
Setelah selesai sarapan Michelle pun mulai berpamitan pada anak-anaknya. Dia sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama lagi, mengingat kondisi Brian yang saat ini sedang tidak fit. Ditambah lagi, dia sudah mengetahui kalau Brian saat ini sedang menghadapi masalah. Itu membuat Michelle semakin mengkhawatirkan Brian.
Namun Brian adalah pria yang tangguh, sejak kecil dia mendapatkan pelatihan seni bela diri campuran. Dia juga pernah meraih juara satu dalam turnamen seni bela diri campuran. Michelle tahu putranya sangat mampu untuk melindungi dirinya sendiri.
"Brian ibu akan pulang, jaga dirimu baik-baik, kau juga Kia. Jangan sampai menyusahkan kakakmu, ingat kalian harus saling menjaga satu sama lain!" Michelle memegangi kedua wajah anak-anaknya dengan penuh kasih sayang seolah mereka adalah harta yang sangat berharga.
"Ibu jangan khawatir, aku akan menjaga kakak dengan sangat baik. Lagi pula aku tidak sendirian, ada kakak ipar juga yang akan membantuku untuk menjinakkan harimau buas ini!" celoteh Kia sambil memberi tatapan mengejek pada Brian.
Brian mendengus, "Kau ingin menjagaku? Gak kebalik?" tampaknya dia tidak suka Kia tinggal bersama dengannya, Brian berpikir Kia hanya akan menjadi bebannya saja nanti.
"Saling menjaga lah satu sama lain, hanya itu yang ibu pinta dari kalian!" seru Michelle dengan ekspresi tegas diwajahnya, kemudian dia mulai mendekati Brian untuk membisikan suatu hal.
"Brian, ibu meninggalkan dua pengawal elit Cody bersama dengan kalian. Ibu harap kau baik-baik saja dalam menghadapi masalah ini, jika ada sesuatu yang di tidak bisa kau tangani hubungi saja ibu! Ingatlah, walaupun ayahmu sedikit menjengkelkan tapi sebenarnya dia sangat menyayangimu. Kami akan selalu ada untukmu Brian."
Michelle mencoba meyakinkan Brian untuk tidak terlalu bertumpu pada dirinya sendiri, Brian harus ingat, dia masih memiliki keluarga yang akan selalu mendukungnya. Alex pasti tidak akan membiarkan penerusnya mengalami kesulitan jika mengetahui ini.
Brian sama sekali tidak menanggapi perkataan ibunya, justru ekspresinya semakin dingin saat membahas soal ayahnya. "Ibu percayalah padaku!"
Brian sudah tahu kalau ibunya pasti datang membawa oleh-oleh yang tidak diinginkannya. Baginya pengawal yang ditinggalkan ibunya, hanya akan menjadi hambatan untuk dia bergerak bebas. Tapi setelah berpikir dua kali, mungkin pengawal yang ditinggalkan Michelle akan berguna untuk melindungi Zoya dan juga Kiara.
"Baiklah, ibu pergi sekarang! Ini nomer ponsel para pengawal, mereka akan langsung datang begitu kau menelpon mereka!" Michelle mencubit gemas kedua wajah anak-anaknya, kemudian dia mulai melangkahkan kakinya yang berat untuk meninggalkan mereka.
Kiara melambaikan tangan pada ibunya, tetapi Brian memilih untuk tetap bersikap acuh tak acuh. Melihat sikap kakaknya itu, Kiara langsung mengambil tangan Brian dan mengangkatnya keatas untuk ikut melambai.
__ADS_1
Brian mendengus kesal, namun terpaksa dia ikut juga melambaikan tangan untuk ibunya.
Michelle yang sudah duduk di dalam mobil menatap sendu kedua malaikat kecilnya yang sedang berdiri teras. Kesedihan melanda dirinya.
Kemudian dia juga tak sengaja menatap Zoya yang baru saja keluar dari rumah sambil menyandang tas, tiba-tiba terbesit di pikirannya tentang hubungan antara putranya dengan Zoya.
"Jika memang Brian dan Zoya memiliki perasaan satu sama lain, aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja..."
Michelle tampaknya menyukai Zoya, jika dilihat-lihat gadis itu sama sekali tidak buruk. Bahkan Michelle mulai merasakan perubahan terhadap Brian selama tinggal bersama dengan Zoya. Brian yang dulunya sangat tertutup, sekarang sudah mulai sedikit terbuka. Dia juga mulai banyak bercerita pada Michelle malam tadi. Pengaruh Zoya tampaknya cukup baik.
