
"Dimulai darimu Sean, aku ingin mendengar kabar terbaru tentang Vince!" Brian memangku laptopnya dan memulai perkumpulan daring dengan Sean dan Jhony. Dia sudah seperti seorang dosen daring saja.
"Brian sebelumnya aku ingin berterima kasih atas dana yang kau kirim kemarin, jadi aku tidak perlu menggunakan uang dari baj*ngan itu untuk melunasi hutang-hutang ku. Sekarang Vince, dia benar-benar terpukul semenjak aku menghasut semua rekan bisnisnya untuk berhenti. Sekarang kekuatannya di Golden Sea semakin melemah." Sean menjelaskan semua yang telah ia lakukan terhadap Vince.
Sudah lama sekali sebenarnya Sean ingin melakukan itu, namun dia tidak memiliki keberanian. Sekarang karena sudah memiliki Brian sebagai pendukungnya, Sean tidak takut lagi untuk memprovokasi Vince.
Brian mengangguk puas, seolah baru saja mendapatkan berita baik dari surga. Dia tidak menyesal karena telah menghancurkan bisnisnya Vince, karena dia tahu Vince menjalankan bisnisnya dengan sangat licik.
Contohnya adalah Sean yang sudah di tipu sebanyak dua kali oleh Vince!
"Sekarang kau Jhony, aku ingin informasi tentang geng Crimson yang menyerang ku kemarin malam!" seru Brian dengan tampang yang masih terlihat datar seperti tripleks.
"Ada hal yang sangat mengejutkan tentang geng Crimson yang menyerang mu kemarin Brian!" wajah Jhony tampak menegang seperti tali busur.
"Apa itu, katakan!?"
"Apa kau tahu siapa pembunuh bayaran yang sudah kau kalahkan tempo hari itu?" tanya Jhony.
Brian mengerutkan kedua alisnya, lalu berkata dengan kesal, "Cepat katakan jangan bertele-tele!"
Jhony terlihat sedang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, dia menyunggingkan senyum seperti kambing. "Brian, Raven yang dikirim untuk membunuhmu waktu itu, ternyata adalah sepupunya Leo. Dia baru saja bergabung dengan organisasi Raven seminggu yang lalu."
Seketika sebelah alis Brian menjungkit keatas, ini benar-benar tidak terduga. Pantas saja Raven yang Brian hadapi waktu itu tidak terlalu kuat.
Dia masih amatiran ternyata!
Namun yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Leo Murphy memiliki hubungan dengan Raven itu. Jadi sekarang Brian mengerti kenapa geng Crimson mengejarnya.
Mereka ingin balas dendam!
"Brian ada hal lain yang ingin aku katakan," Jhony melanjutkan, "Geng Crimson adalah geng paling berbahaya di Golden Sea, pemimpin mereka Leo Murphy adalah pemilik arena gulat bawah tanah yang ada di pantai selatan Golden Sea. Jika kau ingin berurusan dengan mereka, maka kau harus memikirkannya dua kali!" Jhony memperingati Brian dengan hati-hati.
Brian berpikir sejenak, sepertinya geng Crimson ini memang tidak bisa di remehkan. Jika Leo adalah pemilik arena gulat bawah tanah, sudah dipastikan kalau dia memiliki orang-orang yang cukup mampu bersama dengannya.
__ADS_1
Namun hal itu tidak akan membuat Brian untuk mundur sedikitpun, prinsip Brian adalah dia akan memperlakukan orang sebagaimana orang memperlakukannya. Geng Crimson sudah memulai pertikaian dengannya, sekarang Brian pasti akan membalasnya.
"Oh yah Brian, ada kabar yang mengejutkan juga tentang Frans, ternyata setelah aku telisik. Dia adalah salah satu pegulat di tempatnya Leo." tambah Sean.
"Hmm... benarkah?"
Sekarang Brian semakin tertarik setelah mendengar Sean mengatakan itu, tidak disangka ternyata semua Frans dan Leo Murphy saling berhubungan. Dengan begini dia hanya perlu menyusun satu rencana saja untuk menaklukan semua musuhnya.
"Menarik..." Brian mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya ke touchpad laptop berkali-kali saat dia sedang mencoba berfikir. Sehingga membuat gambar Jhony di layar semakin terzoom sehingga kelihatan lubang hidungnya.
Brian yang baru sadar saat melihat itu, tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak berkata dengan jijik, "Jhony berapa kali kau menggali tambang emasmu itu dalam seminggu, terlihat sangat menjijikan."
"Tambang emas?" Jhony yang langsung mengerti, berkata dengan malu, "Brian apa kau sengaja menelisik wajahku lewat video call, kau ini guy atau apa?" dia memalingkan wajahnya kesamping dan mulai menggali emasnya.
