
"Kau ternyata!"
Vince menyipitkan mata menatap tajam kearah Brian. Ini adalah kesekian kalinya mereka berpapasan langsung seperti ini. Suhu ruangan itu langsung turun menjadi sedingin kutub utara.
Bahkan Jhony dan yang lainnya tak berani menghalangi langkah Brian dan Vince untuk saling bertatap muka.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Brian?" tanya Vince, kedua alisnya mengkerut.
"Aku juga ingin menanyakan hal serupa padamu, kenapa kau datang kesini, apa kau ingin membuat masalah?"
Brian menyilangkan kedua tangannya menatap tajam mata Vince.
Vince kemudian menundukan kepalanya sejenak sambil tertawa getir, kemudian dia mulai berjalan mendekati Brian dengan penuh rasa angkuh.
"Sekarang aku mengerti! Jadi kau lah sumber keberanian Jhony." ucap Vince dengan pelan, tapi tatapannya itu dipenuhi cemoohan.
"Aku kira si anak adopsi ini akan bisa menangani lalat sepertimu."
"Tapi aku lupa dia sama sekali tidak bisa diandalkan."
"Sepertinya aku juga terlalu meremehkan dirimu."
Kedua sudut mulut Brian menjungkit keatas mendengar kata-kata Vince. Dia tampak puas melihat Vince yang mulai sedikit waspada terhadap dirinya.
"Ya kau memang terlalu meremehkan aku, bagaimana bisa kau memberikanku permainan kekanak-kanakan begini." ucap Brian dengan ekspresi wajah mencemooh juga.
"Maksudku, kau sengaja memprovokasi diriku untuk berkelahi denganmu waktu itu agar aku bisa dikeluarkan, dengan statusmu sebagai anak dekan dan juga mahasiswa berprestasi. Maka akan mudah bagimu untuk mendapat pembelaan, tapi kau gagal."
"Dan kau mulai melakukan rencana lain dengan memanfaatkan Zoya. Tapi sayangnya Vince, itu juga gagal, bagiku semua yang kau lakukan hanyalah permainan anak-anak saja, tidak lebih."
Vince mulai memasang muka jelek saat mendengar hal itu dari Brian. Tidak pernah dia berhadapan dengan orang yang merasa lebih hebat dari dirinya.
Sedangkan Brian, dia tampak masih sangat tenang, ternyata selama ini dia sudah memahami setiap inci dari rencana Vince. Karena itu dia sengaja membuat dirinya seolah-olah sudah terjebak dalam rencana Vince.
Tapi Brian lebih cerdik dari itu, masalah perkampusan yang sedang ia hadapi ini, tidak lebih buruk dari masalah yang ada di dalam keluarganya.
Sejenak Vince membeku, dan tak lama setelah itu dia mulai tersenyum getir sambil berkata, "Kau benar, aku bermain terlalu santai selama ini."
__ADS_1
"Tak ku sangka, ternyata kau lebih baik dari mereka."
Vince menunjuk Jhony yang berdiri di belakang tubuh Brian. Jhony tampak seperti seekor kucing yang mencoba berlindung di balik tuannya. Jujur, dia memang masih membenci Brian karena sudah menghajar dirinya dan juga anggotanya.
Tapi Jhony lebih membenci Vince, setidaknya Brian tidak pernah menunjukan kalau dirinya sebagai seorang yang berkuasa atas segalanya. Tidak seperti Vince yang berlagak sok dan ingin semua orang tunduk di bawah kakinya.
"Jadi Brian, kau ingin aku serius kan?" ucap Vince
"Kalau begitu mari kita melakukan permainan yang lebih dewasa."
"Kita lihat apakah kau mampu untuk bertahan?"
Vince mulai memberikan ancaman serius. Tapi Brian sama sekali tidak bergeming dan ekspresinya terlihat sangat datar. Berbeda dengan Jhony dan semua orang yang ada di ruangan itu, mereka terlihat sangat tegang saat mendengar Vince memberi ancaman itu.
Bahkan Jhony sampai meneguk kembali salivanya ke tenggorokan. Tentu saja dia tahu kalau ancaman Vince itu bukanlah main-main. Brian mungkin tidak tahu karena dia seorang pendatang. Tapi Jhony sudah tinggal bertahun-tahun di Golden Sea.
