
"Silahkan pangeran, ini adalah ruangan VIP yang sudah kami siapkan khusus untuk anda dan seluruh keluarga. Pelayan kami akan senantiasa melayani dengan tulus, agar anda mendapatkan kenyamanan makan malam dengan seluruh keluarga anda."
Setelah mengatakan semua itu, Manager Restauran itu membukakan pintu VIP yang ada di depan Brian dan mempersilakan masuk dengan penuh hormat.
Ruangan VIP itu benar-benar sangat mewah dan elegan, mengusung gaya arsitektur barat yang dihiasi berbagai furnitur mewah dan ornamen-ornamen khusus yang membuat suasana menjadi seperti berada dalam ruang makan istana.
Zoya hampir tidak berkedip saat dia memperhatikan seisi ruangan yang begitu elit, dia terkesima. 'Begini kah cara kaum bangsawan menghabiskan uang mereka?' tanya Zoya dalam benaknya. Zoya tidak bisa membayangkan berapa biaya untuk makan malam di tempat semewah ini, kalangan bawah seperti Zoya tidak akan mungkin bisa menginjakkan kakinya disini.
Memikirkan hal itu, Zoya teringat kembali dengan posisinya di rumah Brian.
"Ada apa nona cerewet? Kenapa, kau tidak mau masuk?" tanya Brian dengan nada datar.
Zoya terlihat menundukkan kepalanya saat dia menjawab, "Tuan muda, sepertinya aku tidak sanggup makan di tempat seperti ini. Jiwa miskin ku meronta-ronta."
Brian terdiam sejenak dan memandangi wajah Zoya dengan penuh arti, dia terjebak antara tawa dan air mata. "Nona cerewet, kemewahan ini sama sekali belum apa-apa, kelak di masa depan kau akan mendapatkan lebih dari ini. Jadi biasakan lah."
Zoya sudah muak dengan permainan kata-kata Brian, dia mencibir, "Huh, belakangan ini kau selalu saja menerawang masa depan ku, sudah seperti peramal saja."
Brian mengangkat kedua bahunya keatas dan berkata dengan nada yang lemah, "Aku bukan peramal yang sedang menerawang masa depan mu, tapi aku adalah masa depan itu sendiri."
"Hah, kau bilang apa barusan?" tanya Zoya sembari mengorek-ngorek telinganya.
"Tidak bukan apa-apa," wajah Brian menjadi sangat datar, 'selain cantik dan menggemaskan ternyata dia juga tuli ya,' gumam Brian sambil menggosok ujung hidungnya yang mancung.
"Sudah, ayo masuk." seru Brian.
Di dalam ruangan VIP.
Meja panjang yang berbentuk lonjong sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan lezat, terlihat di sana Alex beserta istri dan putrinya sudah duduk dengan elegan di tempat mereka.
Setiap bangsawan memiliki aura yang berkelas kemana pun mereka pergi, bahkan saat sedang makan seperti ini pun, Alex masih tampak dominan dan senantiasa menunjukan sosoknya yang maha kuasa. Saat dia hendak memasukkan potongan daging steak ke dalam mulutnya dengan garpu, Brian pun seketika muncul dan menarik perhatiannya.
"Akhirnya kau sampai, kau terlambat lima menit." ucap Alex dengan ringkas, kemudian lanjut melahap santapannya dengan anggun.
Brian tidak buru-buru merespon ayahnya, dia malah langsung berjalan dengan acuh ke sisi meja di mana Kiara duduk dan menarik kursi untuk Zoya.
"Hei apa kau tidak mendengarkan Ayah mu sedang bicara anak nakal?" pekik Alex dengan mulut menganga, kemudian pandangannya tertuju pada Zoya. Alex merasa frustasi melihat tingkah Brian yang berlebihan terhadap seorang pelayan seperti Zoya.
"Silahkan, nona cerewet..." Brian mempersilakan Zoya untuk duduk dengan begitu anggun, dia bahkan tidak peduli sedari tadi Alex melototi nya dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
Sontak Zoya langsung membeku, dia tidak pernah menyangka kalau Brian akan melakukannya dengan hormat seperti ini. Apa dia sedang mimpi?
Zoya pun menjadi sangat canggung, dengan gigi terkatup dia mendesis ke arah Brian, "Apa-apaan ini tuan muda..."
Kedua sudut mata Brian menyungging keatas, kemudian dia berbisik, "Ayo duduk saja, aku sangat senang melihat reaksi jengkel pak tua itu. Jadi bekerja sama lah dengan ku."
Zoya, "..."
"Jadi selama ini, kau bersikap lembut kepadaku hanya untuk membuat ayah mu marah, begitu?" tanya Zoya dengan nada pelan namun terdengar cukup tajam. Dia salah mengartikan niat Brian.
Sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Brian ingin merubah persepsi Zoya barusan. Akan tetapi wanita itu langsung mengacuhkan Brian dan menarik kursi lain di samping Kiara dan langsung duduk dengan ekspresi yang rumit.
Brian terkesiap, apa dia baru saja salah bicara?
Sementara Kiara yang melihat kak Zoya duduk di sebelahnya, bertanya dengan heran, "Kenapa kak, bukankah kakakku sangat baik menarik kursi untuk mu?"
Dengan kepala tertunduk Zoya beralasan, "Tidak apa kok Kia, aku merasa tidak layak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Tuan muda, duduk makan bersama kalian saja sudah menjadi sebuah keberuntungan buat ku."
Alex memperhatikan dari tadi, seringai pun muncul di wajahnya yang arogan. 'Ternyata wanita ini tahu diri juga,' pikirnya.
