
Brian memelototi Vince dengan keji, dia biasanya selalu menjadi orang yang tidak mau banyak bicara, karena jika sekali bicara hanya kata-kata tajam dan menusuk saja yang keluar dari mulutnya.
Akan tetapi Vince terus-menerus menguji kesabaran Brian, akhirnya dengan penuh kekesalan dia langsung menembakkan kata-kata yang kejam, "Vince harus aku katakan, bukan ranahmu untuk mengomentari kehidupanku. Bagiku kau hanyalah amuba, yang tidak berguna. Jadi jangan coba mengajariku standar dalam memilih seorang wanita."
Vince seketika bungkam dan membeku. Ini pertama kalinya dia disebut amuba (makhluk bersel satu) di depan semua orang. Betapa terhinanya dia. Brian memang memiliki lidah yang sangat tajam, bahkan Vince berpikir kalau tatapan Brian yang sedingin kutub tidak sebanding dengan kata-kata yang di lontarkan lidah Brian.
Vince menggertakan giginya dengan sangat keras hingga hampir patah, ingin sekali rasanya ia meremukkan wajah Brian yang terlihat begitu menjengkelkan. Akan tetapi dia masih bisa berpikir jernih, dia ingat kalau Brian memiliki status yang lebih tinggi darinya.
Vince pun berkata dengan ekspresi mengejek, "Aku sangat penasaran, kenapa kau membela pelayan ini sampai sebegitunya. Apa mungkin sudah terjadi sesuatu di antara kalian? Biasanya seorang majikan berperilaku baik pada pelayannya, hanya karena satu hal."
Vince sejenak berhenti bicara dan mencondongkan tubuhnya kearah Brian seraya berbisik, "Kau hanya memanfaatkan tubuhnya saja kan?"
Plak.
Seketika suara tamparan yang begitu renyah menggema ke seluruh ruangan auditorium, sehingga menarik banyak perhatian semua orang yang ada di sana. Mereka semakin terkejut lagi saat melihat orang yang menampar Vince barusan ternyata adalah Zoya sendiri.
Bahkan Brian juga tidak menduga kalau Zoya akan mengambil tindakan seperti ini.
"Cukup Vince, kau sudah sangat keterlaluan. Apa kau pikir aku ini wanita murahan, ha? Sebelumnya aku diam saat kau menyebar rumor seperti ini ke seluruh kampus, tapi kali ini tidak lagi." ucap Zoya dengan penuh amarah dan nada yang tegas.
Vince memegangi sisi wajahnya yang ditampar, seringai keji pun muncul di bibirnya saat dia mengutuk, "Dasar jal*ng, beraninya kau menamparku."
Vince hendak membalas Zoya dan mulai mengayunkan telapak tangannya ke wajah Zoya. Namun detik berikutnya, Brian langsung maju dan memberi tendangan tanpa ampun ke dada Vince hingga dia terseret jauh ke sudut ruangan.
Betapa terkesiapnya semua orang melihat itu, Vince adalah murid terpopuler di kampus ini. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti ini sebelumnya. Brian dan Zoya benar-benar sangat berani.
Melihat Vince yang diserang, teman-temannya pun mulai berdatangan untuk membantunya.
"Vince... kau anak baru sialan, berani sekali kau menyerang ketua kami." salah satu dari mereka meraung dengan penuh amarah.
Brian masih dalam keadaan santai dengan kedua telapak tangannya yang berada di dalam saku celana, berkata, "Aku sama sekali tidak bermaksud ingin menyerangnya, tapi dia terus-terusan menyinggungku dan juga Zoya. Jadi aku memberinya pelajaran yang pantas ia dapatkan."
__ADS_1
Semua teman-teman Vince menjadi sangat murka, tanpa menahan diri lagi mereka bersama-sama mulai bergerak untuk menyerang balik Brian.
Seketika suasana menjadi kacau, semua orang langsung menyingkir ke sudut memberi ruang untuk Brian dan para bawahan Vince bertarung.
Sementara Zoya terus berlindung di balik tubuh Brian yang jangkung. Dia sedikit menyesal karena menampar Vince tadi, sekarang pertikaian pun tak terhindarkan. Sambil menarik lengan kaos Brian, Zoya berkata dengan nada lirih, "Tuan muda ayo pergi dari sini, mereka sangat banyak."
Brian melirik Zoya sekilas lalu menjawab dengan tenang, "Kau tidak perlu khawatir, bahkan dulu saat aku masih berdiri sendiri di Leighton, aku tidak takut dengan mereka. Apalagi sekarang, semuanya sudah sangat jauh berbeda."
Tidak lama kemudian, Sean dan Jhony muncul tiba-tiba dengan membawa anggota geng mereka. Seketika gedung auditorium langsung penuh dan tampak sangat sesak.
"Sean, Jhony." ucap Zoya dengan penuh keterkejutan.
