
Brian menyambut Zoya dan memeluk wanitanya itu tanpa malu di hadapan semua orang. Brian tidak tahu mengapa dia melakukan itu, tapi saat dia melihat Zoya yang ada di benaknya hanyalah keinginan untuk melindungi wanitanya dengan segenap jiwa.
"Tuan muda kemana saja kau semalaman?" tanya Zoya sambil membenamkan kepalanya ke dada Brian. Dia sama seperti Brian, tidak tahu entah kenapa melakukan itu, tiba-tiba saja saat melihat Brian muncul. Tubuhnya tergerak untuk berlari dan memeluk Brian, seperti ada medan magnet yang sangat kuat diantara mereka.
Brian menjawab dengan berbisik, "Nona cerewet, aku hanya pergi sebentar dan kau sudah sangat merindukan aku? Bagaimana jika kelak di masa depan aku pergi selama bertahun-tahun?"
Zoya tersentak sadar dan melepaskan pelukannya saat Brian membisikkan kata-kata aneh tadi di telinganya. "Apa maksudnya itu?" tanya Zoya sambil menatap serius mata Brian.
Brian hanya tersenyum ringan saat melihat ekspresi Zoya yang terlihat kebingungan, sambil mencolek hidung Zoya dia berkata, "Sudahlah jangan di pikirkan, di masa depan kau akan tahu maksud dari perkataanku."
Zoya memang sudah tahu kalau perkataan Brian memang selalu sulit dimengerti, namun kali ini dia sangat penasaran kenapa Brian mengatakan hal semacam tadi.
Tapi ini bukan waktu baginya untuk berpikir, tiba-tiba Zoya sadar saat ini semua orang sedang menyorot kearahnya. Zoya pun langsung menjadi canggung, 'apa yang sudah ia lakukan, kenapa dia secara terang-terangan memeluk Brian tadi.'
Melihat putranya muncul secara tiba-tiba membuat Alex mengerutkan keningnya. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, ketika melihat Brian yang secara terbuka menerima seorang wanita di pelukannya. Ini merupakan sesuatu yang sangat langka di mata Alex.
'Sejak kapan Brian yang menderita mysophobia ringan, mulai akrab dengan wanita asing ini?'
Yang Alex tahu, Brian sejak kecil tidak suka di sentuh orang lain. Bahkan dengan ibu dan adiknya sendiri pun, Brian tetap sedikit menjaga jarak.
__ADS_1
Kiara yang melihat kakaknya akhirnya pulang, juga segera menghampiri, "Kakak, kenapa kau baru pulang sekarang, kemana saja kau?" tanya Kiara sambil memasang wajah gembira.
Brian tidak menjawab Kiara untuk beberapa saat dan malah menatap adiknya itu dengan sinis, "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku, tapi aku tidak pernah berharap kau membantuku. Karena bantuan yang kau datangkan ini sama sekali tidak aku butuhkan!" ucap Brian dengan sangat tenang dan santai.
Kiara membeku diam di tempatnya, dia tahu maksud Brian. Kakaknya tidak senang melihat ayahnya ada disini. Tapi Kiara sudah terlalu kehabisan akal, dia masih gadis yang berusia delapan belas tahun yang tidak memiliki pemikiran seluas Brian. Mengetahui kakaknya menjadi buronan, membuat Kiara akhirnya terpaksa meminta bantuan orang tua mereka.
Kemudian Brian mendekati Alex dan Harold dengan tangan di belakang punggungnya, kepalanya terangkat tinggi keatas menunjukan sosoknya yang penuh dominasi. Ekspresinya wajahnya terlihat seolah mengatakan, 'aku adalah sang penguasa dunia, siapapun harus tunduk di hadapanku.'
Bahkan Alexander yang penuh dominasi di awal kemunculannya, berasa sama sekali bukan tandingan sosok Brian yang saat ini berdiri dengan gagah dihadapan semua orang.
"Aku menyatakan kasus ini sudah selesai, kalian sekarang bisa pergi dari sini!" ujar Brian sambil menatap Harold dengan tampang merendahkan.