"Dia benar, kau tidak perlu bersikap sopan seperti itu padanya, Brian." cibir Alex sembari memotong daging steak Wagyu yang ada di piringnya.
Brian hanya diam melototi Alex dengan tajam, kemudian dia duduk di kursinya dengan ekspresi wajah yang diselimuti gunung es.
Deg.
Sekali lagi Zoya membeku, perkataan yang di lontarkan Alex barusan benar-benar membuat Zoya tertusuk. Apa dirinya memang tidak diinginkan di sini? Lantas kenapa Brian mengatakan kalau Zoya juga di undang? Zoya sekilas melirik kearah Brian, seolah meminta pertanggung jawaban.
Seperti tersangka yang tertangkap basah, Brian diam tak berkutik saat di tatap dengan sinis oleh Zoya. 'Kenapa tatapan ini lebih terasa sangat mengancam sekarang?' gumam Brian.
Kemudian Brian pun berbicara dengan nada yang sangat dingin kepada Alex, "Apa maksud dari perkataan mu barusan, pak tua?"
Alex hampir tersedak saat mendengar Brian menyebutnya pak tua, "Dasar bocah nakal, di mana sopan santun mu? Aku ayah mu, ingat! Kau bisa sial jika tidak menghormati ku."
"Yah aku tahu." jawab Brian acuh tak acuh.
Michelle menghela nafas berat melihat pertikaian Ayah dan anak ini, mereka memang tidak pernah akur, "Sudah lah sayang, lagi pula Zoya sudah duduk disini. Kenapa masih mempermasalahkannya?"
"Ruangan ini sudah aku pesan khusus untuk keluarga kita saja, seharusnya wanita ini bersama dengan kedua orang tuanya, dia tidak pantas disini." ketus Alex dengan tatapan tajam ke arah Zoya.
__ADS_1
Zoya tertegun sejenak, sebelum mulai memperhatikan area sekitarnya. Dia tidak melihat ibu dan ayahnya berada di ruangan itu. Kemudian Zoya bertanya kepada Brian dengan nada pelan, "Tuan muda, kau bilang Ayah dan Ibu ku juga ada di sini. Tapi di mana mereka, apa kau sengaja menipu ku? Jangan bilang kau membawa ku kesini hanya untuk sebagai alat membuat Ayah mu kesal?"
Brian tidak bisa berkata-kata, matanya yang sebiru lautan menatap lekat wajah Zoya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Brian. Jelas dia tidak bermaksud seperti itu, Kiara adalah orang yang mengatakan kalau Ayahnya memang mengajak semua orang rumah untuk makan malam di Restauran. Lantas di mana pak Siman dan mbok Ratih?
Brian mulai melirik Kiara dengan penuh kekesalan, dan bertanya, "Kau bilang semua orang di rumah ikut untuk makan malam, Kia?"
Kiara menjawab, "Jangan salah paham dulu kak, Ayah memang mengajak semua orang di rumah untuk makan malam termasuk pak Siman dan mbok Ratih juga."
"Lalu di mana mereka?" potong Zoya, entah mengapa perasaanya mulai tak enak.
"Bersama dengan Marcell, di ruangan VIP sebelah."
"Hah?"
Seketika Zoya langsung berdiri. Mendengar orang tuanya berada di ruangan lain bersama dengan Marcell, membuat perasaan Zoya menjadi khawatir. Bagaimana tidak, semenjak insiden di pesta Marcell waktu itu, Zoya mulai tidak menyukai Marcell, tidak tahu entah mengapa.
Menurut Zoya, Marcell itu pria yang memiliki banyak tipu muslihat di wajahnya. Dari cara dia tersenyum saja, Zoya bisa tahu bahwa Marcell sama sekali tidak tulus. Bahkan semua orang di sekitar Marcell juga pasti akan merasakan hal yang sama.
Itulah mengapa, tidak baik jika Zoya membiarkan kedua orang tuanya bersama dengan Marcell.
"Kau mau kemana, Zoya?" tanya Michelle dengan heran.
"Maaf Nyonya besar, karena Tuan besar sudah menyediakan ruangan khusus untuk keluarga ku, tidak seharusnya aku berada disini. Aku tidak mau mengganggu acara makan malam keluarga kalian." lirih Zoya dengan kepala tertunduk.
Michelle berkata, " Sudahlah Zoya, kau tetap di terima di sini."
Zoya tetap ingin pergi juga ke ruangan dimana orang tuanya berada, namun tiba-tiba lengannya dicekal oleh Brian.
"Lepaskan tuan muda, jangan sentuh aku di depan Ayah mu." bisik Zoya sembari mencoba menurunkan tangan Brian dari lengannya, sesekali dia juga melirik Alex yang tampak seperti singa buas.
Namun Brian justru menarik Zoya lebih keras hingga wanita itu kembali duduk di kursinya, Brian berkata dengan sedikit menggoda, "Jika aku tidak bisa menyentuh mu di hadapan Ayahku, apa itu berarti aku boleh menyentuh mu di lain waktu?"
Zoya, "..."
"Nona cerewet, kata orang tua dulu tidak baik berpindah-pindah tempat saat sedang makan. Itu akan meningkatkan jumlah keturunan mu." jelas Brian seraya meletakkan sepiring spaghetti di depan Zoya.
Zoya benar-benar terdiam melihat perlakuan tuan mudanya ini, dia bergumam, "Apa ini termasuk bagian dari rencana untuk membuat Ayah mu jengkel, tuan muda?"
"Tidak juga, aku memang sangat senang melihat Ayah ku marah. Tapi ada yang lebih menyenangkan dari itu."
__ADS_1
"Apa?"
"Melihat mu makan dengan lahap."