King Of School

King Of School
Bab 96


__ADS_3

Kerajaan bisnis Cody Famili yang dipegang oleh Alexander Cody terletak di ibu kota pemerintahan. Jarak ibu kota pemerintahan dengan kota Golden Sea terbilang sangat jauh, butuh waktu 2 jam dengan pesawat untuk berterbangan diantara dua kota itu.


Pagi dini hari sekali, Michelle ditelpon oleh putrinya. Ternyata Kiara sudah memutuskan untuk memberitahukan semua kejadian yang ada di pestanya Marcell kepada kedua orang tuanya. Saat ini Brian sedang menghadapi masalah besar, Kiara tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika dia tidak meminta bantuan ibu dan ayahnya, maka Brian benar-benar akan ditangkap oleh para tim intelejen kepolisian atas tuduhan penyelundupan bom.


Mendapat kabar itu, membuat Michelle yang baru bangun langsung terperanjat di kasurnya. Sosoknya yang anggun dengan mengenakan piyama merah gemetaran saat menggenggam ponselnya. Dengan segera Michelle pun membangunkan sosok pria yang sedang terbaring tidur di sebelahnya.


"Suamiku, ayo bangun, anak-anak sedang dalam masalah."


Alexander adalah pria yang terbilang sangat angkuh dan kejam. Dia tidak suka ada orang berani mengganggu dirinya, terlebih lagi jika di saat tidur begini. Perlahan wajah tampannya yang tertidur lelap tadi, mulai membuka mata dan langsung menembakkan tatapan kematian kepada istrinya.


"Apa kau tidak punya hati nurani sehingga mengganggu waktu istirahatku."


Walaupun Michelle sudah sering mendapatkan kata-kata tajam dari Alex, tetap saja dia masih takut dengan suaminya, apalagi jika menatap langsung mata elang itu. Namun saat ini dia sudah sangat panik dan mengabaikan semua ketakutannya dan malah menarik paksa lengan kekar Alex.


"Tidak ada waktu untuk berdebat sayang, kita harus segera pergi ke Golden Sea!" seru Michelle.


Alex menepis tangan Michelle dan berkata dengan dingin, "Apa kau sedang mengigau atau sudah hilang akal, pagi-pagi begini kau membangunkan aku untuk pergi ke kota kumuh itu?" jelas Alex terlihat sangat murka saat ini.


Namun detik selanjutnya kemurkaan itu hilang berganti dengan kepanikan saat Michelle mulai menceritakan kabar yang ia dapat dari Kiara tadi.


"Apa? Bagaimana bisa? Apa yang sudah di lakukan oleh putramu yang payah itu, sehingga dia menjadi buronan?"


Michelle menatap Alex dengan mata berlinang saat dia menjawab, "Dia juga putramu, darah dagingmu. Kita harus membantunya."


Walaupun Alex terkenal sangat angkuh, tapi jika sudah membahas keselamatan darah dagingnya. Pria alpa besar itu terlihat sangat panik, dia tidak pernah akan membiarkan hal buruk apapun terjadi menimpa anak-anaknya.

__ADS_1


Akhirnya Alex dan Michelle pun segera berkemas dan melakukan penerbangan menuju kota Golden Sea.


......................


Pagi hari di mansion keluarga Brian.


"Kak Zoya, apa kakakku ada menelpon mu?" Kiara bertanya pada Zoya dengan ekspresi yang di penuhi ke khawatiran.


Bahkan semua orang yang ada di ruangan tengah itu juga di penuhi dengan kekhawatiran yang sama, karena Brian belum juga pulang semenjak malam tadi.


"Tidak ada Kia, aku juga sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi dia tidak menjawab." Zoya terlihat begitu mencemaskan Brian, dari malam tadi dia tidak tidur karena terus menantikan kepulangan Brian.


Wajah lembut Kiara dan Zoya terlihat murung, entah kemana Brian pergi setelah kejadian di pesta Marcell kemarin malam. Apa dia sengaja melarikan diri dari incaran para intel? Jika memang Brian tidak bersalah kenapa harus lari?


Begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Zoya, Brian itu hanyalah seorang mahasiswa keren yang tampan. Tidak mungkinkan dia menjadi penyelundup bom di usia semuda ini, apa lagi di kediaman keluarganya sendiri?


Kedua sudut mata Kiara berkedut saat dia mulai bergumam, "Mereka datang lagi."


"Cepat geledah setiap sudut rumah ini, temukan baj*ngan itu dan seret dia keluar!" seru Harold pemimpin para divisi intelejen kepolisian Golden Sea.


Beberapa orang mulai menyusuri seluruh isi rumah Brian, mereka bergerak sangat cepat dan tak menghiraukan kalau sang pemilik rumah akan marah.


Kedua orang tua Zoya tidak berani bicara dan hanya diam terpaku di sudut melihat para intel itu bekerja. Namun Zoya dan Kiara bagaikan dua serigala betina yang tidak terima sarang mereka di ganggu.


Dengan penuh perasaan kesal mereka berteriak, "Berhenti!"

__ADS_1


Harold memandangi kedua gadis itu dengan tajam dan mulai mendekati mereka. Tatapan ketidakpuasan memenuhi matanya saat dia berkata, "Kalian sembunyikan dimana dia? Sebaiknya kalian beritahu tahu atau aku akan melupakan kalau kalian seorang wanita." Harold mengancam dan mulai mengangkat telapak tangannya ke udara.


Kiara meraung, "Silakan saja, kita lihat apa kau berani memukulku, putri bungsu dari Alexander Cody." dengan kepala terangkat, Kiara menunjukkan keberaniannya.


Harold meludah jijik, "Putri bungsu tuan Alex apanya, kau pikir aku percaya dengan kata-katamu? Tuan Alexander Cody tidak mungkin memiliki anak-anak seorang peneror seperti kalian!"


Kiara membalas, "Kau bodoh, jika sudah tahu kenapa masih menuduh kakakku!"


Kesabaran Harold mulai habis, dia sangat kesal sehingga mencengkeram wajah Kiara seraya berkata, "Berhentilah bersandiwara di depanku gadis kecil, ini adalah wilayahku. Tidak akan aku biarkan bedebah kecil seperti kalian membuat kekacauan disini. Aku akan memberikan hukuman yang akan diingat oleh pemuda itu karena sudah berani mempermainkan kami kemarin malam."


Cengkeraman Harold sangat kuat, namun berkat keahlian seni bela dirinya Kiara berhasil juga menyingkirkan telapak tangan besar itu dari wajahnya.


Zoya pun juga ikut melindungi Kiara dan mengayunkan telapak tangannya kearah wajah Harold. Namun dengan sigap Harold menangkap lengan Zoya sambil berseru, "Kenapa kalian terus melindungi penjahat itu, apa kalian juga ingin ikut ke penjara bersama dengannya?"


Zoya benar-benar tidak terima kalau Brian di tuduh sebagai penjahat, karena dia tahu Brian bukanlah orang yang seperti itu. "Tuan mudaku bukan seorang penjahat, kenapa kalian seenaknya menjadikan dia buronan kalian!?"


Tidak lama semua anak buah Harold pun kembali dan menggelengkan kepala mereka menandakan Brian tidak ada di rumah ini.


Tatapan setajam belati Harold kembali mengarah pada Kiara dan Zoya. Dengan nada tegas dia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk membawa Zoya dan Kiara ke kantor polisi.


"Lepaskan mereka tuan, kenapa kau menangkap mereka?" ucap pak Siman terdengar sangat memelas.


Kali ini Kiara mencoba untuk bersikap tenang kembali, dan membiarkan dirinya untuk di bawa. Dia tahu jika terus melawan, para intel ini akan semakin mempersulit mereka.


Dengan bijak dia berkata, "Aku akan ikut dengan kalian, tapi lepaskan kak Zoya."

__ADS_1


Harold membantah, "Aku juga akan membawanya karena dia ada bersama dengan pemuda itu kemarin malam. Jadi berhentilah melalukan negosiasi denganku!"


__ADS_2