King Of School

King Of School
Ban 108


__ADS_3

Restoran Golden Pure.


Brian dan Zoya baru mencapai pintu masuk saat mereka disambut dengan penuh hormat oleh para pelayan Restauran, sambutan itu sangat tidak biasa membuat perhatian semua orang tertuju pada Brian. Para pelayan tampak berbaris rapi dan membungkuk di hadapan Brian, memperlakukan Brian layaknya seorang raja yang baru saja tiba. Hal itu membuat Brian merasa sedikit terheran, wajahnya yang sangat mulia menjadi suram seketika.


Brian tahu setiap Restauran memiliki moto, 'pelanggan adalah raja.' Akan tetapi, tidak berarti itu direalisasikan dengan cara seperti ini, bukan? Pihak Restauran Golden Pure telah banyak menyambut tamu dari kalangan terhormat, tapi ini mungkin pertama kalinya bagi mereka melakukan hal semacam ini.


Brian bisa menebak kalau ini adalah bagian dari rencana ayahnya, tapi kenapa harus sampai seperti ini? Untuk apa Alex menggunakan otoritasnya yang luar biasa demi menyambut putranya di tempat umum seperti ini?


Di saat kecurigaan Brian semakin mendalam terhadap kondisi tersebut, kepala Manager Restauran langsung muncul. Dia terlihat memasang ekspresi yang sangat ramah di wajahnya yang sudah paruh baya.


Kepala Manager pun turut menyambut Brian dengan hormat, "Selamat datang Pangeran Cody dari ibukota pemerintahan. Kami sangat senang melihat anda mau bertamu di Restauran kami ini, dengan segala hormat kami menyambut anda, silakan masuk Pangeran."


Seketika bola mata semua orang yang ada di dalam Restauran terbelalak saat melihat cara Manager Restauran menyambut Brian. Ini sangat sulit dipercaya, seorang Manager sampai turun tangan untuk menyambut pelanggan? Memangnya seberapa besar status dimiliki Brian?


Pertanyaan itu langsung terjawab saat mereka mendengar sang Manager memanggil Brian dengan sebutan Pangeran Cody dari ibukota pemerintahan. Siapa yang tidak mengenal Cody Famili dari ibukota pemerintahan, salah satu dari lima keluarga legendaris yang paling berkuasa di seluruh Neosantara.


Mereka sangat tidak percaya dan mulai berbisik satu sama lain.


"Pangeran Cody dari ibukota pemerintahan? Aku tidak menyangka kalau dia akan muncul di kota ini."


"Ini merupakan suatu keberuntungan bagi kita, karena bisa melihatnya secara langsung. Ternyata dia masih sangat muda dan tampan."


Di saat yang bersamaan mata elang Brian tampak menyipit saat pandangannya menyapu area sekitar, dia tidak pernah peduli dengan hal semacam ini biasanya. Namun, saat para tamu wanita muda bangsawan yang ada disana mulai bergosip tentang hal yang agak aneh, raut wajah Brian menunjukan rasa jijik yang luar biasa. 'Dasar orang tua sialan, bisa-bisanya dia menunjukan identitasku di depan publik. Sebenarnya apa yang dia rencana?' gumam Brian.

__ADS_1


Melihat wajah Brian yang sangat tampan dan mempesona, para wanita muda yang ada disana semakin tertarik dan tidak berhenti bergosip tentang dirinya.


"Dia kelihatan masih seperti remaja yang hampir mencapai tahap akhir, dia masih segar dan sangat berpotensi."


"Aku penasaran, di usianya yang masih hangat ini, apa dia sudah punya pacar? Kalau belum mungkin aku mau mendaftarkan diriku saat ini juga, hahah."


"Hilangkan pikiran aneh mu itu, apa kau kira dia mau dengan bangsawan biasa seperti kita? Dia adalah calon penerus keluarga Cody yang luar biasa, seleranya paling tidak haruslah orang yang setingkat dengannya, yaitu keluarga legendaris lainnya."


"Kau benar, lalu siapa wanita yang ada di sampingnya itu."


Pandangan semua wanita bangsawan penggosip tadi akhirnya jatuh juga kearah Zoya. Mereka memperhatikan penampilan Zoya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan tidak menemukan ada hal yang menarik darinya.


