King Of School

King Of School
Bab 44


__ADS_3

Brian saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, dia terlihat duduk bersandar di kasur bersama dengan Zoya yang terbaring di dadanya.


Zoya memeluk Brian begitu erat seperti tidak akan membiarkan Brian lari darinya. Tapi matanya masih terbuka, dia masih belum tidur juga. Sesekali dia malah mendongak ke atas untuk melihat wajah tampan tuan mudanya itu.


"Sweaty, apa kau bisa menyanyikan lagu tidur untukku?" pinta Zoya dengan tatapan yang penuh harap.


"Gak! Berhentilah meminta hal yang aneh-aneh dan cepat pejamkan matamu." bantah Brian dengan nada dingin.


Dia saat ini sangat ingin sekali beranjak pergi dari sana. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, jiwa kejantanannya mulai meronta-ronta karena Zoya.


"Uhh ayolah, nyanyikan satu lagu saja plisss."


Zoya terus merengek meminta Brian menyanyikan satu lagu untuk dirinya.


Brian hanya bisa menghela nafas ringan, dan akhirnya dia pun menuruti permintaan Zoya itu.


Brian tidak pernah bernyanyi tapi dia memang sangat menyukai musik, banyak lirik lagu terlintas di benaknya saat ini.


Tapi seketika dia malah mengingat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh ibunya dulu. Satu-satunya lagu yang pernah membuatnya merasa bahagia.


Brian pun mulai menyanyikan lagu itu, ternyata suara Brian sangat lah merdu. Tidak di sangka dia bisa bernyanyi dengan sangat bagus.


Mata Zoya berbinar menatap wajah Brian sambil terus mendengarkannya bernyanyi. Dia saat ini memang masih dalam pengaruh obat bius, tapi ingatan perasaannya terhadap Brian tidak hilang.


Seketika dia perlahan mendekatkan wajahnya pada Brian dan mencium bibirnya. Sontak Brian terhenti, dia benar-benar tak menyangka kalau Zoya akan melakukan hal itu padanya.


Tapi Zoya terus memagut bibir tipis itu dengan penuh hasrat, Brian yang mulai hampir terlena tadinya langsung menjauhkan Zoya darinya.


"Tidak Zoya, ini tidak benar." ucap Brian sambil menahan kedua bahu Zoya.


Zoya menepis tangan Brian dan mulai mendekatinya lagi, "Lalu katakan padaku apa yang benar!? Kenapa kau tidak mau mencium ku, padahal tadi siang di kampus aku melihat kau sedang bermesraan dengan Kimberly. Lantas kenapa kau sangat terkejut saat aku mencium mu, seolah-olah kau belum pernah mendapat ciuman."


"Aku dan Kimberly tidak pernah berciuman, kau mungkin hanya salah paham." Brian heran, kenapa Zoya malah menuduhnya melakukan hal seperti itu dengan Kimberly.


Brian memang sama sekali tidak pernah berciuman seumur hidupnya. Apa yang ia lakukan saat ini dengan Zoya adalah perdana bagi dirinya.


Dia bahkan tidak menyangka, kalau dia akan melakukan hal ini dengan Zoya. Sekarang Zoya telah merenggut ciuman pertamanya.


Padahal Zoya pun juga sama.


"Kau tahu Sweaty, aku sama sekali tidak suka melihat kau dekat dengan wanita lain, tapi kau tidak pernah peka akan hal itu, apa aku kurang cantik bagimu, atau karena aku hanyalah seorang anak pembantu?"

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir begitu terhadap dirimu, bagiku semua status ini hanyalah sebuah omong kosong belaka."


"Lantas kenapa sekarang kau menolak ku." Zoya melingkarkan kedua tangannya ke leher Brian dan menatapnya dengan genit.


"Zoya tolong hentikan ini, kau akan menyesal nanti, besok kau pasti membenci diriku." ucap Brian, dia masih mencoba untuk mempertahankan kehormatan Zoya.


Brian juga seorang pria, bagaimana dia bisa menahan godaan semacam ini. Di tambah lagi, dia memang memiliki perasaan terhadap Zoya.


"Satu-satunya yang membuatku menyesal adalah karena aku terlambat menyadari satu hal."


