
"Dasar tidak becus!"
Buk.
Vince menendang sosok pria yang sedang berlutut dihadapannya hingga tersungkur. Wajah pria itu terlihat sangat menyedihkan saat mencium lantai marmer.
"Aku menyewa mu sangat mahal, apa begini cara kerja seorang pembunuh bayaran yang sangat ditakuti itu?" Vince menatap jijik pria itu dan mencacinya dengan keji. Dia terlihat sangat marah sekali, berbagai kutukan pun keluar untuk menunjukkan betapa marahnya dia.
Pria itu tidak menjawab, dia tidak memiliki tenaga dan niat lagi untuk melakukan hal itu. Dia hanya bisa gemetar, dan siap menerima nasibnya.
"Sebagai seorang pembunuh bayaran, kau sudah tahukan konsekuensi dari kegagalan mu ini? Seharusnya kau tidak kembali kesini menunjukan wajahmu lagi padaku."
Vince menjentikkan jari pada Jullyan dan memberi isyarat untuk menyingkirkan pria yang ada di bawah kakinya itu dari hadapannya.
Dengan patuh Jullyan langsung menjalankan perintah Vince dan menyeret pria tadi keluar dari ruangan Vince.
Brak.
Setelah dia ditinggal sendirian, Vince langsung menendang membalik meja yang ada di depannya karena sangking kesalnya.
"Dasar baj*ngan kau Brian, kenapa sangat sulit sekali untuk menyingkirkan hama sepertimu?" umpatan demi umpatan keluar dari mulut Vince. Dia benar-benar kesal karena rencananya terus-terusan gagal.
Bagaimana Brian masih bisa lolos dari kematiannya?
Tidak hanya itu, barusan juga dia mendapat pesan dari asistennya. Kalau bisnisnya sedang dalam masalah, hal itu membuat wajah Vince semakin gelap dan murka.
Vince juga baru saja mendapat telpon dari Kim, tentang penolakan dana bantuan yang ia berikan sebelumnya. Dia tidak menyangka kalau ini juga akan terjadi, mengapa wanita polos itu berani melawannya?
Sekarang Vince semakin bingung saja, mengapa setiap orang yang ia perintahkan untuk melawan Brian justru malah berbalik melawannya.
Sebelumnya Jhony sudah mulai mencemarkan sedikit nama baiknya di kampus. Dan sekarang Kim dan Sean berani menentangnya, dan berani ingin menghancurkan bisnisnya Vince.
Apakah ini yang dimaksud Brian akan menghancurkan Vince didalam permainannya sendiri?
"Aku tidak menyangka akan mendapat kerugian sebesar ini, kenapa? Brian, sepertinya permainan dewasa pun tidak berpengaruh padanya. Kalau begitu aku akan memainkan permainan yang lebih dari ini. Sudah saatnya perang yang sesungguhnya dimulai!"
__ADS_1
Vince mulai mengambil ponselnya, dan memutar sebuah nomer. Tidak lama kemudian panggilannya pun langsung diangkat. Terdengar suara yang sangat berat dan kejam dari seberang panggilan itu.
"Ada apa Vince, tidak tahukah kau kalau aku lagi sibuk!? Beraninya kau menggangguku!?" ucap seorang pria dari seberang telpon dengan nada sedingin es.
"Maafkan aku, tapi kali ini sepertinya aku butuh benar-benar butuh bantuan mu." Vince memohon dengan sedikit sopan, dia tidak terlihat arogan seperti biasanya saat berhadapan dengan orang yang ia telpon itu.
"Bantuan apa lagi? Bukankah aku sudah mengirimkan Raven padamu? Dan sekarang kau ingin meminta bantuan ku lagi? Dengar Vince, seseorang harus tahu batasannya sekarang!" pria di seberang telepon itu terdengar sangat mendominasi, kata-katanya bahkan mampu membuat seorang Vince keringat dingin karena ketakutan.
"Raven yang kau kirimkan padaku tidak berguna, dia tidak bisa menjalankan tugasnya hanya untuk membunuh hama itu!" walaupun Vince sangat takut dengan pria yang sedang ia telpon saat ini, namun kebenciannya masih terlihat sangat jelas di wajahnya.
"Apa? Raven tidak pernah gagal, mereka selalu menjalankan tugas dengan profesional. Kau jangan bercanda, memangnya seperti apa musuh mu ini sehingga kau terdengar sangat menyedihkan?"
"Itulah kenyataannya, musuhku kali ini ternyata lebih lihai dari yang aku kira. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dia."
Vince menggertakan giginya, kesal. Mengingat semua kegagalannya hanya membuat kepalanya semakin pusing saja.
"Lalu apa aku perlu kirimkan Raven lagi?"
"Tidak, jika hasilnya sama saja maka aku tidak membutuhkan itu."
"Terima kasih, kau akan sangat membantuku. Tapi aku juga punya satu permintaan lagi."
