King Of School

King Of School
Bab 79


__ADS_3

Melihat Leo yang berada di bawah kakinya mengingatkan Brian pada sebuah masa lalu.


14 tahun yang lalu.


Saat itu Brian cilik yang masih berusia lima tahun lebih, sudah berpakaian rapi sekali untuk pergi mengunjungi kakeknya yang berada di Yorkshire.


Dia tampak seperti pangeran tampan dari negeri dongeng, stelan rompi yang ia kenakan benar-benar pas dengan karisma yang ia miliki. Sejak kecil Brian memiliki ekspresi yang jarang tersenyum wajahnya terlihat sangat datar namun tetap mempesona.


Yah, walaupun ekspresi dinginnya tidak separah saat dia dewasa, tapi siapapun yang melihat manik sebiru lautan itu, pasti akan langsung menggigil.


"Mom kenapa kakak ****** sekali telsenyum." saat itu Kiara yang berusia hampir empat tahun sedang didandani ibunya, tiba-tiba dia mengomeli Brian.


Wajah imut Kiara cilik benar-benar sangat lucu, matanya biru sama seperti Brian, pipi chubby itu bagaikan roti isi yang sangat menggemaskan. Dia persis seperti boneka peri, siapapun yang melihatnya pasti tidak tahan ingin memeluk dan mencubit Kiara.


"Kia, seseorang tersenyum hanya jika saat dia merasa bahagia saja. Tidak mungkin kan, kakakmu terus-terusan tersenyum sepanjang waktu." ucap Michelle sambil merapikan poni putrinya yang menjulur ke depan.


"Apa saat ini kakak tidak bahagia?" Kiara yang seperti kertas putih polos bertanya, "Bukankah kita akan pergi mengunjungi kakek, seharusnya dia bahagiakan?"


Deg.


Michelle langsung terdiam saat mendengar bayi lucunya yang polos ini, sangat bawel.


Tapi seketika nada suara dingin pun terdengar.


"Apa yang menyenangkan dari mengunjungi orang tua yang sudah bau tanah." ucap Brian yang sedari tadi duduk di atas kasur bersikap acuh tak acuh.


"Brian! Kau tidak boleh berkata seperti itu, sepertinya ibu harus mengajarimu sopan santun!" seru Michelle yang mencoba mendidik putranya.


"Bagaimana kau bisa mengajariku ibu, kau tidak punya waktu untuk melakukannya!" Brian tidak ingin banyak berdebat dan memilih untuk pergi begitu saja.


Melihat sikap putranya yang sangat acuh tak acuh itu membuat Michelle tak berdaya. Ini semua bukan salah Brian, dialah yang kurang perhatian pada putranya itu.


Michelle selalu sibuk di kantor untuk membantu suaminya, dia tidak punya banyak waktu untuk memberikan kasih sayang pada Brian. Terlebih lagi, takdir memberikan Brian seorang adik di usia yang masih sangat kecil. Membuat Brian semakin merasa Michelle sama sekali tidak pernah memperdulikan nya lagi.


Saat Brian berjalan keluar tak sengaja seorang pelayan tiba-tiba menabraknya dan menumpahkan secangkir teh kearah Brian. Alhasil pakaian Brian yang sudah rapi tadi langsung kotor dan berlumuran teh.

__ADS_1


Pelayan itu langsung menjadi panik sejadinya dan segera mencoba memperbaiki kesalahannya. "Pangeran maafkan saya, saya tidak sengaja."


Brian tidak menjawab dan memilih untuk tetap diam. Dia bahkan berniat untuk pergi begitu saja.


Namun tragedi itu tersorot oleh Alex yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Dengan segera Alex mendatangi Brian dan si pelayan, ekspresinya terlihat sangat tidak senang. Matanya bagaikan sebilah pedang tajam yang siap memenggal kepala seseorang.


Plak.


"Dasar bodoh, dimana matamu?" Alex memberi tamparan keras kepada pelayan itu, sehingga tersungkur kelantai marmer.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja melakukannya, mohon ampuni saya tuan." pelayan itu memohon ampun menggunakan kedua telapak tangannya. Ekspresinya terlihat sangat menyedihkan, bekas tamparan itu juga bisa terlihat jelas diwajahnya.


"Sudahlah, dia tidak sengaja!" ucap Brian dengan pelan dan masih dengan ekspresi acuh tak acuh.


"Apa kau bilang, apa kau ingin melepaskannya begitu saja, begini kah caramu memperlakukan orang yang berbuat salah padamu?" mendengar putranya membela pelayan itu membuat Alex semakin geram saja.


"Ini sudah terjadi, lalu mau kau apakan lagi dia."


"Kau ingin tahu apa yang akan aku lakukan? Perhatikan!"


