
Setelah Zoya pergi, sekarang Brian tidak akan menahan dirinya lagi. Tamparan ringan yang dia berikan pada Max dan Jhony tadi hanyalah sebagian sebuah permulaan saja. Kali ini dia akan memberi pelajaran sesungguhnya pada Jhony. Dia benar-benar tidak bisa menerima perilaku Jhony yang sudah mencoba melecehkan Zoya waktu itu.
Ekspresi Jhony langsung berubah, wajahnya mulai diselimuti awan gelap. Dia bisa merasakan aura mengerikan memancar dari tatapan tajam Brian. Bahkan dia tidak menyadari keringat jagung mulai membasahi jidatnya.
Dengan kaki yang gemetar Jhony perlahan mengambil langkah untuk mundur. Dia sudah merasakan tamparan yang begitu keras dari Brian barusan. Dan itu hampir membuat rahangnya berasa mau copot.
Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika satu bogem besar dari Brian mendarat di wajahnya nanti. Dengan segera dia merogoh ponselnya dan memutar sebuah nomer. Jhony berniat ingin memanggil semua bodyguard yang dia miliki.
"Harus kuakui, kau benar-benar cakap. Tapi kau tidak tahu siapa aku, sebentar lagi anak buah ku akan datang, tamatlah riwayatmu." ucap Jhony dengan nada yang mengancam, tapi masih terlihat jelas ketakutan itu memenuhi wajahnya saat menatap Brian.
"Heh, kau bisa memanggil sebanyak yang kau mau, tapi tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku." bantah Brian dengan tenang.
"Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan pada Zoya."
Brian ingin melangkah maju mendekati Jhony, tapi seketika Max bangkit kembali dan mengambil sebuah kursi kayu. Max langsung ingin menghantamkannya ke punggung Brian.
Namun Brian bisa merasakan pergerakan itu dan langsung menundukan tubuhnya untuk menghindari serangan Max.
Brian kemudian langsung menendang kursi yang di pegang Max hingga hancur berkeping-keping. Betapa terkesiapnya Jhony dan Max melihat itu.
"Kekuatan macam apa yang dimiliki orang ini." ucap batin Jhony.
Setelah itu Brian memberikan sebuah tendangan lagi ke wajah Max hingga iya terbang dan menghantam dinding. Terlihat darah mengalir keluar dari lubang hidungnya, wajah Max menjadi sangat jelek dan bengkak.
Dia tak pernah mengira leluconnya yang ingin memoles wajah Brian tadi langsung berbalik menimpa dirinya. Max terkapar di lantai keramik itu sembari meringis kesakitan, dia tidak memiliki kekuatan untuk bangkit kembali.
Jhony yang melihat pergantian peristiwa secepat itu langsung melongo dan tak bisa berkata-kata lagi. Pertama kalinya dia melihat orang dengan kemampuan sehebat ini.
"Ini... kekuatan seperti ini hanya dimiliki seorang militer saja, siapa kau sebenarnya?" tanya Jhony dengan ekspresi yang sangat jelek.
Brian tidak menjawab dan terus menatap Jhony dengan dingin. Di dalam hati Brian saat ini hanya ada rasa amarah saja. Saat Jhony bertanya siapa dia, tiba-tiba saja dia malah teringat perkataan ayahnya.
Berdansa? Seorang Cody tidak pernah melakukan hal seperti itu, kita adalah keluarga terhormat, kita hanya menyukai seni bela diri bukan seni semacam itu.
"Aku bukan siapa-siapa," gumam Brian sembari menggenggam telapak tangannya dengan erat.
__ADS_1
Brian benar-benar merasa sakit hati dengan perkataan ayahnya waktu itu, dia sangat tidak suka Jhony mempertanyakan siapa dia sebenarnya, karena bagi Brian nama Cody yang ia miliki sama sekali tidak berarti.
Brak.
Tiba-tiba saja lima orang pria berjas muncul dari depan pintu, dengan membawa beberapa alat pukul seperti tongkat baseball.
Seketika seringai bahagia mulai kembali menghiasi wajah Jhony. Rasa takutnya langsung sirna melihat para bodyguardnya yang sudah sampai tepat waktu.
"Hahaha, para Bodyguard ku sudah tiba, sekarang saatnya membalikan keadaan. Kau sudah menghajar Max dan seluruh anggota klub judo ku. Sudah waktunya bagimu untuk menerima balasan dariku."
Jhony terkekeh dengan rasa penuh percaya diri, baginya saat ini Brian sudah tamat. Sekuat apapun Brian, dia pasti tidak akan mampu melawan lima orang sekaligus. Apalagi kelima Bodyguard Jhony ini sudah sangat terlatih, Brian pasti akan hancur.
Tapi disaat Jhony terkekeh, Brian malah memejamkan matanya sejenak untuk menangkan dirinya kembali. Setelah itu mulai menarik nafas dan membuka mata secara perlahan.
"Majulah, aku akan tunjukan pada kalian kemampuanku sebenarnya." ucap Brian dengan tatapan tajam.
"Heh kau sangat percaya diri, hajar dia!"
