
Setelah mendapat perintah dari Brian, Jhony pun langsung pergi menuju ke lokasi pesta untuk memastikan keselamatan Zoya sesuai yang diperintahkan. Dia juga membawa Max dan beberapa pengawal pribadinya.
Sesampainya di sana, dia langsung masuk ke dalam gedung klub yang ada di depannya saat ini. Gedung itu memiliki dua lantai, dan terletak di pinggir tebing pantai Golden Sea.
"Jhony, bukankah ini sama saja dengan bunuh diri, jika Vince melihat dia pasti akan langsung menghabisi kita." ujar Max, raut wajahnya mulai kehilangan semua warna.
"Aku juga tidak mau kesini, tapi Brian ingin kita memantau kekasihnya itu, sekarang pakai aja masker ini."
Jhony memberikan sebuah masker pada Max, setelah itu dia mulai berjalan kedalam dengan perlahan.
Terlihat di dalam ruangan itu sudah di penuhi dengan lampu kela kelip, berbagai macam hiasan juga memenuhi dinding ruangan itu.
Jhony pun mulai memperhatikan sekelilingnya untuk mencari keberadaan Zoya. Tapi suasananya begitu ramai sehingga sangat untuk sulit menemukan Zoya.
Tapi seketika pandangannya malah jatuh kepada salah satu wanita yang ada disana. Jhony pun langsung tergerak untuk menghampiri wanita itu dan mengabaikan tujuan awalnya tadi.
"Jhony tunggu, kau mau kemana?" seru Max, dia pun juga langsung mengikuti Jhony.
Sementara itu di sisi lain ruangan, terlihat Zoya dan keempat sahabatnya duduk mengelilingi sebuah meja. Beberapa hidangan makanan lezat memenuhi meja itu. Edi yang memang sudah sangat lapar dari tadi, tidak menahan dirinya dan langsung mulai menyantap makanan.
"Edi pelan-pelan saja." ucap Larry sambil tertawa kecil.
"Sepertinya dia takut kalau nanti tidak kebagian karena dibabat habis oleh Zoya." tambah Isma.
Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak, kecuali Zoya. Saat ini dia terlihat sangat kesal. Bukan karena habis mendengar lelucon tadi, tapi dia memang sudah seperti ini semenjak tiba tadi.
Di dalam benak Zoya masih terlintas sebuah kejadian yang ia lihat di kampus tadi. Dia sengaja pergi ke pesta ini bukan karena untuk memenuhi undangan Trisha. Tapi dia sengaja untuk membuat tuan mudanya cemburu.
Dia melarang ku untuk pergi kemarin, tapi ternyata dia sudah berencana duluan untuk pergi dengan kekasihnya itu. Tapi kok dia belum muncul juga ya, bukankah tadi siang Kimberly mengajaknya berpasangan untuk pergi ke sini.
Ternyata Zoya masih menduga kalau Brian akan pergi ke pesta ini dengan Kimberly. Tapi sepertinya dia sudah salah paham dengan Brian. Dia tidak tahu yang sebenarnya, kenapa Brian tadi siang terlihat sedang berduaan dengan Kimberly.
Ya, tadi siang Kimberly memang mengajak Brian untuk pergi bersama. Namun Brian langsung menolaknya setelah Zoya pergi. Karena Brian tahu pesta ini hanyalah sebuah jebakan yang sudah disiapkan oleh Vince.
"Zoya kenapa kau masih diam ayo makan, biasanya kamu yang paling banyak makan diantara kita semua." ujar Trisha.
__ADS_1
"Iya Trisha aku hanya masih belum lapar saja," Zoya tampak seperti orang yang kehilangan nafsu makan, mungkin selera makannya akan naik setelah melihat kehadiran Brian.
"Oh iya, semua makanan sudah terhidang tapi minumannya tidak ada. Kalau begitu aku pergi dulu mengambil minuman untuk kita. Kalian mau apa?"
Di saat Trisha menanyakan itu, satu persatu mereka meminta minuman kesukaan masing-masing. Sementara Zoya dia hanya malah meminta air putih saja.
Trisha pun langsung pergi mengambil minuman untuk keempat sahabatnya. Tapi anehnya dia malah pergi meninggalkan ruangan itu, sontak Zoya yang melihat itu menjadi penasaran.
"Trisha mau pergi kemana?" Zoya ingin bangkit untuk mengikuti Trisha tapi tangannya di tahan Larry.
"Kau mau kemana Zoya, ayo kita makan. Mungkin Trisha sedang mencari air putih di lantai dua." jelas Larry.
Trisha pun terlihat menaiki tangga menuju sebuah ruangan lain yang ada di lantai dua.
