
Beberapa hari kemudian.
Pesta penyambutan kembalinya pangeran Golden Sea pun tiba. Marcel Cody, dia dikenal sebagai tuan muda dari bangsawan Cody yang ada di kota itu. Para kalangan elit, pasti tahu siapa itu Marcel. Berita tentang kembalinya Marcel setelah menyelesaikan sekolahnya di London, langsung menyebar luas ke seluruh penjuru kota.
Abraham Cody mengadakan pesta besar untuk menyambut kembalinya putra tunggalnya itu. Dia turut mengundang juga seluruh keluarga teratas di Golden Sea. Itu dilakukan sekaligus untuk memperkenalkan Marcell sebagai penguasa selanjutnya kepada seluruh Golden Sea.
Surat undangan pesta itupun juga sampai ke tangan Brian. Dengan santai dia membuka dan membacanya, terlihat ekspresinya sangat acuh tak acuh.
"Apa paman selalu memperlakukan putranya seperti ini? Tapi kenapa aku harus heran, darah Cody mengalir dalam tubuh mereka." Brian melempar surat undangan itu ke atas meja ruang tamu dan langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kemudian dia memejamkan matanya mencoba berpikir apakah dia harus datang ke pesta itu atau tidak.
Bagi Brian pesta itu hanyalah sebuah omong kosong saja, untuk apa mengadakan pesta sebegitu mencoloknya hanya untuk menyambut kembalinya Marcel?
Di saat Brian yang sedang melamun, Zoya pun muncul dan mengambil kartu undangan tadi yang tergeletak di atas meja. Begitu Zoya selesai melihat isi kartu undangan itu, ekspresi terkejut memenuhi wajahnya.
"Tuan muda, kau juga mendapat undangan ini?" tanya Zoya dengan rasa ingin tahu.
Perlahan Brian membuka kelopak matanya dan melirik Zoya dengan tatapan kosong, sudut bibirnya melengkung kebawah saat dia mulai berkata, "Memangnya ada apa dengan undangan itu?"
Zoya menatap Brian dengan penuh selidik sembari berkata, "Ini adalah kartu undangan pesta penyambutan Marcel, dia adalah salah satu tuan muda dari keluarga Legendaris."
"Terus apa yang istimewanya dengan itu, bagiku itu hanya pesta biasa saja." balas Brian dengan acuh tak acuh.
Melihat sikap Brian itu membuat kedua alis Zoya menyatu, dia tahu Brian memang berasal dari keluarga kaya. Tapi bukan berarti dia bisa menyepelekan kartu undangan ini.
Padahal selama beberapa belakangan ini, kembalinya Marcel ke Golden Sea sudah menjadi topik panas di seluruh media. Seluruh orang sangat ingin menghadiri pestanya itu, tapi kenapa Brian sama sekali tidak tertarik.
__ADS_1
Apa dia sebegitu sombongnya, sehingga meremehkan Marcel? Apa dia tahu siapa itu Marcel?
"Tuan muda, apa kau tahu untuk siapa pesta ini diadakan? Pria yang akan kembali ini merupakan salah satu calon penerus keluarga Legendaris, dia begitu di takuti tidak hanya di Golden Sea tapi bahkan di seluruh Neosantara." Zoya mencoba menjelaskan pada Brian seberapa besarnya identitas Marcel itu.
Semua orang di Golden Sea harus selalu tunduk pada Marcel, bagaimana bisa Brian mengabaikan undangan ini? Itu sama saja artinya dengan menghina Marcel, dan Brian pasti akan mendapat masalah nantinya.
"Tuan muda karena sudah di undang, aku sarankan agar kau menghadiri pesta ini? Sangat jarang lho Marcel mengadakan pesta seperti ini."
Brian menyilang kedua tangan di dadanya dan menatap Zoya yang berdiri dengan sangat dalam, kenapa Brian harus takut dengan Marcel? Apa karena hanya nama Cody juga menempel padanya?
Lalu bagaimana dengan Brian?
Dia juga seorang Cody dan bahkan calon pemimpin keluarga selanjutnya. Namun sayangnya Zoya belum mengetahui itu, semenjak Brian menginjakkan kakinya di Golden Sea, Brian sama sekali tidak pernah mengungkap identitas aslinya.
