
Seharusnya acara makan malam ini ditujukan untuk membuat Zoya merasa rendah, namun siapa sangka yang Alex dapatkan adalah adegan putranya yang bermesraan dengan Zoya tepat dihadapannya.
Alex mulai muak, tapi tidak mau mengeluarkan ledakkan amarahnya di depan Brian. Dia sangat mengenal sifat putranya ini, Brian adalah pria yang sangat over protektif terhadap suatu hal yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Dilihat bagaimana cara perlakuan Brian terhadap Zoya, normal untuk mengatakan kalau Brian memang benar-benar sudah menganggap Zoya sangat dekat dengannya.
"Anak ini, dia sengaja bersikap baik pada Zoya di depan ku? Sikapnya ini seolah menyiratkan sesuatu padaku, dia menantang ku." gerutu Alex, sambil terpaksa menahan rasa amarahnya. Jika ia luapkan saat ini juga, yang ada pertengkaran itu akan terulang lagi. Alex tidak ingin sampai hubungannya dengan Brian semakin renggang, bagaimanapun kelak Brian akan menjadi pewaris nya.
Brian yang menyadari ekspresi ayahnya sudah berubah menjadi penuh dengan gundukan es, hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati dia bergumam, 'Pak tua, kau sengaja menggunakan cara manipulatif mu itu hanya untuk membuat Zoya merasa rendah, tapi selagi aku ada di samping Zoya, tidak akan aku biarkan wanita ku merasa terkucilkan atau di remehkan oleh orang lain.'
Sementara Zoya hanya bisa duduk diam dan mematuhi perintah Brian. Jujur dirinya memang sudah merasa sedikit terkucilkan saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, namun sikap Brian yang selalu baik padanya. Membuat Zoya merasa punya seorang yang akan mendukungnya dalam menghadapi setiap masalah.
"Tuan muda, Ayah mu sepertinya sangat tidak suka dengan ku. Tatapannya itu benar-benar sangat menakutkan, seolah ingin menggigit ku." bisik Zoya dengan nada sangat pelan.
"Kau jangan pedulikan dia, selagi kau berada di samping ku, dia tidak akan berani mengatakan sepatah kata pun, apa lagi menggigit mu." ucap Brian dengan santainya.
Dengan ekspresi skeptis Zoya membalas Brian, berkata, "Memangnya kau akan mau melawan Ayah mu itu, hanya demi aku?"
Brian menjawab, "Jangankan bersedia melawan keluarga ku, bahkan aku akan melawan seisi dunia, hanya untuk mu."
Zoya terkikik pelan mendengar Brian barusan. 'Betapa manisnya pria yang berhati dingin ini,' pikir Zoya.
Namun Zoya tiba-tiba kembali teringat dengan kedua orang tuanya, raut wajahnya pun kembali dipenuhi kegelisahan.
"Ada apa lagi?" tanya Brian saat menatap sepasang mata Zoya yang terlihat tidak tenang.
__ADS_1
"Kedua orang tua ku, entah mengapa aku dari tadi memikirkan mereka. Firasatku sangat tidak enak." ujar Zoya.
Kiara yang sedari tadi menguping pembicaraan Brian dan Zoya, akhirnya berceletuk juga, "Kak, memangnya kenapa dengan kedua orang tua mu? Marcell ada bersama dengan mereka di ruangan sebelah, mereka saat ini pasti sedang menikmati makan malam mereka. Sayang sekali kita tidak bisa satu ruangan, karena satu ruangan VIP hanya bisa ditempati enam orang saja."
"Kau tidak mengerti Kia, kedua orang tua ku itu belum pernah makan malam di tempat seperti ini. Mereka bahkan tidak tahu tata caranya memesan makanan di sebuah restoran kelas atas, dan setiap jenis menu yang ada di sini pasti sangat asing bagi mereka. Maklum karena kedua orang tua ku itu memang sangat kuno, aku takut nanti mereka akan..."
Zoya tidak melanjutkan kalimatnya, karena pikirannya mulai berfantasi ke hal-hal yang sangat buruk. Dia takut jika kedua orang tuanya nanti akan melakukan suatu hal yang membuat diri mereka dipermalukan. Karena itu ingin sekali rasanya Zoya saat ini menemui kedua orang tuanya.
"Tuan muda, bisakah aku pergi ke tempat orang tua ku sekarang, aku ingin menemani mereka?" tanya Zoya, setelah buru-buru menyelesaikan makanannya, Zoya langsung hendak beranjak pergi dari sana.
Adapun Alex hanya menyipitkan matanya melihat Zoya, kemudian dengan ekspresi yang mencemooh dia berkata, "Kau bilang kedua orang tua mu itu sangat kuno? Cih, pantas saja saat mereka masuk ke tempat ini tadi, mereka terlihat seperti orang linglung. Seharusnya mereka sadar diri, tempat seperti ini memang tidak layak untuk mereka. Mereka tidak seharusnya datang memaksakan diri untuk ikut tadi."
