King Of School

King Of School
Bab 81


__ADS_3

Keesokan pagi Brian sudah siap-siap untuk pergi berangkat ke kampus. Hari ini Brian tampak bercahaya seperti matahari terbit, tubuhnya sudah fit kembali.


Berjalan menuruni tangga, Brian merapikan seragamnya dengan ekspresi wajah datar seperti biasanya.


Dia langsung menuju meja makan dan mendapati semua orang sudah duduk disana sambil menyantap makanan mereka.


Tatapan mata elang Brian menyapu semua wajah orang-orang. Tersirat sebuah makna ketidakpuasan dari tatapan dingin itu, Brian merasa dirinya seolah-olah sudah didahului.


Padahal dia selalu on-time.


Tapi Brian tidak tahu kalau, 'orang yang datang lebih awal bahkan satu detik sebelum waktu yang telah ditentukan, maka dialah yang akan memimpin.'


Wajah Brian yang mempesona itu semakin dingin saat melihat kursi tempat biasa ia duduk ditempati oleh adiknya.


"Kakak, maaf aku ambil kursimu, kau bisa duduk di sebelah kak Zoya saja." Kiara yang sadar akan tatapan dingin kakaknya segera berdalih.


Meja makan berbentuk lonjong itu sangat panjang, biasanya makanan yang disiapkan Ratih hanya sebatas diujung tempat mereka duduk saja. Karena itulah tidak mungkin bagi Brian untuk duduk di ujung yang lain berjauhan dengan makanan.


Dengan enggan akhirnya dia mengalah dan duduk di kursi sebelah Zoya. Tapi ketidakpuasan Brian terbayar saat dia melirik kesamping melihat wajah Zoya yang sedikit belepotan karena menyantap roti bakar selai.


Gadis ini terlalu polos saat makan. gumam Brian yang merasa lucu dalam hatinya. Tapi saat ini, dia tidak mungkin memberikan tisu pada Zoya sama seperti sebelumnya. Apa lagi saat ini ada Kia yang siap meledeknya setiap saat.


Melihat Brian sedari tadi memperhatikannya, sontak membuat Zoya yang sedang asik makan sedikit tersadar akan perilaku konyolnya. Dengan segera dia meraih kerah bajunya untuk menyeka selai yang ada di wajahnya.


Namun tindakan itu langsung diblokir Brian, "Kenapa kau sangat jorok, gunakan ini!" seru Brian memberikan tisu pada Zoya dengan berekspresi jijik.


Zoya mengambil tisu itu dan berkata dengan nada pelan, "Maaf "


Kiara yang melihat itu merasa sangat puas, dia sangat gembira menyaksikan tingkah kakak dan kakak iparnya seperti itu.


Acara sarapan pagi itu pun berlanjut dengan sangat hening, setelah selesai Zoya dan Brian segera bangkit dari tempat duduk mereka bersiap untuk pergi berangkat ke kampus, tapi tiba-tiba saat Zoya hendak melangkah Kia menjegal kakinya, sehingga membuat gadis polos itu hampir terjungkal.


"Aduh!"


"Zoya!"


Beruntung Brian langsung menangkap Zoya ke pelukannya. Jika tidak wajah imut itu pasti sudah tak berbentuk lagi saat mencium lantai marmer.


"Kau baik-baik saja!" ucap Brian yang membantu Zoya kembali berdiri kokoh.


"Mmm." Zoya mengangguk ringan sembari memperbaiki kaca matanya.

__ADS_1


Setelah itu Brian langsung memberi tatapan mematikan pada sang adik yang sangat usil itu, seraya berkata, "Aku tidak suka dengan kenakalan mu ini Kia, apa kau tahu, kau bisa saja membahayakan keselamatan orang lain."


Melihat Brian memarahi adiknya, jiwa perlindungan sang kakak yang terpendam dalam diri Zoya seketika bangkit, "Sudahlah tuan muda, Kia gak salah kok, aku tersandung kaki meja tadi."


Kiara senang dengan pembelaan itu dan mengangguk setuju seolah bukan dia pelakunya.


"Jadi kau mau bilang, kalau kau yang salah karena tidak lihat-lihat saat jalan." ucap Brian.


"Enggak, kakak ipar juga gak salah." Kiara ikut membela.


"Jadi jika kau tidak salah dan dia tidak salah, lalu siapa yang harus di salahkan, kaki meja begitu!"


"Ya!" jawab Zoya dan Kiara serempak.


Brian hampir gila.


"Masa bodoh!"


Kemudian Brian langsung pergi begitu saja.


Sementara itu Kiara dan Zoya tidak bisa menahan tawa mereka saat melihat ekspresi Brian tadi. Ternyata Zoya sadar, mengerjai Brian cukup menyenangkan juga. Mulai hari ini Zoya akan lebih sering-sering melakukannya bersama dengan Kia.


