
Sementara itu di sisi lain ruangan, terlihat seorang pria dengan pakaian serba hitam dan memakai topeng yang menutupi seluruh bagian kepalanya sedang memasang sesuatu. Pria itu tampak sangat serius dan terlihat sangat mencurigakan.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba Vince muncul dan menepuk bahu pria itu sambil berkata, "Apa kau sudah memasang semuanya?"
Pria itu menjawab dengan ringkas, "Ya, ini yang terakhir."
"Bagus, setelah kau selesai dengan ini, kau harus ganti pakaianmu. Dan selipkan ini di dalam kantong Brian." Vince memberikan sebuah alat pemicu pada pria itu, ekspresinya terlihat begitu serius yang mengartikan kalau pria itu tidak boleh sampai gagal.
Dengan sedikit keengganan pria bertopeng itu mengambil alat pemicu yang diberikan Vince, lalu berkata, "Ini yang terakhir Vince, setelah ini kau harus menepati janjimu."
Vince tertawa getir dengan ekspresi yang mengejek, "Kau jangan khawatir, jika rencana ini berhasil. Maka biaya operasi adikmu akan segera aku tanggung."
Pria bertopeng itu mengangguk ringan kemudian dia langsung pergi.
"Brian, kau memang hebat. Tentu saja, orang yang memiliki status luar biasa sepertimu pasti akan sangat sulit untuk dihadapi. Tapi bagaimana kau akan lolos kali ini, karena aku juga memiliki seseorang yang tidak kalah hebatnya denganmu di sampingku." gumam Vince, seringai senyuman jahat menghiasi wajahnya.
Di tengah Ballroom.
Musik dansa dimainkan, semua orang terlihat sedang berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Hanya Zoya dan Brian saja yang duduk diam di kursi mereka.
"Kakak ayo, kalian harus menari juga bersama kami!" seru Kiara sembari menarik tangan Zoya.
Namun Zoya tidak tergerak dari tempatnya, dengan nada lirih dia menolak, "Tidak Kia, semua orang berdansa dengan pasangan mereka. Aku tidak punya seseorang untuk diajak berdansa denganku." Zoya yang memiliki hobi menari, tentu sangat ingin menari saat ini. Dia terus melirik tuan mudanya, seolah memberi kode.
Bukankah Kiara bilang Brian sangat jago menari, lalu kenapa dia tidak menerima kode dariku. Apa dia pemalu? Tidak, Brian bukan tipe yang seperti itu, dasar tidak peka. gumam Zoya dalam hatinya.
"Kakak kenapa kau masih diam saja, ayo ajak kakak ipar menari denganmu." Kiara berseru pada Brian, dengan tatapan penuh harapan. "Lihatlah kakak ipar, dia sudah berdandan sangat cantik hanya untuk berdansa denganmu."
__ADS_1
"Kia..." tegur Zoya, dia merasa malu.
Brian sama sekali tidak merespon Kiara, justru dia malah menatap Zoya dengan sangat dalam sambil menyesap segelas anggur. Di benaknya menari dengan Zoya adalah suatu angan-angannya yang sejak dulu dia pikirkan. Namun, saat ini Brian sedang Fokus memperhatikan area sekitar. Dia sedari tadi mencari-cari sesuatu yang aneh di pesta ini, namun masih belum ketemu juga.
Sepertinya Vince kali ini bermain dengan sangat mulus.
"Tidak apa jika dia tidak mau menari denganmu, kau bisa menari denganku kakak ipar." Marcell secara tiba-tiba muncul lagi dan menawarkan dirinya pada Zoya.
Zoya menatap Marcell dengan canggung, menolak pria setampan ini untuk berdansa bersama adalah hal yang merugikan. Namun saat ini dia masih menanti Brian yang mengajak dirinya.
Kiara langsung memotong dengan tegas, "Tidak, kau harus menari denganku, biarkan kakak ipar menari dengan kakakku." Kiara tidak akan membiarkan rencana untuk mempersatukan Zoya dan Brian dikacaukan begitu saja oleh Marcell.
Marcell mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah..."
Kiara langsung membungkam mulut Marcell dengan telapak tangannya sembari berkata, "Ayo kita berdansa Marcell, aku ingin lihat apa kakakku bisa lebih hebat dari kita?"
