
Keesokan paginya, Michelle terlihat sedang berkemas di kamarnya untuk pulang ke ibu kota. Alexander Cody itu adalah suami yang sangat menyebalkan. Baru saja sehari Michelle meninggalkannya, pria berhati batu itu sudah mengirimi belasan pesan yang berisikan perintah untuk pulang.
Bahkan di dalam salah satu pesan itu ada yang berisi dengan ancaman yang sangat tidak rasional, 'Jika dalam dua hari kau tidak pulang, maka aku akan menyeret mu kembali kesini menggunakan seekor kuda.'
Bulu kuduk Michelle langsung berdiri membaca pesan itu, suaminya terdengar sangat kejam. Jadi tidak heran kalau Brian memiliki sifat yang sangat dingin, itu diwarisi dari ayahnya.
Sementara itu Kiara yang melihat ibunya sedang berkemas sedikit terkejut. "Mommy mau kemana? Jangan bilang kalau mommy mau jalan-jalan sendirian!?" walaupun dilanda kebingungan Kia tetap menyempatkan untuk bercanda dengan mommy nya.
"Mommy mau pulang, ayahmu sudah mengirimi mommy lebih dari sepuluh pesan!" jawab Michelle yang di penuhi dengan kekesalan.
Kiara berdecak kesal sebelum berkata, "Ayolah mom kita baru saja sampai kemarin malam, papa gak sekejam itu, bukankah aku sudah minta izin dengannya kemarin!?" Kiara mencoba menahan mommy nya untuk tidak pulang secepat ini, dia baru saja kembali dari London hanya ingin menjumpai kakak tercintanya.
Tapi sebenarnya alasan yang lebih tepat kenapa Kiara tidak ingin pulang cepat adalah, dia masih ingin mengganggu kakaknya dan juga calon kakak iparnya. Dia bahkan berniat ingin mempersatukan kedua insan itu. Entah kenapa itu sangat mengasyikan bagi Kiara, apa mungkin karena dia sangat penasaran bagaimana cara Brian merayu Zoya.
Brian kan sangat dingin, setahunya!
"Mommy akan pulang lebih dulu, kau bisa tinggal disini dan temani kakakmu sementara." Michelle tampak tidak akan menahan putrinya untuk tinggal disini, itu mungkin akan menjadi keputusan yang sangat tepat. Jadi dia bisa lebih tenang karena ada Kiara yang mengawasi pergerakan Brian.
Kiara tampak senang karena mommy nya ternyata tidak memaksanya untuk ikut pulang bersama. Sekarang rencana yang sudah ia siapkan untuk kakaknya dan kakak ipar bisa ia jalankan.
Kiara melompat kegirangan!
Kemudian sosok Brian muncul, terlihat dia menyandarkan dirinya diambang pintu. Saat ini kondisinya terlihat agak kurang baik karena flu.
Dia demam!
Brian menggunakan jaket woll tebal untuk menyelimuti tubuhnya yang menggigil, hidungnya terlihat merah. Michelle yang melihat kondisi putranya benar-benar tidak tega, dia bahkan berniat untuk membatalkan penerbangannya.
__ADS_1
Dengan segera dia berjalan mendekati Brian dan memegang wajah tampan putranya itu. "Kau sangat sakit, ibu akan membawamu ke dokter, bagaimana?"
"Kurasa tidak perlu ibu, ini hanya flu biasa!" Brian menolak.
Mendengar ibunya menyebut dokter benar-benar membuat wajah Brian semakin pucat dan suram. Brian sama sekali tidak takut dengan apapun, namun jika berurusan dengan dokter maka dia lebih memilih untuk mundur.
Yang benar saja, bagaimana pria tampan berhati dingin dan cuek sepertinya, membiarkan dokter memeriksa seluruh tubuhnya. Terlebih lagi kalau itu dokter wanita, seluruh tubuh Brian langsung merasa ngeri membayangkan itu. Belum lagi kalau jarum suntik itu mendarat di bokongnya yang seksi.
Brian kegelian!
Dia trauma karena dulu waktu kecil pernah ada perawat wanita cabul yang mencoba menulusuri seluruh tubuh Brian yang seksi dan masih polos. Semenjak itu, Brian sangat menjaga kebersihan dan kesehatannya agar terhindar dari dokter dan suster cabul yang tidak bisa menahan diri.
