King Of School

King Of School
Bab 106


__ADS_3

Sean masih menatap Brian dengan dengan ekspresi yang sangat rumit. Semenjak dia bertemu dengan Brian, Sean lebih sering menggunakan logikanya dalam menanggapi suatu hal. Dia tahu saat ini Brian pasti memiliki alasan tertentu kenapa dia tidak ingin menjadi kapten di tim mereka.


Setelah menghela nafas beberapa saat, Sean pun berkata, "Kalau begitu aku yang menjadi kapten."


Jhony tersedak.


Jhony tidak terima pengakuan Sean dan membantah, "Apa? Kau tidak boleh mengklaim posisi kapten seenaknya saja."


Kedua alis Sean menyatu saat dia memelototi Jhony dengan tajam, berkata, "Kenapa kau keberatan? Brian tidak ingin jadi kapten kita, jadi aku yang akan mengambilnya. Lagi pula, sebelumnya aku juga sudah pernah jadi kapten tim basket. Di tim ini siapa lagi yang paling layak untuk posisi itu selain aku?"


Dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi Sean menyatakan dirinya adalah orang paling layak yang akan menjadi kapten di tim.


Akan tetapi Jhony sama sekali tidak setuju, menurutnya di dalam tim ini dia dan Sean memiliki derajat yang sama. Dia rela tunduk di bawah perintah Brian, tapi tidak kepada Sean. Jadi dia sangat tidak terima keputusan Sean yang ingin mengambil posisi sebagai kapten.


"Hei Sean, siapapun bisa bermain basket. Apa kau pikir kemampuanmu itu lebih baik dari aku? Bagaimana bisa kau membuat keputusan sendiri seperti ini? Bahkan kita tetap harus melakukan pengambilan suara siapa yang lebih layak menjadi kapten." ujar Jhony.


Dengan ekspresi yang merendahkan Sean mencibir, "Jadi kau juga ingin menjadi kapten? Apa kau bahkan layak?"


Jhony mendengus kesal, dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi saat berkata dengan ekspresi yang tegas, "Aku orang yang pertama direkrut oleh Brian, oleh karena itu aku adalah seniormu. Tentu saja aku lebih dari layak untuk posisi itu, kau tidak lihat betapa kerennya aku tadi saat muncul menghadang Vince. Jika aku yang menjadi kapten, yakinlah, kita pasti bisa mengalahkan Vince dengan mudah."


Spontan Sean tertawa getir, "Keren? Apa kau kira Vince tadi mundur itu karena kemunculan mu? Jhony, harus aku katakan kemunculanmu tadi sama sekali tidak berpengaruh. Semua orang tahu kau itu hanya bisa menggertak saja."


Jhony langsung murka dan menghempaskan telapak tangannya dengan keras ke atas meja. Dia meraung, "Apa kau bilang? Apa kau sedang meremehkan ku?"


Sean mengangkat kedua bahunya dan berkata dengan ekspresi yang merendahkan, "Itulah kenyataannya."


Merasa dirinya sangat diremehkan oleh Sean, membuat aliran darah dalam tubuh Jhony bergejolak. Dia berdiri di atas kursi dan menginjak meja dengan satu kakinya, kemudian dengan kasar Jhony menarik kerah baju Sean.


"Kau kira dirimu itu hebat, ha? Mari kita buktikan sekarang juga, siapa yang lebih hebat diantara kita." ketus Jhony dengan amarah yang meledak-ledak.

__ADS_1


Sean balik membalas dan meraih kerah baju Jhony juga, "Ayo siapa takut, bahkan jika sepuluh orang sepertimu datang kepadaku, tetap tidak akan membuatku gentar sedikitpun."


Zoya yang melihat perseteruan antara Jhony dan Sean merasa sedikit panik, dia kemudian berteriak, "Hei apa-apaan ini, kenapa kalian malah bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini? Apa kalian tidak malu diliatin orang-orang?"


Kemudian Zoya melirik kearah Brian, dan menatap tuan mudanya itu dengan bingung.


Brian tampak sangat tenang dan tidak memperdulikan perkelahian Jhony dan Sean.


"Tuan muda mereka mulai berkelahi untuk berebut posisi kapten. Kau harus menghentikannya!" seru Zoya dengan ekspresi serius.


Brian tetap bergeming dan mulai menyesap tehnya dengan anggun seraya berkata, "Kekanak-kanakan."


Zoya tidak bisa berkata-kata melihat Brian yang tampak tak peduli sedikitpun. Sebagai orang yang memiliki otoritas penuh dalam tim ini, Brian harusnya memastikan semua anggota agar tetap akur. Bukannya malah cuek seperti ini.


Zoya berpikir pasti ada yang salah dengan Brian.


Namun perseteruan Jhony dan Sean semakin tak terkendali, Zoya pun berdiri hendak menghentikan mereka namun segera tangannya ditarik oleh Brian.


