King Of School

King Of School
Bab 92


__ADS_3

Tepat saat Brian dan Zoya hanyut dalam tatapan satu sama lain. Tiba-tiba seorang pelayan yang mengenakan masker penutup wajah menabrak Brian hingga menumpahkan segelas jus di pakaiannya.


Brian yang tadinya dalam suasana hati damai, seketika murka dan meraung kesal, "Apa kau buta, lihat apa yang sudah kau lakukan pada pakaianku?"


Brian dari lahir menderita mysophobia, dia benar-benar tidak terima pakaiannya terkena tumpahan jus. Saat ini dia begitu kesal hingga ingin sekali rasanya menampar wajah pelayan itu.


"Maaf tuan, aku tidak sengaja, sini biar aku bereskan." pelayan itu terlihat menyesali perbuatannya dan berniat ingin memperbaikinya dengan meminta Brian melepaskan rompinya.


Namun Brian langsung menepis tangan pelayan itu dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai, "Enyahlah, jangan berani menyentuhku."


Seketika semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikan Brian.


"Kakak, ada apa?" Kiara dan Marcell juga segera menghampiri.


Wajah Brian lebih gelap seperti malam, sudut bibirnya yang setipis irisan paprika jatuh kebawah membentuk lengkungan busur.


Sementara pelayan tadi yang tersungkur di lantai, terlihat begitu ketakutan menatap mata Brian. Memang tatapan mata Brian yang brutal itu, lebih kejam dari segala siksaan yang ada di muka bumi ini. Orang-orang yang menatap langsung mata dingin Brian pasti akan langsung menggigil.


"Tuan maafkan aku, aku mohon!" pelayan itu merayap ke bawah kaki Brian dan memohon dengan tulus. Dia terlihat begitu menyesal dan ketakutan, jika dia bisa pergi ke pasar sebentar saja untuk membeli durian, dia akan menggunakan kulit durian itu sebagai alas kakinya bertumpu agar mendapatkan pengampunan Brian.


Melihat betapa menyedihkan adegan itu, membuat batin Zoya bergetar. Walaupun orang yang berdiri di hadapannya ini terlihat seperti pria agung alpa besar yang mendominasi segalanya, Zoya memberanikan dirinya untuk menghentikan Brian bertindak kasar pada pelayan itu. "Tuan muda, biar aku saja yang bereskan pakaianmu ini. Jangan terlalu agresif seperti ini, lagi pula dia kan memang tidak sengaja."


Brian memandangi wajah Zoya dengan masam sambil berseru, "Dari ketidaksengajaan akan menjadi kebiasaan, apa kau tahu itu? Dari dulu aku tidak pernah mentolerir kesalahan semacam ini." Brian hendak menendang pelayan tadi, namun langsung di tahan oleh Zoya.


"Tuan muda, tolong kendalikan amarahmu. Jangan sampai masalah sekecil ini, menimbulkan perspektif buruk di hati semua orang terhadap dirimu." lirih Zoya.


Brian tersentak dan akhirnya mendapatkan kembali akal sehatnya, Zoya benar! Kenapa dia harus sangat marah hanya karena masalah kecil ini? Tiba-tiba dia malah teringat kembali kenangan masa kecilnya, sifatnya yang arogan ini adalah hasil dari didikan ayahnya. Sekarang itu sudah tertanam di dalam hatinya, dan sangat sulit untuk dicungkil keluar.


Marcell kemudian mencoba menengahi masalah ini.

__ADS_1


"Brian, Zoya benar. Kenapa harus memperbesar masalah kecil seperti ini, lagi pula itu hanya tumpahan jus limun, kau bisa mengeringkannya dalam waktu dua menit. Tapi yah, kau kan seorang yang memiliki mysophobia. Jadi tidak heran pria sempurna sepertimu, akan tidak nyaman menggunakan pakaian yang sudah kau anggap cacat itu."


Marcell melanjutkan, "Aku punya beberapa pakaian seperti ini diatas, jadi kau bisa menggantinya kalau kau memang sudah tidak suka dengan bajumu ini."


Kiara kemudian langsung menyambung perkataan Marcell, "Yah, pergilah ganti pakaianmu diatas. Setelah itu kita akan melanjutkan dansa kita." Kiara terlihat sangat berharap melihat kakaknya dan Zoya bisa berdansa hari ini, jadi dia terus membujuk Brian.


Namun saat ini rasa keengganan Brian telah kembali lagi. Pelayan tadi sudah melemparkan sebuah batu kerikil kecil, sehingga memecahkan dinding kaca yang baru saja menghangatkan hati Brian.