"Apakah hubungan mereka ini akan berjalan dengan baik di masa depan?" tanya Michelle pada dirinya sendiri.
Kemudian dengan segera Michelle membuang pikirannya itu, dan tersenyum pada anak-anaknya.
Brian, Zoya dan Kiara melambaikan tangan sambil menatap mobil itu pergi meninggalkan mansion Cody. Ada perasaan sedih di hati mereka.
Sontak Kiara dan Brian langsung menoleh ke belakang, mereka sedikit kaget melihat Zoya ternyata sudah ada di belakang mereka.
"Kakak ipar kau mau kemana?" tanya Kia dengan ekspresi yang penasaran.
"Aku dan kakakmu akan ke kampus." jawab Zoya dengan sangat santai.
"Oh, jadi ternyata kalian sering pergi ke kampus bersama-sama ya? Uh, so sweat banget... apa kalian tahu? Kalian sudah seperti pemeran yang ada di film-film romansa tahu!" Kiara mulai melakukan aksinya untuk menggoda Zoya dan Brian.
__ADS_1
Mendengar hal itu Brian mendengus dan memberi tatapan mencemooh pada Kiara, dia tahu adiknya ini lebih cerewet dari pada Zoya.
"Aku tidak akan pergi ke kampus hari ini, kau minta antar aja sama ayahmu!" Brian berseru pada Zoya dengan nada sedingin kutub utara, kemudian dia langsung masuk kedalam rumah.
Zoya mengerutkan dahinya, keheranan. "Tapi tuan muda... ck, dia kenapa sih?"
"Kakak ipar jangan terlalu diambil hati, kakakku memang seperti itu! Terlebih lagi kalau sedang sakit, dia sudah seperti kulkas beku yang menyebarkan hawa dingin kepada semua orang!" Kiara mencoba membuat Zoya untuk memahami sifat Brian.
Zoya menganga dan tak bisa berkata-kata, dia tidak mengerti kenapa Kiara mengatakan itu. Tapi dia juga sudah tahu kalau Brian orang yang seperti apa, jadi sikapnya itu sama sekali sudah biasa bagi Zoya. Hanya saja, ada satu hal yang membuat Zoya sedikit kaget, apa Brian benar-benar sedang tidak sehat?
Barusan kemarin malam mereka keluar bersama dan Brian terlihat baik-baik saja, dia bahkan menghajar ketua geng Crimson dengan mudah. Penyakit memang tidak kenal tempat dan waktu, dia akan menyerang siapapun, dimanapun, dan kapanpun.
"Jadi dia sedang tidak enak badan ya? Hmm baiklah. Oh ya kia..."
Mendengar Zoya memanggilnya dengan sangat lembut membuat hati Kia menghangat, "Ya kakak..." jawabnya dengan nada yang terdengar sangat manja.
"Kau akan di rumah saja kan satu harian ini? Ada kotak obat di atas lemari dapur, kau bisa memberikannya pada kakakmu! Setelah minum obat demamnya pasti turun!" seru Zoya sambil tersenyum ramah.
"Sepertinya kau sangat peduli dengan kakakku, bukan? Baiklah aku akan menjalankan perintah kakak ipar dengan sangat baik!" Kiara kemudian langsung masuk juga ke dalam rumah, melangkah seperti seorang prajurit yang baru saja mendapat perintah dari komandannya.
Zoya memasang ekspresi aneh melihat Kiara, dia benar-benar bingung! Kenapa kepribadian Kiara sangat bertolak belakang dengan Brian, dan kenapa terus-terusan Kiara memanggilnys sebagai kakak ipar?
Zoya langsung menggelengkan kepalanya, dan bergumam, "Mungkin karena usianya masih sangat muda, karena itu sikapnya sedikit kekanak-kanakan."
__ADS_1
Di dalam kamar, Brian duduk bersandar diatas kasur sambil membuka laptopnya. Kemudian dia langsung memulai panggilan video pada Sean dan Jhony. Walaupun dalam kondisi tidak enak badan, dia tetap harus menjalankan rencananya.
Kompetisi perebutan martabat sudah sangat dekat, karena itu Brian harus bertindak cepat untuk mengumpulkan personilnya. Sekarang dia sudah memiliki Jhony dan Sean, tinggal satu lagi dan timnya akan lengkap.