"Brian kau tidak perlu turun tangan, biar kami yang menghadapi para baj*ngan ini. Dari dulu aku sudah sangat menantikan momen seperti ini." ucap Sean sambil berjalan mendekati Brian.
Semua bawahan Vince langsung terhenti di tempat mereka berdiri, untuk beberapa saat mereka saling memandang satu sama lain. Mereka tida percaya kenapa Jhony dan Sean tiba-tiba berani mendukung Brian.
"Jhony, Sean menyingkir lah! Kami tidak ada urusan dengan kalian!" seru salah satu bawahan Vince.
Jhony menjawab, "Bahkan jika langit runtuh sekalipun, kami bersedia menopangnya untuk tuan muda kami, Brian. Jangan pernah berpikir kau bisa mendekatinya selagi kami masih ada di dunia ini."
Bahkan Sean pun tidak menduga kalau Jhony akan mengatakan hal semacam itu. Sean menepuk jidatnya sendiri dan mendesah pelan, "Dasar tukang asal bicara."
Sementara Brian terlihat memasang senyuman puas di wajahnya, saat Brian tersenyum dia tampak lebih menawan. Seperti bunga tulip yang sedang mekar, Brian mampu menjatuhkan seluruh kaum hawa dengan senyumannya.
Zoya kebingungan melihat ekspresi Brian yang tak biasa ini dan bertanya, "Di saat seperti ini kau malah tersenyum dan menebar pesona, dan di saat bahagia kau malah membekukan semua orang. Bukankah kau adalah individu yang sangat berbeda?"
Brian membalas Zoya dengan bangga, "Menjadi berbeda dengan yang lain akan menunjukan ciri khas dan kualitasmu."
Kemudian Brian melanjutkan, "Bahkan Albert Einstein juga dianggap aneh pada masanya, jadi tidak salahkan kalau aku mencoba berbeda dari yang lain?"
Zoya selalu terjebak dalam kebingungan jika berdebat dengan orang seperti Brian. Dia akhirnya menyerah dan bergumam pelan, "Terserah kau saja lah, lagi pula kau kan bukan Albert Einstein."
__ADS_1
Detik berikutnya, semua bawahan Vince tadi masih tidak mau mundur dan tetap keras kepala ingin menyerang Brian.
"Dengar Sean, Jhony, kami sudah pernah mengalahkan kalian sebelumnya dan bisa melakukannya lagi. Apa kau pikir karena Brian mendukung kalian, kalian bisa mengalahkan kami?"
Sean menjawab dengan penuh ketegasan, "Ada pepatah mengatakan, kau bisa mematahkan satu ranting dengan mudah. Tapi jika satu persatu ranting itu digabungkan dan diikat menjadi satu kesatuan, maka itu bisa menjadi perisai kokoh yang mungkin akan berbalik menyerang mu."
Setelah mengatakan itu, Sean tak sengaja melirik Jhony dan ekspresinya menjadi sedikit aneh, "Ada apa?"
"Teknik ancaman yang bagus." jawab Jhony sambil terkikik kecil.
"Kau kira aku sepertimu, aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh." ujar Sean.
"Aku juga." balas Jhony dengan ringkas.
Melihat Jhony dan Sean yang tampak tak menghiraukan peringatan mereka, para bawahan Vince tadi menjadi semakin murka dan mulai hendak maju menyerang. Namun, suara Vince tiba-tiba terdengar dan menghentikan semua bawahannya.
"Berhenti!" seru Vince dengan suara tercekat, dia terlihat mencoba untuk bangkit sembari memegangi dadanya yang sangat sakit akibat hantaman keras dari tendangan Brian tadi.
Semua bawahan Vince sontak berhenti dan segera berlari untuk membantu Vince. Sebelumnya Vince selalu menjadi pria alpa yang mendominasi seluruh Leighton. Namun semenjak kehadiran Brian semuanya berubah seketika. Ini pertama kalinya mereka melihat Vince menderita kekalahan telak seperti ini.
"Vince, kami akan membalas nya untukmu."
Vince menjawab, "Tidak perlu, biarkan saja mereka."
"Tapi Vince, mereka sudah sangat mempermalukanmu."
"Tidak apa, kemenangan mereka ini hanya sementara. Kita mundur bukan berarti kita menyerah, kita akan menyusun rencana lagi. Dan jika waktunya telah tiba, aku akan memusnahkan Brian dan semua orang yang berdiri bersamanya. Ayo pergi!"
Vince pun memilih untuk mundur, dan segera meninggalkan tempat dengan ekspresi penuh dendam dan kebencian.
Sementara Brian hanya bergeming di tempatnya dan terus memasang senyuman penuh arti.
__ADS_1
"Ini baru awalnya Vince, sebentar lagi kau tidak akan hanya kehilangan reputasi mu, tapi gelar King of School yang kau banggakan itupun akan segera hangus." gumam Brian dalam hati.
...****************...