Para Bodyguardnya itu mulai bergerak hendak menghajar Brian. Bodyguard memiliki otot-otot yang besar dan sangat mengerikan, namun Brian sama sekali tidak bereaksi melihat itu.
Brian langsung bergerak secepat kilat dan menghindari semua serangan yang meluncur kearahnya dengan mudah, kemudian dia menghajar satu persatu para Bodyguard itu dengan ekspresi yang sangat tenang.
Dalam sekejap mereka semua terlempar karena mendapat pukulan keras dari Brian. Mereka semua meringis kesakitan di lantai dan tak dapat bangkit lagi.
Benar-benar mengerikan, Brian terlalu kuat.
Jhony sampai terkejut melihat pemandangan itu, dia sampai tidak bisa menahan kandung kemihnya. Dan tanpa dia sadari, seluruh celananya sudah basah.
Kedua kaki Jhony tak berdaya lagi untuk menopang tubuhnya, dia langsung terduduk di lantai. Tadinya dia mengira Brian akan tamat, tapi yang terjadi sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Setelah itu Brian mulai menyeka kembali telapak tangannya dengan sapu tangan sembari menatap Jhony yang terduduk di lantai dengan acuh tak acuh. Dia sebenarnya masih ingin menghajar Jhony, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Tujuan sebenarnya bukan hanya itu, dia masih menginginkan Jhony agar mau bergabung kedalam timnya.
"Seorang anak adopsi yang sangat dimanja." ucap Brian dengan acuh tak acuh.
"Harus kuakui aku mulai sedikit merasa iri padamu sekarang."
__ADS_1
Sontak Jhony membeku mendengar perkataan Brian barusan. Dia tak menyangka kalau Brian ternyata juga sudah mengetahui asal-usulnya. Ya, aib terbesar bagi Jhony adalah dia merupakan anak hasil adopsi dari panti asuhan.
"Hah, dari mana kau tahu?"
Dua tahun yang lalu tepat saat pertama kali Jhony menginjakan kaki di Leighton, dia pernah menjadi sorotan banyak orang. Selain kaya, Jhony juga dikenal sebagai juara satu judo di Golden Sea. Banyak para mahasiswi begitu mengaguminya.
Namun semua ketenaran itu hilang semenjak Vince membocorkan semua rahasianya di kampus. Sebenarnya Jhony bukanlah berasal dari keturunan bangsawan asli, dia juga tidak pandai bela diri. Gelar juara satu itu juga dia dapatkan dengan menyogok lawannya di arena agar mau mengalah.
Vince memang sangat suka memprovokasi orang-orang hanya untuk menjadikan dirinya sebagai orang nomor satu di kampus. Dan semenjak itu Jhony sudah kehilangan semua reputasinya.
"Tentu saja aku tahu, bukankah seluruh kampus juga tahu? Tampaknya karena hal itu jugalah kau mau menuruti Vince untuk mempersulit Zoya kan?"
"Heh, benar-benar naif, seorang penipu memang pantas untuk ditipu kembali. Vince sudah mempermainkan dirimu dan kau masih mau menurutinya?"
Jhony tidak bisa berkata-kata lagi, dia sudah kalah telak saat ini. Dia tidak akan berani membantah semua penghinaan yang dikatakan Brian terhadap dirinya.
"Brian kenapa kau melakukan ini padaku, kau sudah menghancurkan semuanya, apa ini semua hanya karena Zoya." tanya Jhony dengan ekspresi yang menyedihkan.
"Aku mohon lepaskan aku, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu Zoya lagi."
Melihat Jhony yang akhirnya memohon, Brian mulai menyunggingkan sudut bibirnya.
"Baiklah, aku akan melepaskan dirimu, tapi dengan tiga syarat."
"Pertama, aku ingin kau menghapus semua hutang Zoya padamu dan mengembalikan semua uang yang sudah pernah disetornya, penipuan yang kau lakukan itu benar-benar membuatku jijik."
"Kedua, aku ingin kau mengklarifikasi foto Zoya yang tersebar di media saat bersamamu itu, kaulah yang ingin melecehkannya bukan dia yang menyodorkan diri padamu."
"Ketiga, aku ingin kau membuat pengakuan di sosmed tentang skandal yang kau lakukan dengan Vince untuk mencemari nama baik Zoya."
Seketika Jhony diam membeku mendengar tiga syarat dari Brian itu, dia benar-benar tidak mengira kalau Brian akan memintanya melakukan hal seberat itu.
"Tapi....
"Tidak ada tapi, lakukan tiga hal itu atau kau akan berakhir sama seperti mereka."
__ADS_1
Brian menunjuk semua anak buah Jhony yang sudah terkapar tidak sadarkan diri. Brian tahu cara menghadapi orang seperti Jhony, anak manja itu pasti sangat ketakutan dan tidak mau berakhir sama seperti anak buahnya.
Mau tidak mau Jhony pun menganggukkan kepala dengan berat hati. Lagi pula dia sudah lama membenci Vince, dia tidak keberatan jika dirinya harus mengekspos keburukan Vince selama ini.