......................


Setelah menyelesaikan semua jadwal kuliahnya, Brian, Jhony dan Sean terlihat sedang berkumpul di kafetaria kampus. Orang-orang mulai memperhatikan mereka, tampaknya Brian dan kawan-kawan sudah menjadi sorotan belakangan ini.


'Aku dengar mereka akan membentuk tim basket juga untuk melawan Vince di ajang kompetisi perebutan martabat nanti.'


'Ya, tampaknya si anak pindahan itu sengaja merekrut semua mantan musuhnya Vince untuk melawannya.'


'Jika mereka benar-benar ikut dalam kompetisi perebutan martabat nanti, maka saingan terbesar Vince bukanlah dari universitas lain, melainkan dari universitas kita sendiri.'


'Tapi itu bagus kan, kalau begitu siapapun yang akan menang diantara mereka, sudah pasti tetap nama Leighton yang akan harum nantinya.'


'Kompetisi tahun ini pasti akan sangat seru aku sudah tidak sabar.'


Para mahasiswa Leighton mulai membicarakan rumor tentang Brian dan kawan-kawannya, saat ini orang-orang juga mulai banyak menjadi pendukung Brian.


Mereka meyakini kalau kompetisi perebutan martabat tahun ini bakal menampilkan hal-hal yang sangat mengejutkan nantinya. Soalnya mereka semua juga sudah tahu, Vince sudah mengalami banyak kekalahan dari Brian.


Akankah dalam kompetisi nanti Brian akan mengalahkan Vince juga?

__ADS_1


"Brian kami sudah mencari semua informasi tentang Frans, dan banyak hal menarik yang kami temui darinya." ujar Jhony sembari mengunyah sebuah permen karet, sesekali dia juga membuat gelembung besar dari permen karet itu sehingga meledak dan belepotan di wajahnya.


Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memberi tatapan jijik pada Jhony.


"Tapi Brian, apa kau masih yakin akan merekrut Frans, soalnya ada dua kendala yang mungkin akan mempersulit kita untuk mendekati nya." tambah Sean dengan suaranya yang sedikit tertekan, itu karena dia saat ini sedang kesulitan mengambil bakso yang ada dalam mangkok menggunakan sumpit.


"Kendala apa?" tanya Brian sambil menyesap tehnya dengan sangat anggun.


Dari mereka bertiga hanya Brian yang terlihat normal.


"Kendalanya adalah, pertama Frans itu sangat agresif dan sangat sulit di ajak bicara. Kedua dia mendapatkan perlindungan dari geng Crimson, jadi jika kau ingin menggunakan kemampuanmu untuk menaklukannya, maka kau pasti akan berhadapan langsung dengan geng Crimson." jelas Jhony dengan panjang lebar.


"Hanya itu? Kurasa aku sudah mengatasi kedua kendala itu kemarin." jawab Brian dengan santainya.


"Apa!" sontak Jhony dan Sean terkaget.


"Bagaimana kau bisa memulai operasi lebih dulu tanpa kami?"


Brian menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangan kebelakang kepalanya mencoba untuk relax, "Jika aku mengajak kalian, apa kalian mau membantuku bertarung melawan seluruh geng Crimson?"


Sean dan Jhony saling menatap, kemudian dengan cepat mereka menggelengkan kepala.


"Sudah kuduga." ucap Brian dengan ekspresi penuh cemoohan.


"Tapi setidaknya kami bisa menjadi pemandu sorak mu." usul Jhony.


"Dasar payah!" Sean menjitak kepala Jhony.


"Sudahlah, lagi pula kemarin itu sama sekali tidak terduga. Aku memang sudah menyelesaikan geng Crimson, dan aku juga sudah bertarung dengan Frans. Tapi seperti yang kalian katakan, dia memang sangat sulit diajak bicara." jelas Brian dengan sangat santai.


Namun ekspresi santai itu langsung berubah serius saat dia berkata, "Karena itulah aku meminta kalian untuk mencari tahu kelemahannya, sekarang katakan padaku apa yang sudah kalian ketahui soal kelemahan Frans itu."


Jhony ingin mengutarakan kalimatnya, namun tak disangka-sangka dari belakang datang tiga pengacau baru mengagetkannya sehingga gelembung karet yang sudah ia tiup sebesar bola kaki meledak dan menutupi seluruh wajah Jhony.


Bahkan Sean yang akhirnya sudah berhasil mendapatkan baksonya menggunakan sumpit, juga ikut terkaget sehingga bakso itu terpental kearah Brian yang hendak menyesap tehnya.


Alhasil Brian ketumpahan teh, wajah dan bajunya basah.


Semua sekarang tampak begitu kacau dan berantakan.


Ketiga pengacau tadi yaitu Kim, Edi, dan Zoya hanya bisa mengucapkan kalimat maaf secara serentak.

__ADS_1


__ADS_2