King Of School

King Of School
Bab 24


__ADS_3

Saat ini Brian sedang mengemudikan Roll Royce nya membelah jalanan kota Golden Sea. Terlihat tangannya yang sudah di balut oleh Zoya, sama sekali tidak tampak terasa sakit saat menggenggam setir.


Sementara itu Zoya yang duduk di kursi depan terus bertukar pandang dengan Edi yang ada di belakang. Mereka bingung, kemana tuan muda Brian ingin membawa mereka.


"Jhony, Sean dan siapa satu lagi tadi?" Brian bertanya sembari terus mengemudi.


"Frans." sahut Edi dari belakang.


"Jadi mereka semua bermusuhan juga dengan Vince?"


Brian tidak tahu kalau ada juga orang di kampus itu tidak mau tunduk pada Vince. Jika dilihat tentu saja banyak yang tak menyukainya, dia adalah orang yang sangat licik. Dia kira dirinya sangat berkuasa, seolah-olah dialah yang paling hebat, dia ingin semua orang berada di bawah kakinya.


Tapi tidak semua orang ternyata mau menuruti Vince, ada tiga orang sebelum Brian yang sudah lebih dulu mencoba menentang Vince. Namun tidak satupun diantara mereka berhasil.


Vince begitu licik, kekerasan saja tidak cukup mengalahkannya. Misalnya Frans, dia adalah juara kick boxing dunia bawah. Tapi dengan mudah Vince mengeluarkannya dari kampus.


Vince bena-benar sangat bahaya, dia tak pernah membiarkan posisinya direnggut oleh orang lain. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisinya.


"Brian apa kau tahu ketiga orang itu semua sudah di kalahkan oleh Vince, sekarang target selanjutnya Vince adalah kau." ucap Edi.


"Itu sempurna." celetuk Brian.


"Apanya yang sempurna?" Zoya yang sedari tadi diam akhirnya berkicau juga.


"Jhony, Sean dan Frans, aku akan membuat mereka jadi timku untuk kompetisi olahraga tahunan." ujar Brian dengan sangat santai.


Sejenak suasana mobil hening seperti kuburan, tak lama kemudian Zoya dan Edi pun seketika teriak histeris.


"Apa!!!"


Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan Brian barusan. Dia ingin menjadikan tiga berandalan itu sebagai timnya? Jika mereka tidak mau tunduk dengan Vince, lantas mengapa mereka mau tunduk pada Brian.

__ADS_1


"Dengarkan aku tuan muda arogan, aku akan menjelaskan seberapa bahanya ketiga orang itu." ucap Zoya dengan tampang serius.


"Pertama Jhony, dia adalah anak dari keluarga kaya yang sangat royal. Dia memiliki banyak bodyguard, selain itu dia juga ahli dalam seni bela diri judo."


"Yang kedua Sean, dia memiliki julukan penguasa jalanan Golden Sea. Dia itu pembalap liar yang memiliki banyak anggota geng."


"Dan yang ketiga Frans, sudahlah kau tidak akan bisa mendekatinya, dia ahli kick boxing dunia bawah. Kau tidak akan punya kesempatan mendekatinya karena dia tipe pemarah yang suka menyendiri."


Brian sama sekali tidak bereaksi setelah mendengar penjelasan Zoya tadi. Dia tampak masih sangat santai mengemudikan mobilnya.


Padahal jelas-jelas Jhony, Sean dan Frans bukan tipe orang yang mau tunduk dengan orang lain. Tapi mereka tidak lebih berbahaya dari Vince si licik.


"Kalau mereka sehebat yang kau katakan, lalu kenapa mereka kalah dari Vince?" tanya Brian sambil melirikkan matanya kearah Zoya.


"Itu karena Vince lebih berbahaya lagi dari mereka, tuan muda arogan kau harus tahu. Vince tidak hanya mendapat dukungan dari semua mahasiswa, namun semua Dosen, Dekan dan juga bahkan Rektor bersama dengannya." jelas Zoya.


"Lalu memangnya kenapa?"