Dia tahu kalau Vince memang berbahaya, tapi ada yang membuatnya lebih berbahaya lagi. Yaitu Vince menyandang nama Lauren di belakangnya, sebuah nama yang cukup membuat bulu kuduk seseorang merinding.
"Kalau begitu dengan senang hati aku akan menerima permainanmu selanjutnya, tapi ingat jangan sampai kau mengecewakanku lagi kali ini." balas Brian dengan tenang.
"Baiklah, kalau kau seekor singa yang berjalan seperti raja. Maka aku adalah seekor harimau yang tidak perduli dengan apa itu raja."
Deg.
Seketika semua orang di ruangan itu diam membeku mendengar perkataan Brian barusan. Mereka tidak menyangka, ternyata Brian memiliki keberanian yang cukup besar sebagai seorang pendatang. Bagi mereka mengatakan hal seperti itu pada Vince sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
Darah mulai naik ke wajah Vince, dia menggertakkan giginya dengan sangat keras hingga hampir patah, karena sangking geramnya.
Tak pernah dirinya dianggap remeh oleh orang lain. Dia tahu kalau Brian mungkin juga berasal dari keluarga yang terhormat, jika tidak mana mungkin Brian berani meremehkannya seperti ini.
"Kau tunggu saja Brian, lain kali jika kita bertemu lagi aku harap kau sudah mempersiapkan peti mati untuk dirimu." Vince mendengus kesal kemudian langsung berbalik dan melangkah pergi, diikuti juga dengan Jullyan.
Kali ini Vince lebih memilih untuk mundur, bagaimanapun dia adalah pria yang licik. Dia tahu bagaimana untuk menghadapi musuhnya, mengambil langkah mundur bukan berarti dia kalah. Namun itu adalah tindakan awal sebelum dia memberikan badai yang dahsyat kepada Brian.
Setelah Vince pergi, Brian berbalik dan mulai mendekati Jhony sambil berkata, "Orang seperti itu pasti tidak akan menyerah dengan mudah, kan?"
"Brian aku tahu kau hebat, tapi Vince itu jauh lebih berbahaya dari yang kau bayangkan." ucap Jhony dengan ekspresi cemas, terlihat dia mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
"Kenapa kau takut? Sudah aku bilang padamu bukan, kalau aku akan menjatuhkan Vince di dalam permainannya sendiri." balas Brian dengan tenang.
"Kuharap kau benar, jika tidak maka aku akan ikut tamat bersama dengan dirimu."
....
Setelah itu Brian pergi meninggalkan klub judo Jhony. Mobilnya melaju di jalanan menembus hujan. Sambil mengemudi tiba-tiba dia mendapatkan sebuah panggilan dari ponselnya. Brian pun merogoh kantong celananya dan menjawab panggilan itu.
"Cerewet, ada apa?" ucap Brian dengan nada datar, ternyata yang menelponnya adalah Zoya.
Sejenak Zoya terdiam, 'Tuan muda ini terdengar sangat cuek, aku jadi menyesal menelponnya.' lirih batin Zoya.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, akan aku tutup saja ini." ancam Brian.
"Tunggu sebentar tuan muda," Zoya pun mulai bicara juga, "ada yang ingin aku katakan."
"Cepatlah, jangan membuang-buang pulsaku." ketus Brian dengan acuh tak acuh.
Wtf, kenapa tuan muda ini terdengar sangat sensi hari ini, baru juga beberapa detik aku menelponnya dan dia takut pulsanya terkuras? gumam Zoya di dalam hati.
"Begini tuan muda, sebenarnya aku butuh bantuan."
"Bantuan apa?"
"Aku sudah mau pulang tapi di luar saat ini sedang hujan." lirih Zoya dengan nada sedikit memelas. Saat ini dia sedang berdiri di halte depan kampus, dia tidak bisa bergerak kemana-mana karena hujannya sangat lebat.
"Jadi kau ingin aku menjemputmu begitu?"
"Tidak bukan begitu tuan muda, aku sudah menelpon ke rumah dari tadi tapi tidak ada yang jawab, jadi aku ingin tolong tuan sampaikan pada ayahku agar untuk datang!"
"Katakan padaku dimana kau sekarang."
"Eee, ini di depan halte kampus."
Seketika Brian menutup panggilan itu dan langsung menancap dengan kecepatan tinggi.
Kok di matiin sih, kan aku belum selesai ngomong. gumam Zoya.
__ADS_1