King Of School

King Of School
Bab 73


__ADS_3

"Kenapa nona Kia sampai repot-repot ikut menjemput ku?" Zoya bertanya pada Kiara dengan sungguh-sungguh, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.


Kiara pun memberi senyuman manis sambil menatap wajah imut Zoya yang sedang duduk di sebelahnya. "Kakak sudah aku bilang jangan panggil aku seperti itu, cukup Kia aja oke! Dan soal kenapa aku ikut menjemputmu, aku hanya ingin jalan-jalan aja kok."


Zoya masih tidak mengerti dengan sikap Kiara, sebelumnya dia bakal mengira kalau adiknya Brian ini akan sama seperti Brian, bahkan lebih parah lagi mengingat Kia adalah wanita, di pikir Kiara bakal menjadi nyonya muda yang cerewet, sombong dan menyebalkan.


Zoya sepertinya sudah kebanyakan nonton drama dimana biasanya seorang nona muda biasanya selalu menindas pembantunya.


"Oh iya kak, aku belum makan siang nih, ku dengar masakan seafood di restoran pantai selatan Golden sangat enak. Bagaimana kalau kita kesana?"


Mendengar usulan Kiara, Zoya menatap wajah ayahnya yang sedang mengemudi dari spion. Mereka tidak akan bisa menolak ajakan nona muda Kiara.


Zoya menyunggingkan sudut bibirnya keatas lalu berkata dengan lemah lembut, "Kia lapar ya? Baiklah kita akan pergi ke restoran pantai selatan."


...****************...


Sementara itu di sisi lain, Brian masih berbaring di kasur bermalas-malasan sambil menonton televisi. Disaat sedang tidak enak badan, Brian memang lebih suka sendirian. Setiap dia melihat wajah orang-orang di saat kondisi seperti ini, tidak tahu kenapa rasanya hanya ada kemarahan saja akan terlihat di matanya.


Karena itu lah lebih baik dia beristirahat dan memulihkan kembali kesehatannya.


Tapi rasa jenuh mulai menghampirinya, dia mematikan tv dan mulai bangkit dari kasur. "Sudah jam segini, kenapa Zoya belum pulang?" Brian bertanya-tanya, wajahnya yang tampan dan dingin itu benar-benar sangat menawan.


Brian turun ke bawah dan menjumpai mbok Ratih yang sedang membereskan dapur.


Ratih pun tersentak kaget saat melihat tubuh Brian yang tinggi tegap sudah berdiri di belakangnya seperti tiang tower yang kokoh.


"Eh, maaf tuan muda. Saya tidak tahu kalau tuan muda ada di belakang saya!" lirih Ratih dengan wajahnya yang sangat murung.


Dengan nada yang sangat dingin Brian bertanya, "Apa pak Siman belum pergi menjemput Zoya?"


Sontak Ratih merasakan hawa dingin yang dipancarkan Brian, dia menjawab dengan sedikit terbata-bata. "Su-sudah kok tuan muda, mereka sudah pergi menjemput Zoya dari tadi. Tapi sampai saat ini mereka juga belum kembali."


"Mereka?" sebelah alis Brian terangkat keatas. "Apa maksudnya mereka?"


Ratih memang sangat takut pada Brian, setiap kali dia berbicara padanya. Tubuhnya tidak pernah berhenti menggigil. Pertanyaan demi pertanyaan yang di tembakkan Brian padanya sudah seperti ujian negara saja.

__ADS_1


"Iya tuan muda, mereka, maksudku ayahnya Zoya dan nona muda Kiara." jawab Ratih.


Brian menghela nafas ringan sebelum bergumam, "Tidak heran kenapa mereka sangat lama, ternyata si roti isi juga ikut."


Brian berbalik pergi, sambil melangkah menuju ruang tamu dia mengeluarkan ponselnya dan segera mencoba menghubungi Kiara.


Brian tahu kalau adik nya yang liar itu pasti saat ini sedang membawa Zoya jalan-jalan. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan itu, namun saat ini diluar sana Brian memiliki beberapa musuh.


Berulang kali musuh-musuh Brian menargetkan orang terdekatnya sebagai sasaran empuk. Karena itulah, Brian mulai merasa sedikit cemas. Dia harus menyuruh Kiara dan Zoya pulang secepatnya, sebelum hal yang tak diinginkan terjadi pada mereka.


"Halo kak, ada apa sih telfon-telfon?" terdengar suara lembut Kiara dari seberang telfon.


"Dimana kalian sekarang?" tanya Brian dengan nada yang sangat dingin.


"Di restoran pantai selatan, kenapa? Kau ingin menyusul kemari?" Kiara tetap menjawab pertanyaan Brian dengan santai dan tanpa ada rasa takut sama sekali.


Brian berdecak kesal, "Ck. Cepat pulang setelah itu! Jangan berkeliaran kemana-mana lagi!" seru Brian dengan sangat tegas.