Alex langsung menendang wajah pelayan itu hingga mencium lantai. Kemudian dia menginjak penggung pelayan itu sambil berkata dengan lantang, "Seorang pelayan yang tidak becus harus mendapatkan hukuman, kita adalah keluarga terhormat Brian. Beginilah seharusnya kau memperlakukan orang yang telah menyinggung mu!"


Mendengar suara kegaduhan membuat Michelle dan Kiara langsung keluar dari kamar. Dan seketika mereka terkejut melihat apa yang sedang terjadi.


"Sayang ada apa ini..."


Alex mengangkat jarinya ke udara untuk membungkam Michelle, "Aku sedang mengajari putraku, kau jangan ikut campur!"


Michelle pun tak berani mengganggu Alex dengan segera dia menutup mata Kiara menggunakan telapak tangannya, dan beringsut kembali masuk ke kamar.


"Sekarang apa kau mengerti, Brian!?" seru Alex sambil mencondongkan tubuhnya kearah Brian.


Sementara itu Brian yang melihat perilaku ayahnya, seketika berekspresi seolah-olah jijik. Tapi dia tetap diam saja dan menatap si pelayan yang sedang bersujud dibawah kakinya.

__ADS_1


Dia merenung, apakah takdirnya memang harus seperti ini. Apakah orang-orang yang berkuasa harus selalu bertindak seperti ayahnya.


Present Time.


"Pangeran, apakah saya harus menghabisinya?" ucap salah satu pengawal elit Cody, sambil menodongkan pistol kearah Leo.


Brian akhirnya tersentak kembali dari lamunannya, dia masih menatap Leo yang berada di bawah kakinya.


Sambil menghela nafas, Brian berkata, "Tunggu dulu," Brian mulai maju selangkah untuk mendekati Leo. "Leo Murphy, kau sudah berani mencoba untuk membunuhku, tidak hanya itu kau juga sudah menuduhku melakukan pembantaian terhadap saudaramu Ted. Kira-kira apa yang harus aku lakukan padamu sekarang?"


Wajah Leo yang dipenuhi kesombongan tadi langsung berubah. Bagaikan sebuah matahari yang dihisap oleh lubang hitam, Leo telah kehilangan semua kebanggaannya. Yang tersisa hanyalah sebuah keputusasaan.


Dia tidak mungkin berani melawan Brian lagi setelah mengetahui identitas asli Brian yang ternyata adalah pangeran Cody.


'Siapa coba yang tidak tahu tentang Cody Famili?'


Mereka adalah keluarga besar yang memiliki kekuasaan dan otoritas tinggi di negara 'I'. Siapapun tidak akan pernah berani menyinggung keluarga sebesar itu, apalagi Leo yang hanya seorang gangster biasa yang berasal dari kota kecil seperti Golden Sea.


Bagaimana bisa dia mengatakan hendak melenyapkan Brian tadi, Leo pasti sedang menggali kuburannya sendiri


"Pangeran, ampuni saya, saya benar-benar bodoh karena tidak tahu siapa yang coba saya singgung." lirih Leo dengan wajah sendu dan putus asanya, sekarang dia benar-benar sudah pasrah menerima apa yang akan dilakukan Brian padanya.


"Aku bisa saja melupakan semua yang sudah kau lakukan padaku, tapi ada satu kesalahanmu yang tidak bisa aku maafkan." ucap Brian dengan ekspresi serius sambil menyilangkan kedua tangannya ke belakang punggung.


Dia bersikap sama persis seperti apa yang pernah diajarkan ayahnya dulu. Entah mengapa, sepertinya hal yang telah diajarkan Alex pada Brian seperti kutukan yang melekat dan tak akan bisa hilang.


"Apa kau tahu kesalahan terbesarmu itu?" Brian bertanya sambil membungkuk dan menarik kerah baju Leo.


Sontak Leo tidak bisa berhenti berkeringat, dia dengan susah payah menelan salivanya dan bertanya, "Apa kesalahan terbesarku?"


Dengan gigi terkatup Brian berkata, "Kesalahan terbesarmu adalah, kau sudah berani berniat buruk terhadap Zoya ku!"


Plak.


Brian mengirim Leo kembali tersandar ke kursi rodanya dengan tamparan yang sangat keras.

__ADS_1


Brian mengulurkan tangannya kepada pengawal, dengan segera pengawal itu langsung memberi Brian sebuah sapu tangan. Dia menyeka telapak tangannya sambil terus menatap Leo dengan jijik.


"Kau harus tahu, sekarang aku memiliki tiga orang yang sangat berharga dalam hidupku. Jika ada orang yang berani menyentuh mereka, maka aku akan mematahkan tangan orang itu!"


__ADS_2