Sontak Brian bertanya, "Apa?"


"Kalau aku memang sangat mencintaimu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu tuan muda."


Deg.


Seketika jantung Brian berdegup kencang, wajahnya mulai memerah. Dia tak menyangka kalau Zoya akan mengungkapkan semua perasaanya saat ini juga.


Zoya pun mulai mendekati Brian lagi dan hendak mengulangi lagi ciuman tadi. Dia benar-benar sudah tidak terkendali saat ini, efek obat tadi semakin merangsang ke seluruh tubuhnya.


Brian yang tersadar akan hal itu, segera menjauhkan Zoya dan bangkit dari kasur.


"Saat ini otakmu sedang di bius, aku tidak bisa melakukan ini lagi."


Takut kalau Zoya mungkin juga akan mengikutinya.


Huh, perasaan apa ini? Jangan bilang kau langsung luluh dengan perkataannya tadi Brian, dia tidak sadar saat mengatakan itu tadi. Aku tidak akan luluh semudah ini!


Brian terus menyangkal kebenaran kalau dia juga mencintai Zoya. Dia masih merasa hatinya itu tidak akan pernah bisa di masuki oleh seorang wanita, padahal segenap jiwanya saat ini sudah seutuhnya tertuju pada Zoya, hanya ada Zoya yang tertulis di hatinya.


...


Matahari pun mulai memancarkan sinarnya yang terang, begitu terang hingga menembus gorden kamar Zoya.


Sontak wanita itu pun mulai membuka matanya secara perlahan. Entah mengapa saat dia mencoba untuk bangkit, kepalanya terasa sangat berat.


Seperti di timpuk besi berton-ton.


"Aduh kenapa kenapa kepalaku sakit sekali ya!?" lirihnya.


Zoya perlahan-lahan memijat kepalanya, untuk mengurangi rasa sakit.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba dia tersentak kaget saat mulai menyadari, kalau dia sekarang sudah berada di kamar.


"Bagaimana aku bisa ada di sini ya?"


Sejenak dia diam membeku mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Tapi kepalanya semakin sakit saat mencoba untuk mengingat kejadian malam tadi.


"Hmm~ Kenapa sulit sekali sih, aaaah."


Zoya kemudian tersentak kaget sekali lagi saat melihat pakaiannya. Dia keheranan, kenapa saat ini dia sudah memakai sebuah jaket berwarna merah.


"Tunggu dulu ini kan jaketnya tuan muda?"


Dan seketika, terlintas di kepala Zoya sebuah adegan dimana Brian memakaikannya jaket.


Zoya langsung termenung dan terus memandang jaket yang kenakan itu dengan penuh arti.


Dan seketika wajahnya memerah, sontak dia langsung berteriak keras hingga terdengar ke seluruh penjuru rumah.


"Huaaaaa....."


Brak.


"Ada apa Zoya?"


"Apa kau baik-baik saja?"


Kedua orang tua Zoya langsung datang saat mendengar putri mereka berteriak.


Zoya pub langsung terdiam dan mengambil selimut untuk menyelubungi tubuhnya.


"Tidak ada ayah, tadi ada seekor tikus lewat jadi aku berteriak." Zoya beralasan, padahal dia berteriak setelah dia mengingat semua kejadian yang iya lakukan malam tadi bersama dengan Brian.


Walaupun samar-samar, tapi dia tahu apa yang ia lakukan dengan Brian malam tadi itu tidak benar.


Dia bahkan berpikir, kalau saat ini dirinya tidak suci lagi. Sesekali dia melihat tubuh dan kasurnya untuk memastikan keadaannya.


"Zoya tuan muda mengatakan kalau kau pingsan saat di pesta malam tadi. Mungkin karena kau pergi tanpa makan malam dulu, beruntung setelah kau pergi, dia pun ikut menyusul." jelas Ratih sambil mendekati putrinya.


"Ya, Zoya kau harus berterima kasih padanya." tambah Siman.


Kalian menyuruhku berterima kasih padanya? Tapi bagaimana jika kalian tahu apa yang telah kami lakukan malam tadi, apa kalian masih ingin aku berterima kasih juga padanya? Gumam Zoya.

__ADS_1


Wajahnya tampak bingung sekali.


__ADS_2