King Of School

King Of School
Bab 50


__ADS_3

"Satu masalah selesai."


Setelah membersihkan tubuhnya, Brian merebahkan sekujur tubuhnya di atas kasur sembari menatap plafon kamarnya. Dia saat ini hanya mengenakan Bathrobe saja.


Brian memang harus mengakui kalau saat ini dia benar-benar sedikit kelelahan. Dalam satu tahun terakhir ini Brian memang kurang melatih dirinya. Walaupun begitu, Brian masih terlihat sangat tangguh.


Hanya saja saat ini dia merasakan bahwa tubuhnya terasa sedikit pegal-pegal.


"Malam ini aku harus menyelesaikannya, setelah itu aku akan mulai berurusan lagi dengan Vince."


Rencananya mengumpulkan tim untuk mengikuti kompetisi perebutan martabat hampir selesai.


Malam ini Brian akan berhadapan langsung dengan Sean. Dia sudah merencanakan semuanya dengan Kimberly.


Sean itu sangat bangga akan skill balapan liarnya. Dan kelemahan terbesarnya adalah Kimberly.


Untuk menaklukan orang keras kepala seperti Sean hanya ada satu cara, yaitu membuatnya merasakan kekalahan di dalam keahliannya sendiri.


Brian juga sengaja mendekati Kimberly untuk membuat kepala Sean terbakar akan api cemburu, dengan begitu akan lebih mudah mengalahkannya.


Malam ini balapan antara Brian dan Sean akan berlangsung di lereng pegunungan Golden Sea. Balapan itu diadakan Sean untuk membuktikan siapa yang lebih berhak mendapatkan Kimberly.


"Aku tahu ini mungkin akan sedikit merepotkan, tapi jika aku tidak melakukan ini maka tidak akan ada yang bisa memberi pelajaran kepada si Vince itu." gumamnya.


Tok, tok, tok.


Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, sontak Brian menoleh kearah pintu kamarnya.


Terdengar seperti suara Zoya.


"Masuklah!" Seru Brian dengan ekspresi malas, tubuhnya terasa sangat berat sekali untuk membuka pintu itu.


Setelah diizinkan untuk masuk, akhirnya Zoya pun membuka pintu dan perlahan memasuki kamar Brian sambil membawa nampan besar yang dipenuhi makanan.


"Tuan muda ini makan malam mu~" Zoya melihat Brian yang hanya mengenakan Bathrobe saja, langsung mengalihkan pandangannya kearah lain karena malu.


Aduh kenapa dia berpakaian seperti itu sih? Tidak Zoya, kau harus mengalihkan pandanganmu darinya.


"Letakkan disana!" Brian bangkit duduk di kasurnya sambil menunjuk kearah meja. Ekspresinya benar-benar terlihat sangat malas.


"Ba-baiklah." Zoya pun meletakkan nampan itu keatas meja. Saat ini wajahnya kembali merona lagi, Brian terlalu seksi untuk ia lihat.


Bagaimanapun aku harus bisa mengalihkan pandanganku, tapi lihat lah, dia benar-benar terlihat sangat seksi. gumamnya di dalam hati, dia berniat ingin langsung keluar dari sana sebelum pikirannya melayang entah kemana-mana karena melihat Brian.

__ADS_1


"Tunggu!" Brian tiba-tiba menghentikan Zoya sebelum pergi meninggalkan kamarnya.


Kemudian dia mulai bangkit dan berjalan mendekati Zoya. Ekspresinya sangat datar namun tatapannya itu penuh dengan makna. Perlahan Brian mengangkat tangannya dan mulai menggapai kearah belakang rambut Zoya.


Zoya pun hanya bisa diam membatu, jantungnya mulai berdegup kencang sekali. Tidak tahu apa yang ingin di lakukan tuan mudanya itu, dia hanya diam saja dan membiarkan Brian begitu saja.


Duh, sebenarnya dia sedang apa sih?


Perlahan Brian semakin mendekatkan wajahnya, membuat gadis lugu itu semakin tidak bisa berbuat apa-apa dan malah memejamkan matanya.


"Zoya..." ucap Brian dengan nada pelan dan terdengar sangat menggoda.


"Yah..." lirih Zoya, sekarang pikirannya semakin melayang.


"Ada cicak diatas rambutmu!"


Deg.


"Ah... dimana-dimana..."


Seketika Zoya langsung berteriak dan mendorong tubuh Brian, dia melompat-lompat karena merasa kegelian.


"Sudah aku buang!" ucap Brian dengan acuh tak acuh.


Brian yang menyadari hal itu sengaja tidak memberitahu Zoya lebih awal, karena dia takut Zoya akan bereaksi seperti saat ini.