Dan benar saja, melihat kedua amatiran itu mulai berdansa di tengah para pasangan dansa lain, seolah mereka berdua adalah pemeran utama di dalam ruangan itu. Membuat ekspresi Brian terlihat sinis. Hatinya mulai sedikit tergerak.
Brian teringat sesuatu yang pernah dikatakan ibunya dulu terhadapnya.
'Kau ini sebenarnya berhati lembut Brian, hanya saja kau terus menyembunyikannya dibalik wajah dingin itu. Tepat pada suatu saat kau bertemu dengan seseorang yang berhasil menarik perhatianmu, disaat itulah gunung es yang menyelimuti wajahmu itu akan mencair.'
Kemudian dia melirik Zoya yang duduk manis di kursinya sembari berkata, "Nona cerewet, apa kau ingat kita akan mengikuti kontes dansa? Kurasa sekaranglah waktunya untuk latihan."
Zoya kemudian menatap Brian dengan penuh arti, dia bergumam ini dari tadi yang aku tunggu, tapi kenapa kau menjadikan latihan dansa sebagai alasanmu untuk mengajakku, dasar tuan muda arogan.
__ADS_1
Zoya kemudian mengangguk sambil berkata ragu-ragu, "Kau ingin latihan disini, atau karena kau ingin menunjukan keahlianmu di depan mereka?"
Brian terdiam sesaat sambil menatap wajah imut Zoya dengan intens, hatinya yang telah lama membeku seketika mencair. Baru dia sadar, kalau ternyata Zoya tampak lebih anggun saat mengenakan gaun ini, dia tampak seperti peri yang mulia dengan segala kepolosan yang terlukis diwajahnya. Sebelumnya tidak ada wanita yang mampu menarik perhatian Brian.
Namun entah mengapa saat melihat Zoya, Brian merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya. Karena sekarang dia telah menemukannya, Brian tidak akan melepaskan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu tuan muda?" tanya Zoya tiba-tiba, wajahnya mulai sedikit memerah. Dia benar-benar menjadi pemalu di depan Brian, semenjak Kiara mengatakan kalau Brian juga menyukai dirinya.
Brian sudah kehilangan akalnya, dan menjawab dengan spontan, "Karena kau sangat cantik."
Zoya terdiam sesaat dan langsung menjawab dengan malu-malu, "Terima kasih." mendapat pujian dari tuan muda Brian membuat hati Zoya berdebar hebat seperti mengalami gempa tektonik berskala tinggi.
'Apakah secercah harapan untuk bersama dengan Brian itu benar nyata?'
Brian yang sadar dengan ucapannya tadi langsung tampak sedikit canggung, sambil menggosok-gosok hidungnya dia bergumam, "Sial, apa segelas anggur itu benar-benar sudah sudah memabukan diriku?"
'Brian tidak tahu kalau dirinya saat ini bukan mabuk karena anggur, namun mabuk karena cinta.'
"Jadi kita akan berdansa atau tidak?" Zoya dengan malu-malu bertanya.
"Tentu, ayo!" pikiran Brian tadi melayang entah kemana, langsung kembali ke tubuhnya yang gagah dan agung itu. Dengan anggun dia merangkul lengan Zoya dan membawanya ke tengah ruangan.
Saat dia merangkul lengan Zoya, semua beban yang ada di dalam pikirannya hilang. Suasana hatinya tidak pernah sebaik ini sebelumnya.
"Tuan muda, kau bilang kau tidak bisa menari, tapi setidaknya kau pasti tahu gerakan dasar kan?" tanya Zoya dengan ragu-ragu sambil terus menatap mata Brian yang biru persis seperti cahaya bulan purnama. "Aku tidak ingin kau mempermalukan kita, jika kau tidak tahu satupun gerakan."
Brian tidak terlihat seperti biasanya, wajahnya begitu lembut saat ini tampak seperti pangeran yang agung, dia memegang dagu Zoya sembari berkata, "Kalau begitu ajari aku satu gerakan saja, maka aku akan langsung memahami semuanya."
__ADS_1
Zoya tidak tahu entah dari mana senyuman Brian ini datang, tapi itu benar-benar sudah membuatnya merasa kehilangan akal sehatnya.
Sial, Brian jauh lebih menawan saat dia tersenyum!