
Brian berjalan maju dengan langkah mantap, dihadapannya saat ini sudah berdiri belasan preman yang memegang berbagai senjata alat berat. Melihat pemandangan itu saja sudah membuat bulu kuduk Edi dan Jhony merinding, namun tidak dengan Brian.
Brian meregangkan jari-jemarinya sambil menatap tajam ke arah belasan preman itu dengan acuh tak acuh.
Pria bertubuh tinggi tegap dengan tatto di dadanya, mulai maju juga mendekati Brian. Dari penampilannya, sepertinya dia adalah pemimpin para preman itu.
"Heh, ada apa dengan tatapan matamu itu, apa kau mencoba mengintimidasi kita semua?"
"Dengar anak muda! Kau sudah menghajar anggota ku, sekarang kau tidak akan kami biarkan lolos!"
"Sebaiknya kau berlutut sekarang, mungkin kau bisa keluar dari sini hanya dengan satu lenganmu yang patah."
"Tapi jika kau masih ingin melawan? Maka sebuah peti mati akan dikirim langsun ke rumahmu berisikan kau di dalamnya."
Sebuah tatapan cemoohan terlihat di wajah pria itu, baginya saat ini Brian sudah menjadi mayat.
Beraninya Brian menghajar anggota gengnya, bukankah itu sama saja artinya dengan mati.
Namun sifat tenang yang dimiliki Brian membuat semua orang yang di sana merasa jengkel.
Mereka benar-benar tak mengira kalau Brian masih bisa setenang ini walau dihadapannya sudah ada maut yang menanti.
Biasanya mereka tidak pernah dipaksa untuk mengambil tindakan hanya untuk satu orang saja seperti Brian. Pasti ada suatu alasan yang membuat Brian menjadi incaran pemimpin terbesar mereka.
Orang yang benar-benar menginginkan Brian mati!
'Sean Claude'
"Apa kau tahu? Aku benci mendengar omong kosong." Brian memberi tatapan ganas kearah pemimpin gangster itu, membuat auranya semakin mendominasi seluruh ruangan.
"Seseorang yang bekerja di bawah kaki orang lain, sama sekali tidak layak mengancam ku!"
Detik berikutnya sebuah lautan badai aura mematikan menerjang ke arah belasan preman itu.
Mereka tidak sempat melihat pergerakan Brian yang begitu cepatnya. Satu persatu dari mereka dalam sekejap langsung dikirim terbang oleh Brian dengan satu tamparan.
Suara jeritan kesakitan massal pun menggema ke seluruh ruangan.
Mereka benar-benar tak menyangka kalau Brian akan sekuat ini, bahkan jika Brian sudah berlatih seni bela diri sejak lahir apa mungkin dia memiliki kekuatan layaknya seekor monster.
Bahkan Jhony dan Edi tidak bisa memastikan apa yang barusan saja terjadi. Semuanya berlangsung terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata mereka.
Sekarang sepenuhnya mereka merasa ngeri saat menatap punggung Brian yang berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Tersisa kau!"
Brian melangkah perlahan mendekati pemimpin preman dengan tatapannya yang terkunci lurus ke depan.
Bahkan si pemimpin preman itu reflek mundur beberapa langkah saat mendapat tatapan Brian itu.
Dia benar-benar tak menyangka kalau Brian sudah mengalahkan semua anak buahnya hanya dalam sekejap.
"Mundur! Aku membawa pistol, jika kau mendekat, akan aku lubangi kepalamu itu."
Dia mengeluarkan senjata api yang sedari tadi tersimpan di saku belakang celananya.
Melihat pistol itu Brian bukannya takut, justru dia mulai tersenyum kecil dan berkata dengan tenang, "Aku mendapatkan pelajaran penting dari hidupku yang menyedihkan ini, waktu adalah kunci dari kehidupan."
"Jika kau membuang-buang waktu hanya untuk mengancam ku dengan pistol~"
"Maka itu semua akan sia-sia!"
Tanpa di sadari ternyata Brian sudah langsung berdiri tepat di depan pemimpin preman itu.
Begitu cepat!
Bahkan si pemimpin preman tidak sempat menarik pelatuk pistolnya dan langsung dikirim terbang ke udara oleh tendangan lokomotif Brian.