"Apa itu?"
"Aku butuh bantuan mu dalam hukum nantinya."
Vince sangat serius saat dia berbincang dengan pra di seberang telepon itu. Wajahnya sangat muram dan dipenuhi kebencian. Kali ini Vince akan mengerahkan semua yang ia punya untuk menghancurkan Brian.
"Heh, kalau soal itu gampang. Kau tidak perlu khawatir, selagi aku masih hidup. Tidak ada yang akan bisa menyentuhmu!" pria itu terdengar, bagaikan seorang induk ayam yang melindungi anaknya.
"Bukan untukku, tapi untuk menyeret si brengsek itu ke balik jeruji." ujar Vince dengan sangat kejam.
"Kau ingin memasukan dia ke penjara?Hahaha, jika kali ini kau gagal lagi. Maka kau harus berhenti dan akui saja kekalahan mu itu, Vince. Jika kau tidak mampu, maka aku sendiri yang akan turun tangan."
"Sudah aku bilang kau tidak perlu turun tangan, aku tidak bisa menerima kekalahan dari baj*ngan seperti dia. Kau jangan khawatir, kali ini dia pasti tamat."
__ADS_1
...****************...
Di sisi lain, Brian yang tengah asik menyesap teh hangat sore hari di taman. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh Zoya, sampai-sampai dia hampir menyemburkan keluar teh tadi. Dengan segera Brian pun menyeka sedikit bibir tipisnya, dan sontak melirik Zoya yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Begini kah memperlakukan majikan mu?" Brian sedikit kesal karena momen santainya diganggu.
"Maaf tuan muda, aku sama sekali tidak menganggap mu majikan lagi, tapi lebih dari itu." Zoya berkata sambil tersenyum-senyum, wajahnya semakin tampak semakin menggemaskan sehingga membuat Brian mulai goyah.
"Apa maksudmu lebih dari itu?" tanya Brian, sebelah alisnya terangkat keatas.
"Ya kau lebih dari itu, kau adalah 'my superhero'." seru Zoya dengan penuh semangat.
"Omong kosong!" Brian memutar kedua bola matanya kesamping. Dia tidak mengerti mengapa Zoya mengatakan itu. Apa dia mencoba membual di sore hari?
"Ini bukan omong kosong tuan muda, kau benar-benar telah membuatku kagum. Sebelumnya aku berpikir kau adalah orang yang tidak perduli dengan orang lain. Tapi setelah kejadian tadi malam, aku sadar kau itu orang yang baik."
Brian masih tidak mengerti, tapi dia tidak mau ambil peduli dan terus menyesap tehnya dengan santai.
"Tuan muda, aku sudah mendengar semuanya dari Kim. Dia menelpon ku tadi, kau sudah menyelesaikan kerenggangan antara dia dan Sean."
"Aku tidak melakukan apapun, bukankah mereka yang menyelesaikannya sendiri?"
"Tidak tuan muda, apa kau tahu Sean itu egonya sangat tinggi. Tapi setelah kau berkata; 'tidak ada di dunia ini yang tidak memiliki masa lalu yang sulit, hanya saja kau harus membuka mata dan menyadari kesalahan masa lalu itu agar kau bisa melihat masa depan.' Kata-katamu itu benar-benar sudah membuat mata Sean terbuka tahu!"
Brian merenung sejenak memikirkan apa yang sudah ia katakan itu. Dia juga tidak sadar entah mengapa dia mengatakan itu, kalimat itu keluar dengan sendirinya. Padahal jika dipikir-pikir dia sendiri masih memiliki masalah masa lalu yang kelam di keluarganya, lantas apakah layak baginya mengatakan hal semacam itu jika dia sendiri masih belum bisa menangani masalahnya.
"Hei malah melamun, apa kau tahu kau itu adalah motivator luar biasa. Pertama Jhony, kedua Sean, selanjutnya Frans kan?" Zoya menebak siapa selanjutnya orang yang akan Brian motivasi.
"Mereka yang memilih jalan mereka sendiri, aku hanya memberi arahan saja." ucap Brian dengan acuh tak acuh.
"Nah kan, kau melakukannya lagi, sepertinya jiwa bijak mu itu benar-benar sudah tertanam sejak lahir. Aku yakin suatu saat kau pasti akan menjadi pemimpin yang hebat." Zoya memberi pujian pada Brian dengan penuh kagum, matanya berbinar-binar menatap tuan muda itu.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal berbau kekuasaan, sebaiknya kau pergi selesaikan tugasmu saja dari pada membahas omong kosong ini." Brian pun pergi dari sana.
"Yah baiklah, tapi seorang motivator sepertimu tampaknya telah memenangkan banyak hati, mereka ingin bertemu denganmu malam ini."
__ADS_1
Sontak Brian berhenti sejenak, "Mereka?"