
Raven itu mulai bergerak maju dengan cepat dan memberikan tebasan yang mematikan kearah Brian. Seketika kilatan cahaya putih terlihat hampir saja memenggal kepala Brian.
Beruntung Brian dengan sigap menundukan badan ke bawah. Jika tidak sudah di pastikan, dia kehilangan kepalanya saat itu juga.
Raven itu bergeming kesal melihat tebasannya meleset, dia pun langsung melancarkan serangan lain kearah Brian.
"Lenyap lah kau!"
Wooosh...
Brian melompat dan melakukan beberapa gerakan rolling kebelakang. Sehingga tebasan Raven tadi lagi-lagi meleset dan malah mengenai salah satu drum yang ada di aspal.
Mata Brian menyipit dan menatap tajam Raven itu, kemampuan seorang pembunuh bayaran memang tidak bisa dianggap remeh. Brian tahu, setiap orang di organisasi Raven pasti memiliki kemampuan berpedang yang sangat luar biasa.
Jika Brian lengah sedikit saja, maka itu akan sangat fatal.
"Hmm, dia sangat ahli menggunakan katana itu, saat ini kekuatanku juga sudah lumayan banyak terkuras. Aku harus segera mengakhiri ini!" gumam Brian, sembari melirik Sean yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.
"Brian, siapa dia? Kenapa dia menyerang ku, dan juga kau!?" tanya Sean sambil memegangi wajahnya yang bengkak.
Brian tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Sean tadi. Dia malah santai membersihkan bajunya terkena tetesan oli yang melompat keluar dari drum yang terbelah tadi.
"Brian, aku tidak tahu apa masalah antara kau dan orang itu? Tapi jangan libatkan aku juga!?" pekik Sean dengan ekspresi wajah panik, saat melihat Raven itu mengayunkan pedangnya pada Brian dia benar-benar ketakutan.
Sean pikir tubuh Brian pasti sudah terbelah menjadi dua, namun dia tidak menyangka kalau Brian mampu menghindari serangan dari Raven itu. Melihatnya saja sudah membuat Sean merasa ngeri, bagaimana kalau dia yang ada di posisi Brian?
"Kau seroang ketua gangster? Tapi tidak memiliki nyali menghadapi hal seperti ini?" ucap Brian pada Sean dengan ekspresi yang mengejek.
"Aku sudah menduga sebelumnya, orang sepertimu hanya berani mengancam kaum yang lemah saja!"
"Itu sebabnya kau tidak berani melawan Vince, kan?"
Sean diam membisu sejenak sebelum dia mulai bergidik kesal. Dia merasa tidak terima dirinya diremehkan oleh Brian.
"Apa kau bilang? Lihat ini kalau begitu, akan aku tunjukkan padamu! Tidak ada yang boleh meremehkan penguasa jalanan Golden Sea!"
Sean berteriak kencang dan mulai mengeluarkan nyalinya. Dengan segera dia mengambil sebilah pisau dari dalam jaketnya.
__ADS_1
Brian yang melihat itu sampai mengangkat sebelah alisnya keatasa.
Namun pada saat Sean mulai hendak maju, tiba-tiba kakinya gemetar saat mendapat tatapan mata dari sang Raven. Dia bisa merasakan aura yang sangat menakutkan keluar dari tatapan itu.
Sean menelan salivanya sebelum kembali berbalik dan bersembunyi di balik tubuh Brian.
Brian hanya bisa menghela nafas ringan melihat tingkah Sean, benar-benar bukan mencerminkan seorang gangster.
Pasti julukan penguasa jalanan ia dapat hanya dari keahliannya sebagai pembalap liar, tidak lebih.
"Heh, kukira kau akan lebih baik dari Jhony, Sean!? Tapi ternyata kalian sama saja!" Brian meledek Sean yang bersembunyi dibelakangnya seperti tikus yang ketakutan.
"Masa bodoh, jika kau bisa mengalahkannya maka lakukanlah dengan satu serangan, dari tadi kau juga hanya menghindar terus." Sean benar-benar tidak terima dengan cemoohan Brian.
"Bagaimana kalau aku bisa menumbangkannya hanya dengan satu serangan?"
"Maka aku akan mengakui, kalau kau benar-benar hebat!"
"Heh, aku tidak butuh pengakuan mu itu. Lagi pula jika memang aku tidak bisa mengalahkannya, aku tinggal masuk ke mobil dan kabur, sedangkan kau?"
Sementara Sean yang mendengar ucapan Brian tadi diam membeku sejenak, dia berpikir 'jika Brian kabur dari sini dengan mobilnya, maka hidupnya akan berakhir di tangan pembunuh bayaran itu, mobilnya juga sudah tidak bisa tidak bisa digunakan lagi untuk kabur, sekarang harapan satu-satu adalah Brian.'