"Hufff, kamu membuatku kaget aja tuan muda!" Zoya menghela nafas sambil memegangi dadanya, dia menyandarkan diri di lemari pakaian Brian.


"Sekarang kau bisa keluar!" seru Brian dengan nada dan ekspresi wajah datar seperti biasanya, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Zoya yang tadinya sudah terhanyut dalam imajinasinya kini hanya bisa menepuk jidat dan segera beranjak keluar.


Kenapa setiap kali dia mendekat, aku merasa seolah-olah waktu terhenti. Matanya itu seperti sudah menghipnotis diriku, umm... tuan muda arogan...


Zoya merasa sangat gemas membayangkan Brian, dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau dia memang sudah sangat tertarik pada Brian.


Setelah beberapa saat Brian pun turun ke bawah dengan berpenampilan sangat keren. Zoya yang melihat itu sontak menaiki sebelah alisnya, minatnya mulai terusik.


Mau kemana dia malam-malam begini? batinnya bertanya-tanya.


"Zoya! Bereskan piring yang ada di kamarku, setelah itu kau harus mengunci pintunya dan ingat jangan terlalu banyak menyentuh sesuatu yang tidak perlu." seru Brian sambil berjalan menuju pintu depan.


"Tunggu! Kamu mau kemana?" Zoya bertanya dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Aku... aku ingin berkencan!" jawab Brian dengan tak acuh kemudian langsung pergi begitu saja.


Apa dia bilang ingin berkencan? Dengan siapa, apa dengan Kimberly?


Zoya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ekspresi wajahnya pun mulai berubah cemberut. Barusan saja dia merasa sangat bahagia tadi, kenapa Brian selalu saja begitu mudahnya membuat dirinya jadi badmood.


Eee... dasar! Zoya menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.


Sontak Ratih pun terheran melihat tingkah aneh putrinya itu, "Zoya kau kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"


"Bukan apa-apa!"


Zoya langsung melangkah pergi dengan penuh kekesalan di wajahnya.


Sesampainya di kamar Brian, Zoya mulai melakukan apa yang di perintahkan Brian tadi. Dia terlihat begitu kesal, entah kenapa Brian tiba-tiba saja malah mengatakan ingin pergi berkencan, sekarang kecemburuannya mulai bangkit lagi.


Dia pergi berkencan, sementara aku harus membereskan sisa makanannya ini. Eh tunggu dulu, dia ingin berkencan, tapi dia makan malam di rumah? gumam Zoya.


Tadinya dia terus mengumpat, tapi tiba-tiba dia berhenti dan mulai berpikir karena merasa ada sesuatu yang aneh.


Ah sudahlah, untuk apa aku memikirkannya, aku tidak mau menangisinya lagi seperti waktu itu, biarkan saja dia melakukan hal sesukanya sementara aku akan melakukan kewajiban ku.


Zoya pun mulai hendak beranjak pergi dari kamar itu, tapi tiba-tiba ia mendengar sebuah suara ponsel yang berdering.


Sontak Zoya pun mencari-cari sumber suara itu, hingga akhirnya pandangan Zoya jatuh ke tempat tidur.


"Ponsel tuan muda? Apa dia lupa membawanya?" ucapnya sambil menautkan kedua alisnya menatap ponsel yang tergeletak di kasur.


Zoya pun mengambil ponsel itu, dia terheran kenapa Brian bisa meninggalkan ponselnya. Zoya mulai melirik ponsel Brian yang terus berdering, sekarang Zoya semakin penasaran saat melihat panggilan masuk itu ternyata dari nomer yang tak dikenal.


Dia berniat ingin mengangkatnya, tapi dia masih teringat dengan ucapan Brian tadi, untuk tidak menyentuh barang-barangnya.


Apa aku biarkan saja ya, eh bagaimana kalau ini ternyata dari Kimberly.


Zoya tiba-tiba malah menebak kalau itu adalah panggilan dari Kimberly. Jika ya, ini kesempatan emas baginya untuk mencari tahu kebenaran diantara hubungan Brian dengan Kimberly.


Aku yakin saat ini pasti wanita itu yang menelponnya, dia pasti ingin bertanya. Sudah dimana sayang, kok lama sekali. umpat Zoya sambil berekspresi menye-menye.


Zoya pun langsung mengangkat panggilan itu dan bersiap untuk mengeluarkan kata-kata mutiara yang ia pendam dari tadi.


Tapi seketika dia malah terdiam saat mendengar suara yang keluar ternyata bukanlah suara cewek, melainkan suara berat. Bahkan suara itu sedikit familiar bagi Zoya.


Seperti suara Jhony!

__ADS_1


"Brian, ini gawat! Vince sudah merencanakan sesuatu di sana, kau harus berhati-hati!"


__ADS_2