King Of School

King Of School
Bab 107


__ADS_3

Saat Brian dan Zoya sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ponsel Brian berdering. Dia pun segera merogoh sakunya, namun Brian terlihat sangat kesulitan karena kondisinya sedang mengemudi dan kebetulan juga dia mengenakan celana yang agak ketat.


"Sial, siapa lagi yang menelpon di saat seperti ini." umpat Brian dengan kesal.


Saat ini mobilnya berada di tengah-tengah lajur cepat, karena itu dia tidak bisa mengurangi kecepatannya apalagi berhenti untuk mengangkat telepon.


Zoya yang melihat betapa kesusahannya Brian, merasa sedikit tergerak dan segera membantu Brian untuk mengeluarkan ponselnya tadi. "Sini biar aku bantu." ujar Zoya yang mulai mencondongkan tubuhnya kearah Brian.


Brian pun tersentak saat pahanya disentuh oleh Zoya, dia tidak bisa berkata-kata dan segera melirik Zoya dengan tatapan bingung sebelum mengalihkan pandangannya lagi ke jalanan.


"Ih... kenapa kau memakai celana ketat seperti ini sih." ucap Zoya yang berusaha mengeluarkan ponsel itu dari saku celana Brian.


"Sudah biarkan saja, aku tidak mau mengangkat panggilan itu. Lagi pula aku sedang mengemudi, tidak baik menelpon sambil mengemudi." kilah Brian dengan ekspresi wajahnya yang mulai sedikit memerah, padahal sebenarnya dia tidak tahan tubuhnya terus menerus disentuh oleh Zoya. Dia merasa ada sebuah sengatan listrik berkekuatan tinggi menjalar ke sekujur tubuhnya.


Zoya terus berusaha sekuat tenaganya, sambil berkata, "Bagaimana kalau ini panggilan penting untukmu."


Brian hanya diam dan membiarkan Zoya bekerja, akhirnya ponsel itu berhasil dikeluarkan. Zoya buru-buru mengangkat dan menempelkannya ke telinga Brian.


Brian pun menjawab dengan nada datar, "Halo..."


"Kakak! Kenapa lama sekali sih mengangkat telfonnya?" terdengar suara pekikan seorang gadis remaja dari seberang telfon.


Brian mengenali suara itu, dan segera lapisan es menutupi pupilnya yang indah, "Ternyata kau roti isi. Tidakkah kau tahu aku saat ini sedang mengemudi? Kenapa kau menelponku di saat seperti ini? Kau tidak seharusnya mengganggu orang yang sedang mengemudi, itu bisa sangat berbahaya." suara Brian terdengar sangat dingin.


"Ck. Mana aku tahu kau sedang mengemudi." balas Kiara tak kalah dinginnya.

__ADS_1


Brian memijat alisnya dengan tangan kanan sebelum berkata dengan penuh ketegasan, "Cepat katakan apa yang kau inginkan, Kia."


Mendengar suara kakaknya yang tidak lagi bersahabat, Kiara buru-buru berubah menjadi sedikit lembut dan manja, dia menjawab, "Kakak... sebenarnya aku menelpon karena ingin memberitahumu kalau saat ini sedang tidak ada orang di rumah."


"Terus apa peduliku." ucap Brian.


"Saat ini kami sedang berada di restoran bintang tujuh Golden Pure, Kak. Ayah membawa semua orang untuk makan malam bersama malam ini. Ayah ingin kau segera menyusul kesini." ujar Kiara dengan serius.


"Kenapa dia tiba-tiba melakukan hal semacam ini?" tanya Brian penuh curiga.


"Entahlah, kurasa dia sedang dalam suasana hati yang baik. Karena itulah dia mengajak untuk makan malam bersama, lagi pula kita kan sudah lama tidak kumpul seperti ini." ucap Kiara asal. Kemudian dia lanjut bicara dengan berbisik, "Mungkin ayah ingin menjalin hubungan lebih dekat lagi dengan calon mertuamu, Kak?"


Mendengar itu kedua mata Brian langsung menyipit tajam, tidak mungkin ayahnya akan melakukan hal semacam itu, karena dia juga tahu betapa tidak senangnya cara Alex saat menatap Zoya.


Mungkinkah ayahnya merencanakan sesuatu di sana? Brian terlalu curiga terhadap niat ayahnya ini, jadi dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk pergi kesana dengan Zoya. Namun sebelum Kiara menutup panggilan dia mengatakan pada Brian kalau ternyata ayahnya juga mengundang Marcell.


"Sudah selesai?" tanya Zoya yang menatap layar ponsel Brian.


