King Of School

King Of School
Bab 97


__ADS_3

Tepat sebelum Kiara dan Zoya dibawa keluar dari rumah oleh para tim intel itu, tiba-tiba muncul sosok pria yang menarik perhatian semua orang. Pria itu berusia sekitar 40an namun wajahnya sungguh mempesona, kemunculannya di hadapan semua orang benar-benar sangat mengejutkan. Dia memancarkan aura yang begitu dominan sehingga tidak ada yang berani untuk menatap matanya secara langsung.


Harold sendiri begitu terkejut sampai bersusah payah menelan ludahnya sebelum menyapa pria yang berdiri di hadapannya dengan sopan, "Tuan Alexander Cody!" tentu saja Harold mengenal pria yang baru muncul itu.


Bahkan seluruh Neosantara tahu, kalau pria ini, Alexander Cody, adalah Presiden dari perusahaan besar Cody Corporation yang begitu terkenal.


Dia adalah sosok pria alpa besar penguasa ibu kota pemerintahan, tidak ada yang pernah bertemu dengannya secara langsung, kecuali orang-orang yang memiliki status yang setara dengannya. Kemunculannya di kota kecil seperti Golden Sea tentu saja membuat semua orang terkesiap dan bertanya-tanya.


'Angin apa yang sudah membawa iblis dunia bisnis ini sehingga mau menginjakkan kakinya ke kota kecil seperti Golden Sea?'


Di belakang Alex terlihat juga sosok wanita anggun yang mengenakan gaun panjang berwarna coklat keemasan, berdiri dan memancarkan pesona yang tertandingi. Dia adalah Michelle Cody, nyonya besar dari Cody Famili. Walaupun di usianya yang sudah mulai memasuki tahap menopause, Michelle masih terlihat seperti wanita berusia 30an. Dia tampak lembut dan ramah, namun aura bangsawannya tetap ada sehingga siapapun yang melihat Michelle pasti akan langsung tunduk karena segan.


"Tuan dan Nyonya Cody, apa yang membuat kalian datang kesini?" Harold akhirnya memberanikan diri dan bertanya secara sopan. Sikapnya yang terlihat begitu kejam dan sombong tadi lenyap seketika dihadapan Alex.


Alex tidak menghiraukan Harold karena pandangannya sudah terpaku pada putrinya, Kiara. Dia menatap tajam anggota intel yang berani memborgol Kiara, seraya berseru, "Cepat lepaskan putriku!"


Tatapan Alex bagaikan belati yang menikam langsung ke jantung, begitu kejam dan tidak berperasaan. Para tim intel tadi pun secara naluriah merasakan urat nadi mereka membeku karena ketakutan, mereka tidak tahu kalau ternyata gadis yang ingin mereka bawa adalah putri Alexander Cody.


'Ternyata Kiara tidak berbohong.'

__ADS_1


Wajah Harold mulai menggelap dan kehilangan semua warnanya, tadi dia begitu percaya diri ingin menangkap Kiara karena terlalu lancang dan sombong. Tapi sekarang niatnya itu sudah sirna dan gantikan dengan ekspresi penyesalan. Dengan putus asa dia pun mulai meminta bawahannya untuk melepaskan Kiara.


"Jadi dia benar-benar putrimu tuan? Hei cepat lepaskan dia!"


Setelah di lepaskan, Kiara langsung berlari kearah Alex dan memeluk ayahnya itu dengan erat sambil berkata, "Dady, akhirnya kau datang juga."


Alex mengelus lembut rambut Kiara saat dia berkata dengan pelan, "Kau tidak perlu takut, Dady sekarang ada disini. Katakan pada Dady, apa yang sebenarnya terjadi."


Alexander memang sedikit memanjakan Kiara, dia tidak pernah berkata tidak pada putri kecilnya itu. Berbeda dengan Brian, yang sengaja ia didik untuk menjadi seorang pejuang.


"Dad, orang-orang intel ini sudah keterlaluan. Mereka menuduhku dan kakak melakukan sebuah kejahatan. Mereka juga memasukan kakak ke dalam daftar buronan mereka, Dad." Kiara mengadukan apa yang dia alami pada Alex dengan penuh kekesalan.