Zoya secara penampilan memang sangat sederhana dan tidak pernah mencolok, auranya juga tidak menunjukan kalau dia berasal dari kalangan atas. Selain wajahnya yang terbilang cukup menarik dan memukau, para pria dari kalangan biasa pun mungkin tidak akan pernah melirik Zoya. Apalagi pria kelas atas seperti Brian. Itu sebabnya semua para wanita penggosip tadi mengira Zoya pasti adalah ajudan Brian atau semacamnya, yang pasti bukanlah kekasih Brian.


"Sepertinya dia semacam babu Pangeran, lihatlah penampilannya. Dia tampak seperti wanita biasa, tidak ada sesuatu yang menarik darinya."


"Yah pasti untuk disuruh-suruh lah."


Zoya yang berdiri di sebelah Brian melihat semua orang sedang berbisik tentang dirinya, wajahnya mulai menggelap. Dia bisa mendengar sedikit bagaimana para wanita itu menilai Brian dan juga dirinya. Sungguh perbedaan yang jauh, antara langit dan bumi. Zoya menjadi sangat sedih ketika dia tahu dirinya dipandang sangat rendah oleh para bangsawan ini.


Melihat ekspresi Zoya yang suram Brian cepat-cepat memutuskan untuk membawanya pergi dari kondisi itu, dia bertanya pada Manager dengan nada dingin, "Siapa yang memintamu untuk melakukan penyambutan seperti ini?"


Melihat tatapan Brian yang begitu tajam dan sedingin es, tubuh sang Manager tadi langsung gemetar menggigil. Dia merasakan aura Brian yang tak terkalahkan, dia berpikir, 'kenapa Pangeran terlihat sedang marah? Aku kan hanya melakukan penyambutan sesuai dengan keinginan ayahnya, apa yang salah?'

__ADS_1


"Pangeran, tuan besar Cody yang meminta saya menyambut anda. Dia mengatakan, kalau putranya sang penerus tahta harus disambut dengan penuh hormat." jawab Manager, dahinya terlihat mulai berkeringat karena ketakutan.


Brian hanya mendengus kesal dan memelototi sang Manager dengan sinis, kemudian dia berseru, "Cepat bawa kami ke ruangan yang sudah dipesan Ayahku!"


Manager tidak berani untuk banyak bicara dan segera mengangguk sebelum dia menyuruh semua pelayan yang menyambut Brian tadi untuk bubar.


Sebelum berjalan mengikuti Manager Restauran tadi, Brian secara tidak terduga mencondongkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya kearah Zoya dengan anggun seraya berkata, "Ayo Zoya, keluarga kita sudah menunggu di ruang VIP."


Zoya yang sedari tadi merasa sangat tertekan karena mendapat cibiran dari para wanita penggosip, langsung terkesiap melihat aksi tuan mudanya ini.


"Tuan muda, ada apa denganmu? Semua orang sedang memperhatikanmu, kau bisa kehilangan martabat jika begini." bisik Zoya dengan ekspresi wajah yang sedikit rumit.


Brian hanya tersenyum tipis saat dia menjawab, "Martabatku adalah martabatmu, jika publik memandang ku dengan penuh hormat, maka mereka juga harus memandang mu dengan cara yang sama."


Deg.


Seketika Zoya terdiam.


Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Brian barusan. Dia sangat canggung dan dalam kondisi yang rumit untuk peka terhadap kata-kata Brian.


"Apa kau akan membiarkan tanganku terus menggantung seperti ini?" tanya Brian sambil memberi Zoya senyuman menggoda.


Zoya pun tidak tahan dengan senyuman mempesona Brian secara naluriah menggapai uluran tangan Brian tadi, seketika Brian menarik Zoya dan merangkul lengannya.

__ADS_1


Lalu mereka pun berjalan bergandengan mengikuti langkah Manager Restauran yang menuntun mereka ke ruangan VIP.


Pemandangan itu membuat semua wanita yang menggosip tadi menganga dan tidak bisa berkata-kata. Ini benar-benar tidak bisa di percaya, Zoya yang mereka kira hanyalah seorang wanita biasa, ternyata sangat dihormati oleh Pangeran Cody. Apa Zoya sungguh kekasih Brian?


__ADS_2