
"Kalian bawa mbok Ratih pulang, aku akan menangani sisanya." titah Brian kepada Kiara dan juga Zoya. Saat ini mereka semua sudah berada di area parkiran. Sedangkan Marcell telah pergi membawa pak Siman ke kantor polisi.
"Brian, kenapa kau membantu mereka, biarkan saja mereka mengurus-urusan mereka sendiri. Mereka lah yang telah mencari masalah, malah keluarga kita yang ikut-ikutan. Ini bisa mencemari reputasi keluarga kita?" ketus Alex, karena tidak terima melihat putranya membantu Zoya dan keluarganya yang sedang bersitegang dengan Marcell. Walaupun Alex tidak tahu pasti dan tidak ada andil dalam rencana Marcell, dia lebih memilih untuk membiarkan Marcell melakukan apa yang dia inginkan dari pada membantu keluarga Zoya.
Lagi pula memang ini yang dia inginkan.
Brian menatap tajam ke arah Ayahnya, dengan dingin dia menjawab, "Jika kau tidak ingin membantu, lebih baik diam saja, pak tua."
Alex terdiam, kata-kata Brian dan tatapannya kali ini seribu kali lipat lebih menakutkan dari yang sudah-sudah. Itu membuat nyali Alex sedikit bergetar, dia pun akhirnya memilih untuk pergi membawa yang lainnya menuju rumah daripada harus berdebat dengan Brian di tempat umum. Yang ada hanya akan menarik perhatian publik saja nanti.
"Tuan muda, kau akan menyelamatkan ayah ku, kan? Dia itu orang yang baik, Sebelumnya dia tidak pernah bertindak impulsif seperti ini. Pasti ada yang meracuni pikirannya." ujar Zoya dengan wajah melankolisnya. Saat ini dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa meminta bantuan pada Brian dan mempercayainya.
Brian memegang kedua bahu Zoya, dia menegarkan hati wanita itu, "Kau tidak perlu khawatir, ayah mu akan baik-baik saja. Sekarang pulang lah bersama dengan yang lainnya." seru Brian sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi Zoya.
Alex yang berada di dalam mobil, sangat tidak senang melihat pemandangan itu. Namun apalah dayanya, saat Brian sudah menunjukkan kasih sayangnya kepada seseorang. Maka jangan ada yang berani mengusiknya, jika tidak Brian pasti akan sangat murka.
Zoya pun mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam Roll Royce milik Alex. Brian menatap mobil yang perlahan menjauh itu dengan ekspresi datar. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Jhony.
"Ada apa, Boss?" sapa Jhony dari seberang telepon, nadanya terdengar sedikit main-main ketika menyebut Brian, Boss.
"Aku sedang tidak ingin bercanda Jhony, lebih baik kau selidiki identitas seseorang." ucap Brian dengan ekspresi teramat dingin, namun masih tenang terkendali.
"Identitas siapa yang harus aku selidiki?" tanya Jhony dengan heran.
__ADS_1
"Aku akan mengirim fotonya padamu. Tapi kau jangan sampai ceroboh, jika tidak, aku tidak akan bisa memantu mu, ini adalah tugas yang sedikit serius." jelas Brian dengan santainya.
Terdengar suara Jhony sedang menelan salivanya di seberang telepon itu, ini lah yang paling dia takuti dari Brian. Pria itu selalu saja memintanya untuk menjalankan tugas yang berbahaya, jika saja Brian bukan orang yang ia percayai untuk mengalahkan Vince. Maka dia lebih baik mundur dari tim yang Brian bentuk ini.
"Baiklah, boss. Aku akan segera melaksanakannya." Jhony akhirnya menerima tugas berat dari Brian tadi, dengan berat hati.
Setelah itu Brian segera menuju ke kantor polisi untuk mengurus pak Siman. Namun, saat dia sampai di sana. Dia tidak berhasil melepaskan pak Siman dari penjara. Jika ini hanya kasus penganiyaan biasa, mungkin Brian bisa menggunakan sejumlah uang sebagai kompensasi dan masalah pun beres. Akan tetapi masalah pak Siman ternyata terlalu rumit.
Tidak hanya Marcell ingin menuntut pak Siman di pengadilan, namun para polisi itu juga menemukan zat adiktif saat melakukan tes urin pada pak Siman. Membuat pak Siman benar-benar terancam dipenjara untuk waktu yang lama.
