King Of School

King Of School
Bab 48


__ADS_3

Kedua pria itu mulai berjalan mendekati Brian dengan membawa pisau di tangan mereka. Kelihatan sangat jelas di wajah mereka niat untuk membunuh Brian.


Zoya yang melihatnya sampai berteriak keras walaupun saat ini mulutnya masih tersumpal kain. Dia sangat panik melihat dua penculik itu yang mulai mendekati Brian dengan pisau.


Sementara itu Brian sama sekali tidak bereaksi dan masih bersikap tenang. Justru yang menggigil ketakutan malah dua orang yang berdiri di belakangnya yaitu Jhony dan Edi.


"Kalian tidak mau membantu?" tanya Brian dengan tenang sambil melirik ke arah belakang.


Edi dan Jhony tidak menjawab dan menggelengkan kepala mereka bersamaan.


"Baiklah, pegang ponsel ku ini kalau begitu!"


Brian melemparkan ponsel mahalnya ke belakang, sontak Edi dan Jhony berebutan untuk menangkap ponsel yang di lempar Brian tadi.


Kemudian Brian pun mulai mendekati kedua berandalan itu dengan tatapan dingin. Dia sama sekali tidak gentar melihat pisau tajam yang ada di genggaman kedua berandalan itu.


"Waktu itu aku hanya memberi pelajaran ringan pada kalian, tapi sekarang tidak lagi. Aku pastikan kalian akan jera kali ini." ucap Brian yang mencoba mengintimidasi lawannya.


"Kau cukup sombong anak muda, bahkan seekor jerapah harus tunduk untuk minum agar tidak mati tercekik."


"Kata siapa?"


"Kata pepatah lah, emangnya kau tidak pernah mendengar pepatah apa? Pantas saja kau begitu sombong."


Namun Brian hanya menggelengkan kepalanya mendengar hal itu, hatinya merasa sedikit geli.


Apa kedua berandalan itu sedang mengajarinya cara bertata krama?


"Kalau begitu dengarkan ini, aku adalah jerapah yang tidak perlu menunduk untuk minum, karena aku bisa minum dari air hujan."


"Ha, apa artinya itu? Pepatah mana yang berkata seperti itu?"


"Tidak ada artinya, itu hanya kata-kataku saja." ucap Brian sambil mengangkat kedua bahunya.


Setelah itu Brian langsung bergerak cepat kearah kedua berandalan itu. Mereka pun sangat terkejut melihat Brian yang sudah ada di depan mata mereka.


Dengan sigap mereka pun mengayunkan pisau itu untuk menusuk tubuh Brian. Tapi dengan mudahnya Brian menahan serangan itu dan memelintir kedua tangan mereka.

__ADS_1


Pisau-pisau tadi pun terlepas dari tangan kedua berandalan tadi bersamaan dengan jeritan suara mereka yang kesakitan.


Setelah itu Brian langsung menghajar kedua berandalan itu dengan memberi tamparan berulang kali menggunakan tangan mereka sendiri.


Terlihat wajah kedua berandalan itu mulai bonyok, setelah itu Brian langsung menendang mereka satu persatu hingga melayang jauh sampai ke hadapan Edi dan Jhony.


Sontak Edi dan Jhony mundur selangkah saat melihat dua berandalan tadi sudah mendarat di bawah kaki mereka.


Benar-benar tidak bisa di percaya, dengan mudahnya Brian mengalahkan dua orang itu sekaligus dalam waktu kurang dari sepuluh detik.


Edi dan Jhony mulai menatap Brian dengan ngeri, untung saja orang seperti Brian ini ada di pihak mereka. Jika ada di pihak Vince, maka seluruh kampus, tidak, bahkan seluruh kota akan sangat terguncang.


Sementara itu Zoya hanya bisa menatap tuan mudanya dengan penuh rasa kagum. Matanya berbinar, dia benar-benar merasa seperti sedang diselamatkan oleh seorang pahlawan yang ada di film-film.


Brian, Edi dan Jhony pun mulai menghampiri Zoya yang sedang terikat di kursi.


Brian segera melepaskan kain yang disumpal kedalam mulut Zoya tadi sambil berkata, "Sudah berapa kali aku bilang padamu, agar pulang bersamaku. Sekarang lihat siapa juga yang susah!" Brian mengomeli Zoya.


"Ya maaf!" lirih Zoya dengan kepala tertunduk.