Wajahnya mulai kehilangan semua warna, dia memuntahkan seteguk darah segar sebelum matanya memutih dan akhirnya pingsan.
"Ayahku mengatakan, aku harus menjadi sangat kuat agar layak naik ke tampuk kekuasaan dalam keluarga!"
"Tapi aku menolaknya!"
"Lebih menyenangkan bagiku membersihkan negara ini dari berandalan seperti kalian, dari pada harus berhadapan dengan Cody Famili."
Brian mengeluarkan beberapa tisu dari kantongnya sebelum menyeka kedua telapak tangannya dengan tenang.
Kemudian dia menoleh ke belakang dan melihat Jhony dan Edi yang masih di penuhi keterkejutan di wajah mereka.
"Apa yang sedang terjadi di sana?" tanya Zoya dengan ekspresi penasaran bercampur khawatir.
"Apa tuan mudaku baik-baik saja!?"
"Jangan bilang dia di keroyok habis-habisan, jika itu terjadi maka aku akan menghajar kalian berdua karena tidak mau membantunya!"
"Aku baik-baik saja nona cerewet! Kenapa kau terdengar sangat khawatir begitu?"
__ADS_1
Brian mendekati Zoya dan mulai melepaskan ikatannya. Dia juga perlahan membuka kain yang ia gunakan untuk menutup mata Zoya tadi.
Perlahan Zoya akhirnya bisa melihat area sekitar, dia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya melihat mata Brian yang indah dengan jelas.
"Tuan muda!" sontak Zoya langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan hangat Brian.
Dia tidak tahu mengapa harus melakukan hal itu, tapi setelah melihat Brian baik-baik saja bahkan tanpa tergores sedikitpun. Membuat Zoya merasa sangat lega.
Sementara Brian merasa sedikit heran, ekspresi lucu terlukis di wajahnya saat mendapat pelukan hangat itu.
Tangannya juga reflek ingin membalas pelukan Zoya, tapi dia menahannya dan menggantung di udara.
"Tuan muda arogan, aku benar-benar minta maaf karena selalu membawamu ke dalam kesulitan." lirih Zoya yang berada di pelukan Brian, cairan kristal bening pun mengalir di pipinya.
"Aku sangat ketakutan tadi, kukira mereka pasti sudah merenggut nyawaku jika kau tidak datang, tuan muda!"
"Bukankah kau memiliki kekuatan istimewa? Preman-preman seperti mereka tidak mungkin tahan mendengar ocehan mu itu, kan? Seharusnya aku yang merasa kasihan pada mereka!" ujar Brian dengan ekspresi lucu.
"Apa?"
Zoya segera melepaskan pelukannya dan mulai menatap Brian dengan intens.
"Jadi menurutmu aku sangat bawel begitu?"
"Ya begitulah, jika tidak? Mana mungkin mereka menyumpal mulutmu dengan kain tadi!?" ucap Brian sembari mengangkat kedua bahunya keatas.
"Huh, ya namanya juga di culik, aku harus berteriak untuk minta tolong kan?"
Zoya memanyunkan bibirnya seperti biasa di saat dia kesal pada tuan mudanya.
"Kau benar, tapi seharusnya sebelum mereka menculik mu tadi, kau beritahu dulu pada mereka kalau kau makannya banyak."
"Aku jamin mereka pasti akan membatalkan niat untuk menculik mu tadi!" jelas Brian sambil membuang tatapannya ke samping, dia tidak mau menatap ekspresi Zoya yang terlihat kesal itu.
Terlalu menggemaskan baginya!
"Huh enak saja!" Zoya menyilangkan kedua tangannya dan memutar kedua bola matanya kesamping.
Kenapa Brian sangat suka membuatnya merasa jengkel, tapi jika tidak begitu bukan Brian namanya.
"Hei sudahlah, sekarang mari kita pulang! Sebentar lagi aparat keamanan juga datang, akan sangat merepotkan menjelaskan semua kekacauan ini pada mereka nantinya." cetus Jhony sambil mengembalikan Hoodie kepada Brian.
Jika dilihat lagi Brian benar-benar sangat seksi dengan penampilannya yang hanya memakai tank top hitam pria itu.
__ADS_1
Bahkan Zoya sampai tidak dapat melepaskan pandangannya menatap dada bidang itu. Wajahnya benar-benar menjadi merah sempurna seperti tomat.