"Lebih baik kau pulang saja anak muda. Ini bukan sekedar kasus penganiyaan, pria itu, ternyata dia seorang pemakai. Itu yang membuatnya bertindak impulsif kepada orang lain. Kami akan menyelidiki ini lebih dalam lagi, jadi kami tidak bisa menerima uang jaminan mu."
Kepala Polisi itu menolak Brian.
Seseorang yang tidak memiliki nyali, tiba-tiba saja berani bertindak impulsif dan beringas. Hanya ada dua hal yang bisa menjadi pemicunya, pertama karena dorongan rasa ingin melindungi suatu hal yang teramat tinggi, dan kedua karana faktor zat luar yang membuat adrenalin seseorang menjadi terpompa.
Akan tetapi, kenapa pak Siman bisa mengonsumsi zat adiktif seperti itu? Brian sudah pasti menuduh Marcell lah dalang di balik semua ini, namun pria licik seperti Marcell sangat sulit untuk diungkap kejahatannya. Dia pasti telah menghancurkan semua bukti yang akan mengarah kepadanya, karena itu Brian tidak akan mengincar Marcell terlebih dahulu.
Dia mengincar asisten-nya Marcell.
"Baiklah pak, aku akan kembali lagi nanti. Tapi aku punya satu permintaan, aku harap kau akan menyelidiki kasus ini dengan jujur. Jika sampai aku menemukan kau terlibat dalam persekongkolan, maka akan aku pastikan kau dan jabatan mu ini, akan lenyap dari muka bumi." ujar Brian panjang lebar, ekspresinya terlihat sangat serius dan mengancam.
Sementara si kepala polisi itu tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia meneriaki Brian, "Dasar anak sombong, aku mengancam ku? Beraninya kau menuduh hal yang buruk kepada seorang polisi."
__ADS_1
"Ancaman hanya ditujukan untuk belas kasihan, tapi ucapan ku barusan adalah sebuah hukuman. Jadi bersiaplah."
Brian pergi meninggalkan kantor polisi itu, dengan langkah yang menggetarkan area sekitarnya. Dia ternyata tidak hanya menuduh Marcell sebagai dalang di balik semua ini, tapi bahkan kepala polisi pun ikut ia kecam.
Dia tahu kalau sudah yang namanya berhubungan dengan kasus obat-obatan terlarang, tidak mungkin aparat hukum tidak terlibat. Karena hanya melalui bantuan polisi korup saja lah benda-benda haram itu bisa bebas berkeliaran di suatu daerah.
Brian sangat benci orang yang mempermainkan hukum. Sepertinya Marcell sekarang benar-benar sudah menyatakan perang yang serius. Brian juga harus bertindak lebih serius.
...****************...
Di Mansion Marcell.
"Seperti yang kau katakan, Vince. Kelemahan Brian benar-benar terletak pada wanita itu. Ternyata kau ada benarnya juga." ucap Marcell dengan sedikit terkekeh. Dia tampak senang karena rencananya telah berhasil untuk menjebloskan pak Siman ke dalam penjara.
Vince yang duduk di sebelah Marcell, memandangi gelas anggurnya dengan malas. Walaupun sahabatnya telah berhasil melakukan tahap awal dari rencana mereka, Vince sama sekali tidak terlihat bersemangat.
"Ayolah Vince kenapa kau cemberut seperti itu?" Marcell merangkul bahu sahabatnya itu.
"Kau berhasil, tapi aku gagal Marcell, si baj*ngan itu sudah memukul ku di kampus tadi siang. Semua mahasiswa yang dulunya membela ku sudah sepenuhnya berpihak pada dia." keluh Vince sembari menggertakan giginya.
"Hahaha... jadi karena itu kau dari tadi cemberut?" Marcell menertawakan nasib sial yang dialami Vince tadi siang, "Sudah lah jangan terlalu kau pikirkan itu lagi, kali ini kita pasti akan membalasnya. Setelah kita mendapatkan Zoya, kau bisa melampiaskan semua kekesalanmu padanya. Kita akan buat Brian menjadi hancur berkeping-keping, sehingga dia tidak memiliki tujuan hidup lagi."
Seperti bisikan dari iblis, kata-kata Marcell telah menyulut api yang ada dalam tubuh Vince menjadi membara. Dia menggenggam gelas anggurnya tadi dengan keras hingga hancur, lalu berkata, "Kau benar, rencana ini harus berhasil. Aku sangat ingin melihat si sampah itu hancur, jika aku tidak bisa menyerangnya secara fisik. Maka aku akan menyerang perasaannya, kita lihat bagaimana reaksinya nanti ketika wanita yang ia cintai jatuh ke tanganku."
__ADS_1