King Of School

King Of School
Bab 66


__ADS_3

Brian dan Zoya pun akhirnya pulang kerumah, sesampainya mereka di rumah megah itu. Brian spontan mengerutkan alisnya saat melihat sebuah mobil Roll Royce, terparkir di depan rumahnya.


'Mobil siapa itu? Bukankah Roll Royce nya saat ini ada di tangan Jhony?'


"Tuan muda, sepertinya ada tamu yang datang." Zoya juga keheranan dan mengernyitkan dahinya melihat mobil itu. Selama bertahun-tahun dia tinggal di mansion Cody, hanya baru sekali kedatangan tamu dan itu adalah Brian.


Lantas siapa yang datang kali ini?


Brian melepas sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil, kakinya yang panjang terlihat melangkah keluar dengan sangat menawan. Ditambah dengan wajah tampannya yang tanpa ekspresi, Brian bagaikan embun pagi hari yang sangat menyejukkan.


Zoya kemudian mengikuti Brian dari belakang seperti anak ayam, tubuhnya tertutupi oleh sosok Brian yang menjulang tinggi. Padahal tinggi Zoya juga sudah sangat ideal untuk seorang wanita 159 cm.


Tubuh Brian benar-benar tinggi!


Pintu rumah sengaja terbuka, Brian memasang sedikit kewaspadaan di wajahnya. Jika tebakannya benar, orang yang bertamu selarut ini dengan menggunakan Roll Royce pasti bagian dari keluarganya.


Dan benar saja, saat Brian melangkahkan kakinya kedalam rumah, menginjak lantai marmer itu. Dia bisa mendapati dua wanita yang begitu familiar sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu, terlihat disana juga ada ibu dan ayah Zoya.


"Lihat kakak sudah pulang!" suara lembut dan merdu itu, berasal dari seorang gadis cantik yang terlihat sedikit mirip dengan Brian.


Gadis itu memiliki hidung mancung dan bulu mata lentik, wajahnya mungil sebesar telapak tangan Brian dan kulitnya seputih salju. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Brian, namun nyaman untuk mengatakan kalau setiap lekukannya benar-benar sempurna. Bagaikan sebuah mahakarya yang di pahat dengan sangat indah.


Dengan segera gadis cantik itu berlari menuju Brian dan memeluknya dengan sangat erat. Bahkan sangat erat sehingga Brian merasa sedikit sesak.


"Lepaskan, kau bisa membunuhku dasar roti isi." seru Brian dengan ekspresi muram, nadanya sedingin kutub utara.


"Kakak apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu untuk ini, sekarang aku tidak akan melepaskannya dengan mudah!" seru gadis itu sambil mempererat lingkaran tangannya di leher Brian.

__ADS_1


Itu pelukan yang tidak biasa, bisa dipastikan kalau kekuatan gadis itu setara dengan pegulat.


"Kia lepaskan kakakmu, berhentilah mengganggunya!"


Brian seketika menjatuhkan pandangannya pada wanita yang baru saja bicara tadi, wanita itu tampak sudah berusia tiga puluhan. Namun kecantikannya masih belum memudar. Mata Brian yang ditumpuki bongkahan es langsung meleleh, melihat wanita yang tidak lain adalah ibunya itu tersenyum hangat padanya.


"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum dia menyerah dan memohon padaku..."


Sekarang leher Brian benar-benar telah tercekik oleh Kiara. Tidak ada cara baginya untuk lepas. Namun tak sengaja bola mata Kiara yang biru itu bertatapan dengan sosok cantik Zoya yang berdiri di belakang Brian.


Kiara akhirnya melepaskan pelukan mematikan itu sambil berkata, "Kakak, ternyata pacarmu cantik juga ya!?" Kiara masih menatap Zoya dengan kagum saat mengatakan itu.


Sontak Brian menoleh kebelakang, 'apa dia baru saja menyebut Zoya sebagai kekasihnya?'


Kiara kemudian melangkah dengan anggun ke arah Zoya, bagaikan setangkai bunga mawar yang dihembus oleh angin. Ekspresinya sangat lembut saat menatap Zoya, namun aura bangsawannya terlihat jelas.


"Hai kakak ipar, perkenalkan aku adalah adiknya Brian, Kiara!" Kiara mengulurkan tangannya dengan ramah kearah Zoya sembari tersenyum hangat.