"Tuan muda, kenapa kau membawa kami kesini?" tanya Zoya dengan ekspresi keheranan.


"Ya nontonlah, emang untuk apalagi." ucapnya dengan nada datar, Brian berjalan santai dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


Tiba-tiba Zoya teringat kejadian tadi malam saat Zoya menemani Brian makan, dia tak sengaja mengiyakan ajakan tuan mudanya itu untuk pergi ke suatu tempat. Dan ternyata Brian bermaksud membawa Zoya nonton.


"Apa kau memang suka nonton di bioskop?"


"Ya, tapi aku hanya memesan dua tiket, jadi suruh saja temanmu itu pulang. Atau kalau dia mau, dia bisa menunggu di mobil."


Brian dengan dinginnya menyuruh Edi untuk pulang. Memang dari awal dia berencana ingin nonton berdua saja dengan Zoya, tapi tiba-tiba saja Zoya mengajak Edi ikut pulang bersama mereka.


Mendengar hal itu seketika hati Edi berasa ditusuk ribuan anak panah. Tak di sangka Brian akan berkata seperti itu, padahal dia sudah terlanjur menginjakkan kaki di dalam bioskop. Saat ini dia bahkan berpikir kalau Brian lebih kejam dari Vince.

__ADS_1


"Tuan muda arogan, Edi temanku. Kalau dia tidak masuk maka aku juga tidak masuk."


Sebenarnya Zoya sengaja beralasan, dia masih tak menyangka kalau Brian akan membawanya pergi nonton. Karena dia takut merasa canggung nantinya, lebih baik dia menjadikan Edi sebagai alasan.


Mau tak mau Brian juga membeli tiket satu lagi. Dia tidak mau kalau tiket yang sudah iya pesan sampai mubasir.


"Ternyata kau sangat baik yah, kawan!" ucap Edi yang tersenyum lebar sembari membawa popcorn dan minuman, tentu saja yang membayar itu semua adalah Brian.


"Sejak kapan aku jadi temanmu" Gumam Brian dalam hatinya.


"Yah, jika bisa sering-sering mentraktir kami begini tuan muda." Zoya juga tak mau kalah, karena di kampus tadi dia tidak jajan. Jadi dia memesan banyak sekali makanan untuk di bawa ke dalam Bioskop.


Brian hanya menghela nafas ringan, tapi sama sekali tidak tampak keberatan. Justru dia malah tersenyum tipis kepada Zoya.


Selama ini kesendirian Brian membuatnya menutup diri untuk berteman dengan orang lain. Sedari kecil kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Mereka tidak punya waktu untuk Brian.


Karena itulah, saat ini Brian bisa merasakan kebahagiaan kecil tiba-tiba saja datang menghampirinya. Ditambah lagi, dia akhirnya bisa melihat Zoya tersenyum manis kembali. Setidaknya dengan membawa Zoya nonton, bisa menghilangkan sedikit masalah yang ia dapat saat di kampus tadi.


Film pun dimulai, Brian duduk diapit oleh Zoya dan Edi. Saat ini film yang diputar bergenre horor. Jujur saja Brian sebenarnya tidak terlalu suka genre itu.


Dia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh mbah Google. Film apa yang biasa ditonton saat mengajak cewek, dan yang paling banyak digemari adalah genre romance dan horor. Karena Brian bukan tipe yang suka pada drama-drama melow, jadi dia memilih genre horor.


Selama pemutaran film, Brian tampak merasa sangat risih. Kenapa? Karena sedari film dimulai Edi terus menggenggam erat lengan Brian karena ketakutan. Bahkan disaat jumpscare muncul Edi sampai berteriak dan memeluk Brian.


"Lepas dasar payah!" ucap Brian sembari mendorong tubuh Edi.


Sementara itu, saat Brian melirik ke kiri sembari memegangi keningnya. Dia melihat Zoya tampak begitu menikmati film. Bahkan Zoya tampak asik melahap semua makanan yang ia pesan tadi.


Seharusnya aku tahu ini memang ide yang buruk


Brian hanya bisa pasrah sampai film berakhir.

__ADS_1


__ADS_2