King Of School

King Of School
Bab 85


__ADS_3

Malam terasa begitu panjang, Brian saat ini berdiri di balkon kamarnya, terlihat ia sedang menikmati susunan gugus bintang yang terhampar di angkasa.


Mata elang itu memancarkan sinar biru yang begitu tajam dan dingin. Siapapun yang menatap langsung matanya akan membeku dan tak berkutik. Begitu kuatnya aura yang dimiliki Brian Cody.


Tak lama kemudian seseorang dari belakang dengan beraninya dia mengagetkan singa yang lagi santai itu.


"Dor."


Ternyata itu Kiara yang selalu lancang dan tak pernah mau mengetuk pintu jika ingin masuk ke kamar Brian.


"Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu." ketus Brian dengan gigi terkatup dan ekspresi yang masam.


"Jika aku mengetuk pintu, dimana kesenangannya." Kiara berkata dengan santai, "Mengagetkan dirimu adalah hal yang paling menyenangkan bagiku."


"Tapi aku tidak terpengaruh kau tahu itu." balas Brian dingin.


Kiara tersenyum.


"Cepat katakan apa yang kau inginkan, jika kau ingin membicarakan sebuah omong kosong, lebih baik kau keluar saja." sikap Brian begitu dingin, bahkan terhadap adiknya sendiri.


Namun Kiara sudah terbiasa akan hal itu, dia tahu di balik sifat dingin kakaknya ini, tersembunyi rasa kepedulian yang besar.


"Kakak, aku mau pinjam kamar mandi mu, boleh kan?" ucap Kia yang berdiri di belakang Brian.


"Memang kenapa dengan kamar mandi mu, apa kau tidak tahu malu menggunakan kamar mandi saudara laki-laki mu." Brian berkata dengan sangat dingin.


"Hehe, kran air panasnya rusak jadi..."


"Tidak, gunakan kamar mandi lain." tolak Brian dengan tegasnya.


Melihat kakaknya marah, Kiara pun mulai menjadi sedikit serius.

__ADS_1


"Kakak, sebenarnya aku kesini ingin menyampaikan pesan kakek." Kiara berjalan kedepan dan berdiri disamping Brian.


Tinggi mereka tampak hampir setara, namum Brian lebih tinggi sedikit dari Kiara. Mereka terlihat begitu mirip jika berdiri bersama seperti ini. Hidung mungil yang mancung seperti wortel, mata indah sebiru samudra dan wajah sempurna seperti lukisan. Keduanya memiliki kesamaan, sulit untuk membedakannya.


"Pesan apa?" Brian mulai penasaran saat Kiara menyebut kakek mereka.


"Sebelum aku mengatakannya, aku ingin menanyakan satu hal dulu padamu, kenapa kau menghina kakek di hari ulang tahunnya waktu itu?" Kiara menatap Brian dengan intens, dan penuh selidik.


Dia tiba-tiba teringat kejadian tepat sebelum Brian pindah ke Golden Sea, dimana saat itu Kakek Cody sedang mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran. Begitu mewah dan megah, banyak keluarga-keluarga legendaris lainnya yang hadir waktu itu.


Pesta ulang tahun kakek kala itu merupakan hari yang paling membahagiakan. Karena pada saat itu juga kakek Cody akan mengumumkan pada seluruh dunia, siapa sang penerus pemimpin keluarga selanjutnya.


Semua orang tahu kandidat yang paling memiliki potensial saat itu adalah Brian yang juga sebagai cucu kesayangan. Namun siapa sangka, saat kakek Cody menyebut nama Brian di hadapan semua orang. Yang muncul malah seorang pelayan yang mengaku sebagai Brian.


"Kenapa malah pelayan ini yang muncul, dimana Brian?"


Sementara itu Brian sudah pulang meninggalkan pesta kakek Cody. Dia sudah berapa kali mengatakan bahwa tidak akan mau menjadi penerus pemimpin keluarga, tapi tetap saja ayah dan kakeknya memaksa dirinya. Sudah cukup selama ini Brian menuruti keinginan kedua orang tua bodoh itu, karena sudah tidak tahan lagi Brian akhirnya memutuskan untuk membangkang juga.


Melihat ibunya selalu menangis untuk membela dirinya, kesabaran Brian pun mulai habis. Akhirnya pertengkaran antara anak dan ayah pun terjadi.