"Tuan muda tenangkan dirimu, mari! Biarkan yang aku mengeringkan rompimu ini." Zoya secara lembut menggapai kedua telapak tangan Brian.


Bagaikan seekor singa yang tunduk kepada pawangnya, gunung es yang menutupi wajah Brian seketika meleleh. Melihat senyuman manis Zoya, hatinya merasa damai.


"Baiklah, kali ini aku akan melepaskanmu." ucap Brian dengan acuh tak acuh kepada si pelayan.


Mendengar itu, si pelayan langsung membenturkan kepalanya ke lantai dan berterima kasih pada Brian, "Terima kasih tuan, terima kasih."


Brian mundur selangkah untuk menghindari si pelayan yang hendak mencium kakinya, dengan sinis dia berkata, " Sudah cukup, enyahlah dari hadapanku sekarang!"


Setelah selesai memperhatikan si pelayan tadi yang beringsut pergi dari sana, Brian kemudian melanjutkan berkata pada Zoya dan Kiara, "Ayo kita pulang!"


Kiara tentu saja spontan menolak, "Kakak, kita baru setengah jam berada disini. Kenapa kau buru-buru sekali."


"Jika kau tidak mau pulang denganku tidak apa, kau bisa tinggal disini." jawab Brian dengan pelan, namun penuh dengan makna yang tegas.


Kiara mulai merengek.


"Kakak ipar lihat dia, ayo bujuk dia untuk tetap tinggal lebih lama lagi. Aku masih belum sempat melihat kalian berdansa tadi. Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Kiara mengadu kepada Zoya seperti bayi cengeng, biasanya ini hanya akan terjadi jika ibunya juga ada dengannya.


Tampaknya Kiara benar-benar sudah menganggap Zoya seperti kakaknya sendiri, hal itu membuat Zoya merasa sangat linglung dan canggung. Ditambah lagi saat ini semua orang terus memperhatikan drama yang mereka lakukan saat ini.

__ADS_1


"Kiara, berhentilah bertingkah seperti anak kecil." pinta Zoya dengan suara lembut.


Brian menyipitkan kedua matanya menatap Kiara dan Zoya, sebelum dia mulai mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar.


Ada belasan panggilan tak terjawab dari Sean.


Kenapa Sean berusaha menghubungiku, apa dia sudah mengetahui sesuatu tentang rencana Vince? gumam Brian dalam hatinya, sambil melihat-lihat area sekitar.


Kemudian Brian memutuskan, "Nona cerewet, ikut aku ke lantai dua, ayo." Brian kemudian beranjak dari sana.


Zoya terdiam sejenak menatap Brian penuh arti, sebelum akhirnya bahunya di tepuk oleh Kiara, "Tunggu apalagi kak, ayo cepat ikuti dia!"


Zoya mengangguk dan segera mengejar Brian.


"Hei apa yang kalian lihat, ayo mulai lagi pestanya!" seru Kiara pada semua orang yang sedari tadi terdiam karena memperhatikan drama singkat Brian.


Di teras luar lantai dua.


Brian melepaskan rompinya dengan sangat anggun, dan memberikannya pada Zoya sembari berkata, "Bukankah kau tadi ingin membersihkannya? Keringkan ini sebelum aku selesai menelpon!" ada tatapan main-main di mata Brian.


Zoya tersentak tidak percaya sambil bertanya, "Apa maksudmu ini tuan muda, bagaimana caranya?"


"Pokoknya setelah aku selesai menelpon, rompiku sudah harus bisa dikenakan kembali. Aku tidak mau tahu bagaimana cara kau melakukannya, kau mungkin bisa meniupnya sampai kering."


"Kau pasti sudah tidak waras, sepertinya kau melampiaskan kekesalan mu tadi kepadaku sekarang, kan?" Zoya biasa menggembungkan kedua pipinya jika sedang kesal, membuat wajahnya tampak semakin imut dan menggemaskan.


Inilah ekspresi yang paling Brian sukai dari Zoya.


Brian kemudian langsung berbalik berjalan menuju ujung tepi teras, sambil mencoba menghubungi kembali Sean. Tidak lama panggilannya pun langsung dijawab.

__ADS_1


Terdengar suara Sean dari seberang telepon sedikit gemetaran saat menyapa Brian. "Brian, ini gawat, Vince sudah meminta seseorang memasang beberapa bom di tempat itu. Kau harus segera pergi dari sana!"


"Hah, apa yang barusan kau bilang tadi?"


__ADS_2