King Of School

King Of School
Bab 111


__ADS_3

"Zoya, orang ini... dia sudah benar-benar keterlaluan. Beraninya dia mengatakan bahwa putriku ini seorang pelacvr, jadi aku sengaja memberi pelajaran sebuah padanya." jelas pak Siman, nadanya terdengar sangat berat dan serak. Sementara tubuhnya terlihat bergetar dari tadi, tidak tahu entah kenapa.


"Jadi pria itu sudah memprovokasi Ayah?" tanya Zoya dengan bingung, bagaimana tidak bingung. Soalnya pak Siman tidak pernah bertindak begitu impulsif hanya karena masalah provokasi seperti ini.


Zoya menatap ayahnya itu dengan penuh kebingungan, pak Siman tampak sangat berbeda saat ini. Emosinya jelas sedang tidak terkontrol, itu juga bisa Zoya rasakan saat dia memegang tubuh Ayahnya yang terus gemetar, "Ibu, kenapa Ayah jadi sampai seperti ini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi saat kalian berada di dalam sana tadi?" tanya Zoya kepada Ibunya.


Mbok Ratih menjawab, "Ibu juga tidak tahu, Zoya. Tadi saat ibu pergi ke toilet semuanya masih baik-baik saja, tapi begitu ibu kembali entah mengapa semuanya sudah menjadi kacau. Ayahmu mengamuk dan menghajar asisten pribadi tuan muda Marcell secara brutal."


Zoya tercengang, ia tidak menyangka kalau Ayahnya akan bersikap sangat impulsif seperti ini. Walaupun memang pak Siman mendapatkan provokasi dari Marcell dan asistennya, tidak mungkin dia berani memukul dan menghajar seseorang sampai separah ini, Zoya sangat mengenal Ayahnya.


"Ayah, apa kau mabuk?" tanya Zoya sekali lagi.


"Dia tidak mabuk." ucap Marcell yang baru saja keluar dari ruangan VIP, dia langsung berjalan dan membantu pria yang baru saja dihajar pak Siman tadi. Kemudian Marcell melanjutkan, "Dia sudah gila, Ayahmu sudah kehilangan akalnya, Zoya."


Saat Marcell mengatakan itu, pak Siman merasa sangat murka dan lepas kendali sekali lagi. Sambil meraung dia mendekati Marcell, "Apa kau bilang..." pak Siman secara kasar menarik kerah jas Marcell. "Kau lah yang sudah kehilangan akal, mentang-mentang kau berasal dari keluarga kaya, kau pikir bisa membeli semuanya dengan uang? Biar aku beritahu kau, di dunia ini bagiku Zoya adalah segalanya. Aku tidak terima jika seseorang ingin berniat buruk terhadapnya."


Melihat itu, Zoya dan mbok Ratih pun berusaha untuk menahan pak Siman. Akan tetapi, siapa sangka kekuatan yang dimiliki pak Siman sangat di luar nalar. Pak Siman mendorong mbok Ratih dan Zoya dengan sangat kuat hingga mereka terhuyung kebelakang.


Pak Siman benar-benar sangat agresif, untung saja Brian dari belakang dengan cekatan menangkap Zoya dan mbok Ratih.


Sementara pak Siman yang sudah lepas kendali, mulai hendak melayangkan pukulannya ke wajah Marcell. Namun dengan santai Marcell menghindari pukulan itu, disaat yang bersamaan juga Marcell membalas memukul punggung pak Siman dengan telapak tengannya. Pak Siman pun tersungkur di lantai.


Tidak hanya sampai di situ, Marcell segera mengambil tindakan lagi. Dengan suara lantang dia berseru kepada penjaga keamanan yang baru datang tadi, "Cepat amankan dia."


Tanpa menunggu lama, para penjaga keamanan mulai melakukan tugas mereka untuk mengamankan pak Siman. Akan tetapi pak Siman terus meronta-ronta seperti manusia liar, membuat penjaga keamanan itu kewalahan. Akhirnya, mereka pun menggunakan tali untuk mengikat pak Siman, kemudian mereka berusaha untuk menyeret pak Siman pergi dari tempat itu.


