King Of School

King Of School
Bab 94


__ADS_3

Harold pria dari intel yang berdebat dengan Kiara sekaligus juga kapten yang memimpin tim itu, mulai menatap Brian dengan sangat tajam.


Dengan nada yang pelan namun mengancam dia bertanya pada Brian, "Benda apa yang ada di tanganmu itu anak muda?"


Dari wajahnya saja, Harold terlihat sangat tegas, garang dan kejam. Namun Brian sama sekali tidak terlihat takut dan justru lebih cenderung acuh tak acuh saat menjawab, "Aku juga tidak tahu pasti benda apa ini, tiba-tiba ada di saku bajuku. Tapi jika aku perhatikan, sepertinya ini sebuah remote control untuk meledakkan bom yang biasa aku tonton di film-film."


'Hah?'


Semua orang langsung tidak percaya dengan apa yang barusan Brian katakan tadi. Mereka saat ini sudah begitu ketakutan saat melihat tim intel menemukan salah satu peledak yang ada di dalam guci tadi. Sekarang mereka melihat pemicunya ada di tangan Brian, wajah semua orang semakin terlihat panik. Nyawa mereka sekarang benar-benar terancam.


Tadinya setiap para tamu yang hadir di pesta ini, datang hanya karena ingin melihat kembalinya Marcell. Mereka sama sekali tidak berniat ingin menyerahkan hidup mereka di sini.


Dengan penuh ketakutan dan kekesalan para tamu mulai mengatai dan mengutuk Brian.


"Hei, kenapa kau memegang alat itu?"


"Apa kau orang yang membawa peledak itu ke tempat ini?"


"Kau berencana ingin melenyapkan kita semua?"


"Kupikir kau adalah seorang psikopat, pak cepat lumpuhkan dia!"


Namun Brian tampak tidak terpengaruh dan masih tenang seperti sedang menikmati acara pertunjukan drama. Dia baru saja menunjukan sebuah alat pemicu ledakan di tangannya dan semua orang sudah sangat ketakutan. Apa jadinya jika dia mulai mengaktifkan peledak itu?


Marcell yang ada di sana juga ikut bertanya pada Brian, ekspresinya terlihat tidak percaya, "Kenapa alat itu ada di tanganmu Brian? Apa kau benar-benar orang yang sudah memasang peledak itu?"


Kiara membantah, "Tidak mungkin! Kakak, bukanlah orangnya. Kenapa kau berpikir dia akan melakukan hal semacam ini Marcell?"


"Lantas bagaimana alat itu bisa ada di tangannya? Apa dia menemukannya secara tidak sengaja jatuh dari kantong penjahat yang menyelinap ke sini? Satu hal yang menjelaskan semua ini dengan masuk akal adalah, kalau dialah penjahat itu sendiri." lanjut Marcell sembari menunjuk Brian.


"Apa kau gila Marcell, bagaimana kau menjadi tidak masuk akal seperti ini? Untuk apa kakak..."


Tepat sebelum Kiara selesai bicara, Harold menyela, "Jika kau bukan pelakunya, maka serahkan benda itu anak muda. Dan ikutlah dengan kami untuk menjelaskan semuanya di kantor."

__ADS_1


Tapi semua orang langsung terkejut saat mendengar balasan Brian.


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Maka kami akan langsung melumpuhkan mu disini, seseorang yang membahayakan nyawa banyak orang harus di musnahkan." ucap Harold dengan tegas.


Brian menyipitkan matanya menatap semua anggota intelejen itu yang sudah siap sedia ingin menembaknya. Sesekali dia juga melirik kearah Marcell untuk melihat wajah licik itu. Dari kejauhan dia juga bisa melihat Vince yang tengah menikmati pertunjukan.


Seringai terbentuk di wajah tampan dan dingin Brian, mereka sudah mempersiapkan segalanya hanya untuk menjebak ku bukan membunuhku, sungguh benar-benar licik.


"Kau berpikir kalau aku sungguh berbahaya, bukan? Tapi kau harus tahu, sebenarnya kau sudah di permainkan dengan datang kesini, kalau aku jadi kalian, aku tidak akan membuang waktuku hanya untuk permainan anak-anak seperti ini." ucap Brian secara acuh tak acuh.


