King Of School

King Of School
Bab 90


__ADS_3

Brian mengepalkan kedua telapak tangannya, sangat kuat hingga terlihat pucat. Ekspresi wajahnya menjadi suram seperti malam dan dingin seperti puncak gunung Everest.


Rasanya ingin sekali Brian menampar wajah Vince saat itu juga. Namun ini bukanlah saat yang tepat. Bagaimanapun saat ini dia harus segera membawa Zoya agar segera pergi dari sini.


......................


Sehari yang lalu.


Di suatu ruangan yang sulit di tembus cahaya.


"Apa, jadi dia adalah sepupumu?" Vince begitu terlihat terkejut sehingga menghempas meja dengan keras. "Bagaimana mungkin pendatang ini bisa menjadi sepupumu?" Vince meraung pada seorang pria yang ada di hadapannya dengan penuh keterkejutan menghiasi wajahnya.


Saat ini wajah Vince sudah menjadi pucat, kemudian dengan nada putus asa dia melanjutkan, "Marcell, kalau dia memang bagian dari keluargamu, maka aku akan membatalkan semua rencanaku. Jika aku tahu ini dari awal maka aku tidak akan berani menggangunya."


Pria yang bernama Marcell itu duduk di sofa dengan kaki tersilang, dia memberi tatapan santai namun penuh dengan cemoohan kearah Vince. Sosoknya yang penuh dengan aura tak tertandingi menyelimuti seisi ruangan itu. Dia memiliki wajah selembut bola kapas, senyuman semanis gula aren. Namun, entah mengapa dibalik wajahnya yang tampan dan lembut itu, terlihat berbagai macam siasat memenuhi matanya.


Dengan santai Marcell kemudian berkata, "Kenapa kau menyerah saat aku mengungkapkan kalau musuhmu ternyata adalah sepupuku? Apa kau sekarang takut padanya?"


Vince tidak menjawab untuk waktu yang lama, kepalanya tertunduk kebawah seperti ayam sakit. Bagaimana dia ingin melanjutkan rencana untuk mengalahkan Brian, jika ternyata orang yang sedang ia provokasi bukanlah orang biasa.


Dengan putus asa Vince berkata, "Marcell, aku tidak sanggup melawan orang seperti kalian. Dia dan kau berasal dari keluarga yang sama, yaitu keluarga terbesar di ibukota pemerintahan. Memprovokasi Brian sama saja dengan melawan mu, bukan?"


Marcell tertawa geli mendengar Vince mengatakan keputusasaannya, kemudian dia mencibir, "Kau payah, bagaimana kalau aku mengatakan, memprovokasi Brian membuat aku merasa sangat puas."


"Hah, apa maksudmu." Vince mengernyitkan dahinya.


"Vince, pada saat kau menunjukan foto musuhmu ini, aku juga terkejut sesat. Namun, aku sekarang harus berterima kasih pada takdir ini, karena akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menyingkirkan sainganku. Yah Vince, Brian bukan hanya musuhmu, tapi dia juga adalah hambatan terbesar bagiku." jelas Marcell serius.


Vince begitu terkesiap sampai mulutnya menganga, apa yang barusan dia dengar itu benar? Marcell dan Brian juga saling bermusuhan? Tapi kenapa? Hanya satu hal yang membuat seseorang ingin mencelakai keluarganya sendiri, dan itu pasti karena iri akan suatu hal.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?" Vince bertanya dengan ragu-ragu.


"Kau masih tidak mengerti? Lanjutkan saja rencanamu itu, kau tidak perlu takut. Karena aku bersamamu. Brian mungkin bagian dari keluarga, namun bagiku dia hanyalah sebuah penghalang saja. Jika kau berhasil menyingkirkan dia, maka aku akan sangat berterimakasih padamu." Marcell tampak begitu membenci Brian.


Vince yang tadinya pucat mulai mendapatkan kembali warna wajahnya. Tidak disangka ternyata Marcell justru membelanya, sejenak Vince tadi berpikir, kalau nasib buruk akan menimpanya.


"Kau ingin aku tetap melanjutkan rencana menghabisi Brian, tapi bagaimana caranya? Orang-orang yang kau kirim pasti juga mengenal Brian. Mereka tidak mungkin menyerang salah satu tuan muda mereka, bukan?"


"Kau benar, itulah sebabnya aku sarankan kita susun rencana lain. Kemari..."


Marcell kemudian membisikkan sebuah rencana untuk melenyapkan Brian ke telinga Vince.


Kembali ke masa sekarang.