Dan itulah alasan sebenarnya kenapa Brian sampai berakhir di kota kecil Golden Sea ini. Michelle sengaja mengasingkan Brian, agar ayah dan anak itu bisa menenangkan diri mereka.


Setelah merenungkan kejadian yang menyedihkan itu Kiara kemudian tersentak sadar kembali sambil berkata, "Kakak, jika kau tidak menginginkan posisi pemimpin keluarga selanjutnya, kenapa kau sampai mempermalukan kakek waktu itu? Kau kan bisa menolaknya baik-baik."


"Apa itu tujuanmu kesini sebenarnya? Aku tahu Kia, ayah dan kakek pasti memintamu untuk membujukku kan?" Brian berkata dengan ekspresi acuh tak acuh.


"Jika kau tahu tujuanku sebenarnya, seharusnya kau sudah tahu pesan dari kakek kan?"


"Heh, dengar Kia! Aku tidak takut apapun konsekuensi dari penolakan ku ini." Brian menegaskan kalimatnya.


Dengan putus asa Kiara berkata, "Baiklah kak, karena kau berkata seperti itu apa boleh buat." kemudian dia mulai berbalik, "Oh iya kak, kau ingat dengan sepupu kita 'Marcel'?"

__ADS_1


Sontak wajah Brian yang acuh tak acuh tadi langsung berubah menjadi suram saat Kiara menyebut nama 'Marcel'. "Kenapa dengan dia?"


"Aku dan Marcel sama-sama menjalani pendidikan di London, kami tinggal bersama di rumah kakek. Beberapa hari lagi dia akan pulang juga ke Golden Sea, karena itu paman Abraham yaitu pemilik universitas tempat kau belajar akan mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan putranya itu." jelas Kiara panjang lebar dan dengan penuh semangat.


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Ayolah kak, apa kau akan selalu bersikap seperti ini terhadap keluargamu sendiri? Marcel adalah sepupumu juga, kita harus menghadiri pesta itu, mau kan?" Kiara terlihat memohon kepada Brian dengan mata yang hampir mirip dengan mata anak anjing.


Brian berpikir sejenak sebelum mengangguk dan berkata, "Mmm, baiklah kita akan pergi ke pesta penyambutan Marcel."


Kiara melompat kegirangan, "Yeay, kakak kau yang terbaik, aku tahu kau pasti masih memiliki rasa peduli terhadap keluarga." seru Kiara sembari memeluk Brian dengan erat.


Sementara kedua kakak beradik itu berpelukan tiba-tiba Zoya muncul di depan pintu kamar Brian yang terbuka, dia menatap Brian dan Kia dengan penuh arti. "Kia, aku sudah memperbaiki kran air panas di kamar mandi mu, sekarang kau bisa menggunakannya."


"Kau menyuruhnya untuk memperbaiki kran?" tanya Brian sambil memelototi Kia, dan sesekali dia melirik Zoya. Ekspresinya terlihat jengkel.


Bagaimana bisa Kiara meminta Zoya melakukan pekerjaan seperti itu. Walaupun Zoya adalah seorang pembantu di rumah ini, tapi melakukan pekerjaan seperti itu harusnya adalah tukang ledeng.


"Gak, kakak ipar sendiri yang mau, iya kan kak." Kiara tahu arti tatapan kakaknya ini, Brian tidak suka melihat Zoya melakukan pekerjaan berat.


Zoya mengangguk.


"Aku tahu kau pasti tidak suka melihat kakak ipar kesusahan kan? Tapi dia sendiri lo yang mau."


Sementara Zoya hanya bisa diam saja.


"Kalau begitu, kau bisa keluar dari kamarku sekarang!" seru Brian sambil menunjuk pintu, aura dingin memancar dari tubuhnya.


Zoya dan Kiara pun bergegas meninggalkan kamar Brian. Siapa coba yang tidak takut dengan tatapan dingin Brian yang mematikan.


Namun Kia berhenti sejenak di tengah pintu, sambil berbalik dia berkata, "Oh iya kak, sebaiknya kakak ipar ikut juga ke pesta itu, dia harus mengenal calon keluarganya dulu sebelum menikah denganmu, benarkan?"

__ADS_1


Brian semakin kesal mendengar ejekan Kiara dangan kasar dia berkata, "Enyahlah!"


__ADS_2