Harold begitu terkesiap mendengar Alex mengatakan kalau ternyata pemuda yang ia incar juga putranya. Kulitnya mulai memucat, dengan nada yang gemetaran dia menjawab, "Tuan Alex, jadi pemuda itu adalah putramu. Aku tidak tahu tolong maafkan aku. Tapi dia di duga sudah melakukan teror di kediaman Abraham Cody saudara laki-lakimu dengan memasang bom palsu. Karena sudah menimbulkan kecemasan massal, saya pun memutuskan menangkap Brian untuk dimintai penjelasan atas perbuatannya itu."


"Apa kau bodoh, bagaimana kau bisa menyebut dirimu sebagai bagian dari intelejen kepolisian. Kau masih menduga putraku sebagai tersangka, apa kau punya bukti yang kuat?" Alex yang kesal menautkan kedua alisnya. Di tidak habis pikir, darimana tim intel memiliki keberanian untuk menangkap putranya yang tidak bersalah.


"Tuan, banyak saksi yang hadir dan melihat kejadian di kediaman tuan Abraham Cody secara langsung. Putramu secara terang-terangan mempermainkan kami semua disana. Tidak hanya itu, dia juga langsung melarikan diri setelahnya. Apa itu bukti itu masih belum cukup?"


Walaupun Harold sudah di penuhi ketakutan, dia tetap menjalankan tugasnya dengan profesional. Keringat mulai membasahi jidatnya, dia tahu melawan pria seperti Alex sama saja dengan mencari kematiannya sendiri. Alex, tidak hanya seorang bangsawan biasa, dia juga memiliki kekuasaan dan koneksi yang sangat luas.

__ADS_1


Harold yakin dengan satu panggilan telepon saja, Alex mampu membuat Harold kehilangan pekerjaannya. Namun karena Harold memiliki seseorang yang sama kuatnya seperti Alex, dia tampak agak sedikit percaya diri.


Alex bagaimanapun sangat cerdas dan mulai memahami situasinya sekarang, seseorang pasti telah sengaja menuduh Brian sebagai pelaku dalam kasus ini. Dia yakin putranya yang dingin itu tidak akan melakukan hal konyol seperti permainan murahan ini. Bagaimanapun Brian adalah pria yang sangat rasional, untuk apa dia meneror kediaman pamannya?


'Ini pasti konspirasi dari keluarga pamannya itu sendiri.' Alex menduga.


"Seorang intelejen memiliki IQ yang tinggi, bagaimana kau menjadi tidak masuk akal seperti ini. Apa kau kira putraku sangat bodoh sehingga harus meneror kediaman keluarganya sendiri?" Alex kembali mengajukan pertanyaan pada Harold dan melakukan sedikit penekanan. "Aku tahu, seseorang pasti sudah menyuap mu, kan? Jika tidak, mana mungkin kau bertindak sampai sejauh ini."


Harold hanya terdiam tidak membantah ataupun mengiyakan dugaan Alex. Jika dia berbicara lagi, maka dirinya akan semakin terpojok dan di permalukan oleh Alex. Karena itu dia hanya bisa pasrah dan mengalah kali ini.


"Baiklah tuan Cody, aku akan segera menghapus putramu dari daftar buronan. Tapi kasus ini akan tetap berlanjut, jika hari ini putramu tidak memberi penjelasan pada kami. Maka kami akan kembali mengejarnya, hukum keadilan harus di tegakkan agar kelak tidak terjadi hal-hal semacam ini lagi." ujar Harold.


Alex membalas, "Kau terlihat sangat percaya diri, seseorang yang luar biasa pasti ada di belakangmu kan? Tapi kau harus tahu, selagi aku masih ada di dunia ini, kau~"


Sebelum Alex menyelesaikan tiba-tiba seorang pria dengan tangan terikat di lempar masuk kedalam rumah dan tersungkur dihadapan semua orang.


Sekali lagi semua orang kembali memasang ekspresi terkejut di wajah mereka, sesaat sebelum mereka ingin mengutarakan pertanyaan, 'dari mana pria asing ini berasal?' Siluet yang tidak asing pun muncul di depan pintu, sambil berseru, "Aku tidak akan memberikan penyataan apapun pada divisi intel amatiran seperti kalian, tapi jika kalian tetap menginginkannya maka bawa saja pecundang itu!"


Semua orang menatap tajam siluet itu, saat dia melangkahkan kakinya yang jenjang kedalam rumah, orang-orang menggosok mata mereka karena tidak percaya.

__ADS_1


Seketika Zoya yang melihat sosok akrab itu bergegas berlari kearahnya dengan keadaan tangan yang masih diborgol, sambil berteriak, "Tuan muda!"


__ADS_2