Zoya membeku, bola matanya yang sehitam batu obsidian menatap Alex dengan bingung. 'Bukankah Alex yang mengajak kedua orang tua Zoya ke sini? Lantas kenapa kata-kata Alex seolah menyiratkan, dia tidak menginginkan kehadiran kedua orang tua Zoya?' Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
Mendengar cara bicara Brian yang sangat tidak sopan, membuat Alex semakin murka, "Kau salah, sedari awal aku sama sekali tidak mengajak mereka. Ini semua ide Marcell, bahkan acara makan malam ini pun adalah ajakan dari Marcell."
"Apa? Jadi semua omong kosong ini adalah rencana Marcell?" Mata Brian langsung memancarkan aura yang sangat menakutkan saat berbicara hal yang berkaitan dengan Marcell. "Aku tidak menyangka kau akan bersekongkol dengan orang seperti itu pak tua? Betapa tidak tahu malunya diri mu sekarang."
"Brian, kau..." Tanpa Alex sadari dia sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak ia ucapkan, dengan kesal dia menggertakkan giginya. Alex tidak terima perkataan Brian barusan, yah memang benar dia menyetujui usulan Marcell untuk mengadakan acara makan malam ini. Akan tetapi dia tidak pernah melakukan persekongkolan apapun dengan Marcell, idenya hanya sebatas untuk menunjukan statusnya ya tinggi itu di hadapan Zoya, berharap agar wanita itu merasa sadar akan posisinya yang rendah sehingga nantinya mundur untuk mendekati Brian.
Alex tidak tahu apa yang di rencanakan Marcell, dan tidak mau tahu. Karena hubungan keluarga Brian dengan seluruh Cody famili memang buruk, termasuk dengan keluarga Marcell. Jika bukan karena ingin menyingkirkan Zoya, Alex bahkan tidak akan mau menerima usulan Marcell ini.
"Kurasa acara makan malam ini sudah cukup sampai disini!" seru Brian, dengan segera dia bangkit dari kursinya dan langsung menarik Zoya untuk keluar dari ruangan itu. "Ayo Zoya, kita sudah selesai di sini, sekarang waktunya berurusan dengan Marcell."
Tujuan Brian membawa Zoya ke hadapan Alex tadi, hanya untuk menanamkan keyakinan dalam diri Zoya saja. Kalau sebenarnya Brian akan selalu membelanya apapun yang terjadi, tidak peduli siapa pun itu kalau ada seseorang yang tidak bisa menghormati Zoya, maka Brian akan membuat orang itu hormat pada wanitanya.
__ADS_1
Setidaknya dengan begini, Zoya tidak akan termanipulasi oleh kata-kata Alex di masa depan.
Mereka pun bergegas mendatangi Marcell yang berada di ruangan VIP yang lain. Namun saat Brian dan Zoya berjalan di tengah lorong, tiba-tiba mereka terkesiap melihat apa yang ada di depan mereka.
"Ayah..." teriak Zoya, saat melihat ayahnya tengah berseteru dengan seseorang.
"Dasar kau baj*ngan, beraninya kau menyebut putriku seorang pelacvr."
Buk.
Pak Siman melayangkan pukulan bogem mentah ke wajah pria yang sedang ia cekik, hingga pria itu tersungkur jatuh ke lantai. Setelah itu pak Siman yang terlihat sempoyongan juga ikut jatuh dengan posisi kedua lututnya bertumpu di lantai. Saat ini keadaan pak Siman benar-benar sangat kacau, wajahnya sudah babak belur dan matanya terlihat sangat merah seperti seekor singa yang sedang murka.
"Dengar, kami memang berasal dari kalangan bawah. Akan tetapi bukan berarti kami serendah yang kau pikirkan, kami masih punya harga diri." pekik pak Siman dengan suara serak dan nafas ngos-ngosan. Dia terus memaki pria yang baru saja ia hajar tadi.
"Sudah pak, tolong tenangkan dirimu." mbok Ratih berusaha membopong pak Siman untuk bangkit.
Tidak lama kemudian beberapa keamanan Restoran pun mulai berdatangan, "Ada apa ini, kenapa kalian membuat keributan di sini."
Zoya sudah berada di belakang pak Siman dan mbok Ratih, segera membantu pak Siman untuk bangkit, dia merangkul erat lengan Ayahnya seraya bertanya, "Ayah, kenapa kau sampai begini, apa yang sudah terjadi padamu?"
Pak Siman menolah ke samping dan menatap Zoya dengan sayu, "Zoya, kau kah ini?"
"Iya Ayah, ini aku. Kenapa ini bisa terjadi Ayah, kenapa kau memukul pria itu?"
Pak Siman memegangi pipi putrinya dengan lembut, dia terlihat sangat emosional sehingga jatuh ke pundak Zoya.
__ADS_1