
"Zoya tuan!" jawab Zoya dengan kepala tertunduk.
Kedua mata elang Alex menatap Zoya dari atas sampai bawah. Dia sangat penasaran, bagaimana Brian bisa dekat dengan gadis yang tampak biasa ini. Sejauh yang ia tahu, Brian memiliki kepribadian yang buruk dalam bergaul.
"Jadi kau Zoya, putrinya Siman dan Ratih?" tanya Alex sekali lagi sambil menatap kedua orang tua Zoya secara bergantian.
Zoya mengangguk, "Ya tuan."
Alex memasang ekspresi penuh arti, dia tiba-tiba teringat kenangan dua puluh tahun yang lalu saat dia tinggal di rumah ini. Michelle pernah menggendong Zoya yang masih bayi saat itu dan Alex duduk tepat di sebelahnya.
Saat Alex ingin mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba ponselnya berdering, dia mendapat panggilan dari perusahaan. Alex selalu menjadi orang yang sibuk, baru saja dia meninggalkan perusahaannya sebentar dirinya sudah di cari-cari.
Dia pun segera beranjak dari ruang tengah dan naik ke lantai dua untuk menjawab panggilan itu.
Brian memandangi punggung ayahnya dengan sangat tajam sambil berkata, "Dia selalu sibuk seperti biasanya, tapi kenapa dia masih menyempatkan diri untuk datang kesini?" pandangan Brian beralih jatuh kearah ibunya.
Michelle pun tersenyum sambil menjawab dengan lembut, "Karena dia memperdulikan mu Brian, saat dia mendengar kau mendapat masalah dia sangat khawatir."
"Omong kosong, pak tua itu hanya takut reputasinya menjadi buruk karena aku, kan?" bantah Brian, dia tidak bisa menerima alasan yang dikatakan ibunya, karena sejak kecil ayahnya selalu tidak memperdulikan Brian. Jika ayahnya yang sibuk mau menyempatkan diri untuk membantu Brian, itu pasti karena dia takut kalau Brian akan mencoreng nama baik keluarga Cody. Begitulah yang ada dalam benak Brian.
"Jika lain kali ada masalah yang menimpaku, kalian tidak perlu repot-repot datang untuk membantu. Aku bisa mengatasinya sendiri. Kau dengar itu Kia!" ucap Brian dengan tegas sembari beranjak pergi.
Michelle pun tertegun sejenak, dia merasa tidak berdaya karena ternyata Brian masih marah pada kedua orang tuanya. Michelle menghela nafas sebelum dia memanggil Brian yang sudah keluar dari rumah, "Kau mau kemana lagi?"
Brian terus melangkah pergi dan mengabaikan Michelle, setelah itu terdengar suara mobil mulai meninggalkan mansion.
Michelle tampak cemas dan bertanya pada Kiara, "Kemana kakakmu itu? Dia sudah menghilang semalaman dan sekarang mau pergi lagi?"
Kiara juga tidak tahu, dia hanya bisa meminta ibunya untuk tetap tenang sambil berkata, "Ibu, kakak pasti sedang ingin menenangkan diri saat ini, seperti biasa."
Michelle merasa sangat menyesal, melihat betapa tidak senangnya Brian akan kehadiran mereka. Michelle seolah menjadi ibu yang gagal.
__ADS_1
...
Sementara itu, tidak berapa lama Brian mengemudikan mobilnya meninggalkan mansion. Akhirnya dia tiba di bengkelnya Sean. Saat Brian melangkahkan kakinya yang jenjang keluar, Sean langsung menghampiri Brian.
Dengan ekspresi yang sangat tegas dan berwibawa Brian bertanya, "Apa dia sudah sadar?"
Sean menjawab, "Ya, tapi dia masih sangat keras kepala."
"Tidak masalah, aku akan membuatnya tunduk kali ini. Bawa aku kepadanya sekarang."
Sean pun membawa Brian kedalam sebuah gudang. Disana terlihat seorang pria sedang duduk dengan keadaan terikat di bawah cahaya lampu neon. Wajah pria itu tampak sedikit babak belur. Saat dia melihat Brian muncul dihadapannya, mata pria itu langsung menjadi merah dan dipenuhi dengan kebencian.
"Ambilkan segelas air!" seru Brian pada Sean, kemudian dia menarik sebuah kursi dan duduk tepat dihadapan tawanannya itu.
Brian menatap pria itu dengan tajam dan tidak berkata-kata untuk waktu yang lama. Hal itu membuat si pria sangat jengkel dan spontan meludah ke wajah Brian.
Beruntung Brian menggeser sedikit kepalanya, jika sampai dia terkena ludah si pria tadi. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, pria yang memiliki obsesif kompulsif seperti Brian pasti akan sangat murka dan tidak terima dirinya di perlakukan seperti itu.