Sean tidak bisa menahan tawanya dan hampir saja terguling dari kursinya melihat kekocakkan dua orang itu.
"Sudah cukup bercandanya, sekarang kita harus mempersiapkan rencana selanjutnya." seru Brian dengan ekspresi wajahnya yang dipenuhi bongkahan es.
"Brian, apa menurutmu Frans adalah orang yang tepat?" Sean bertanya dengan penuh penasaran, kenapa Brian lebih memilih Frans untuk di rekrut, padahal masih banyak orang lain yang lebih mudah.
"Memang benar, tapi kau harus tahu dia itu pria yang sangat temperamental. Sangat sulit mengajaknya bicara baik-baik, selain itu dia juga sudah dikeluarkan dari Leighton."
"Kau jangan khawatir Sean! Sama seperti kau dan Jhony, dia juga pasti memiliki kelemahan. Yang harus kalian lakukan adalah mencari tahu apa kelemahannya, setelah itu sisanya biar aku yang tangani!"
Brian sudah memperhitungkan semua yang dikatakan Sean, baginya untuk menghadapi pria seperti Frans harus sedikit memutar otak. Frans tidak ingin tunduk pada Vince, itu berarti dia juga tidak akan tunduk dengan mudah pada Brian.
Namun setelah mengalahkan Jhony dan Sean Brian mulai memahami satu hal. Setiap orang yang berurusan dengan Vince, pasti memiliki masa lalu yang kelam. Brian akan memanfaatkan hal itu untuk membuat Frans bisa tunduk padanya.
Adapun Frans yang sudah dikeluarkan dari Leighton sama sekali bukan masalah besar, pamannya kan adalah seorang Rektor. Brian tinggal bicara saja dengan Abraham nantinya.
"Baiklah untuk saat ini kalian lakukan saja apa yang aku perintahkan, cari tahu seluk beluk kenapa Frans sampai harus terjun ke dunia gulat bawah tanah. Sementara aku akan menangani masalahku dengan geng Crimson!" seru Brian pada Jhony dan Sean.
"Siap Boss!" ucap mereka serentak dan penuh semangat, seperti mendapat perintah langsung dari pemimpin negara.
__ADS_1
Brian menutup Laptopnya dan tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, Brian yang sangat malas untuk bangkit langsung berkata dengan lantang, "Pintu tidak dikunci, masuklah!"
Sosok gadis bertubuh ramping pun memasuki kamarnya Brian.
Brian menyipitkan kedua mata saat melihat adiknya datang menemuinya dengan membawa kotak obat-obatan.
"Ternyata kau roti isi, aku saat ini sedang malas berdebat denganmu. Jadi pergilah!" Brian terlihat sangat dingin.
"Aku kesini atas perintah kakak ipar, dia menyuruhku untuk memberimu obat. Sepertinya dia memang sangat mengkhawatirkan mu kak." ucap Kiara sembari terus tersenyum semanis mungkin.
"Berhentilah terus menyebutnya sebagai kakak ipar, apa kau tidak tahu malu!?"
"Kenapa harus malu kak, saat ini kalian mungkin bisa menyembunyikannya. Tapi sebentar lagi aku akan membuat kalian saling mengungkapkan perasaan di depanku." ekspresi Kiara benar-benar sangat menjengkelkan, membuat suasana hati Brian semakin buruk saja.
"Seharusnya aku menyuruh ibu untuk membawamu pulang bersama dengannya, kau hanya anak kecil jadi berhentilah ikut campur dalam urusanku!"
Dari sekian banyak cibiran yang dia dengar dari kakaknya, hanya sebutan 'anak kecil' lah yang membuat Kiara benar-benar kesal.
"Berhenti memanggilku anak kecil, sekarang usiaku sudah delapan belas tahun tahu!"
Kiara tampak cemberut.
"Usiamu mungkin berkembang, tapi tidak dengan otakmu!" Brian mencibir lagi.
Namun Kiara mulai mendapatkan kembali ketenangannya sebelum berkata, "Kak apa kau tahu kenapa aku kesini?"
"Untuk menggangguku, kan?"
"Ya itu salah satunya, tapi sebenarnya aku kesini ingin refreshing. Aku baru saja kembali dari London, di ibu kota tidak ada tempat indah yang bisa aku kunjungi. Kudengar pantai selatan Golden Sea sangat indah, bagaimana kalau ajak aku jalan-jalan kesana?"
Kiara mengajak Brian untuk jalan-jalan dengan nada khas manja-manjanya. Dia bahkan merangkul lengan kakaknya itu dan menempel seperti anak kucing.
Matanya yang berbinar membuat Brian yang melihat itu tidak tahu harus kasihan atau merasa jijik.
__ADS_1
'Benar-benar menyebalkan.' lirih batin Brian.