"Anak muda, maaf karena aku tidak mengetahui identitasmu yang sebenarnya. Tapi kau harus memberi pernyataan pada kami sebelum benar-benar menutup kasus ini?" ucap Harold dengan nada pelan, dia tidak lagi berani mengangkat kepalanya dihadapan Brian seperti kemarin.
Brian memandang Harold dengan datar, "Kau ingin pernyataan? Kalau begitu bawa dia bersamamu!" Brian menarik pria yang ia lempar tadi, dan melemparkannya lagi kepada Harold. Pria itu ternyata tidak lain adalah si pelayan yang menabrak Brian di pesta kemarin. "Dia adalah orang yang kau cari, dia tahu segalanya atas kejadian kemarin malam."
Harold terlihat begitu terkejut, didalam hatinya dia berkata, 'Dari mana dia mendapatkan pria ini?' Harold mulai terdengar serak saat berkata, "Jadi, kaulah pelaku yang sebenarnya?"
Brian lanjut berbicara, "Sekarang kau harus menghapus semua tuntutan terhadapku, aku tidak ingin sampai nama baikku sampai tercemar."
__ADS_1
"Dan yah satu lagi, jika lain kali seseorang menyogok mu untuk kasus kekanak-kanakan seperti ini sebaiknya kau tolak saja. Kau sudah mengotori integritas intelijen kepolisian. Enyahlah!"
Setelah itu Brian langsung mengusir semua orang intel itu dari rumahnya. Harold tidak bisa mengatakan hal selain meminta maaf kepada Brian dan Alex, dia sangat malu. Dia tidak menyangka ternyata anak dan ayah itu sama pintarnya, mereka tahu kalau ternyata kasus ini sengaja dibuat-buat oleh Harold atas perintah seseorang. Jika Harold tetap bersikeras dan melawan, dia akan kalah dan hancur saat itu juga. Bahkan sosok yang berada di belakangnya, juga tidak akan mampu membelanya nanti.
Akhirnya Harold mundur juga dengan penuh rasa malu di pundaknya.
Setelah semua situasi mereda, akhirnya Alex bisa menatap Brian dengan cermat. Dia merasa puas atas apa yang di lakukan Brian barusan. Tidak hanya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, Brian juga menunjuk kualitas dirinya yang tinggi dihadapan orang-orang. Alex merasa dia berhasil membangun karakter Brian, seperti yang dia inginkan.
"Bagus sekali Brian, kau telah menunjukan pada dunia siapa bosnya. Aku senang akhirnya kau mau menerima takdirmu." ucap Alex sembari duduk di sofa dengan kaki tersilang.
Brian tampak acuh tak acuh mendapat pujian dari ayahnya. "Aku hanya melalukan apa yang menurutku benar." Brian berkata dengan sangat datar.
Baik Zoya, Kiara dan semua orang yang ada disana hanya bisa diam tak berani menganggu pembicaraan ayah dan anak itu. Ini pertama kalinya Zoya bertemu dengan ayah Brian, dia tidak menyangka kalau ternyata ada retakan antara hubungan ayah dan anak itu.
Wajah Alex yang tegas dan mempesona terlihat begitu serius menatap putranya, dia akhirnya menyadari ada yang berbeda dari putranya ini. Biasanya jika Brian melihat Alex, ada tatapan permusuhan di mata Brian. Tetapi tatapan itu tidak terlihat saat ini dan digantikan dengan tatapan acuh tak acuh.
Alex bertanya-tanya di dalam pikirannya sendiri, 'apa anak ini sudah mendapatkan watak aslinya. Biasanya dia terlihat sangat dingin dan kejam di hadapanku. Tapi kenapa sekarang dia tampak lebih tenang dan terkendali?'
Detik berikutnya Alex melirik kearah Zoya, dia kembali hanyut dalam pikirannya. 'Apa karena gadis ini putraku yang dingin dan arogan berubah?'
__ADS_1
"Kau, siapa namamu?" Alex menunjuk kearah Zoya.