"Kau sangat agresif dan pantang menyerah ya, dalam keadaan seperti ini pun kau masih mencoba menyerang ku?" cibir Brian dengan wajahnya yang tampak cuek.
Kedua sudut Brian mulai terangkat sebelum dia berkata dengan dingin, "Tidak pernah tunduk dengan musuhnya? Lalu kenapa kau malah bersekutu dengan musuhmu?"
"Heh, kau tidak mengerti. Musuh dari musuh adalah teman, kau tidak pernah dengar itu?"
"Yah, tapi kau sudah memilih teman yang salah."
Brian terus berdebat dengan pria itu, sampai akhirnya Sean pun kembali dengan membawa segelas air di tangannya.
Pria itu memelototi Brian dengan curiga, kemudian dia langsung berkata, "Aku tidak akan menyerah walaupun aku harus mati tanpa minum, Brian!"
Brian mengambil gelas dari Sean, seraya berkata, "Siapa yang ingin memberimu air, ini untukku." kemudian dengan anggun Brian menenggak segelas air putih tadi sampai habis.
__ADS_1
Sontak pria tadi bisa merasakan tenggorokannya begitu menderita melihat betapa puasnya Brian minum. Padahal itu hanya air putih, tetapi kenapa menjadi sangat menggoda? Tentu saja, pria itu belum minum selama berjam-jam, bisa terlihat jelas dari bibirnya yang kering. Dia hampir mencapai titik dehidrasi.
Apa Brian sengaja menunjukan adegan itu hanya untu membuat mental si pria menjadi lemah?
"Kau sangat licik, kau pikir aku selemah itu? Dengar Brian, bagaimanapun caramu menyiksaku. Aku tidak akan pernah mau bergabung denganmu?" ketus pria itu dengan penuh percaya diri dan keteguhan tekad yang kuat.
"Untuk apa aku membuang-buang waktu untuk menyiksamu, aku punya cara lain agar kau mau bergabung denganku." Brian terlihat sangat santai, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Jhony.
Setelah Jhony mengangkat panggilan itu, Brian langsung menyalakan pengeras speakernya, dan bertanya, "Apa kau sudah sampai?"
Jhony menjawab, "Yah, sekarang aku berdiri tepat di depan SD negeri Golden Sea. Aku sedang menunggu gadis kecil itu keluar."
Mendengar nama SD yang di sebut Jhony barusan, wajah si pria yang diikat tadi langsung menjadi pucat dan tak terkendali.
Bukankah itu, adalah SD tempat adiknya sekolah? Apa yang direncanakan Brian dengan mengirim Jhony kesana?
Pria itu pun memandang Brian dengan penuh kebencian dan rasa jijik, "Brian apa kau ingin menculik adikku? Aku tidak menyangka kau akan menggunakan trik kotor seperti ini? Dasar kau baj*ngan!"
Brian menutup panggilan itu dan langsung menyilangkan kedua kakinya sebelum kembali menatap pria di depannya dengan main-main.
Brian adalah pria yang baik dan tidak akan menggunakan trik murahan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bagaimana mungkin dia menculik seorang gadis kecil tak berdosa hanya untuk berurusan dengan pria ini?
Pria ini terlalu meremehkan Brian.
"Kau salah, Frans. Menculik seorang gadis kecil sama sekali bukan gayaku." ucap Brian acuh tak acuh.
"Lalu kenapa kau mengirim Jhony kesana?" Frans meraung.
"Untuk menunjukkan kebenaran pada adik kecilmu yang masih polos, apa kau tahu hati seorang anak itu sangat rapuh. Adikmu itu sangat percaya padamu, tebak bagaimana nanti reaksinya ketika dia mengetahui kakaknya ternyata adalah seorang bandit yang mencoba menteror sebuah acara pesta." Brian kemudian menjentikkan jarinya memberi isyarat pada Sean.
Sean pun kemudian mengambil sebuah iPad, dan menunjukkan sebuah rekaman video pada Frans. Dan saat Frans melihat isi video itu, wajahnya langsung menjadi gelap seperti malam. Bagaimana Brian melakukannya? Dia memiliki rekaman video yang membuktikan bahwa Frans adalah pelaku yang telah menyelundupkan bom palsu di pesta Marcell kemarin malam.
__ADS_1
Frans tercengang sebelum dia balik berkata, "Brian apa yang kau inginkan sebenarnya, jika kau ingin menyerahkan ku kepada polisi, aku tidak keberatan. Tapi jangan pernah beritahukan hal ini pada adikku, aku tidak bisa mengecewakannya."
Brian dengan tenang melipat kedua lengannya seraya berkata, "Aku sudah menyerahkan temanmu si pelayan ceroboh itu ke polisi tadi, tapi aku tidak akan menyerahkan mu. Kau masih aku butuhkan."