
Sampai sejauh ini aku berpikir kalau Trisha masih memiliki sedikit hati nurani. Tapi apa yang dia lakukan padaku malam tadi, karena dia aku hampir saja kehilangan harga diriku.
Zoya terus mengumpat di dalam hatinya sambil memasukan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci.
Satu hal yang membuatnya kesal pagi hari ini bukanlah aksi yang ia lakukan bersama dengan Brian malam tadi. Melainkan karena dia menyesal karena telah mempercayai Trisha.
Zoya mengira kalau Trisha benar-benar sudah berubah, karena Zoya tipe gadis yang sangat polos. Kelihatannya saja galak di luar, namun hatinya begitu rapuh.
Dia sangat mudah dipengaruhi dengan cara yang emosional. Apalagi hubungannya dengan Trisha dulu terbilang sangat akrab. Dia pikir Trisha mengkhianatinya karena suatu sebab, yaitu karena kelicikan Vince. Tapi ternya Zoya salah, Trisha sudah sepenuhnya bukan seperti yang ia kenal dulu. Saat ini hati Zoya benar-benar sudah sangat hancur.
Zoya menetap dan terdiam sejenak saat hendak memasukkan jaket Brian bersama dengan cuciannya. Dia sangat bersyukur kalau Brian tidak melakukan hal yang di luar batas terhadap dirinya malam tadi.
Pria manapun pasti sudah memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kondisi Zoya yang seperti itu. Tapi tidak dengan Brian, dia tidak hanya telah menyelamatkan Zoya dari mempermalukan dirinya sendiri. Tapi dia bisa menahan dirinya untuk tetap menjaga kehormatan seorang wanita.
Sungguh prinsip dan pendirian dari seorang pria yang sangat langka di dunia ini!
Zoya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini, hatinya benar-benar kalut memikirkan hal yang ia lakukan tadi malam.
Lagi pula itu hanya sebuah ciuman, siapa pun pernah ciuman kan? Terus kenapa aku sangat berlebihan memikirkan semua itu.
Zoya kemudian hendak memasukkan jaket itu bersama dengan cuciannya.
Tapi tiba-tiba saja Brian menahan tangannya dari belakang.
"Ini milikku, kembalikan! Aku bisa mencuci pakaianku sendiri."
Zoya tersentak kaget, dan menatap sekilas wajah Brian kemudian langsung menunduk kebawah.
Dan yah, memang Brian tidak pernah ingin pakaian atau barang-barangnya di sentuh oleh orang lain. Sejauh ini Zoya sudah banyak sekali melanggar larangan itu, tapi bukan atas kehendak Zoya. Melainkan Brian sendiri lah yang mengizinkannya.
Zoya pun memberikan jaket itu kepada Brian, kepalanya masih tertunduk ke bawah tak berani menatap wajah tampan itu.
Dia merasa canggung, apapun yang ia lakukan kemarin malam bukanlah kehendaknya. Zoya melakukan itu memang di bawah kesadarannya, tapi tetap saja dia tidak berani berkutik di depan Brian seperti biasanya.
"Jika kau sudah selesai, beri tahu aku!" seru Brian dan segera berbalik pergi sambil membawa keranjang yang berisi pakaian kotor.
Zoya tidak berani berkata-kata, dia sekarang benar-benar sangat malu untuk menatap mata Brian. Tapi bagaimanapun Brian sudah menyelamatkannya kemarin malam, dan untuk itu Zoya harus mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih!" ucapnya secara tiba-tiba dan cepat.
Sontak Brian terhenti dan menoleh ke belakang, ekspresinya terlihat sangat dingin.
"Untuk apa?"
"Kemarin malam aku pingsan di pesta karena tidak makan, dan ibu bilang kamu yang membawaku pulang," Zoya terus berkata sambil mentautkan jari-jemarinya, "jadi untuk itu aku ingin berterima kasih padamu."
Bohong! Zoya berbohong pada Brian!
__ADS_1
Dia sengaja bersikap seolah-olah dia sama sekali tidak mengingat apapun. Tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi dia tidak ingin Brian salah paham terhadap dirinya.
Mendengar hal itu, Brian hanya bisa menyipitkan kedua matanya menatap gadis itu. Sesuatu perasaan yang aneh tiba-tiba menyerang hatinya.
Apa itu rasa kecewa?
Sebenernya Brian berharap Zoya mengatakan hal yang lain. Tapi dia kembali mendapatkan kesadarannya, apapun yang telah dikatakan Zoya kemarin malam, adalah di bawah kesadaran Zoya.
Walaupun Zoya mungkin tidak ingat kejadian malam tadi. Tapi Brian sendiri masih tidak bisa menghilangkan ingatan itu, dimana Zoya mengungkapkan seluruh perasaannya.