"Maaf saja tidak cukup untuk ini, aku ingin kau memasakkan mi goreng spesial untukku nanti malam sebagai gantinya." ujar Brian dengan nada datar sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Zoya.


Zoya pun mencoba mengalihkan pandangannya kesamping sambil berkata dengan senyuman manis, "Ba-baiklah!"


Jangankan memasakkan mie goreng, aku bisa memasakkan makanan terlezat di dunia ini hanya untukmu tuan muda. lirih batin Zoya, hatinya saat ini sedang berbunga-bunga.


"Hei jika kalian sudah selesai bermesraan disana, sebaiknya kalian harus lihat ini." ujar Jhony dengan nada yang sedikit gemetaran.


Sontak Brian pun menoleh kebelakang, dia terkejut dan mulai mengernyitkan dahinya saat melihat belasan preman sudah hadir di depan mereka.


"Brian sepertinya kau benar! Mereka punya bala bantuan!" lirih Edi, sekarang dia mulai menjadi panik sekali.


"Banyak sekali!" tambah Zoya.


"Kali ini tamatlah riwayat kita!" sahut Jhony.


Tapi Brian sama sekali tidak terlihat gentar, dia masih sangat tenang dan malah segera membentangkan kain yang digunakan untuk menyumpal mulut Zoya tadi.

__ADS_1


Zoya pun keheranan apa yang sedang di lakukan Brian saat ini. "Tuan muda, untuk apa ini?"


"Maaf nona cerewet, adegan selanjutnya harus disensor." jawab Brian sembari melipat kain tadi secara panjang.


"Tunggu, apa?"


Kemudian Brian melepaskan kacamata Zoya dan segera menutup matanya dengan kain. Itu agar Zoya tidak melihat pertarungan yang akan ia lakukan selanjutnya. Bagaimanapun Brian tidak ingin Zoya jadi ketakutan nantinya.


Sementara itu Edi dan Jhony terus saja memperhatikan aksi Brian dengan seksama. Mereka tidak menyangka selain hebat, ternyata Brian juga sangat memperdulikan keamanan mental kekasihnya.


"Kalian mau menutup mata juga?" tanya Brian dengan ekspresi mengejek.


"Tidak perlu, aku sudah biasa melihat adegan kekerasan di dalam film." jawab Edi sambil nyengir-nyengir seperti kuda.


"Kalau aku sudah terbiasa melihat para bodyguard ku menghajar orang-orang, jadi kau jangan khawatir Brian." jawab Jhony dengan ekspresi sok.


"Hei tunggu dulu, apa maksudnya ini, aku juga sudah sering melihat film action, lalu kenapa aku tidak boleh melihatnya juga." Zoya yang matanya sudah tertutup mencoba protes.


"Karena kau seorang wanita!" jawab mereka semua secara serentak.


Sontak Zoya langsung mengatupkan mulutnya dan tak berani berkata-kata lagi.


Hanya karena aku seorang wanita, tuan muda ini tidak mengizinkanku melihatnya beraksi. Aku kan jadi penasaran. gumam batin Zoya.


"Hei anak muda, kalian sudah salah besar karena sudah berurusan dengan kami. Sekarang tempat ini akan menjadi makam kalian." salah satu dari preman-preman itu mulai mengancam sambil mengacungkan tongkat besi.


Brian dengan santainya melangkah maju sambil melepaskan Hoodie yang ia kenakan. Terlihat sekarang dia memancarkan aura yang begitu dahsyat, bahkan seisi ruangan itu mulai dipenuhi dengan auranya.


"Edi, Jhony apa kalian masih tidak berniat untuk membantu?" tanya Brian dengan nada yang sangat dingin.


"Tidak, terima kasih Brian, kau bisa menghajar mereka semua sepuas mu, kami akan menonton dan memberi dukungan dari sini saja." jawab mereka sambil tersenyum-senyum.


Emangnya ini ajang pertunjukan tinju apa?


"Baiklah, setidaknya buatlah diri kalian berguna! Pegang ini!"


Brian melemparkan Hoodie nya dan kacamata Zoya ke belakang. Sontak Edi dan Jhony langsung bergegas untuk menangkap, lagi.

__ADS_1


"Heh, kalian akan sangat cocok menjadi pelampiasan kekesalan yang aku pendam selama bertahun-tahun!" gumam Brian dengan ekspresi yang sangat menakutkan.


"Ayo maju!"


__ADS_2