King Of School

King Of School
Bab 68


__ADS_3

"Brian, kau masih kesal dengan ibumu ini?" tanya Michelle dengan nada selembut mungkin.


"Aku kesal pada ketidakberdayaan ibu, bukan pada dirimu bu!" Brian berkata dengan suara yang sedikit parau karena flu.


Michelle menghela nafas kemudian lanjut berkata, "Maafkan ibu!" Michelle terlihat murung ekspresinya penuh dengan penyesalan.


"Lupakan itu, aku ingin tahu apa alasan ibu datang kesini? Bukankah pak tua itu tidak bisa sedetik pun lepas dari ibu!?" Pertanyaan Brian itu terdengar seolah-olah mencemooh.


Apa yang salah? Bukankah harusnya dia senang kalau ayahnya tidak bisa jauh dari ibunya?


Itu sesuatu yang sangat romantis bukan?


Masalahnya dalam kasus ini berbeda, Alex memang selalu ingin Michelle berada di dekatnya, bukan sebagai istri. Melainkan lebih mirip sebagai robot pesuruh.


"Kiara baru saja menyelesaikan sekolahnya di London, dia baru saja sampai pagi ini. Apa kau tahu siapa orang pertama yang paling ia cari?"


"Itu hanya alasan ibu kan?" Brian mengerutkan kedua alisnya, tampak curiga, "tapi itu alasan yang bagus, pak tua itu tidak pernah mendengarkan aku dan ibu, tapi dia selalu mendengarkan putri kesayangannya itu!" Brian mencibir.


"Kau cemburu dengan Kia?" Michelle bertanya dengan penuh rasa kepedulian seorang ibu, dia turut kasian dengan Brian yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya.


Alex selalu menuruti permintaan Kia tetapi tidak dengan Brian. Kiara sedikit berbeda dari Brian, dia sangat kekanak-kanakan dan suka usil, tapi Kia tidak pernah berani melawan ayahnya. Berbeda dengan Brian yang sejak kecil selalu bersikap acuh tak acuh dan memiliki banyak perbedaan dengan cara pikir ayahnya. Itu membuat perlakuan Alex terhadap kedua anaknya menjadi berbeda-beda.


"Sama sekali tidak, aku justru senang. Setidaknya dia bisa menjadi ayah yang baik untuk Kia, cukup aku saja yang menentangnya. Aku tidak ingin adikku juga membenci pak tua itu!" Brian berkata dengan sangat jelas, dia memang sangat benci pada pola pikir ayahnya itu.


Jika saja ayahnya itu lebih mengerti perasaan Brian. Maka dia pasti juga akan menjadi anak yang penurut sama seperti Kiara.

__ADS_1


"Aku tahu kenapa sebenarnya ibu kesini!"


Sontak wajah Michelle tampak menegang seperti tali busur, dia sudah duga kalau putranya ini sangat cerdas dan sulit untuk dibohongi.


"Aku sedang memilih jalanku sendiri ibu, jadi jangan mencoba untuk menghentikan aku." seru Brian dengan acuh tak acuh.


"Ibu tidak akan menghentikan mu, tapi setelah mendengar hal yang menimpamu belakangan ini dari Darwin, ibu sangat takut Brian. Apa kau tahu, masalah ini sudah sangat serius."


Michelle tadinya tidak ingin berterus terang, dia ingin menyelidiki terlebih dahulu apakah putranya belakangan ini benar-benar mendapat kesulitan? Tapi Brian justru lebih dulu mengungkapkan niatnya, dan tidak hanya itu dia bahkan tidak ingin ibunya sampai menghentikannya.


"Darwin, sepertinya aku harus memberi dia sedikit pelajaran!" gumam Brian, ekspresinya terlihat sangat mengancam.


Bisa-bisanya Darwin memberitahu ibu apa yang telah dialami Brian selama di Golden Sea. Tapi dia cukup salut dengan asisten pribadi pilihannya itu, dia cukup cakap mencari informasi terkait dengan kejadian menimpa Brian tempo hari. Jika tidak mana mungkin ibunya tahu kalau Brian telah di serang oleh Raven.


Darwin adalah satu-satunya orang kepercayaan Brian, dia adalah seorang peretas yang sangat jenius. Mencari informasi tentang keluarga yang ada di Golden Sea hanyalah masalah kecil untuknya.