Saat dia membuka pintu secara perlahan, terlihat sosok seorang Vince ternyata sudah menanti di dalam. Vince duduk disebuah sofa sambil memainkan sebuah papan catur bersama dengan Jullyan.
"Bagaimana? Dia sudah sampai." tanya Vince setelah melihat kehadiran Trisha.
"Ya dia sudah sampai." ucap Trisha sambil berkacak pinggang seolah-olah sedang memarahi Vince.
"Aku tidak mengerti denganmu Vince, tadi kau bilang anak buah mu akan membuat Zoya dan Brian kecelakaan dan jatuh kedalam laut."
Vince kemudian langsung berdiri lalu berjalan mendekati Trisha. Ekspresinya wajahnya terlihat santai namun mematikan.
"Aku juga tidak tahu ini akan terjadi, tadinya aku sengaja memanfaatkan pestamu ini untuk menjebak mereka." ujar Vince sambil memasukan kedua telapak tangannya kedalam kantong celana.
"Tapi sepertinya si Brian itu tidak mau percaya denganmu, kita mungkin bisa membodohi Zoya. Tapi si Brian ini pintar."
"Bukankah kau yang bilang kalau Zoya dan Brian selalu pergi bersama kemanapun, lalu kenapa kali ini dia membiarkan Zoya pergi sendirian?"
Vince malah bertanya balik pada Trisha, tatapan matanya mulai menjadi setajam belati.
"Vince aku sudah mencoba meyakinkan Zoya tadi saat di kampus, tapi Brian itu memang tidak mudah di pengaruhi."
"Aku pikir Zoya akan bisa memaksa Brian untuk ikut bersama dengannya."
__ADS_1
"Tapi ternyata dia malah datang dengan Edi."
Trisha menjelaskan dengan ekspresi sedikit panik, karena dia takut saat melihat tatapan Vince tadi. Bahkan keningnya saat ini mulai berkeringat.
"Aku tahu itu." ucap Vince sambil mengelus wajah Trisha.
"Aku punya rencana lain, ambil ini dan masukan kedalam minumannya Zoya."
Tiba-tiba Vince memberikan sebuah pil pada Trisha. Sontak Trisha langsung mengambil pil itu dengan ekspresi keheranan.
"Apa ini semacam obat tidur? Kau tidak berencana melakukan yang aneh-aneh kan?" tanya Trisha, dia saat ini malah mengira Vince akan membuat melakukan hal yang aneh-aneh dengan Zoya.
"Hahaha bukan payah, kalau aku ingin melakukan itu maka sudah lama aku lakukan." jawab Vince sembari tertawa ringan.
Mendengar itu membuat Trisha menghela nafas lega. "Jadi untuk apa ini?"
"Itu adalah pil penguat hasrat, jika dia meminum pil itu, seluruh tubuhnya akan sangat bergairah, dia akan sangat bersemangat dan kehilangan kendali." jelas Vince dengan sedikit tatapan main-main.
"Jika Zoya meminumnya, dia pasti akan langsung menggila dan mempermalukan dirinya sendiri di depan orang-orang."
Ternyata Vince berencana ingin membuat Zoya mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang. Setelah itu dia akan menyebarkan videonya nanti ke seluruh kampus sehingga Zoya akan di keluarkan. Bagaimanapun juga Leighton memiliki reputasi yang sangat baik. Mereka tidak mungkin akan menampung wanita dengan karakter buruk seperti Zoya. Begitulah rencana yang dipikirkan Vince.
Setelah itu Trisha langsung pergi keluar dan mulai menjalankan rencana yang dikatakan Vince tadi.
"Vince kalau kau ingin melakukan itu, kenapa aku kau mengirim pesan seperti tadi?" tanya Jullyan yang heran, dia masih belum paham dengan rencana Vince selanjutnya.
Jika memang ingin membuat Zoya mempermalukan dirinya sendiri kenapa harus memancing Brian untuk keluar juga. Bukankah itu hanya akan mempersulit rencana jika Brian sampai datang kesini.
"Ada dua alasan kenapa aku sengaja melakukan ini."
"Pertama, untuk menjawab tantangannya kemarin, bukankah dia menginginkan permainan yang lebih menantang?"
"Kedua, jika dia terlambat maka dia akan kalah, dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kekasihnya."
"Aku mulai menyadari sesuatu belakangan ini, si baj*ngan itu ternyata sangat mencintai Zoya."
__ADS_1
"Jika dia gagal menyelematkan kehormatan cintanya, maka dia akan merasa malu pada dirinya sendiri, sehingga pada akhirnya dia akan menyerah juga padaku. Hahaha."
...