Zoya tertegun sejenak, sebelum akhirnya tersadar kembali dan segera menggapai jabat tangan Kiara. "Hai, aku Zoya Amanda, senang bertemu dengan... senang bertemu dengan anda nyonya muda!"


Awalnya Zoya ingin memanggil Kiara dengan nama saja, melihat wajah Kiara yang terbilang masih lebih muda dari dirinya. Namun Zoya langsung meralatnya saat mengingat kalau Kiara memperkenalkannya dirinya tadi sebagai 'adik Brian'.


Zoya tampak sangat canggung dihadapan Kiara, dia tidak menyangka kalau gadis yang baru saja dia bicarakan dengan Brian tadi pagi. Sekarang muncul dan berdiri tepat dihadapannya.


Sementara itu, setelah selesai berjabat tangan dengan Zoya. Kiara kemudian kembali berbalik kearah Brian. Tatapan matanya itu sedikit mengejek, membuat Brian merasa tidak nyaman.


"Ternyata, kau pandai juga memilih yang mulus ya kak, sebelumnya aku mengira kau adalah seorang guy." cibir Kiara dengan tampang yang membuat Brian merasa sangat jengkel.

__ADS_1


"Setelah beberapa tahun tinggal di London, hanya pemikiran seperti itu yang kau bawa pulang?" balas Brian sambil mengerutkan hidungnya.


"Kau terbakar kak, dulu kau mengatakan padaku tidak akan pernah memberiku seorang kakak ipar. Tapi apa ini? Kau tidak menjawab telfon dari tadi, ternyata kau sedang berkencan!" Kiara masih saja mengejek Brian, dia sangat menikmati ekspresi kakaknya yang tertangkap basah itu.


"Kia, apa kau percaya aku akan menjahit mulutmu, jika kau berani berbicara lagi!" Brian mengancam dengan ekspresi yang menakutkan, dia benar-benar muak mendengar omong kosong Kiara.


Melihat ekspresi kakaknya yang bagaikan iblis, Kiara langsung berlari kearah Michelle memohon perlindungan. "Mom, lihat dia ingin menjahit mulutku yang seksi ini!" Kiara mengadu dan memeluk ibunya seperti balita.


"Salahmu juga, kenapa kau terus menggoda kakakmu itu." Michelle menarik hidung mancung putrinya.


Melihat itu Brian hanya bisa memutar kedua bola matanya sambil berkata, "Aku tidak tahu kenapa kalian datang kesini, tapi sekarang sudah waktunya untuk tidur!" Brian kemudian dengan segera menaiki tangga menuju kamarnya, sambil memijat kedua alisnya.


Kepalanya pusing!


Kedatangan Ibu dan adiknya ini sama sekali tidak terduga.


Michelle tidak ingin menghentikan putranya, dia tahu kalau Brian masih sangat marah padanya. Kedatangannya tiba-tiba ini, pasti membuat Brian merasa sangat terusik.


Zoya yang berdiri di ruangan tamu itu juga hanya bisa diam mematung dan memperhatikan punggung Brian yang perlahan naik ke lantai dua. Walaupun Zoya sudah tahu Brian pria yang bersifat acuh, namun tidak pernah mengira kalau Brian sama sekali tidak terlihat senang saat melihat keluarganya sendiri datang menjenguknya.


"Hoam... aku juga mengantuk mom, melalui dua penerbangan dalam satu hari, benar-benar melelahkan." lirih Kiara sambil menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangan, wajahnya cantiknya terlihat sangat menggemaskan.


Zoya keheranan, bukankah tadi dia terlihat sangat bersemangat saat mengganggu kakaknya, dan setelah Brian pergi dia langsung berubah lesu seperti robot kehabisan tenaga?


"Kalau begitu aku akan membawa nyonya muda ke kamarnya agar bisa beristirahat." Ratih yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya. Dia bersikap sangat sopan, membuat Kiara sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Terima kasih bibi, tapi aku ingin kakak ipar yang menuntunku ke kamar!" seru Kiara sembari menunjuk kearah Zoya.

__ADS_1


Sontak Zoya pun menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan kalau orang yang di tunjuk Kiara benar-benar dirinya. Bukannya dia terkejut saat Kiara meminta untuk menuntunnya ke kamar, hanya saja panggilan 'kakak ipar' itu membuat Zoya sedikit merasa kebingungan.


__ADS_2