Tampaknya bahkan Darwin juga sudah mengetahui semua masalah yang Brian hadapi selama ia tinggal di Golden Sea, dan sialnya ibunya juga sudah mengetahui itu. Jadi tidak ada alasan bagi Brian untuk menutupinya lagi.


"Bu, jangan khawatirkan aku, aku bisa menangani ini, adapun masalah terkait Raven, kita sama-sama juga tahu kalau mereka tidak akan berani menyerang lagi kalau mereka tahu target mereka adalah keluarga Cody." Brian menyebut Cody dengan gigi terkatup, sangat enggan dia menggunakan nama itu sebagai perisainya. Tapi untuk meyakinkan ibunya, Brian terpaksa beralasan kalau dia sudah menangani Raven dengan bantuan Cody Famili.


"Nak, bagaimana ibu tidak khawatir, sejak kecil kau sudah banyak mendapat masalah. Sampai sekarang pun kau tetap saja tidak bisa hidup dengan tenang, terkadang ibu merasa sangat takut jika suatu saat kau akan..." Michelle tidak mau melanjutkan kalimatnya, karena itu sangat menyakitkan. Matanya pun mulai berlinang seketika.


Brian langsung menutup mulut ibunya sebelum berkata, "Ibu mana yang berpikiran hal seperti itu pada putranya? Dengarkan aku ibu, aku tidak akan mundur! Jika aku tidak bisa menangani masalah sekecil ini, bagaimana kedepannya nanti aku bisa menghadapi Cody Famili."


Brian menjelaskan dengan setegas mungkin untuk meyakinkan ibunya, terlihat matanya di penuhi dengan kobaran api yang membara.

__ADS_1


Dia akan menyelesaikan apa yang ia mulai!


Adapun Michelle hanya bisa diam membeku sambil menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau niat Brian yang ingin berurusan dengan Cody Famili masih ada sampai saat ini.


'Apakah Brian benar-benar akan menghancurkan keluarganya sendiri?'


"Baiklah, ibu tidak akan menggangu mu lagi." ucap Michelle dengan ekspresi teramat sedih, dengan segera dia bangkit dari duduk dan langsung melangkah untuk pergi. "Ibu akan pulang besok, ibu harap kau bisa melewati semua ini, tetaplah berhati-hati!"


"Mmm..." Brian mengangguk dengan acuh kemudian kembali menyesap teh jahenya.


Setelah ibunya keluar Brian langsung membuka ponsel dan mengirimi Darwin pesan teks yang berisi, 'baj*ngan kau Darwin!'.


Pesan itu langsung dibalas tidak kurang dari sepuluh detik, sepertinya Darwin sudah siap siaga menunggu Brian mencacinya lewat telepon.


'Maaf tuan muda, tapi nyonya melihatku saat aku masuk ke kantor tuan besar, jadi aku tidak bisa mengelak lagi.'


Brian yang membaca balasan Darwin hanya bisa berdecak kesal, dia tidak bisa menerima alasan itu!


Lalu dia membalas, 'Sekarang cepat kirimkan padaku apa yang saja yang sudah kau temui.'


Dalam sepersekian detik, Darwin langsung membalas. Brian membaca setiap informasi yang dikirimkan Darwin dengan seksama, wajahnya mengkerut menunjukan ekspresi yang tak terduga.


"Apakah Vince benar-benar memiliki hubungan semacam itu dengan 'kau'!?" Brian bicara sendiri sambil menatap ponselnya dengan sangat tajam. Mata elang mulai terlihat semakin mengganas.


Brian tertawa kecil sebelum dia kembali berkata, "Ku kira Vince ini memiliki latar yang hebat! Ternyata dalang dibalik semua ini adalah kau! Sudah kuduga, seekor anjing yang berdandan seperti singa, tetap saja seekor anjing! Vince sebenarnya tidak tahu, kalau dia hanyalah boneka dalam permainan ini!"

__ADS_1


Brian mematikan ponselnya dan langsung melemparkannya ke atas kasur, dia benar-benar tidak mengira. Kalau masalah ini pada akhirnya membawa Brian pada keluarganya sendiri, dan itu membuat kepalanya yang sedang dilanda flu semakin pusing.


Akhirnya dia tertidur setelah melamun cukup lama. Wajahnya yang memerah masih terlihat sangat tampan dan mempesona walaupun sedang sakit.


__ADS_2