"Tapi suhu tubuhmu ini sangat tinggi loh, ibu akan akan membatalkan penerbangan ibu!" seru Michelle sembari memegangi kening putranya.
"Jika ibu berlama-lama disini, mungkin pak tua itu bisa gila karena sendirian disana!" Brian mencibir dengan ekspresi mencemooh.
Brian pun langsung memberi tatapan elang pada Kiara, membuat wajah adiknya yang mungil itu membeku. 'Bagaimana mungkin ada seorang adik yang sangat senang melihat kakaknya jatuh sakit?'
Hanya Kiara yang usil lah bisa seperti itu!
"Kiara..." Michelle langsung memarahi putrinya.
"Ibu aku akan minum obat saja, setelah istirahat aku akan langsung baikan. Jangan khawatirkan aku, aku bukan anak kecil lagi!" ujar Brian dengan ekspresi seperti tripleks.
"Baiklah kalau begitu." Michelle tahu kalau Brian sama keras kepalanya dengan Alex, jadi dia tidak bisa memaksa lagi.
"Mom, sepertinya aku tahu kenapa kakak demam, dia sedang jatuh cinta! Ini namanya demam cinta!" Kiara semakin menggoda Brian saat melihat kak Zoya juga muncul.
__ADS_1
Sontak Zoya yang baru saja muncul dan berdiri di sebelah Brian diam membeku saat mendengar Kiara berkata seperti itu, "Mom... eh maksudku tante, sarapan sudah siap, tante bisa sarapan dulu sebelum pulang!" Zoya hampir keceplosan memanggil Michelle dengan mom juga, itu semua karena pengaruh Kiara yang terus-terusan menggodanya.
Kiara tersenyum lucu lalu berkata, "Kakak ipar, kau bisa memanggil mommy dengan mom juga kok!"
"Kia...!" Brian memelototi adiknya yang nakal itu, dia menggertakkan giginya dengan sangat kuat karena geram.
Sementara itu Michelle hanya diam dan terus memperhatikan Zoya dan Brian. Keduanya tampak malu-malu seolah sedang menyembunyikan sesutau. Hubungan macam apa yang sudah terjalin diantara mereka?
Apa mungkin Brian memang menyukai Zoya?
"Sudah-sudah, ayo kita sarapan!" ajak Michelle.
Zoya dan mbok Ratih menyajikan sarapan, hari ini mereka memasak beberapa jenis makanan spesial untuk Brian dan keluarganya. Ada sup kaldu ayam, spaghetti dan juga steak yang terlihat sangat lezat. Aromanya saja sudah menggugah selera semua orang. Hanya Brian yang tampak biasa saja, indra penciumannya agak kacau jadi dia tidak bisa mencium aroma lezat dari hidangan yang ada di depannya.
"Ini sangat enak, apa Zoya yang memasaknya?" Michelle mencicipi sup kaldu ayam itu, wajahnya dipenuhi kekaguman.
"Emm, kakak iparku benar-benar hebat, bagaimana kau bisa tahu kalau aku sangat suka spaghetti? Ini benar-benar lezat!" Kiara menyantap spaghetti dengan sangat lahap, dia mengakui kalau Zoya benar-benar pandai memasak.
Sementara itu Brian tampak sangat cuek sambil terus memainkan peralatan makannya. Sesekali dia melirik kearah Zoya untuk melihat reaksi wanita itu saat mendapat pujian dari ibu dan adiknya.
Zoya hanya bisa tersenyum manis sebelum berkata dengan jujur, "Sebenarnya yang memasak semua ini adalah ibuku, aku hanya membantunya saja."
"Kakak ipar, kau tidak boleh merendah seperti itu, ada yang bilang buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya." Kiara masih saja memuji Zoya dihadapan ibu dan kakaknya. Dia benar-benar menunjukkan betapa ia menyukai Zoya.
Michelle merasa sangat senang melihat Kiara yang tampak sudah sangat dekat dalam waktu singkat. Gadis kecil itu benar-benar mudah bergaul tidak seperti kakaknya.
Sesekali Michelle menatap wajah Zoya dengan penuh arti, Apa benar ada sesuatu antara Brian dan dia?
__ADS_1