Tatapan Zoya terhadap Brian pun semakin dalam, dia akhirnya mengerti, ternyata Brian sejak awal sedang menguji Sean dan Jhony. Zoya duduk kembali di kursinya dengan patuh seraya berkata, "Tapi tuan muda, mereka akan saling pukul karena ulahmu ini."


"Jika itu bisa membuat mereka menjadi lebih kompak, maka biarkan saja."


Zoya, "..."


Detik berikutnya Jhony pun mulai terbang dan melayangkan tinjunya ke wajah Sean. Keduanya pun terjungkal ke lantai dan saling bergulat. Semua orang yang ada di sekitar sedikit terkejut dan langsung menepi.


Suasana kafetaria juga ikut menjadi ricuh, perkelahian Jhony dan Sean telah menghancurkan semua benda yang ada di sekitar mereka.


Dalam pertarungan itu sebenarnya Sean nampak jauh lebih unggul, dia banyak memberikan pukulan telak kepada Jhony. Namun, Jhony yang api jiwanya sudah membara, tidak mau kalah juga dan membalas setiap pukulan Sean dengan segala cara. Jhony bahkan tidak ragu menggunakan giginya untuk menggigit Sean di saat dirinya sudah terkunci.

__ADS_1


"Benar-benar cara bertarung yang payah." cibir Brian yang menatap perkelahian itu dengan penuh jijik.


Setelah Brian menyelesaikan makan siangnya, dia menyeka bibir seksinya dengan anggun kemudian langsung bangkit, berkata, "Membosankan, ayo kita pergi nona cerewet."


Melihat tuan mudanya yang pergi begitu saja, sontak Zoya pun langsung lari mengejar Brian. Sesekali dia juga masih melirik ke belakang melihat pertarungan Jhony dan Sean yang belum usai, ekspresinya menjadi sangat rumit, "Tuan muda, kenapa tidak kau hentikan saja mereka?"


Brian terus berjalan sambil berkata, "Biarkan saja, mereka pasti berhenti jika sudah lelah."


Zoya, "..."


"Kau benar-benar kejam, tuan muda."


Wajah tampan Brian yang mempesona sedikit mengkerut saat Zoya menyebutnya kejam. Sebenarnya Brian selalu memiliki banyak cara untuk membuat timnya agar lebih kompak. Akan tetapi Brian juga tahu, masing-masing orang yang direkrutnya ini memiliki ego yang sangat tinggi. Akan sangat sulit menyatukan orang-orang seperti Jhony dan Sean untuk bekerja sama.


Karena itulah, Brian sengaja tidak mengambil posisi sebagai kapten secara langsung. Dia ingin melihat apakah Sean dan Jhony bisa saling mengalah atau tidak. Jika di dalam diri mereka tetap ada perasaan, 'aku lebih baik dari kau', maka tim ini tidak akan pernah berhasil mengalahkan Vince.


Pada akhirnya semua yang sudah Brian rencanakan akan sia-sia saja.


Brian melirik ke belakang menatap Sean dan Jhony yang sedang berseteru dengan sinis, lalu suaranya yang tegas dan berwibawa pun keluar, "Teruslah berkelahi seperti itu, Sean, Jhony. Jika hanya karena masalah sepele seperti ini kalian sampai berkelahi, tidak heran kenapa Vince sangat mudah mengalahkan kalian di masa lalu."


Brian melanjutkan, "Kalian sangat mudah terprovokasi. Sebaiknya kalian singkirkan ego kalian itu dan mulailah saling bekerja sama. Jika tidak, sampai kapanpun kalian tidak akan bisa mengalahkan Vince."


Setelah mengatakan itu, Brian langsung berjalan pergi dengan kedua tangannya di belakang punggung. Zoya yang tertegun sejenak juga segera mengejar Brian dari belakang seperti anak ayam.


Sementara Sean dan Jhony, akhirnya berhenti juga setelah mendengar perkataan Brian barusan. Mereka berdua pun terdiam dan merenung sambil terus menatap punggung Brian yang perlahan pergi.


Jhony dan Sean mendapat sedikit pencerahan, akhirnya mereka mengerti kenapa Brian sengaja tidak mau menjadi kapten. Brian ingin menguji mereka.


Memikirkan itu membuat Sean dan Jhony sedikit malu, dari awal Jhony dan Sean memang tidak pernah saling respect satu sama lain. Mereka setuju bergabung dengan Brian karena satu tujuan, yaitu untuk membalas Vince. Namun bagaimana mereka bisa mencapai tujuan itu jika mereka tidak mau bekerjasama sama?

__ADS_1


Brian benar-benar pria yang memiliki pemikiran luas kearah masa depan, Sean dan Jhony tidak pernah berpikir sampai kesitu dan sekarang mereka baru sadar.


Rasa hormat mereka terhadap Brian pun semakin meningkat.


__ADS_2