King Of School

King Of School
Bab 36


__ADS_3

"Trisha selamat ulang tahun ya." ucap Isma sembari cipika-cipiki dengan Trisha, Isma adalah salah satu sahabat baik Trisha dan juga Zoya.


Terlihat di ruang kelas itu, Trisha menjadi sorotan semua orang saat ini, dirinya begitu diistimewakan karena hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke dua puluh satu.


"Baiklah guys, terima kasih untuk semua ucapan selamatnya kalian bisa memberi hadiahnya sekarang, tapi lempar telurnya nanti malam aja ok." ucap Trisha dengan ekspresi wajah yang main-main.


"Hahaha, kau memang suka bercanda ya, kalo lempar telurnya nanti malam, maka kado nya juga nanti malam." balas Larry seorang pria berkulit hitam dan berambut gimbal, dia juga merupakan salah satu sahabat baiknya Trisha.


Suasana ruang kelas itu begitu hangat dipenuhi dengan kebahagiaan. Tapi seketika pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Zoya memasuki ruangan dengan Brian yang berada di belakangnya.


Suasana yang begitu hangat tadi langsung berubah sunyi senyap seperti kuburan. Mereka semua jadi diam dan langsung menjatuhkan pandangan mereka pada Zoya dan Brian.


Sementara itu Zoya langsung menjadi muram melihat tatapan mata semua orang terhadap dirinya. Dia tahu hari ini adalah hari ulang tahun sahabatnya yaitu Trisha, Zoya sadar dan mengira kehadirannya saat ini sangat tidak diinginkan oleh Trisha. Karena sekarang mereka bukanlah sahabat lagi.


"Hei Zoya, akhirnya kalian sampai juga," ternyata Edi juga sudah ada di ruang kelas itu, dia pun segera berjalan mendekati Zoya, "ini coba lihat Zoya, Trisha hari ini ulang tahun, dia juga memberikan sebuah undangan untukmu."


Edi memberikan sebuah kartu undangan pada Zoya. Sontak Zoya mengambil kartu itu dengan ragu-ragu. Ekspresinya terlihat sangat bingung saat menatap kartu itu, kenapa dia mendapatkan kartu undangan juga. Bukankah Trisha dan dirinya saat ini sedang bermusuhan.


Tiba-tiba Trisha pun mulai berjalan gontai mendekati Zoya dengan ekspresi wajah datar.


"Kenapa kamu terlihat bingung Zoya, apa kamu tidak suka dengan undangan itu?"


Zoya pun seketika langsung menatap Trisha dan berkata, "Bukan begitu Trish, hanya saja..." Zoya benar-benar kebingungan saat ini, bukankah Trisha sudah tidak ingin bicara dengannya lagi? Lantas kenapa Trisha malah memberikannya kartu undangan juga.


"Zoya, aku tahu kau pasti sangat bingung saat ini. Zoya aku menyesal, aku ingin meminta maaf padamu." ucap Trisha dengan ekspresi yang terlihat sangat menyesal.


"Ya Zoya, kami salah, seharusnya kami tidak pernah menghinamu." tambah Isma.


Zoya pun langsung tersentak mendengar hal itu. Dia bingung, kenapa tiba-tiba saja para sahabat lamanya ini berkata seperti itu. Tadinya dia berpikir kalau dirinya akan segera mendapat hinaan dari para sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya Zoya, kami semua sudah tahu ternyata kau memanglah wanita yang baik. Kemarin kita semua sudah tahu, ternyata Vince adalah pria yang sangat buruk." ucap Isma.


"Aku minta maaf Zoya, kau benar. Sekarang aku baru sadar ternyata Vince memang hanya memanfaatkan diriku saja." ucap Trisha sambil menundukan kepalanya, "aku sudah melupakan persahabatan kita dan lebih memilih Vince. Aku benar-benar bodoh Zoya."


Trisha tiba-tiba meneteskan air mata dan menangis sejadinya. Sontak kedua mata Zoya pun juga ikut berlinang melihat itu, dia pun langsung memeluk sahabatnya.


Begitu terlihat sangat mengharukan, bahkan Isma, Larry dan juga Edi ikut meneteskan air mata melihat pemandangan itu.


Tapi berbeda dengan Brian, dia terus memperhatikan dengan ekspresi acuh tak acuh. Baginya ini semua tampak sangat aneh.


'Kenapa tiba-tiba saja Trisha berubah lagi? Apa Vince benar-benar sudah mencampakkannya? Atau ini semua juga bagian dari rencana baru Vince?' Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Brian untuk saat ini.