"Kakak kau tidak pernah peduli kemanapun aku pergi selama ini, lantas dari mana datangnya rasa khawatir ini? Apa rasa khawatir ini untukku atau untuk kakak ipar? Tenang saja kak, aku hanya meminjamnya sebentar saja kok. Kau sepertinya tidak tahan lama-lama jika jauh dari kakak ipar, kau hampir mirip seperti ayah."


"Berhentilah memanggilnya kakak ipar dan menyamakan aku dengan pak tua itu, kau tidak tahu malu apa?" wajah Brian semakin suram.


"Baiklah aku tidak akan menyebut ayah lagi. Tapi kenapa aku harus malu memanggil kak Zoya dengan sebutan kakak ipar? Kan memang benar, kak Zoya adalah calon kakak iparku. Aku hanya mencoba membiasakan diriku aja, agar kelak di masa depan aku bisa memanggil kakak ipar dengan lancar." Kiara memang selalu banyak bicara, inilah mengapa Brian begitu jengkel dengan adiknya.


"Oh iya, ternyata kakak ipar memiliki pesonanya sendiri, sejak kami menginjakan kaki di restoran banyak sekali pria yang tidak bisa berhenti memandanginya." Ujar Kiara dengan suara yang terdengar main-main.


Wajah Brian langsung menjadi gelap seperti malam, dia kemudian berpikir sejenak, Apa Kiara baru saja mengatakan kalau Zoya sedang diincar para lelaki yang ada di restoran itu? Jika mereka orang biasa mungkin Brian bisa sedikit lebih tenang, tapi bagaimana jika yang sedang mengincar Brian itu adalah musuh?


"Cukup roti isi, aku akan kesana dan menyeret kalian untuk pulang!" Brian langsung menutup teleponnya dengan kasar.


Semakin Brian melanjutkan pembicaraan yang aneh ini, semakin dia tidak sabar menunggu mereka pulang. Dia pun memutuskan untuk pergi menyusul ke restoran itu.


Restoran pantai selatan.


Brian turun dari taxi dan langsung berjalan memasuki restoran itu dengan ekspresi yang sangat gelap. Wajah tampannya yang menawan benar-benar ditutupi oleh bongkahan es.

__ADS_1


Dia berjalan melewati pintu masuk dengan sangat angkuh, bahkan orang-orang yang ada di depannya tidak ada yang berani menghalangi jalannya.


Aura yang dipancarkan Brian terlalu kuat, semua orang yang berada disekitarnya langsung merasa terintimidasi.


Saat Brian memasuki ruangan, mata elangnya menyapu seluruh sudut ruangan seolah sedang mencari mangsanya.


Dan akhirnya pandangannya pun jatuh pada meja yang ada di pinggir jendela.


Ternyata sasarannya ada disana!


Dengan langkah mantap, Brian mendekati mereka. Matanya sangat tajam seperti pedang.


Zoya dan pak Siman yang sedang makan langsung terkesiap melihat tuan mudanya yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


Potongan ikan bakar yang hendak Zoya suap kedalam mulutnya seketika menggantung di udara.


Kiara yang melihat ekspresi terkejut di wajah Zoya menoleh kebelakang, dia kaget mendapati sosok Brian yang menyeramkan ternyata sudah ada di depan mata. "Kakak, cepat juga kau sampai, ayo duduk dan makan bersama kami!" Kiara malah menyambut kedatangan Brian dengan hangat.


Brian menyipitkan matanya menatap Kiara dengan penuh waspada, seolah-olah Kiara adalah musuh bebuyutannya. Lalu dia duduk di sebelah Kiara dengan sikap tak acuh tak acuh.


Sepertinya Kiara memang sudah memprediksi kedatangan Brian. Terbukti ternyata dia juga sudah memesankan makanan untuk Brian.


"Apa ini Kia?" Brian mencondongkan wajahnya dan berbisik ke telinga Kiara.


"Itu namanya ikan nila bakar, kau tidak tahu?" jawab Kiara dengan ekspresi mengejek.


"Berhentilah bersandiwara, aku bisa mencium ada sesuatu yang tidak enak disini?"


"Mungkin mulutmu terlalu dekat dengan hidungmu, makanya kau mencium bau tidak enak."


Brian tidak bisa berkata-kata lagi saat ini, dia terus mencoba untuk menenangkan diri dari semua rencana konyol yang sedang Kiara buat ini.


Sementara itu Kiara terlihat sangat menikmati ekspresi kakaknya itu.


Sepertinya dugaanku benar, pak Siman mengatakan kalau kau sering sekali pulang dengan kakak ipar, dan bahkan kau juga mau menjemputnya. Apa namanya ini kalau bukan cinta, untuk orang berhati dingin sepertimu, kalau sudah luluh pada seorang wanita. Maka kau tidak akan pernah bisa berlama-lama jauh darinya dan tidak akan mau melepaskannya. Kakak, aku sekarang tahu, kau benar-benar sudah mengklaim kakak ipar hanya akan menjadi milikmu.

__ADS_1


__ADS_2