini bagaikan api unggun yang terkendali. Tidak berbahaya namun menghangatkan.
"Kau terlalu cepat panik, itulah sebabnya kau selalu kalah darinya. Dia mungkin bisa kabur dari sini tapi tidak dari kota ini, saat ini para pihak hukum pasti tidak akan membiarkan Brian begitu saja. Mereka pasti akan bertindak, bagaimanapun Brian sudah di duga melakukan teror. Akan ada sanksi akibat karena dia sudah menimbulkan kecemasan massal." Jelas Marcell dengan tenang.
Namun Vince masih tidak terlalu yakin, harimau liar seperti Brian pasti masih memiliki banyak strategi di lengan bajunya. "Marcell, dia juga berasal dari keluargamu, bagaimana mungkin kau yakin cara ini berhasil?"
Marcell langsung menjawab dengan tenang, "Kakekku adalah orang yang sangat tegas dalam tindakannya, dia juga sudah menjaga kehormatan keluarga selama puluhan tahun. Jika kita berhasil memasukkan Brian ke penjara, maka nama baik keluarga akan tercemar. Dengan begitu kakekku tidak mungkin akan mau menyelamatkan Brian."
Seringai menyeruak di wajah Vince, dia tahu Marcell memang sangat licik. Pertarungan ini bukan lagi miliknya melainkan sudah menjadi milik Marcell. Perebutan kekuasaan dalam keluarga besar memang biasa terjadi, dan itulah yang dilakukan Marcell.
Pertarungan yang ia mulai dengan Brian untuk menjadi murid terpopuler tahun ini, siapa sangka akan menjadi pertarungan antar keluarga. Sekarang Vince merasa sangat senang dengan itu, dia tinggal duduk santai saja melihat dua saudara itu saling bertarung menghancurkan satu sama lain. Sedangkan dia akan mengambil keuntungan nantinya.
__ADS_1
......................
Sementara itu di mansion milik Brian, sebuah mobil mulai memasuki halaman dan berhenti tepat di teras depan. Kemudian dua orang pria yang tidak asing keluar dari mobil itu.
"Jhony, kau bawa adiknya Brian dan aku akan bawa Zoya." Sean berkata pada Jhony sambil membuka pintu tengah mobilnya, terlihat Kiara dan Zoya duduk di dalam dengan kondisi yang tidak sadarkan diri.
Jhony membantah tidak setuju, "Kau saja yang menggendong adik Brian, dia sudah pernah menghajar ku sekali karena aku ingin menyentuhnya. Tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi jika aku menggendongnya nanti."
Sean memutar kedua bola matanya kearah Jhony, dan berkata dengan gigi terkatup, "Cepat lakukan saja, kita tidak punya banyak waktu. Lagi pula saat ini dia tidak sadarkan diri kenapa kau takut."
Tentu saja Jhony takut, beberapa hari yang lalu Kiara sudah menghajarnya karena hanya ingin berkenalan. Dan itu membuat Jhony trauma, gadis seperti Kiara memiliki wajah lembut dan sangat cantik. Namun siapa yang tahu di balik kecantikannya itu, terdapat sosok yang sangat menakutkan.
Akhirnya Jhony berhenti berdebat dan terpaksa melakukannya. Namun belum sempat mereka hendak mengangkat kedua gadis itu keluar dari mobil. Kiara tiba-tiba sadar dan langsung menendang Jhony hingga terseret jauh di tanah.
Setelah itu Kiara juga meninju Sean yang hendak mengangkat Zoya. Sean terhuyung mundur beberapa langkang sambil memegangi bibirnya dan meringis kesakitan, "Sial, kenapa kau memukulku!?" saat Sean melihat telapak tangannya, ada darah di jarinya. Pukulan Kiara sangat dahysat sehingga memecahkan bibir Sean.
Kiara melompat keluar dari mobil dan meraung keras seperti singa betina yang sedang murka, "Beraninya kalian membius ku dan juga kakak ipar, apa kalian ingin cari mati!?"
Zoya pun tersentak bangun karena suara Kiara yang begitu keras. Perlahan dia mulai mengangkat bulu matanya yang lentik itu dan melirik area sekitar. Dengan nada lirih dia bergumam, "Mm, tuan muda, apa kita sudah sampai?"
Kebiasaan Zoya yang sering mengigau di saat tidur, membuat wanita itu terlihat sangat menggemaskan. Jika Brian ada disini dan melihatnya, dia pasti akan tersenyum seperti bunga mekar.
__ADS_1
"Kami tidak membius kalian, Brian lah yang membuat kalian pingsan. Kami hanya menjalankan perintahnya untuk membawa kalian pulang." Jhony yang terduduk di tanah mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Kiara. Jujur saja saat ini Kiara terlihat sangat menakutkan sama seperti Brian, dia adalah salinan dari Brian itu sendiri.
Sambil berkacak pinggang Kiara memelototi Jhony dan berseru, "Kenapa kakakku melakukan itu, jangan coba-coba membodohi ku!?"
Zoya yang akhirnya sudah sadar sepenuhnya melirik kearah Kiara yang sedang marah-marah sembari bertanya, "Ada apa ini Kia, kenapa kau marah-marah? Dan kenapa kau duduk tanah Jhony?"
Sean pun mulai mendekati kedua gadis itu, "Syukurlah kau sudah sadar Zoya," namun saat dia menatap mata Kiara yang begitu tajam Sean sedikit menjaga jarak dan lanjut berbicara, "kami di perintahkan Brian untuk membawa kalian pulang, tapi dia malah memukul kami." Sean menunjuk Kiara.
"Tentu saja, aku akan memukul siapapun yang berani ingin menyentuh ku dan juga kakak ipar." ancam Kiara sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Zoya menoleh ke belakang dan melihat rumah mereka, tiba-tiba dia teringat kejadian di pesta tadi, dengan panik dia bertanya pada Sean, "Tuan muda, dimana dia?"
"Saat ini aku tidak tahu pasti dimana Brian, tapi sebelum dia pergi meninggalkan lokasi pesta tadi. Dia menitipkan kalian berdua pada kami untuk segera diantar pulang." jelas Sean dengan ekspresi yang tidak menentu.
Jhony menambahkan, "Dan yah, dia juga bilang tidak perlu mengkhawatirkannya, kalian harus istirahat dengan tenang, saat ini dia sedang ada sedikit urusan."
"Urusan apa? Dia baik-baik saja kan, apa dia berhasil lolos dari para intel yang ada di sana, dan bagaimana dengan bomnya." Zoya yang mulai mengingat peristiwa yang ada di pesta tadi, menjadi sangat panik. Dia masih bingung sebenarnya, dan kekhawatirannya terhadap Brian membuat pikirannya semakin kacau.
Berbeda dengan Zoya, Kiara akhirnya mulai memahami apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dengan dingin dia balik bertanya pada Sean dan Jhony, "Katakan padaku semua yang kalian ketahui! Kakakku tidak mungkin orang yang memasang peledak di pesta itu kan?"
Sean dan Jhony saling memandang, mereka pun akhirnya menceritakan semua yang mereka tahu kepada Kiara dan Zoya.
__ADS_1
...****************...