Tidak lama Brian mencari-cari keberadaan Zoya dan Kiara. Akhirnya kedua gadis itu menampakan batang hidung mereka juga. Brian pun langsung mendekati mereka.


"Dari mana saja kalian, aku sudah mencari dari tadi, dan kenapa pakaianmu terlihat berbeda?" ucap Brian sambil menatap Zoya dengan heran.


Ekspresi Brian terlihat sangat datar saat dia berkata, "Kenapa bajunya bisa kotor? Dan kau bilang apa tadi, kau meminjam baju dari Marcell. Apa dia memang suka menyimpan gaun sebagai koleksinya, memalukan."


Kemudian suara selembut hembusan angin terdengar dari belakang mereka. "Kau benar, aku memang suka menyimpan gaun. Apa itu salah?"


Ternyata itu Marcell, dengan ekspresi yang mempesona dia berjalan mendekati dua peri yang ada di samping Brian sembari berkata, "Ini adalah gaun mendiang ibuku." kemudian Marcell memuji Zoya sambil mengulurkan tangannya, "Gaun ini memang sangat cocok denganmu, nona..."


"Jangan panggil nona Cell, panggil dia kakak ipar. Karena sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga kita." sahut Kiara dengan penuh semangat.


Marcell tersenyum dan mengangguk ringan.


Namun, wajah Brian terlihat begitu gelap seketika. Kemunculan Marcell langsung membuat gunung es di mata Brian bergetar.

__ADS_1


Ada tatapan ketidaksenangan di matanya.


"Jadi kau sudah pulang!? Kukira kau akan menghabiskan hidupmu di London, untuk menjilat kakek." ucap Brian dengan nada sedingin bongkahan es.


Mendengar cibiran dari Brian, Marcell hanya membalas tersenyum sambil menjawab dengan santai, "Kau masih tidak berubah yah, sifatmu masih dingin seperti biasanya."


Kiara dan Zoya hanya bisa saling bertukar pandang melihat kedua pria dominan itu saling mencibir satu sama lain.


"Ngomong-ngomong, aku sangat berterimakasih karena kau mau datang ke acara penyambutan ku ini. Aku merasa sangat tersanjung sungguh." ujar Marcell.


Brian kemudian membalas dengan santai, "Sebenarnya aku tidak ingin kesini, namun ada suatu hal yang membuatku tertarik untuk datang."


"Dan jika aku boleh tahu apa itu yang membuat tertarik?"


"Kau?"


Marcell terkekeh sebentar sebelum dia membalas, berkata, "Oh Brian, kenapa kau tertarik denganku. Tidak ada yang spesial dariku bukan? Jika di bandingkan dengan pangeran mahkota sepertimu, aku sama sekali tidak ada apa-apanya, bukan?"


Marcell sengaja menguatkan nada suaranya saat mengucapkan pangeran mahkota tadi. Membuat perhatian semua orang tertuju kepada mereka.


Brian lanjut membalas, masih dengan ekspresi tenang dan datar, "Kau tahu betul apa yang aku maksud Marcell, pria sepertimu mungkin terlihat sangat lembut di hadapan orang lain. Tapi di mataku, kau tidak lebih dari serigala berbulu domba."


Kiara yang sedari tadi mendengar perdebatan itu langsung memotong, "Cukup, ada dengan kalian. Kakak, Marcell dan aku tinggal bersama selama tiga tahun di tempat kakek. Dia memang pria yang baik, kenapa kau mengatainya seperti itu?"


Marcell menjawab, "Karena kakakmu tidak pernah menyukaiku."


Sementara Zoya hanya memilih untuk diam saja, sambil terus mengamati situasi dengan ekspresi yang tak bisa di tebak. Dia tidak mengerti kenapa Brian tampak begitu dingin terhadap sepupunya sendiri.


"Brian lupakan saja pikiran negatifmu itu terhadapku, lebih baik kita berpesta sekarang. Ngomong-ngomong, aku dengar kau sekarang kau juga belajar di Leighton ya. Aku senang karena kau memilih universitas keluarga kita, dengan begini kita akan sering bertemu nantinya." ujar Marcell, ekspresinya terlihat sangat lembut dan menawan saat tersenyum. Namun Brian tahu, di balik senyuman itu, tersimpan banyak siasat licik.

__ADS_1


"Dia benar kak, kita kemari untuk merayakan pestanya Marcell kan? Lalu apa lagi yang kita tunggu, ayo kita mulai pestanya!" seru Kiara.


__ADS_2