Sean pun tidak punya pilihan selain memohon bantuan pada Brian, dia tidak mungkin bisa mengalahkan Raven itu. Satu tamparan saja sudah membuat rahangnya hampir lepas, lantas bagaimana dia bisa menghadapi Raven itu yang sekarang juga sudah menggunakan pedangnya.
"Brian tunggu jika kau ingin kabur tolong bawa aku juga bersama denganmu," Sean memegangi lengan Brian dengan erat, dia merengek layaknya seorang istri pada suaminya.
"Apa yang akan aku dapatkan, jika aku membawamu bersamaku?" Brian terus memancing rasa takut Sean.
"Apapun, aku akan memberikanmu apapun yang kau inginkan." tak disangka Sean memasrahkan keselamatannya pada Brian. Tampaknya tamparan dari Raven tadi benar-benar sudah menggeser otaknya, sehingga dia tidak berani lagi bersikap angkuh.
"Apapun?" Brian bertanya dengan ekspresi main-main, dia puas melihat Sean yang akhirnya berhasil ia taklukan.
"Yah apapun, asalkan kau tidak meminta Kimberly dariku."
"Heaaah..." Brian memutar kedua bola matanya, Sean lagi-lagi berpikir kalau Brian masih menginginkan Kimberly. Untuk apa? Saat ini Brian sudah melabuhkan hatinya hanya pada satu wanita saja, yaitu Zoya!
"Cukup! Berhenti melakukan drama ini! Kalian pikir saat ini kalian bisa kabur dariku ha?" seru Raven itu dengan penuh kesal, sedari tadi dirinya malah dicuekin begitu saja.
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku akan kabur?"
Sontak raut wajah Sean langsung mengkerut, tadi bukannya Brian bilang jika dia ingin kabur.
Sial, apa dia benar-benar berniat ingin melawan orang berbahaya itu, emangnya dia bisa mengalahkannya apa? Jika dia tewas ditangan orang itu, maka nasibku juga akan berakhir sama dengannya, tidak, aku masih belum mau mati! Setidaknya berikan kunci mobilmu itu Brian, sebelum kau nekat mendatangi maut mu!? ucap batin Sean.
"Kau adalah pembunuh bayaran, aku tidak akan menahan diriku lagi untuk melawan seorang mafia sepertimu. Tapi kau jangan khawatir aku, aku tidak membunuh sepertimu. Paling tidak, kau akan kesulitan makan setelah mendapat pukulan dariku." Brian mencoba melakukan teknik intimidasi seperti biasanya agar mental lawannya menjadi goyah.
"Apa kau bercanda?"
"Tidak aku sangat serius."
Seketika Brian bergerak maju dengan sangat cepat kearah Raven itu. Begitu cepat hingga mata Sean terbelalak melihatnya.
"Apa cepat sekali!" ucap Raven itu, wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Raven itu pun juga langsung tidak tinggal diam dan mulai mengayunkan pedangnya untuk memenggal kepala Brian.
Namun dengan santai lagi-lagi Brian dapat menghindar. Brian memiringkan tubuhnya kesamping, dan secara cepat meluncurkan sebuah tinju bagian bawah rahang Raven tadi.
Melihat itu, Raven mencoba untuk menangkis tinju Brian dengan menggunakan pedangnya. Dan seketika...
Krak...
Terdengar suara renyah dari retakan rahang Raven tadi. Tinju Brian sangat kuat, bahkan pedang tadi pun ikut patah bersamaan dengan rahangnya Raven. Tubuhnya juga langsung terlempar tinggi ke udara, hingga akhirnya jatuh dan menghantam salah satu drum yang ada di aspal tadi.
Raven mengerang kesakitan, pukulan tadi benar-benar sangat menyakitkan. Tidak pernah dia merasakan pukulan sekeras itu, sekarang sudah dipastikan Rahangnya benar-benar sudah patah.
Tubuhnya terbenam kedalam drum yang dipenuhi dengan oli, wajahnya benar-benar sangat menyedihkan. Tidak pernah ia mengira kalau dirinya akan berakhir seperti ini, dia pun memuntahkan seteguk darah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan pingsan.
Sean yang melihat hal itu, sepenuhnya masih tidak percaya. Mulutnya menganga lebar karena sangat terkejut. Kemampuan Brian bagaikan seorang militer.
Benar-benar hebat dan sangat menakutkan!
"Sekarang kau harus menepati janjimu, Sean! Mulai sekarang dan seterusnya, aku ingin kau menuruti perintahku, mengerti."
Brian menepuk ringan pipi Sean dengan tangan kirinya, kemudian dia segera berjalan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1