Orang-orang mengatakan, 'saat kau mabuk, dirimu tidak akan bisa berbohong'. Tapi Brian mencoba menyangkal itu.
Zoya tidak mabuk, kan?
Zoya terkena efek obat bius yang membuat dirinya merasa terbang sesaat. Mungkin efek samping dari obat itu juga membuat penggunanya tidak mengingat kejadian setelah ia meminumnya.
Begitulah Brian beranggapan.
Brian kemudian hanya mengangguk ringan dan langsung beranjak pergi meninggalkan Zoya di ruangan cuci tanpa sepatah katapun.
Sementara Zoya terus menatap punggung Brian yang mulai menghilang ke sebalik dinding.
Dia merasa lega, tapi sedikit merasa bersalah.
Ku pikir dia pasti percaya dengan perkataan ku tadi. Maafkan aku tuan muda, tidak seharusnya aku berbohong padamu soal perasaan ini. Tapi aku tidak sanggup menatap wajahmu. Aku berbohong hanya karena satu hal, aku takut kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku, bagaimanapun status kita berbeda.
...****************...
Vince duduk dalam diam sambil menenggak segelas anggur, ekspresinya terlihat sangat dingin.
Tidak lama waktu berselang, tiba-tiba Jullyan datang sambil menyeret seorang pria dan menjatuhkannya ke bawah kaki Vince.
"Untuk apa kau bawa sampah ini ke hadapanku lagi?" tanya Vince pada Jullyan dengan tatapan setajam belati.
Pria yang di seret Jullyan itu terlihat sangat menyedihkan. Ingat saat Brian sedang di buntuti kemarin malam. Ternyata pria ini adalah orangnya.
Apa dia Sean?
Bukan!
Dia hanyalah pesuruh Vince yang seharusnya menjatuhkan Zoya dan Brian ke jurang, tapi rencana berubah dan dia diberi tugas baru untuk menghambat Brian datang ke pesta. Tapi dia juga tidak mampu melakukannya.
Karena itulah kemarin malam Vince langsung menghajarnya habis-habisan. Dan seperti inilah keadaannya sekarang, seluruh wajahnya bonyok dan lebam.
"Aku mohon ampuni aku tuan!" pria itu berlutut memohon di bawah kaki Vince.
Sementara Vince terus menyesap anggurnya dan menatap wajah menyedihkan itu dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Diam!" Jullyan menarik rambut pria itu dengan keji, "aku membawamu kesini bukan untuk memohon ampun, setelah kau mengatakan semua informasi yang kau punya, aku akan langsung membuang mu ke laut untuk jadi santapan hiu."
Benar-benar kejam!
Sementara itu Vince tidak bereaksi sama sekali mendengar hal itu. Dia tidak tertarik lagi dengan seseorang yang gagal menjalankan perintahnya.
Vince sudah puas memberi pelajaran kepada pria itu kemarin malam, dia meminta Jullyan untuk segera membereskan pria itu yang berarti...
Melenyapkannya!
Tapi dia heran kenapa Jullyan masih belum melakukannya dan malah membawa sampah itu di ke hadapannya lagi?
"Informasi apa yang dia punya?"
"Vince dia memang sudah gagal, tapi dia mengatakan, kalau dia bukan satu-satunya orang yang mengejar mobil Brian malam tadi."
Sebelah alis Vince mulai menjungkit ke atas, sekarang dia mulai tertarik dan menatap wajah sendu itu dengan serius.
"Cepat katakan pada Vince, apa yang kau lihat!" seru Jullyan sembari menoyor kepala pria itu.
"Tuan, kemarin malam aku melihat ada sebuah mobil lain juga ikut mencegat mobil targetmu."
"Mobil itu bertipe Ferrari dan memiliki no. plat XXXX, aku melihat mobil itu juga mengejar targetmu."
"Tapi mobilku sudah hancur karena menabrak sebuah toko, aku tidak sempat mengejar mereka."
Sontak Vince mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan berkata dengan dingin, "Apa kau melihat wajahnya?"
"Ti-tidak tuan."
Buk.
Vince menendang wajah pria yang sedang berlutut itu hingga terpental ke belakang.
"Jullyan bereskan sampah ini! Setelah itu kita akan pergi menemui seseorang."
Pria itu langsung pingsan karena satu tendangan Vince tadi.
"Baik Vince, tapi apa kau sudah tahu siapa yang dimaksud si sampah ini."
Vince mengambil ponselnya dan diam sejenak sebelum berkata, "Aku rasa aku tahu, dia sudah lama tidak menonjolkan dirinya setelah aku merebut kekasihnya. Tapi dia sekarang muncul lagi dan ikut-ikutan mengejar si Brengsek itu."
"Dia bukan tipe seperti Jhony. Hanya ada satu hal yang mungkin membuatnya mengejar Brian."
"Kimberly!"
...****************...
__ADS_1