"Zoya aku memang bodoh, seharusnya aku tidak mempercayai Vince, dia mengatakan padaku kalau dia akan membantu untuk melunasi hutang kita pada Jhony jika aku mau meninggalkan dirimu. Tapi aku tidak tahu ternyata selama ini dia hanya memanfaatkan aku, hanya untuk balas dendam padamu Zoya." Trisha terus menangis di pelukan Zoya. Dia terlihat sangat menyesal karena sudah mengkhianati Zoya selama ini.


"Tidak Trisha, Vince memang sangat licik. Awalnya aku juga hampir terjebak olehnya, aku tahu kau tidak salah sama sekali." ucap Zoya sembari mengusap air mata Trisha.


"Apa kau mau memaafkan aku Zoya?"


"Trisha kita sudah bersahabat sejak lama, terkadang memang terjadi perselisihan diantara kita. Tentu saja aku mau memaafkanmu."


"Benarkah Zoya? Terima kasih."


Kedua sahabat itu mulai saling berpelukan lagi. Jujur saja Zoya juga memang sudah sangat rindu dengan Trisha.


Prok, prok, prok.


Tiba-tiba saja Brian langsung bertepuk tangan, setelah selesai melihat drama yang sedang dilakukan Zoya dan Trisha dihadapannya ini. Dari tadi dia sengaja diam untuk menunggu reaksi Zoya. Tapi bukan seperti ini yang Brian harapkan.


"Bagus sekali, drama yang sangat emosional. Jika kalian melakukan latihan sedikit lagi saja, maka aku yakin kalian pasti jadi aktris terkenal nantinya."

__ADS_1


"Aku juga bersedia untuk mendaftarkan kalian jika mau." ujar Brian dengan ekspresi acuh tak acuh.


Sontak Zoya langsung berbalik dan menatap Brian dengan seksama, "Apa maksudmu tuan muda?"


"Zoya kukira kau itu sangat pintar, tapi ternyata aku salah, kau sangat naif." ucap Brian dengan wajah mengejek. "Bagaimana kau bisa mempercayai seorang pengkhianat semudah ini." Brian menunjuk kearah Trisha.


"Tuan muda, aku sudah berteman dengan Trisha sangat lama, aku mengerti sekali sifatnya, terkadang dia memang suka bingung dan memilih jalan yang salah. Tapi dia sebenarnya adalah wanita yang sangat tulus." bantah Zoya, mencoba untuk membela sahabatnya.


"Ya aku juga sudah tahu sifatnya dia adalah wanita yang rela menjual segalanya hanya untuk kepentingan pribadinya."


Deg.


Seketika Trisha dan semua orang yang ada disana tersentak mendengar perkataan Brian tadi. Mereka tak menyangka kalau Brian akan mengatakan hal seburuk itu pada Trisha.


"Cukup tuan muda, kau sudah keterlaluan. Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan berkata sekasar ini. Aku adalah sahabatnya Trisha, kau tidak boleh menghinanya." Zoya mulai marah dan membela Trisha, dia tidak bisa terima kalau sahabatnya di caci begitu saja.


"Heh, apa kau tahu nona cerewet," Brian mulai berjalan mendekati Zoya dengan tatapan sedingin es, "Kau memang sangat mengenal orang lain dengan baik, tapi kau tidak bisa mengenal dirimu sendiri, kau terlalu naif."


Setelah mengatakan itu Brian langsung berbalik dan pergi meninggalkan ruangan kelas. Saat ini dia benar-benar kecewa pada Zoya, seharusnya Zoya tidak mudah percaya begitu saja dengan Trisha. Baginya seorang pengkhianat akan tetap menjadi seorang pengkhianat.


"Zoya..." Trisha memanggil sambil memegang bahu Zoya.


Sontak Zoya yang membeku karena mendengar perkataan Brian barusan langsung menoleh kebelakang. Tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dia merasa sangat sedih, melihat Brian yang pergi begitu saja membuat dadanya terasa sangat sesak.


Saat ini dia benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Di satu sisi ada sahabatnya Trisha, dan di sisi lain ada Brian orang yang sudah berulang kali menyelamatkannya. Dia benar-benar menghadapi dilema yang sangat hebat saat ini.


"Sudahlah Zoya, tidak masalah jika Brian juga masih belum mempercayaiku. Kau juga tidak perlu terlalu percaya padaku, bagaimanapun aku memang sudah berkhianat padamu."


"Tidak Trish, aku percaya padamu kok, tapi tolong maafkan perkataan Brian tadi ya. Dia memang seperti itu, tapi sebenarnya dia memiliki hati yang sangat baik."

__ADS_1


Trisha kemudian mengangguk ringan dan memeluk Zoya. Kedua sahabat itu akhirnya berbaikan juga.


"Hei bukankah ini adalah hari ulang tahunnya Trisha, ayo kita nyanyikan lagu untuknya." seru Edi kepada semua orang agar suasana kembali ceria lagi.


__ADS_2