Melihat Ayahnya diperlukan seperti itu, Zoya sangat tidak terima dan meraung. "Berhenti! Lepaskan Ayahku, kenapa kalian memperlakukannya seperti hewan."

__ADS_1


Penjaga keamanan itu berhenti.


Sebelum Zoya melangkah maju untuk mendatangi penjaga keamanan yang menyeret Ayahnya tadi, Brian secara tak terduga mencekal lengan Zoya, sambil berkata, "Nona cerewet, tenangkan dirimu."


Zoya langsung menepis Brian dan memelototinya dengan kesal, "Kau ingin aku tenang melihat Ayahku diperlakukan seperti itu? Tuan muda arogan, aku bukan orang seperti mu yang memiliki hubungan buruk dengan ayahnya. Aku tidak terima Ayahku diperlakukan seperti itu."


Brian, "..."


Zoya bergegas hendak mengejar penjaga keamanan, namun secara tiba-tiba dia dihadang oleh tubuh jangkung Marcell. Sosok Marcell yang begitu tinggi, membuat Zoya harus mendongak untuk menatap wajah tampan tanpa cacat itu.


"Cepat minggir dari jalan ku!" seru Zoya dengan nada tinggi yang sangat menakutkan.


Akan tetapi Marcell tetap tidak menyingkir, dia dengan tenang terus menyeka tangannya yang menyentuh punggung pak Siman tadi menggunakan tisu. Kemudian dia berkata, "Aku tidak akan membiarkan mu kemana-mana, Ayahmu harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan."


"Cukup tuan muda, Marcell. Jangan uji kesabaran ku lagi, jika saat ini aku tidak mengingat status mu itu. Sudah dari tadi aku memukul wajah mu. Kau sudah sangat keterlaluan, apa kau tidak punya hati sehingga memperlakukan ayah ku seperti itu?" ketus Zoya dengan penuh nada amarah, saat ini darahnya mulai mengalir ke puncak kepala hingga hampir meledak.


"Tidak hanya itu, dia juga sudah memukul asisten pribadiku hingga terluka parah seperti itu. Ayahmu itu sudah sangat keterlaluan, dia seorang psikopat. Lihatlah bagaimana keadaan asisten ku, aku sebagai majikan akan menuntut keadilan untuk ini."


Amarah Zoya mulai mencapai puncaknya, dia tidak terima kalau ayahnya terus-terusan disebut psikopat oleh Marcell, mulut Marcell harus dibungkam, "Keadilan? Baiklah aku akan memberimu keadilan yang pantas."


Plak.


Zoya mendaratkan satu tamparan renyah ke wajah Marcell hingga meninggalkan jejak merah di sana. Kemudian dia membentak, "Itu keadilan dari ku, apa kau puas?"


Marcell memegangi wajahnya yang ditampar Zoya barusan dengan penuh kekesalan, dia tidak pernah ditampar seperti ini. Ini sangat menyebalkan, rasanya seperti terbakar. "Kau.... beraninya kau menamparku, dasar wanita jal*ng!"


"Kau pikir dirimu ini siapa?" Marcell ingin membalas tamparan itu, namun detik berikutnya dia tak sengaja menatap kilatan petir di mata Brian. Tatapan itu sangat menakutkan dan seolah menyiratkan kata-kata kepada Marcell, 'jika kau menyentuh wanita ku, maka akan aku patahkan tanganmu.'

__ADS_1


Marcell pun langsung mengurungkan niatnya, kemudian sambil menarik nafas dalam, dia berkata pada Zoya, "Dengar Zoya, aku pasti akan membawa Ayahmu ke pihak hukum. Aku akan menuntutnya karena telah melakukan penganiayaan terhadap asisten ku, kau lihat saja."


Mendengar itu mbok Ratih langsung segera memohon dan meminta maaf kepada Marcell, "Tuan muda, aku mohon maaf sebesar-besarnya kepadamu atas kejadian ini. Aku akan menerima hukuman apapun dari mu, tapi tolong jangan adukan suamiku ke polisi."