Brian sekilas melirik Zoya dengan penuh arti, dia tahu mungkin ini adalah rencana ayahnya untuk Zoya. Brian tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Zoya karena ulah pak tua itu. Akan tetapi, dia dan Zoya tidak bisa menghindari Alex untuk selamanya. Dia tahu hari ini pasti akan datang, dimana dia akan melawan seluruh keluarganya hanya demi wanita yang sudah merubah hidupnya ini. Ini mungkin baru ujian awalnya saja, Brian merasa sangat buruk jika harus mundur. Ditambah lagi dengan kehadiran Marcell dalam acara makan malam ini, membuat Brian merasa sangat tertantang.


Akhirnya Brian memutuskan, "Nona cerewet, ayahku mengundang kita untuk Dinner. Apa kau mau ikut?" walaupun begitu Brian tetap menanyakan apa yang diingkan Zoya. Karena baginya sekarang keinginan Zoya adalah segalanya.


Semenjak kedatangan Alex, Brian sudah memutuskan untuk mempererat hubungannya dengan Zoya. Dia tidak mau Zoya akan menjauhi dirinya nanti hanya karena mendapat tekanan dari Alex. Itulah mengapa Brian lebih perhatian kepada Zoya belakangan ini.


Lantas kenapa Brian tidak mengatakannya secara langsung saja?

__ADS_1


Jawabannya adalah, karena Brian merasa dirinya ini sangat kaku dan tidak romantis. Dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dengan kalimat manis seperti di serial drama. Dia lebih suka melakukan tindakan langsung dan berharap Zoya akan peka lebih dulu.


Zoya tersenyum manis saat Brian bertanya padanya, dia menjawab, "Tuan muda, aku akan mengikuti keputusan mu saja, tapi aku menyarankan sebaiknya kau harus tetap pergi walaupun tanpa diriku. Ini adalah acara keluargamu, kau tidak boleh tidak datang."


Brian mengerti maksud Zoya, wanita ini pasti merasa dirinya tidak layak untuk bergabung dengan keluarga Brian.


Brian bagaimanapun tidak ingin wanitanya merendah seperti ini, cepat atau lambat Zoya tetap akan menjadi nyonya Cody suatu hari nanti. Karena itulah dia ingin membuat Zoya menjadi wanita yang lebih tangguh dan berwibawa sama seperti dirinya. Dia ingin membiasakan Zoya.


"Ayah dan ibumu juga ada disana, apa kau yakin tidak ingin ikut?" tanya Brian sekali lagi.


Zoya tertegun sejenak, 'Kenapa tuan besar mengajak keluargaku juga untuk makan malam bersama mereka? Sebelumnya aku melihat tuan besar begitu acuh terhadapku dan juga keluargaku. Apa yang membuatnya menjadi murah hati seperti ini? Ah sudahlah Zoya, kau tidak boleh berpikiran negatif seperti ini, bukankah ini bagus kalau tuan besar berbaik hati pada keluarga mu?' gumam Zoya dalam hatinya.


Kemudian Zoya pun segera bertanya pada Brian, "Apa itu benar tuan muda? Memangnya dimana mereka makan malam?"


"Di restoran Golden Pure." jawab Brian.


Sontak Zoya langsung terkesiap dan berteriak, "Hah..." ekspresinya dipenuhi ketidakpercayaan.


Bagaimana tidak, restoran Golden Pure adalah restoran dengan standar internasional yang paling mewah di Golden Sea. Hanya orang-orang yang ternama dan memiliki status luar biasa yang bisa menginjakkan kaki di sana. Bahkan untuk memesan satu kursi saja, orang-orang harus mendaftarkan nama mereka terlebih dahulu dalam buku tamu seminggu lebih awal. Zoya sama sekali tidak menyangka kalau tuan besar akan mengajak keluarganya ke restoran semewah itu tanpa mengikuti prosedur yang ada.


Akan tetapi lupakanlah dulu hal itu, saat ini Zoya lebih memikirkan keadaan kedua orang tuanya yang sudah berada disana. Kedua orang tua Zoya tidak pernah pergi ke tempat mewah seperti itu, Zoya takut ibu dan ayahnya nanti tidak bisa beradaptasi dan merasa sangat merendah saat berada di sekeliling para bangsawan.


Sama seperti yang dia alami saat di pesta Marcell.


"Tuan muda, kalau begitu aku akan ikut denganmu." ucap Zoya.

__ADS_1


Brian mengangguk, dan segera mengemudikan mobilnya menuju restoran Golden Pure.


__ADS_2