Betapa terkejutnya semua orang saat mendengar Brian dengan santainya menyebut ketegangan yang mereka alami saat ini adalah permainan anak-anak. Apa dia sungguh menganggap nyawa semua orang benar-benar tidak berarti?


'Brian pasti psikopat'


"Kami mendapat laporan, kalau ada seorang yang menyelundupkan peledak di tempat ini. Ini adalah masalah serius, kenapa ada orang-orang yang main-main dengan ini. Lagi pula bukti sudah di temukan." ucap Harold sambil menunjuk peledak yang sudah diamankan salah satu timnya.


"Apa kau yakin seseorang berani memasang ranjau di bawah kaki mereka sendiri?"


'Tiga puluh detik sebelum meledak.'


Itu adalah peledak bertipe bom waktu. Semua orang langsung panik dan berlarian untuk menyelamatkan diri mereka. Tidak di sangka Brian akan senekat ini, dia akan membunuh semua orang.


"Cepat lumpuhkan dia!"


Perintah untuk melumpuhkan Brian pun di berikan, para tim intel tadi sudah bersiap untuk menembak Brian.


"Tidak, kakak!"


"Tuan muda!"


Teriak Kiara dan Zoya bersamaan.

__ADS_1


Namun entah dari mana tiba-tiba sebuah kabut asap muncul secara tiba-tiba dan memenuhi gedung itu.


"Apa ini... dari mana datangnya kabut ini." seru Harold sambil terbatuk-batuk.


Semua orang tidak bisa melihat apa-apa selain kabut asap. Mereka mulai berlarian kesana kemari dengan panik dan bahkan saling bertubrukan. Suasana mulai menjadi gaduh dan kacau balau.


Sementara Marcell dan Vince terlihat masih diam berdiri di ruangan itu sambil menutup hidung dan mulut mereka. Mereka tidak terlihat panik saat Brian menekan tombol alat pemicu ledak tadi.


Setelah beberapa saat kabut pun mulai memudar, Harold dan tim intel mulai melihat area sekitar untuk mencari Brian. Namun tak di sangka ternyata Brian sudah tidak ada disana, hilang seperti hantu.


"Kemana pemuda tadi, cepat temukan dia!" perintah Harold dengan nada tinggi, terdengar seperti meraung kesal.


"Kapten, bagaimana dengan bomnya, ini tinggal sepuluh detik lagi."


Orang-orang semakin panik saat menyaksikan bom waktu itu mulai melakukan hitungan mundur menuju ledakkan. Saat ini wajah mereka terlihat sangat pucat seperti mayat, mereka sudah pasrah dan menerima nasib, tubuh semua orang mulai melemas saat ketegangan itu sudah sepenuhnya menguasai mereka. Bahkan sudah ada yang pingsan duluan karena sangking ketakutannya.


Mereka tidak tahu mengapa, tapi secara serempak semua orang mulai menutup mata dan telinga mereka. Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka saat ini sedang menutup telinga karena balon akan meledak? Ini bom, itu tidak akan membantu menyelamatkan nyawa.


Bahkan para tim intel yang sudah terlatih mentalnya dan siap mati di dalam medan perang, terlihat berkeringat menatap bom yang akan segera meledak.


Harold mengira kalau ini adalah misi terakhirnya, dan karena itu dia memejamkan mata sudah bersiap untuk menerima ajalnya.


Tiga, Dua, Satu.


Bip...


Bom tidak meledak, hanya suara dengungan yang terdengar.


Orang-orang mengira kalau diri mereka sudah mati, dan mulai membuka mata. Dan betapa terkesiapnya mereka, ternyata itu bom palsu!


Suara helaan nafas memenuhi ruangan itu, mereka lega karena ajal tidak jadi menghampiri. Orang-orang tadinya panik total mulai mendapatkan kembali akal sehatnya.


Sementara Harold dan para timnya menyipitkan mata menatap bom waktu palsu tadi. Dia tidak menyangka kalau ternyata dia sudah di permainkan.

__ADS_1


"Dia sengaja mempermainkan kita, aku ingin kalian menangkap orang gila ini."


__ADS_2