"Tidak! Kalian tidak bisa dimaafkan, Ayah dan anak ini sudah sangat keterlaluan. Mereka sudah melewati batas, aku akan tetap menyeret suamimu yang gila itu ke penjara. Dan untukmu~" Marcell menunjuk hidung Zoya, tatapannya dipenuhi dengan kebencian. Sebelumnya Marcell sama sekali tidak terlalu tertarik dengan Zoya. Namun tamparan tadi benar-benar sangat berbekas, tidak hanya di wajah Marcell namun juga di dalam pikirannya.


Karena itu Marcell akan membalas Zoya suatu saat nanti, tapi tidak hari ini. "Kali ini kau aku biarkan lepas, Zoya. Tapi di lain waktu aku akan membalasnya lebih dari ini, aku akan membuatmu menyesali karena telah menampar seorang Marcell. Jika kau tidak memohon ampun dan bertekuk lutut padaku, maka nama ku bukanlah, Marcell Cody, camkan itu." ucap Marcell sengaja berbisik ke telinga Zoya, takut kalau Brian akan mendengar ancamannya tadi. Karena dia tahu, jika memprovokasi Zoya lebih jauh lagi maka akan berakibat fatal nantinya.


Jujur saja saat ini sebenarnya Marcell sudah hampir kehabisan keberaniannya untuk berdiri di depan Brian, rencana yang ia siapkan untuk menjebak pak Siman sudah berhasil. Jadi dia berniat untuk segera beranjak pergi dari sana, sebelum Brian mulai mempersulitnya. Dia sudah sangat bersyukur karena sedari tadi Brian hanya diam saja dan tidak melakukan apapun melihatnya menjalankan rencana ini.


Awalnya Marcell juga bakal mengira kalau Brian pasti akan membela Zoya, namun siapa sangka ternyata pria dingin itu malah memilih untuk diam. Jika sudah begini Marcell tidak akan menyia-nyiakan situasinya, diamnya Brian adalah kesempatan emas baginya untuk melanjutkan rencananya yang lain.


"Ayo cepat bawa dia ke kantor polisi!" seru Marcell kepada penjaga keamanan yang sedang menahan pak Siman.


"Tuan muda aku mohon, kita bisa membicarakannya dengan baik-baik. Jangan bawa suamiku ke kantor polisi." mbok Ratih terus memohon kepada Marcell, bahkan dia sampai mau berlutut dilantai.


Marcell tetap tidak memperdulikan dan terus berjalan pergi bersama penjaga keamanan yang menyeret pak Siman untuk di bawa ke pihak berwajib.


Zoya yang melihat ibunya berlutut, merasa sangat tidak terima dan mulai menggertakan giginya dengan kesal, sesekali dia menatap Brian yang sedari tadi hanya menonton saja. Ada kekecewaan di mata Zoya. "Marcell, berhenti! Lepaskan Ayahku atau..."


Sebelum Zoya menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja mbok Ratih jatuh pingsan di lantai. Zoya pun bergegas berlari menuju ibunya itu, dengan panik dia segera membangunkan ibunya. "Ibu, bangun. Ya ampun kenapa semuanya jadi seperti ini." tekad Zoya memang kuat saat ingin melawan Marcell tadi. Tapi melihat ibunya yang sekarang malah jatuh pingsan, membuat mental Zoya langsung ikut down seketika.


"Tuan muda, apa kau akan masih diam saja di sana." akhirnya Zoya meminta bantuan Brian juga. Tadi dia sudah sangat kecewa pada Brian yang tidak mau membela pak Siman. Dan sekarang, jika Brian tetap diam saja, maka hati Zoya akan benar-benar sangat hancur.


Tanpa dipinta dua kali, Brian pun langsung membantu dan mengangkat mbok Ratih. Di saat yang bersamaan, akhirnya anggota keluarga Brian yang lain juga muncul.


"Kakak, apa yang terjadi di sini?" tanya Kiara keheranan melihat Brian tengah menggendong mbok Ratih.

__ADS_1


__ADS_2