Yang Zoya pikir Brian hanyalah berasal dari keluarga kaya biasa. Bahkan mbok Ratih dan pak Siman tidak mau memberitahu asal usul Brian pada Zoya.
Sontak Zoya langsung memalingkan pandangannya kearah Kiara, sejenak dia mengerlipkan kelopak matanya yang indah sebelum berkata, "Kenapa aku juga harus kesana?"
"Yah karena mereka juga mengundangmu, benarkan kak?" ucap Kiara sembari menatap Brian dengan penuh arti, menyiratkan meminta dukungan darinya.
Namun Brian tampak acuh tak acuh dan memilih untuk diam saja.
"Kia, sepertinya kau salah, kartu undangan ini ditujukan untuk tuan muda. Aku sama sekali tidak pernah di undang untuk hadir ke pesta itu." ucap Zoya dengan nada yang sangat pelan. "Lagi pula pesta ini adalah pesta para kalangan elit atas, aku tidak akan cocok untuk itu."
"Kakak kenapa kau..."
__ADS_1
Tepat sebelum Kiara menyelesaikan kalimatnya, Brian bangkit dan berkata, "Sudah, jika dia tidak ingin pergi jangan kau paksakan. Sekarang lebih baik kau pergi bersiap-siap Kia, dua jam lagi kita akan pergi ke pesta itu!"
Kemudian Brian pergi dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Malamnya.
Brian yang sudah berada di halaman, menyandarkan tubuhnya ke mobil menunggu adiknya yang sedari tadi tidak juga muncul. Sesekali dia melihat arlojinya merasa waktunya sudah banyak terbuang.
"Dasar Roti isi, kenapa dia lama sekali!?" Brian menggerutu kesal.
Saat ini penampilannya terlihat sangat rapi dan elegan. Dengan stelan rompi abu-abu yang ia kenakan, Brian memancarkan aura bangsawan yang sangat menawan. Wajah tampan dan dinginnya itu semakin mempertegas penampilannya, dia benar-benar seperti pangeran dari negeri dongeng.
Tidak lama kemudian, dua peri melangkah keluar dari rumah. Salah satunya mengenakan dress ketat panjang berwarna merah. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu sempurna. Rambutnya yang bergelombang tergerai jatuh sampai menutupi seluruh punggungnya. Kiara benar-benar menggambarkan sosok gadis bangsawan yang sangat anggun.
Sedangkan di sampingnya berdiri juga Zoya yang juga tak kalah cantiknya. Dia mengenakan gaun abu-abu sederhana yang indah. Wajahnya yang seukuran telapak tangan di rias sewajarnya sehingga menampilkan kepolosan yang sempurna. Zoya menggambarkan sosok gadis sederhana yang sangat imut, setiap orang yang melihatnya pasti tidak akan pernah merasa bosan.
Brian sampai-sampai menyipitkan kedua matanya, melihat kedua peri itu berjalan dengan sangat anggun menuju ke arahnya. Seketika rasa takjub dan kagum memenuhi wajahnya saat melihat sosok Zoya yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Jadi, kau ikut juga?" tanya Brian dengan datar, pandangannya tidak pernah lepas dari Zoya.
Namun sebelum sempat Zoya menjawab, Kiara langsung menyela, "Ya aku yang memaksanya untuk ikut, bagaimana? Dia terlihat cantik kan?"
Brian melirik Kiara dengan tatapan yang aneh saat berkata, "Kau yang mendadani nya?"
Kiara mengangguk.
__ADS_1
"Lumayan... dia terlihat lebih baik dari dirimu?" setelah mengatakan itu Brian langsung masuk kedalam mobil.
Sedangkan Kiara langsung menganga dan tak bisa berkata-kata. Dia sudah tahu kalau kakaknya pasti tidak akan pernah mau memuji dirinya. Untung saja Brian membandingkan Kiara dengan Zoya, jika itu orang lain mungkin Kia tidak terima. Bagaimanapun Zoya memang terlihat sangat cantik malam ini, tidak heran jika Brian memujinya.